Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Dekat yang Salah
Arkana masih berdiri sangat dekat di depan Kemuning di balkon hotel yang sunyi. Tatapan mata pria itu terlihat jauh lebih gelap dari biasanya setelah berkata rendah, “Sekali lagi.” Dan jantung Kemuning langsung kehilangan kendali.
Napas mereka saling bertabrakan di udara malam yang dingin. Tangan Arkana masih berada di pinggang Kemuning seolah tidak ingin membiarkan gadis itu menjauh. Sedangkan wajah mereka kini terlalu dekat untuk dianggap aman. Sampai Kemuning benar-benar tidak mampu berpikir jernih.
Seluruh tubuh Kemuning terasa lemas karena gugup. Ia terlalu sadar pada sentuhan hangat Arkana di pinggangnya. Terlalu sadar pada mata pria itu yang terus menatapnya intens tanpa berkedip. Dan suasana balkon mendadak terasa terlalu intim.
Kemuning mencoba menarik napas pelan. Namun setiap kali melihat wajah Arkana dari jarak sedekat ini, dadanya justru semakin kacau. Jantungnya berdetak begitu keras sampai telinganya ikut panas. Dan bibirnya mulai gemetar kecil tanpa sadar.
Arkana tidak bergerak sedikit pun. Tatapannya masih tertahan pada wajah Kemuning dengan sesuatu yang mulai sulit disembunyikan. Pria itu seperti sedang menunggu. Dan hal itu justru membuat Kemuning semakin gugup.
Dengan napas tidak stabil, Kemuning akhirnya membuka bibir pelan. “A-Arkana...” Nama itu keluar jauh lebih lembut dibanding sebelumnya. Dan seketika waktu terasa berhenti di antara mereka.
Tatapan Arkana langsung berubah semakin dalam.
Mendengar namanya keluar dari bibir Kemuning untuk kedua kalinya terasa jauh lebih berbahaya. Sesuatu dalam dada pria itu seperti runtuh perlahan tanpa bisa dihentikan. Dan Arkana mulai sadar satu hal yang menakutkan.
Ia tidak ingin lagi dianggap “Tuan” oleh gadis itu. Tidak ingin ada jarak dingin di antara mereka. Karena semakin dekat dengan Kemuning, semakin sulit dirinya berpura-pura biasa saja. Dan itu membuat Arkana kehilangan keseimbangan perlahan.
Tanpa sadar, jemari Arkana mengusap pinggang Kemuning lebih pelan. Tatapan pria itu perlahan turun ke bibir gadis tersebut. Gerakan kecil itu langsung membuat napas Kemuning tersendat halus. Tubuhnya menegang karena gugup.
Kemuning langsung sadar apa yang sedang terjadi. Tatapan Arkana terlalu berbahaya sekarang. Terlalu dekat dengan sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Dan tubuhnya mulai gemetar pelan.
Napas Kemuning berubah kacau. Tatapan mata pria itu membuat kepalanya terasa kosong. Sampai tanpa sadar, Kemuning refleks memejamkan mata sesaat karena terlalu gugup. Dan Arkana langsung membeku melihat reaksi tersebut. Untuk satu detik singkat, balkon itu terasa terlalu sunyi.
Hanya ada suara napas mereka yang saling bertabrakan pelan. Dan Arkana benar-benar hampir kehilangan kendali sekarang. Karena dirinya sangat ingin mendekat lebih jauh.
Namun tepat ketika suasana mulai terlalu panas, suara ponsel Arkana tiba-tiba berbunyi nyaring. Kemuning langsung tersentak kecil dan membuka mata cepat. Sedangkan Arkana menutup mata sesaat dengan rahang mengeras samar. Pria itu terlihat sangat terganggu karena momen mereka terputus.
Arkana akhirnya mengambil ponselnya dengan ekspresi dingin. Nama Mahardika muncul di layar. Media mulai mencari Arkana untuk sesi wawancara bisnis penting malam itu. Dan pria tersebut jelas tidak punya pilihan selain kembali masuk.
“Ya.” Suara Arkana terdengar datar saat menjawab telepon. Namun tatapannya masih terus tertahan pada Kemuning seolah sulit melepaskan gadis itu.
Dan hal tersebut justru membuat jantung Kemuning semakin tidak tenang.
Setelah panggilan selesai, Arkana perlahan menjauh satu langkah. Namun jarak kecil itu justru membuat Kemuning merasa kehilangan hangatnya tiba-tiba. Tatapan mata pria itu masih gelap dan intens sekarang. Seolah ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka.
Sebelum pergi, Arkana berkata rendah sambil menatap Kemuning lurus. “Jangan pergi ke mana-mana tanpa aku.” Nada suaranya terdengar possessive tanpa berusaha disembunyikan lagi. Dan dada Kemuning langsung kembali berdebar kacau.
Setelah Arkana masuk kembali ke ballroom, kaki Kemuning langsung melemas. Ia perlahan duduk di kursi balkon sambil memegang dadanya sendiri. Jantungnya masih berdetak terlalu cepat sampai sulit ditenangkan. Dan wajahnya terasa panas luar biasa.
Kemuning akhirnya sadar sesuatu yang selama ini berusaha ia hindari. Dirinya benar-benar jatuh cinta pada Arkana Mahendra. Bukan sekadar kagum atau merasa aman. Tetapi cinta yang mulai tumbuh terlalu dalam dan berbahaya.
Dan kesadaran itu membuat Kemuning takut sekaligus bahagia bersamaan. Takut karena mereka berasal dari dunia berbeda. Namun bahagia karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang membuatnya merasa berharga. Dan Arkana adalah orang itu.
Namun ketenangan singkat itu tidak bertahan lama.
Suara langkah heels elegan terdengar mendekat ke arah balkon. Kemuning langsung buru-buru berdiri saat melihat Ratih Maharani muncul dari balik pintu kaca. Dan suasana langsung berubah dingin.
Tatapan Ratih langsung jatuh pada wajah Kemuning yang masih merah. Lalu turun ke jas Arkana yang masih menyelimuti tubuh gadis tersebut. Dalam hitungan detik, Ratih langsung memahami semuanya. Hubungan mereka sudah terlalu dekat.
Ratih berjalan mendekat dengan anggun dan tenang seperti biasa. Namun justru ketenangan itulah yang membuat Kemuning semakin gugup. Karena wanita itu tidak perlu meninggikan suara untuk membuat orang lain merasa kecil. Dan Kemuning langsung menunduk tanpa sadar.
“Kau tahu posisi dirimu di rumah Mahendra, bukan?” Nada suara Ratih terdengar lembut dan elegan. Tetapi setiap katanya terasa seperti jarum yang menusuk perlahan. Membuat dada Kemuning langsung menegang.
“Aku...” Kemuning langsung gugup dan menundukkan kepala lebih dalam. Tangannya saling meremas kecil di depan tubuhnya. Sedangkan Ratih terus memperhatikannya dengan tatapan dingin.
“Dunia Arkana terlalu tinggi untuk gadis sepertimu.” Ratih berkata tenang sambil menyilangkan tangan.
“Keluarga Mahendra selalu menjadi sorotan publik. Dan Arkana tidak bisa sembarangan memilih perempuan di sisinya.”
Setiap kalimat Ratih menghantam tepat ke titik paling rapuh dalam diri Kemuning. Rasa rendah diri yang sempat dilupakan malam ini kembali muncul perlahan.
Kemuning langsung merasa kecil lagi di depan dunia keluarga Mahendra. Dan napasnya mulai terasa berat.
Ratih melangkah sedikit lebih dekat. Tatapan matanya tetap tenang tetapi jauh lebih tajam sekarang. “Perempuan seperti kamu hanya akan menghancurkan reputasinya.” Kalimat itu langsung membuat wajah Kemuning semakin pucat.
Kemuning menggigit bibir kuat-kuat agar tidak menangis di depan Ratih. Ia tahu wanita itu tidak sepenuhnya salah. Arkana terlalu sempurna untuk seseorang seperti dirinya. Dan memikirkan itu saja sudah cukup menyakitkan.
Namun Ratih belum selesai. Wanita itu menatap Kemuning beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan. “Arkana mudah bosan. Jangan sampai kau salah mengartikan perhatian sementara.”
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang perlahan meremukkan hati Kemuning. Dadanya langsung terasa sesak dan dingin bersamaan. Semua perhatian Arkana tiba-tiba terasa rapuh sekarang. Bagaimana jika semua itu memang hanya rasa kasihan sesaat?
Kemuning mulai mengingat semua perbedaan di antara mereka. Arkana yang kaya, tampan, dan memiliki dunia sempurna. Sedangkan dirinya hanyalah gadis desa yang bahkan tidak tamat sekolah. Mungkin Ratih benar.
Mungkin Arkana hanya merasa tertarik sementara.
Mungkin suatu hari pria itu akan bosan dan pergi begitu saja. Dan pikiran itu langsung membuat mata Kemuning mulai berkaca-kaca. Sampai ia sulit menahan napasnya sendiri.
Ratih melihat semuanya tanpa berubah ekspresi. Wanita itu tahu sekarang Kemuning mulai memahami realita yang sebenarnya. Dan bagi Ratih, itu jauh lebih baik sebelum semuanya terlambat. Sebelum Arkana benar-benar jatuh terlalu dalam.
Namun tepat ketika Ratih hendak berbalik pergi, suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah pintu balkon. Aura dingin langsung memenuhi udara malam itu dalam hitungan detik. Kemuning refleks mengangkat kepala dengan jantung berdebar panik. Dan Arkana sudah berdiri di sana.
Tatapan pria itu langsung jatuh pada wajah Kemuning yang pucat. Lalu ke mata gadis itu yang hampir menangis. Dan akhirnya berhenti pada Ratih yang berdiri di depannya. Ekspresi Arkana langsung berubah dingin.
Pria itu tidak bodoh. Ia langsung tahu ibunya baru saja mengatakan sesuatu pada Kemuning. Sesuatu yang kembali membuat gadis itu merasa takut dan kecil. Dan Arkana membenci itu seketika.
Perlahan, Arkana berjalan mendekat ke arah mereka.
Tatapan matanya tajam lurus pada Ratih tanpa ragu sedikit pun. Sedangkan Kemuning hanya bisa membeku melihat ketegangan di antara ibu dan anak tersebut. Suasana balkon mendadak terasa mencekam.
Lalu untuk pertama kalinya di depan Kemuning, Arkana berkata dingin pada ibunya sendiri. “Ibu sedang membuatnya takut lagi?”