⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Langit di atas hutan Elf Kingdom tidak pernah terlihat begitu suram.
Bukan karena awan mendung. Bukan karena hujan. Tapi karena udara di sekitar kamp kecil itu berubah. Berat dan mencekam. Seperti ada sesuatu yang tidak terlihat namun sangat besar sedang mendekat.
Para elf tidak merasakannya dengan kesadaran penuh. Hanya insting bertahan hidup mereka yang berbisik: lari. Sembunyi. Jangan di sini.
Tapi tidak ada yang lari.
Karena mereka tidak tahu dari mana ancaman itu datang.
Di kejauhan, sekitar satu kilometer dari kamp, sesosok perempuan berjalan perlahan di antara pepohonan.
Rambut peraknya yang panjang berkibar lembut meski tidak ada angin. Payung hitam besar di pundaknya tidak pernah terguncang. Matanya—merah gelap seperti darah beku—menatap lurus ke arah kamp, ke arah sesuatu yang tidak bisa dia lihat namun bisa dia rasakan.
Shalltear Bloodfallen datang bukan atas perintah Ainz.
Tapi atas "saran" Albedo.
"Kau mungkin ingin melihat sendiri makhluk aneh yang sedang diamati adik-adik kembar itu," kata Albedo dengan senyum tipis yang tidak pernah bisa Shalltear baca. "Aura dan Mare sudah terlalu lama di sana. Aku khawatir mereka butuh bantuan."
Shalltear tidak peduli pada Aura atau Mare.
Tapi dia peduli pada kesempatan untuk menunjukkan bahwa dia juga berguna.
Lagipula, Ainz-sama pasti akan senang jika masalah ini cepat selesai.
Itulah yang dia pikirkan saat melangkah masuk ke wilayah hutan yang "bermasalah".
Di dalam kamp, Slamet sedang duduk di depan tenda logistik, mengupas kentang liar yang ditemukan elf perempuan kemarin.
Dia tidak tahu bahwa makhluk level seratus sedang berjalan ke arahnya.
Dia tidak tahu bahwa pasukan elit Theocracy juga sedang bergerak dari arah selatan.
Dia hanya tahu bahwa kentang ini keras sekali dan pisau yang dikasih elf itu tumpul.
"Jancuk," gumamnya, kesal.
Elf perempuan yang duduk di sebelahnya tidak mengerti kata itu, tapi ekspresi Slamet cukup jelas.
"Kesulitan?" tanyanya.
Slamet mengangkat bahu. "Gue bukan juru masak. Gue tukang mancing."
Elf itu tidak tahu apa itu "tukang mancing", tapi dia memilih untuk tidak bertanya.
Dalam radius tiga kilometer dari kamp, tiga kekuatan bersiap untuk bertabrakan.
Dari utara, Shalltear Bloodfallen, Guardian Lantai 1-3 Great Tomb of Nazarick, level 100, tanpa penyamaran, tanpa niat bersembunyi.
Dari selatan, Captain of the Black Scripture, seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut putih pendek dan mata biru pucat yang dingin. Di belakangnya, empat anggota Black Scripture lainnya. Level mereka tidak diketahui, tapi aura yang mereka pancarkan cukup untuk membuat makhluk buas dalam radius satu kilometer membeku ketakutan.
Mereka datang untuk menyelidiki anomali. Mereka tidak tahu anomali itu sedang mengupas kentang.
Dari barat, pasukan elf yang tidak tahu apa-apa. Mereka hanya melihat ada dua kelompok asing masuk ke wilayah mereka. Satu dari utara, satu dari selatan. Keduanya tidak dikenal. Keduanya tidak diundang. Keduanya tampak kuat.
Seorang komandan elf, yang usianya sudah mencapai tiga ratus tahun, menghela napas panjang.
"Suruh semua orang bersiap," katanya. "Malam ini akan panjang."
Shalltear tiba di tepi kamp saat matahari mulai tenggelam.
Dia tidak bersembunyi.
Dia berdiri di tengah area terbuka, payung hitamnya masih di pundak, matanya menatap ke arah tenda-tenda sederhana di depannya.
Seorang elf penjaga menghampirinya, tombak teracung.
"Berhenti! Siapa kau dan apa tujuanmu di wilayah..."
Shalltear tidak menjawab.
Dia hanya menatap elf itu sebentar.
Lalu elf itu roboh. Bukan karena serangan fisik. Tapi karena tekanan aura yang begitu besar sehingga jantungnya berhenti berdetak.
Shalltear melangkahi tubuhnya.
"Membosankan."
Di sisi lain kamp, Black Scripture masuk tanpa suara.
Mereka tidak perlu membunuh penjaga. Mereka hanya lewat, dan para elf yang melihat mereka tiba-tiba lupa apa yang baru saja mereka lihat.
Captain of the Black Scripture mengangkat tangan. Anggota regunya berhenti.
"Dia sudah di sini," katanya pelan.
"Monster berambut perak itu?"
"Iya."
Dia menunjuk ke arah tengah kamp, ke arah di mana sesosok perempuan dengan payung hitam sedang berdiri di antara tenda-tenda yang terbakar. Entah kapan apinya mulai menyala.
"Kita tunggu. Biarkan dia dan elf itu saling melemahkan."
Slamet mendengar teriakan.
Bukan teriakan peringatan. Tapi teriakan ketakutan.
Dia berdiri. Pisau dan kentang jatuh dari tangannya.
"Apaan tuh?"
Elf perempuan itu sudah berdiri, wajahnya pucat. Tangannya menggenggam erat gagang pedang pendek di pinggangnya.
"Jangan ke mana-mana," katanya cepat. "Kamu bukan pejuang."
"Ya gue tahu," jawab Slamet. "Tapi..."
"Jangan ke mana-mana."
Dia berlari menuju sumber teriakan.
Slamet berdiri sendirian di depan tenda.
"Sial."
Shalltear tidak perlu bergerak cepat.
Dia hanya berjalan, dan setiap elf yang mencoba menghentikannya roboh. Bukan mati—kebanyakan hanya pingsan atau lumpuh. Tapi beberapa yang terlalu berani tidak bangkit lagi.
Dia tidak menghitung.
Tidak peduli.
Dia hanya fokus pada satu hal: pria itu. Pria dengan aura aneh yang tidak bisa dia baca. Pria yang menjadi pusat semua kekacauan ini.
Di mana dia?
Matanya menyapu area tenda. Tidak ada.
Dia berjalan ke arah tenda logistik.
Dan di sana, di depan tenda itu, berdiri sesosok pria dengan pakaian lusuh dan ekspresi bingung.
Slamet menatap Shalltear.
Shalltear menatap Slamet.
Di dalam pikiran Slamet, nama "Shalltear Bloodfallen" dari anime Overlord mendadak melintas, namun akal sehatnya menolak percaya bahwa karakter fiksi itu nyata. Dengan ragu, dia bersuara, "Apakah lo kenal Maruyama?"
Shalltear tidak menjawab.
Sebagai Floor Guardian, insting bertarungnya otomatis bekerja. Mata merah darahnya menyipit, mengaktifkan kemampuan evaluasi dasar untuk membaca stat dan level lawan di depannya.
Namun, bar informasi yang biasanya muncul di dalam benaknya tidak memperlihatkan apa-apa. Tidak ada indikator Level. Hari ini, untuk pertama kalinya, sistem evaluasi Yggdrasil miliknya menemui jalan buntu.
Yang ada hanya kehampaan data.
Dan di dalam kehampaan itu, persepsi visual Shalltear mendadak terdistorsi.
Bukan hutan. Bukan tenda. Bukan kamp.
Langit di atas kepala Slamet seakan pecah menjadi susunan kode numerik yang asing. Angka-angka misterius berwarna merah menyala melayang di udara secara konstan: 404. 404. 404 Error.
Dunia di sekitar pria itu runtuh dan memulihkan diri dalam hitungan milidetik secara terus-menerus, seolah-ofah eksistensinya adalah sebuah kutukan yang menolak hukum alam dunia ini. Itu adalah anomali sistem yang sangat masif, sesuatu yang tidak seharusnya ada dalam barisan kode data Great Tomb of Nazarick maupun New World.
Akal sehat Shalltear yang dibangun di atas logika game Yggdrasil mendadak mengalami crash.
"Aaaaa..."
Shalltear merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan selama hidupnya—bahkan saat jiwanya dimanipulasi oleh World Item Downfall of Castle and Country.
Ketakutan.
Bukan ketakutan akan kematian fisik. Tapi ketakutan eksistensial terhadap sesuatu yang berada di luar batas pemahaman sistem dunianya.
"Apa... kau... Urusai..." Suara Shalltear bergetar, meracau dalam bahasa Yggdrasil asli yang tidak tersaring oleh sihir penerjemah dunia.
Slamet mengernyit, melangkah mundur. "Gue gak ngerti bahasa lo. Lo bisa bahasa apa?"
Itu bukan bahasa Elf ataupun Theocracy. Bukan bahasa yang dikenal di dunia ini.
Shalltear tidak menjawab, bagi Shalltear, ucapan Slamet terdengar seperti gelombang suara kehancuran yang bising.
Mata Shalltear mendadak kosong, kehilangan seluruh ketenangannya sebagai bangsawan undead.
Lalu dia berteriak.
Itu bukan teriakan komando pertempuran. Tapi jeritan histeris dari sebuah kecerdasan buatan yang sirkuit logikanya sedang dihancurkan paksa oleh data asing.
Dalam kepanikan mutlak, Shalltear melepaskan serangannya.
Bukan serangan terarah, melainkan pelepasan Mana secara membabi buta ke segala penjuru.
"Maximize Magic - Impure Shockwave Shield!"
BOOM!
Gelombang kejut berwarna merah kehitaman meledak dari tubuhnya. Tenda-tenda di sekitarnya hancur menjadi serpihan dalam sekejap. Tanah retak sedalam beberapa meter.
Tidak berhenti di situ, dalam kondisi Blood Frenzy yang terpicu oleh stres mental, Shalltear merapalkan mantra tingkat tinggi berturut-turut tanpa jeda.
"Maximize Magic - Vermillion Nova!"
Seorang agen Theocracy dari unit Black Scripture yang sedang mengintai di sisi barat seketika melengking histeris. Tubuhnya ditelan oleh pilar api gelap keunguan. Sihir berelemen negatif dan api tingkat sembilan itu membakar habis daging dan jiwanya hingga tak tersisa, mengabaikan seluruh armor pelindung yang dia kenakan.
Di sisi lain, seorang prajurit Elf yang panik mencoba mendekat langsung tumbang dengan dada berlubang besar, hancur oleh efek instan dari mantra energi negatif Greater Lethal yang melesat tanpa arah.
"Monster itu— dia menyerang tanpa pandang bulu!"
"Lawan! Gunakan seluruh Martial Arts kalian!"
Seketika, garis pertahanan hancur. Tidak ada komando. Tidak ada formasi. Hanya keputusasaan kolektif.
Para elit Black Scripture yang menyadari bahaya tingkat tinggi segera melepaskan serangan jarak jauh terbaik mereka. Pemanah melepas anak panah magis yang diperkuat teknik Bugei, sementara para magic caster merapalkan mantra ofensif Tier lima dan enam yang paling mematikan.
Beberapa mantra kilat dan ledakan menghantam tubuh Shalltear secara telak.
Namun, angka damage yang dihasilkan terlalu remeh. Kemampuan pasif High-Tier Magic Nullification dan ketahanan armor legendarisnya membuat mantra-mantra Tier rendah itu lenyap begitu saja tanpa mengurangi bar HP-nya secara signifikan. Shalltear sama sekali tidak bergeming. Dia terus mengamuk, menebas udara kosong dengan tangan kosongnya.
Elf-elf di atas pohon terus menghujani tombak. Semuanya patah begitu menyentuh kulit perak sang vampir akibat kekebalan fisik alaminya.
Darah mulai membasahi medan perang—darah merah pekat milik para elf, darah yang menghitam akibat hangus milik agen Theocracy, serta beberapa tetes darah perak milik Shalltear sendiri yang menguap menjadi energi magis.
Di tengah simfoni kehancuran itu, Slamet mencoba lari.
Akal sehatnya berteriak bahwa dia harus menjauh dari monster berambut perak yang sedang mengamuk layaknya bencana alam berjalan itu.
Namun, baru dua langkah dia mengayunkan kaki, gelombang sisa dari mantra Impure Shockwave Shield yang melesat liar menghantam punggungnya. Itu bukan serangan langsung, hanya serpihan energi dan reruntuhan batu yang terpental.
Tetap saja, bagi manusia biasa tanpa stat pertahanan seperti Slamet, hantaman itu seperti ditabrak truk kontainer.
Tubuhnya terlempar di udara, sebelum akhirnya jatuh berdebam dengan wajah menghantam tanah.
Rasa sakit yang luar biasa sempat menjalar sedetik, sebelum akhirnya kesadarannya direnggut oleh kegerapan total.
Tidak ada yang melihat.
Black Scripture sibuk bertahan.
Elf sibuk melindungi kamp mereka.
Shalltear sibuk menghancurkan apa pun yang bergerak.
Tidak ada yang memperhatikan satu tubuh roboh di dekat reruntuhan tenda logistik.
Slamet tidak bergerak.
Di tengah pertempuran, setelah beberapa menit—atau mungkin satu jam, tidak ada yang bisa memastikan—seorang anggota Black Scripture berteriak.
"Dia terlalu kuat! Kita tidak bisa menghentikannya!"
Captain of the Black Scripture menggertakkan gigi.
"Tahan! Dia pasti punya batas!"
Apakah dia punya batas?
Shalltear tidak tahu. Dia tidak berpikir. Dia hanya menyerang.
Tapi tubuhnya mulai terasa berat.
Luka-luka di sekujur tubuhnya—dari serangan Black Scripture, dari panah elf, dari sihirnya sendiri yang meledak di dekatnya—mulai terasa.
Dia tidak bisa terus seperti ini.
Dengan satu teriakan terakhir, dia melepaskan gelombang sihir ke segala arah—tidak terarah, tidak terkontrol, hanya ledakan besar.
Black Scripture terpental.
Elf terpental.
Beberapa tidak bangkit lagi.
Shalltear tidak mengecek. Dia berbalik. Berlari. Menghilang ke dalam hutan.
Meninggalkan kamp yang hancur, mayat yang berserakan, dan satu tubuh tak bergerak di dekat reruntuhan tenda logistik.
Di kejauhan, Captain of the Black Scripture berdiri dengan susah payah.
"Laporan korban?"
"Dua tewas. Tiga luka parah."
"Monster itu?"
"Lari."
Dia menatap kamp yang hancur.
"Target anomali?"
Tidak ada yang menjawab.
Mereka tidak menemukan siapa pun dengan ciri-ciri yang dideskripsikan. Tidak ada pria berpakaian aneh dengan sandal jepit satu. Tidak ada siapa pun yang tersisa selain elf mati dan elf sekarat.
Captain itu menghela napas.
"Mundur. Kita lapor ke Cardinal."
Beberapa jam kemudian, di perkemahan kecil Nazarick, Ainz menerima laporan.
Shalltear kembali dalam kondisi terluka parah. Tidak bisa bicara koheren. Matanya kosong. Mulutnya hanya mengulang satu kata.
"404... 404..."
Ainz tidak tahu apa artinya.
Aura dan Mare, yang berhasil selamat karena tidak berada di lokasi saat pertempuran terjadi, melaporkan apa yang mereka lihat dari kejauhan.
"Shalltear-sama mengamuk, Ainz-sama. Dia menyerang semua orang. Theocracy, elf—semua."
"Target?"
Aura menunduk.
"Hilang. Kami tidak tahu dia di mana. Mungkin tewas. Mungkin melarikan diri. Mungkin..."
Dia tidak melanjutkan.
Ainz menatap laporan itu.
Diamnya terlalu lama.
Aura dan Mare saling pandang, tidak berani bersuara.
Akhirnya, Ainz menggerakkan jari-jari tulangnya.
"...Kumpulkan semua informasi."
Itu saja.
Tidak ada perintah tegas. Tidak ada arahan selanjutnya.
Hanya keheningan yang berkepanjangan, dan para Guardian yang tidak tahu harus berpikir apa.
Di reruntuhan kamp Elf, di antara mayat dan puing-puing tenda, tidak ada yang tersisa.
Hanya abu, darah, dan keheningan.
Tidak ada yang melihat segitiga kecil berwarna hitam muncul di pergelangan tangan kiri Slamet, di bawah lengan bajunya yang sobek.
Tidak ada yang tahu bahwa dia akan membuka mata lagi di tempat yang sangat berbeda.
Dan tidak ada yang tahu bahwa malapetaka Nazarick yang sesungguhnya baru akan dimulai.