Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
"Tapi kak... Riani butuh ponsel sekarang. Tugas-tugas dari sekolah semuanya dikirim lewat aplikasi. Kakak... punya uang buat beli ponsel enggak?" tanya Riani ragu-ragu, suaranya nyaris berbisik karena takut menyinggung perasaan kakaknya.
Alneo sempat tertegun. Ia ingat apa yang kemarin ia dapatkan,
"Aha, kamu benar juga! Kenapa kakak bisa lupa, ya?" Alneo menepuk dahinya pelan, membuat Riani mendongak bingung.
"Kakak punya ponsel baru buat kamu. Bahkan lebih bagus dari yang kamu bayangkan. Sekarang, kamu tunggu di sini dan siap-siap, kakak mandi dulu habis itu kita pergi ke sekolah, oke!" kata Alneo tersenyum.
Riani mengedipkan matanya tidak percaya. "Kakak serius? Enggak lagi bercanda, kan?"
"Heii, pikiranmu jauh sekali. Sudah, cepat bersiap-siap!" kata Alneo kembali mengacak rambutnya lagi.
"Oke, Kakak!" kata Riani terlihat bahagia.
Ia meletakkan gelas tehnya di atas meja, lalu setengah berlari menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
Begitu Riani meninggalkan ruang makan, sebuah robot keluar. Gelas kotor dan piring kotor di atas meja segera ditarik ke dalam kompartemen khususnya untuk dibersihkan secara otomatis.
Alneo segera masuk ke dalam kamarnya sendiri dan mengunci pintu rapat-rapat. Setelah memastikan situasi aman ia melihat sistem yang ada di depan matanya.
Meskipun ia sudah menjelaskan pada Riani, tapi Riani tidak mengetahui semuanya, termasuk sistem yang ada di kepalanya. Bisa pingsan itu anak jika ia tahu.
"Sistem. Bagaimana aku mengambil ponsel dan laptopnya? Apa aku harus merapal mantra atau semacamnya?" tanya Alneo dengan suara berbisik, matanya menatap layar transparan yang melayang di depannya.
[Anda tidak perlu merapal apa pun, Tuan. Anda hanya tinggal menyentuh gambar laptop dan ponsel pada menu inventaris Anda, maka otomatis barang-barang tersebut akan keluar dari layar hologram dan berpindah ke dunia nyata.]
"Semudah itu? Baik, mari kita coba," gumam Alneo.
Alneo menjulurkan telunjuknya. Ia menyentuh ikon gambar laptop dan ponsel di layar hologram tersebut.
Seketika, cahaya berpancarkan atas tempat tidurnya.
Di atas kasurnya, kini tertata rapi benda-benda teknologi tingkat tinggi.
Ada delapan unit laptop dengan desain ultra-tipis berlogo futuristik, dan dua buah ponsel pintar dengan layar tanpa tepi yang indah dan canggih.
Mata Alneo membulat sempurna. Mulutnya setengah terbuka karena syok.
"Wow... demi apa? Banyak banget laptopnya!" Alneo mendekat, menyentuh permukaan salah satu laptop yang terasa dingin dan premium.
"Sistem, kamu tidak salah hitung, kan? Kenapa bonusnya bisa sebanyak ini?"
[Sistem tidak pernah melakukan kesalahan, Tuan. Itu adalah hadiah yang Anda pilih kemaren.]
Alneo memegangi dagunya, menatap tumpukan barang mewah itu dengan dahi berkerut. "Hm... Kira-kira kalau dikasih laptop spek dewa begini, Riani bakal bosan gunainnya enggak ya? Atau dia malah bingung cara pakainya?"
[Tingkat kecerdasan adik Anda cukup tinggi untuk mengoperasikan teknologi ini dalam waktu lima menit, Tuan. Anda tidak perlu khawatir.]
"Ah, iya juga, adikku super pintar! Tapi Aku harus segera mandi!" Alneo mendadak tersentak saat melirik jam dinding digitalnya.
Waktu terus berjalan, dan ia tidak punya kemewahan untuk terus mengagumi barang-barang ini sekarang. "Kalau aku terus melamun di sini, Riani bisa terlambat masuk sekolah di hari ini!"
Dengan terburu-buru, Alneo menyambar handuknya dan berlari menuju kamar mandi. Ia harus cepat.