Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.
Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhat Dengan Ustadz Sobri**
JAM 12.47 SIANG, MASJID BAITURRAHIM
Panas. Aspal proyek bangunan di depan masih mengepul. Saqira tidak jadi mendaftar jadi kuli hari itu. Tangannya gemetar memegang stang motor Supra. Bukan karena takut kerja berat. Tapi karena bayangan Kirana yang bilang "Mas, aku takut" masih menempel di telinga.
Sarung coklat bapak melilit di pinggang. Kepanjangan. Tiap melangkah harus ditarik sedikit biar tidak terinjak. Kemeja lengan panjang warna biru tua, kancing paling atas dikancing. Rambut diikat ke belakang, ditutup peci hitam yang dipinjam dari lemari kontrakan. Keringat sudah membasahi pelipis sebelum sampai masjid.
Saqira parkir motor di pelataran. Kaki melangkah pelan ke serambi. Sandal dilepas, diletakkan rapi di rak. Wudhu di kran yang airnya kecil. Tetesan air dingin kena kulit, rasanya seperti menampar sadar.
Di dalam masjid, jamaah sudah bubar setelah Dzuhur. Hanya tersisa satu orang duduk di pojok, bersandar di tiang, membaca mushaf. Janggutnya putih, separuh. Kulitnya legam karena sering di sawah. Itu Ustadz Sobri. Guru ngaji anak-anak kampung. Umurnya sudah enam puluh lebih. Tidak pernah ikut campur urusan orang. Tapi kalau ada yang datang, didengarkan sampai habis.
Saqira berdiri di pintu. Tiga kali membuka mulut, tiga kali menutup lagi. Tenggorokan kering. Akhirnya salam, suaranya pelan: "Assalamu'alaikum, Ustadz."
Ustadz Sobri menutup mushaf pelan. Kacamata baca dilepas, dilipat, dimasukkan ke saku baju koko. Matanya menatap Saqira dari ujung kaki sampai kepala. Tidak menghakimi. Hanya mengamati. Lalu menepuk tikar di sampingnya. "Wa'alaikumsalam. Duduklah, Nak."
Saqira duduk bersila. Jaraknya tidak dekat, tidak jauh. Dua jengkal. Tangannya meremas ujung sarung. Lipstik sudah dihapus sejak di kamar mandi kontrakan. Tapi bekas hitam di sela bibir belum hilang semua. Peci menutupi rambut yang masih panjang.
Hening beberapa detik. Hanya suara kipas angin tua berputar pelan. Ustadz Sobri tidak bertanya dulu. Dibiarkan Saqira yang mulai.
"Aku bingung, Ustadz," akhirnya Saqira buka suara. Suaranya serak. Ditahan biar tidak melengking seperti Saqira biasanya. "Hari ini... ada kejadian di kontrakan aku."
Lalu cerita mengalir. Pelan. Terpotong-potong. Kadang berhenti karena air mata mau jatuh. Diceritakan bagaimana Paman Syarif datang dengan muka merah. Bagaimana Bik Asih merekam pakai HP. Bagaimana Ustadz Yusuf dari dalam mobil Innova hanya menonton dan tersenyum. Bagaimana Kirana diseret pulang sambil berteriak "Jangan Paman!"
Diceritakan juga tentang tiga hari. Tiga hari untuk membuktikan Saqir bisa menafkahi. Tentang sarung bapak yang dijahit sendiri. Tentang plang "dibutuhkan kuli harian" yang tidak jadi disamperin karena kaki seperti terpaku.
"Aku punya dua nama, Ustadz," bisik Saqira di akhir cerita. "Saqira dan Saqir. Saqira yang aku kenal sejak kecil. Yang nyaman dandan, nyaman jadi MC, nyaman jadi aku. Saqir yang baru lahir siang tadi. Yang harus pakai kemeja kekecilan, harus menahan suara, harus jadi laki-laki sesuai yang Paman Kirana mau."
Saqira menunduk. Air mata jatuh ke tikar. "Seandainya aku tetap jadi Saqira, aku akan kehilangan Kirana. Aku tahu Kirana bisa menerima aku apa adanya. Dia tidak pernah jijik. Dia tidak pernah bilang 'bencong'. Dia bilang 'Mas'. Tapi Paman Syarif tidak akan pernah merestui. Katanya nama keluarga akan hancur. Katanya dia gagal jaga amanah."
"Seandainya aku jadi Saqir sepenuhnya, potong rambut, buang semua bedak, kerja kuli, belajar sholat di depan... aku akan kehilangan pekerjaan aku, Ustadz. Kontrak MC aku masih delapan bulan. Klien sudah bayar DP. Kalau aku datang pakai kemeja dan peci, mereka akan kaget. Mereka sewa aku karena Saqira yang bisa bikin acara hidup. Bukan Saqir yang kaku."
Saqira mengangkat muka. Matanya merah. "Jadi aku harus pilih yang mana, Ustadz? Aku harus jadi siapa? Aku capek. Aku cuma mau dicintai tanpa harus membelah diri sendiri."
Ustadz Sobri diam lama. Jarinya mengetuk-ngetuk sampul mushaf. Tidak buru-buru menjawab. Tidak langsung menghukum. Tidak langsung memvonis "haram" atau "halal". Angin dari jendela masuk, menggerakkan ujung sorban putih di lehernya.
"Nak," Ustadz Sobri mulai bicara. Suaranya berat, tapi pelan. "Dulu, waktu aku masih muda, aku juga pernah bingung. Bukan bingung seperti kamu. Tapi bingung memilih antara jadi petani seperti bapak, atau jadi guru ngaji yang tidak menghasilkan uang. Bapak marah besar. Katanya 'ngaji tidak mengenyangkan perut'. Aku nangis tiga malam di masjid ini juga."
Beliau menarik napas. "Manusia memang sering dipaksa memilih. Padahal Allah tidak pernah menciptakan manusia setengah-setengah. Kamu lahir sebagai laki-laki. Itu qadar Allah. Tapi bagaimana kamu mengekspresikan dirimu, bagaimana kamu merasa di dalam dada... itu ujian. Dan ujian tidak pernah sama antara satu orang dengan orang lain."
Saqira menyimak. Tidak berani memotong.
Ustadz Sobri membuka mushaf lagi. Jarinya berhenti di satu halaman. Tidak dibaca ayatnya. Hanya disentuh ujung jarinya. "Ada hadits, Nak. Dari Abdullah bin Mas'ud. Rasulullah pernah bersabda: 'Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian menjadi alaqah selama itu juga, kemudian menjadi mudghah selama itu juga, lalu diutus malaikat meniupkan ruh dan diperintahkan empat perkara: menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia'."
Beliau menutup mushaf. "Lihat, Nak. Sejak sebelum lahir, Allah sudah menulis rezekimu, ajalmu, amalmu. Allah tidak menulis 'kamu harus jadi ini, harus jadi itu'. Allah menulis amal. Amal itu perbuatan. Niat. Tanggung jawab."
"Jadi kalau kamu tanya ke aku: 'Ustadz, aku harus jadi Saqira atau Saqir?' Aku tidak bisa jawab. Karena aku bukan Allah. Aku tidak tahu mana yang lebih menyelamatkan kamu di akhirat. Yang aku tahu, laki-laki sejati bukan diukur dari panjang rambut atau tebal alis. Laki-laki sejati diukur dari tiga hal: berani bertanggung jawab, jujur pada dirinya, dan tidak menzalimi orang lain."
Ustadz Sobri menatap mata Saqira. Tajam tapi lembut. "Kamu bilang Kirana bisa menerima kamu sebagai Saqira. Itu tanda dia melihat hatimu, bukan kulitmu. Itu rezeki, Nak. Jarang ada orang yang berani menerima tanpa syarat. Tapi Paman Syarif juga punya hak sebagai wali. Dia takut. Takut anaknya salah jalan. Takut omongan orang. Takutnya dia nyata, walaupun caranya kasar."
"Kalau kamu jadi Saqir hanya karena takut kehilangan Kirana, maka itu bukan Saqir. Itu topeng. Topeng akan lepas suatu hari. Dan kalau topeng lepas, Kirana yang sakit. Kamu juga hancur."
Saqira menunduk lagi. Air mata jatuh lagi. "Tapi kalau aku tetap Saqira, Ustadz... Paman tidak akan pernah mengizinkan. Kirana akan dipaksa nikah dengan Ustadz Yusuf. Aku tidak tega lihat dia dipaksa."
Ustadz Sobri menghela napas panjang. "Nak, pernikahan itu bukan sekadar akad. Pernikahan itu amanah. Suami itu imam. Imam itu bukan yang paling keras suaranya. Imam itu yang paling berani menanggung beban keluarganya. Imam itu yang sholatnya tidak bolong, yang rezekinya halal, yang lisannya menjaga istri."
Beliau jeda. "Sekarang aku tanya kamu. Kalau besok kamu jadi Saqir, sholat lima waktu di masjid, kerja kuli, pulang bawa beras, bisa tidak kamu lakukan itu dengan ikhlas? Bukan karena terpaksa. Bukan karena 'kalau tidak begitu Kirana direbut orang'. Tapi karena kamu memang ingin jadi imam yang baik untuknya?"
Saqira terdiam. Pikirannya berputar. Bayangan dirinya bangun jam empat, wudhu air dingin, sholat Subuh di masjid barisan depan. Bayangan pulang kerja, badan pegal, tapi disambut Kirana dengan teh hangat. Bayangan itu indah. Tapi bayangan itu juga menakutkan. Karena berarti harus meninggalkan Saqira yang selama ini menafkahi diri sendiri lewat MC.
"Aku tidak tahu, Ustadz," jawab Saqira jujur. "Aku takut. Takut kalau jadi Saqir, aku benci diriku sendiri. Takut kalau tetap Saqira, aku menyakiti Kirana."
Ustadz Sobri mengangguk. Beliau paham rasa itu. "Ada hadits lain, Nak. Dari Abu Hurairah. Rasulullah bersabda: 'Beragama itu mudah. Tidak ada orang yang mempersulit agama kecuali dia akan kalah. Maka berlakulah lurus, mendekatlah, bergembiralah, dan minta tolonglah di waktu pagi, sore, dan sebagian malam'."
"Agama itu mudah, Nak. Yang mempersulit manusia. Kamu tidak harus berubah seratus persen dalam semalam. Allah tidak minta kamu jadi malaikat. Allah minta kamu berjalan. Jalan pelan-pelan. Kalau hari ini kamu masih Saqira yang MC, tidak apa. Tapi niat di hati, perlahan belajar jadi Saqir yang bisa jadi imam."
Beliau meletakkan tangan di bahu Saqira. Tangannya kasar, kapalan. Hangat. "Potong rambut tidak harus besok. Tapi mulai sekarang, kurangi yang tidak perlu. Kerja MC tidak apa, itu rezeki halal selama tidak maksiat. Tapi sisihkan waktu untuk belajar. Belajar sholat, belajar baca Qur'an, belajar tanggung jawab. Sedikit demi sedikit. Allah lihat proses, bukan hasil instan."
Saqira mengangkat muka. "Jadi... aku tidak harus memilih sekarang, Ustadz?"
"Tidak, Nak. Kamu harus memilih setiap hari. Setiap pagi saat bangun tidur, kamu pilih: hari ini aku mau lebih dekat ke Allah atau tidak. Setiap kali ada job MC, kamu pilih: ini rezeki halal atau ada unsur yang melanggar. Setiap kali rindu Kirana, kamu pilih: aku mau nangis di kamar, atau aku mau sujud minta jalan keluar."
Ustadz Sobri mengambil tisu dari saku, diberikan ke Saqira. "Tentang Kirana. Kalau dia memang jodohmu, Allah akan pertemukan lagi. Walaupun Paman Syarif melarang. Walaupun Ustadz Yusuf menghalangi. Jodoh tidak akan ke mana. Tapi kalau dia bukan jodohmu, memaksa juga tidak akan bahagia. Kamu akan capek jadi Saqir yang pura-pura."
"Jadi sekarang, tugas kamu bukan membuktikan ke Paman Syarif. Tugas kamu membuktikan ke Allah bahwa kamu serius ingin jadi laki-laki yang bertanggung jawab. Kalau Allah ridha, jalan akan dibukakan. Mungkin Paman Syarif luluh. Mungkin ada jalan lain. Mungkin Kirana sendiri yang memilih."
Saqira menerima tisu itu. Mengusap air mata. "Tapi Ustadz... orang-orang akan tetap bilang aku bencong. Akan tetap bilang najis. Aku capek dengar itu."
Ustadz Sobri tersenyum. Senyum orang tua yang sudah banyak lihat luka manusia. "Nak, Nabi Nuh dihina kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Nabi Luth diusir dari kampungnya. Bahkan Nabi Muhammad dilempari batu sampai berdarah. Kalau Nabi saja dihina, apalagi kita manusia biasa."
"Orang akan selalu bicara. Kalau kamu baik, mereka bilang 'pencitraan'. Kalau kamu berubah, mereka bilang 'pura-pura'. Jadi jangan hidup untuk omongan orang. Hidup untuk Allah. Kalau Allah ridha, hinaan manusia jadi tidak ada rasanya."
Beliau berdiri pelan, lututnya bunyi krek. Mengambil teko dan dua gelas dari meja. Menuangkan teh hangat. Ditaruh satu di depan Saqira. "Minum, Nak. Tenggorokan kamu kering karena terlalu banyak menahan."
Saqira meneguk teh itu. Manis. Hangat sampai ke dada. Untuk pertama kali sejak siang tadi, dadanya tidak sesak.
"Nak Saqira," Ustadz Sobri duduk lagi. "Aku tidak akan bilang 'kamu harus begini'. Aku hanya berpesan tiga hal. Pertama, jaga sholat. Sholat itu tiang. Kalau tiang kuat, rumah tidak roboh walaupun diterpa badai. Kedua, jaga lisan dan tangan. Jangan membalas hinaan dengan hinaan. Diam lebih mulia. Ketiga, jujur pada Kirana. Ceritakan siapa kamu sebenarnya. Kalau dia pergi karena itu, berarti dia bukan untukmu. Kalau dia tetap tinggal, pegang dia erat. Karena orang seperti itu langka."
Saqira mengangguk. Air mata sudah berhenti. Tinggal bekasnya di pipi. "Terima kasih, Ustadz. Aku... aku lebih tenang sekarang."
"Tenang itu bukan berarti masalah selesai, Nak," Ustadz Sobri tertawa kecil. "Tenang itu berarti kamu siap menghadapi masalah. Sekarang pulang. Mandi. Makan. Tidur. Besok pagi ke masjid lagi untuk Subuh. Tidak usah buru-buru jadi Saqir sempurna. Jadilah Saqira yang mau belajar jadi Saqir."
Saqira berdiri. Mencium tangan Ustadz Sobri. Tangan itu dicium lama, seperti anak kepada bapaknya. "Doakan aku, Ustadz. Doakan aku kuat."
Ustadz Sobri mengusap kepala Saqira. "Allahumma qawwihi... Ya Allah, kuatkan dia. Tunjukkan dia jalan yang lurus. Jadikan dia laki-laki yang Engkau cintai, yang bisa menjaga amanah, yang bisa membahagiakan orang yang dia cintai. Aamiin."
"Aamiin," jawab Saqira pelan.
Keluar dari masjid, matahari sudah agak condong ke barat. Panasnya tidak seterik tadi. Saqira naik motor. Sebelum mengengkol, tangannya menyentuh bandana pink di pergelangan tangan. Mengencangkan ikatannya.
Di dalam hati, Saqira berbisik: "Baiklah, Allah. Aku tidak janji berubah besok. Aku janji berjalan. Pelan-pelan. Dari Saqira menuju Saqir. Tapi Saqira tidak akan aku bunuh. Karena Saqira bagian dari aku. Saqir yang akan aku pelajari."
Motor dinyalakan. Ngebul hitam. Tapi kali ini Saqira tidak merasa malu dengan suara mesin itu. Karena mesin itu yang akan mengantarnya kerja. Kerja untuk Kirana. Kerja untuk masa depan.
Di spion, masjid Baiturrahim semakin kecil. Suara Ustadz Sobri masih terngiang: "Agama itu mudah, Nak. Jangan persulit dirimu sendiri."
Saqira melaju pelan. Tidak ke proyek bangunan dulu. Tapi ke toko buku bekas di ujung pasar. Membeli buku panduan sholat untuk pemula. Sampulnya lusuh, harganya tiga ribu. Itu langkah pertama Saqir.
Dan di dalam dada, Saqira berjanji: "Kirana, aku tidak akan memaksamu menunggu. Tapi aku akan berjalan ke arahmu. Setiap hari, satu langkah. Sampai Allah yang menentukan."
...****************...