Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALAH CARI LAWAN
Pagi ini Naya mau tidak mau harus pergi ke kantor hari ini, karena ada rapat penting bersama para investor dari negara G yang tidak bisa dilemparkan ke Siska.
Sebagai CEO, kehadirannya sangat diperlukan untuk mengunci kontrak proyek pembangunan villa.
"Semua data ini sudah lebih dari cukup untuk membuat Wijaya Group goyah," gumam Naya sambil menutup laptopnya dengan sekali gerakan tegas.
Satu jam kemudian, Naya tiba di gedung perusahaannya.
Siska sudah menyambutnya di lobi dengan wajah sigap, membawa tablet dan beberapa dokumen.
"Selamat pagi, Nona Muda, semua investor sudah berkumpul di ruang rapat lantai lima. Tapi..." ucap Siska menggantung kalimatnya, wajahnya tampak agak ragu.
"Tapi kenapa, Siska? Ngomong yang jelas," tanya Naya sambil terus berjalan tegap menuju lift khusus eksekutif.
"Nona Catalina Wijaya juga ada di sana, dia memaksa ikut masuk sebagai perwakilan dari Wijaya Group karena mengklaim mereka punya saham di salah satu anak perusahaan investor kita," jelas Siska dengan nada kesal.
Naya menghentikan langkahnya tepat di depan pintu lift, lalu menoleh ke arah Siska dengan senyuman dingin.
"Baguslah kalau dia datang, malah hemat waktu, aku tidak perlu repot-repot nyari dia untuk memberikan kejutan," ucap Naya santai, lalu melangkah masuk ke dalam lift begitu pintunya terbuka.
Begitu Naya memasuki ruang rapat yang megah, atmosfer ruangan langsung berubah formal. Namun, pandangan Naya langsung tertuju pada Catalina yang duduk di kursi sudut dengan pakaian merah menyala yang mencolok.
Sementara Catalina, dia menatap Naya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan senyuman meremehkan.
Naya mengabaikan tatapan itu dan langsung duduk di kursi utama CEO.
"Selamat pagi semuanya, terima kasih sudah hadir. Kita langsung saja mulai pembahasan tender proyek villa yang akan kita bangun," ucap Naya membuka rapat dengan suara tegas, memancarkan aura kepemimpinan yang kuat.
Rapat berjalan dengan tegang selama hampir dua jam. Naya berhasil mematahkan semua argumen dan rumor busuk yang sempat disebarkan oleh tim Catalina mengenai pasokan bahan baku perusahaannya.
Para investor dari negara G tampak mengangguk puas dengan penjelasan rasional Naya.
"Baik, kalau begitu kesepakatan kontrak ini resmi kita kunci," ucap perwakilan investor sambil menjabat tangan Naya setelah rapat selesai.
Satu per satu orang keluar dari ruangan, menyisakan Naya, Siska, dan Catalina yang masih duduk di tempatnya dengan wajah yang sudah berubah masam karena rencananya gagal total.
"Siska, kamu keluar dulu, dan siapkan berkas yang saya minta tadi pagi," perintah Naya tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di meja.
"Baik, Nona Muda," jawab Siska patuh, lalu segera keluar dan menutup pintu ruang rapat rapat-rapat.
Begitu pintu tertutup, Catalina langsung berdiri dari kursinya, dia berjalan mendekati Naya dengan langkah angkuh.
"Hebat sekali kamu, Kanaya Tabitha, masih bisa pasang tampang sok berkuasa di depan para investor," sindir Catalina dengan nada suara yang melengking sinis.
Naya tidak langsung menjawab, dia merapikan kertas-kertas di depannya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kerja.
Saat itulah, blazer yang dikenakannya sedikit tersingkap, memperlihatkan lekukan perutnya yang membuncit seperti orang hamil muda.
Mata Catalina yang jeli langsung menangkap pemandangan tersebut, senyumannya melebar secara instan, penuh dengan rasa jijik sekaligus kemenangan.
"Oh, astaga... lihat ini. Jadi gosip dari orang-orang ku itu beneran nyata?" seru Catalina setengah berteriak, menunjuk ke arah perut Naya dengan jari telunjuknya.
Naya tetap tenang, wajahnya tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun, meski di dalam rahimnya kembali terasa denyutan hangat yang seolah bereaksi terhadap emosi negatif di sekitarnya.
"Maksud kamu apa, Nona Catalina Wijaya?" tanya Naya dengan nada datar dan dingin.
"Tidak usah belaga bego, Kanaya! Lihat perut kamu itu?" cibir Catalina dengan tawa yang sengaja dibuat-buat.
Catalina melangkah memutari meja, mencoba mendekati Naya untuk melihat lebih dekat, namun Naya tetap bergeming di kursinya.
"Kamu hamil, kan? Mengaku saja! Perempuan sok suci seperti kamu, yang tidak pernah kelihatan pacaran atau dekat sama pria, tiba-tiba perutnya buncit. Anak siapa yang ada di dalam situ, hah? Anak haram hasil pemuas nafsu di klub malam?" rentetan hinaan keluar dari mulut Catalina dengan sangat lancar, wajahnya tampak sangat puas bisa merendahkan Naya.
Naya memejamkan matanya sejenak. Mendengar kata anak haram, entah kenapa energi hangat di dalam perutnya mendadak bergejolak hebat, membuat suhu di dalam ruangan rapat ber-AC itu terasa mendingin secara drastis bagi Catalina.
Naya membuka matanya, menatap Catalina dengan pandangan yang begitu tajam hingga membuat tawa wanita di depannya itu langsung terhenti seketika.
"Sudah puas bicara nya?" tanya Naya, suaranya sangat pelan namun bergetar penuh ancaman.
Catalina sempat merinding, dia mundur satu langkah secara refleks karena ketakutan melihat sorot mata Naya yang tidak biasa. Namun, kesombongannya kembali menguasai dirinya.
"Kenapa? Kamu marah karena rahasia busuk mu ini ketahuan? Sadar diri, Kanaya! Begitu bukti kehamilan mu atau foto perut buncit kamu ini tersebar ke media, reputasi kamu sebagai CEO terhormat bakal hancur! Semua investor akan meninggalkan perempuan murahan seperti kamu!" ancam Catalina lagi, mencoba menutupi kegugupannya sendiri.
Naya perlahan berdiri dari kursinya, memajukan tubuhnya, menumpu kedua tangannya di atas meja, menatap Catalina yang kini tingginya menjadi lebih rendah darinya.
"Catalina, kamu itu benar-benar bodoh ya," ucap Naya dengan senyuman meremehkan yang sangat tipis di sudut bibirnya.
"Apa kamu bilang?!" seru Catalina, wajahnya kembali memerah karena tersinggung.
"Kamu terlalu sibuk ngurusin hidup ku, sampai kamu tidak sadar kalau dirimu sendiri sebentar lagi akan hancur," ucap Naya dengan nada santai namun menusuk tepat ke jantung pertahanan Catalina.
Naya meraih ponselnya, lalu menekan sebuah tombol untuk mengirimkan pesan singkat kepada Siska di luar.
"Apa maksud kamu? Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan!" bentak Catalina, mulai merasa tidak enak hati dengan ketenangan Naya.
Ceklekk
Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka, Siska masuk dengan membawa sebuah tablet dan langsung menyerahkannya kepada Naya.
Naya menerimanya, lalu memutar layar tablet itu ke hadapan Catalina.
"Coba kamu lihat ini baik-baik, ini adalah data manipulasi laporan keuangan dan bukti penggelapan pajak yang dilakukan Wijaya Group selama dua tahun terakhir, jam tujuh tadi pagi, semua data ini sudah resmi masuk ke email Kejaksaan Agung dan Direktorat Jenderal Pajak," jelas Naya dengan nada suara yang sangat santai, seolah sedang membicarakan cuaca.
Deg
Wajah Catalina seketika berubah pucat pasi, matanya melotot menatap deretan angka dan dokumen resmi perusahaannya yang terpampang jelas di layar tablet itu, seketika tubuhnya mendadak lemas.
Deg