DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.
Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.
Misinya satu: BALAS DENDAM.
Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.
Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?
[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan
Zara melangkah ragu tanpa menurunkan kewaspadaan sedikit pun.
"Silakan," titah pria berkacamata hitam itu sembari membukakan pintu.
"Siapa kalian? Kenapa saya harus masuk?" tanya Zara dengan nada rendah.
"Bos Garda menunggu Nona. Jadi sebaiknya Nona masuk agar bisa segera menemui beliau," terang pria itu dengan nada datar.
Mendengar nama yang asing di telinganya, Zara mengerutkan dahi bingung. Alih-alih penasaran terhadap nama yang baru ia dengar, ia lebih penasaran tentang kenapa orang itu bukan sosok yang ia duga.
"Bukan Hardi, Susi, ataupun Reno?"
Meski enggan, namun melarikan diri kini tidak akan menguntungkan baginya. Satu orang saja sudah membuatnya kewalahan dan terluka. Kini ada lebih dari tiga pria, yang ia yakini bisa membahayakan keselamatannya kapan pun. Dengan penuh kesadaran, Zara pun melangkah perlahan, tanpa mengurangi sedikit pun kewaspadaannya.
Beragam pertanyaan berputar di kepalanya, namun bertanya pun bukan hal yang memungkinkan baginya. Ia sudah mengenal berbagai macam bajingan berdasi seperti Hardi. Kini tak akan ada lagi pengecualian baginya. Sebaik apa pun penampilan, seramah apa pun sikap seseorang kepadanya, ia tak akan mengubah pendiriannya untuk mempercayai orang lain. Hardi sudah menjadi pelajaran berharga baginya.
"Keputusan yang bagus, Nona. Terima kasih. Perkenalkan, saya Bani. Sepertinya kita akan sering bertemu ke depannya," ucap pria itu sembari sedikit membungkukkan badan.
"Ck! Cepat masuk! Gak usah berlagak di depan 'milik' Bos!" tegur yang lain sembari menutup pintu mobil dengan kasar.
Zara duduk di kursi belakang, diapit dua pria bertubuh kekar. Sementara kursi depan diduduki oleh Bani dan seorang sopir berjaket kulit. Mobil pun melaju, diikuti sebuah motor yang sebelumnya mengejar Zara.
"Maaf, tapi sepertinya Nona mungil ini butuh istirahat dulu," ucap pria di sebelah kanannya sembari membekap mulut Zara dengan kuat.
Dengan satu gerakan, sikut Zara menghantam rahang pria itu hingga terlempar ke dinding mobil.
Duagh!
"Ugh! Sialan! Cekal dia!" ringis pria itu sembari menahan nyeri di rahang dan pipinya.
"Ugh! Ban—Bani! Bantuin! Sial! Menyebalkan! Badan kecil tapi tenaganya luar biasa!" serunya kesulitan menahan kedua tangan Zara yang terus memberontak.
Dugh!
Dengan kepalan tangan, Zara menyundul pria di sebelah kirinya hingga hidungnya berdarah dan melepaskan cengkeramannya.
"Argh! Brengsek!" makinya sambil menahan rasa sakit.
Melihat kedua temannya kewalahan menghadapi Zara, Bani pun turun tangan.
Hap!
Dalam satu gerakan cekatan, ia menahan tubuh Zara hingga tak bisa bergerak. Pria yang terlihat ramah itu ternyata ahli dalam bela diri. Segera setelah itu, pria yang tadi disikut oleh Zara kembali membekap mulutnya dengan saputangan yang sudah diberi obat penenang. Belum semenit, Zara pun terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
"Hah ... Bangst! Apa-apaan ini! Kucing liar sialan!" dengus pria di sebelah kiri.
Darah masih menetes dari hidungnya, sedangkan temannya yang lain memiliki rahang dan pipi yang memerah serta bengkak. Melihat keadaan itu, Bani hanya terkekeh pelan.
"Ck! Kalau bukan tangan kanan kepercayaan Bos, aku hajar kamu!" ancam pria yang rahangnya bengkak sambil menekan lehernya sendiri sebagai tanda peringatan kepada Bani.
Tiga puluh menit pun berlalu, mereka akhirnya tiba di depan gerbang besi tinggi yang dipenuhi coretan cat semprot. Dari luar, tempat itu terlihat seperti gedung tua yang terbengkalai. Namun saat gerbang itu terbuka, terlihatlah area garasi yang luas, rapi, dan bersih. Mobil pun masuk, lalu mereka mengangkat tubuh Zara untuk dibawa keluar.
"Apa kalian mengalami kecelakaan di jalan?" tanya Garda tepat saat mereka membaringkan Zara di atas sofa ruang kerjanya.
Mereka pun saling berpandangan dengan canggung.
"A-ada sedikit keributan tadi, Bos," jawab Bani gugup.
"Sepertinya 'kucing manisku' ini agak galak ya?" ujar Garda sambil terkekeh, lalu memberi isyarat agar mereka pergi.
"Grrh! Kalau gak langsung dibayar setiap kali selesai tugas, malas sekali rasanya harus siap siaga menerima perintah aneh-aneh seperti ini!" gerutu pria berambut cepak yang hidungnya masih terluka.
Trak!
"Sepertinya aku harus berhenti meminum ini," ujar Garda sembari meletakkan gelas berisi anggur di atas meja.
"Hah ... aku juga harus berhenti menghisap ini," keluhnya lagi sambil mematikan puntung rokok di dalam asbak kristal.
Matanya terpaku pada satu titik, menatap lurus ke depan. Dalam ruangan yang remang-remang hanya diterangi lampu dinding, ia tersenyum puas.
"Kukira hanya seekor kucing, ternyata di balik matamu yang indah itu tersembunyi serigala betina yang liar," gumam Garda takjub sambil menatap tajam kedua mata Zara yang kini membalas tatapannya dengan penuh kebencian.
"Matamu penuh kebencian ... sungguh indah. Kamu bukan budak. Kamu akan kujadikan Ratu di dalam kerajaan bisnisku. Kamu akan belajar bahwa kekuasaan dan uang adalah segalanya, dan melihat penderitaan orang lain ... adalah Dopamin terbaik," lanjut Garda sambil terus menatap lekat wajah Zara.
"Siapa kamu? Brengsek!" desis Zara seperti ular yang siap menyerang.
"Hahaha! Benar juga, kita belum berkenalan dengan baik ya! Dan kamu juga belum tahu kalau dirimu sudah dijual oleh Bibi kesayanganmu? Atau lebih tepatnya ... oleh Tuan lamamu?" kelakar Garda sambil terus mengamati reaksi Zara.
Mendengar ucapan itu, Zara terdiam kaku.
"Apa maksudnya? Apa yang sebenarnya terjadi?" batinnya, mulai diliputi rasa panik.
"Aku harus membalas dendam. Ini tidak boleh berakhir seperti ini," pikirnya lagi dengan hati yang gelisah.