Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 19
Siang itu, restoran terlihat lebih ramai dibanding biasanya. Deretan meja hampir terisi penuh oleh pelanggan yang datang silih berganti untuk makan siang. Suara percakapan para pengunjung bercampur dengan langkah para pelayan yang mondar-mandir membawa pesanan, menciptakan suasana sibuk yang seharusnya cukup untuk mengalihkan pikirannya. Namun kenyataannya tidak.
Sejak pagi, pikiran Gayatri terus dipenuhi banyak hal. Tentang Keenan yang kini berada di ambang kehancuran rumah tangganya sendiri. Tentang Shakira yang masih berusaha kuat menjalani kehamilan mudanya. Dan juga tentang Keandra di Korea yang entah sedang apa saat ini. Meski putranya itu sudah mulai pulih, hati seorang ibu tetap tidak bisa benar-benar tenang ketika anaknya berada jauh di negeri orang.
Beberapa kali Gayatri kehilangan fokus saat memeriksa laporan keuangan restoran. Ia bahkan baru tersadar ketika salah satu staf memanggilnya untuk menanyakan sesuatu.
“Maaf, aku sedang melamun,” ucap Gayatri pelan sambil mengusap pelipisnya. “Ada apa? Apa yang kau butuhkan?”
Staf itu hanya mengangguk maklum sebelum kembali bekerja. “Kami kehabisan stok barang, Bu. Mohon izin untuk meminta daftar belanja.”
Gayatri mengembuskan napas panjang lalu menyerahkan daftar yang sudah ditulisnya kepada staf itu.
Ia baru saja hendak kembali memeriksa berkas di tangannya ketika matanya tanpa sengaja tertuju ke arah pintu masuk restoran. Gerakannya langsung terhenti.
Gayatri melihat Kaluna yang masuk bersama beberapa orang temannya. Putrinya itu tampak tertawa kecil sambil berjalan percaya diri menuju salah satu meja dekat jendela. Namun yang membuat Gayatri mengernyit bukanlah kedatangan Kaluna, melainkan penampilannya.
Kaluna terlihat sangat berbeda, putrinya itu mengenakan pakaian bermerek yang tampak mahal, dipadukan dengan tas kecil elegan dari brand mewah luar negeri yang langsung dikenali Gayatri. Belum lagi sepatu dan jam tangan yang dikenakannya, semuanya terlihat terlalu mahal untuk ukuran seorang gadis seusianya.
Gayatri memperhatikan putrinya lebih lama. Cara Kaluna berbicara, tertawa, bahkan duduk di tengah teman-temannya tampak berubah sekarang. Ada sikap percaya diri berlebihan yang perlahan mulai terlihat, seolah ia sedang berusaha menunjukkan sesuatu kepada orang-orang di sekitarnya.
Tatapan Gayatri perlahan jatuh pada tas mewah yang diletakkan Kaluna di atas meja sambil sesekali dipuji oleh teman-temannya.
“Kau sanngat beruntung, Luna. Ayah sambungmu sangat memanjakanmu. Apa tas ini juga dibelikan olehnya? Cantik sekali,” ujar salah seorang temannya kagum.
Kaluna tersenyum bangga. “Iya, aku baru membelinya minggu lalu.”
Kening Gayatri semakin berkerut. “Dari mana Kaluna mendapatkan semua itu? Mahesa tidak mungkin memberinya uang sebanyak itu. Dengan kondisi keuangan Mahesa dan Nadya sekarang, memenuhi kebutuhan rumah tangga saja sudah cukup berat, apalagi membelikan Kalina barang mewah seperti itu,” gumamnya terheran-heran.
Melihat putrinya mengenakan barang-barang mahal seperti ini membuat Gayatri merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Namun ia tidak ingin menegur Kaluna di depan teman-temannya. Gayatri memilih menahan diri dan kembali ke ruangannya meski pikirannya sudah tidak tenang lagi.
Selama hampir satu jam, ia mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaan. Akan tetapi, fokusnya terus buyar. Matanya beberapa kali terus melirik ke luar melalui kaca kecil di ruangannya, memperhatikan Kaluna yang tampak begitu menikmati makan siangnya bersama teman-temannya.
Hingga akhirnya, mereka selesai makan. Gayatri segera memanggil salah satu staf restoran. “Tolong panggil Kaluna ke ruanganku,” ujarnya tenang.
Staf itu mengangguk lalu berjalan menghampiri meja Kaluna.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan Gayatri diketuk pelan.
“Masuk,” sahut Gayatri tanpa menoleh.
Kaluna masuk sambil membawa senyum kecil di wajahnya. “Ibu memanggilku? Ada apa?” tanyanya seraya tersenyum cerah.
Gayatri mengangguk singkat lalu menunjuk kursi di depan mejanya. “Duduklah, Nak. Ada hal yang ingin Ibu bicarakan bersamamu”
Kaluna tampak santai saat duduk di hadapan ibunya. Namun perlahan senyum di wajahnya memudar ketika melihat ekspresi Gayatri yang terlihat serius.
“Ada apa? Kenapa ekspresi Ibu seperti itu? Apa aku membuat kesalahan?” tanyanya pelan.
Gayatri tidak langsung menjawab. Tatapannya terlebih dahulu memperhatikan penampilan putrinya dari atas hingga bawah. Mulai tas mahal yang dibawanya, jam tangan mewah hingga sepatu yang dikenakan Kaluan. Semua itu terlalu mencolok untuk diabaikan.
“Dari mana kau mendapatkan semua barang-barang mewah itu?” tanya Gayatri akhirnya, seraya menatap Kaluna dengan serius.
Kaluna tampak sedikit terkejut. “Barang apa, Bu? Aku tidak—”
“Jangan pura-pura tidak tahu,” potong Gayatri tenang namun tegas. “Tasmu. Jam tanganmu. Dan pakaian yang kau pakai itu. Dari mana kau mendapatkannya? Kau tidak memiliki uang untuk membeli semua itu.”
Kaluna terlihat salah tingkah sesaat sebelum akhirnya tertawa kecil. “Ini … ini hanyalah hadiah.”
“Hadiah dari siapa?”
Pertanyaan itu langsung membuat Kaluna terdiam. Gayatri memperhatikan perubahan ekspresi putrinya dengan saksama. Dan saat itulah, firasat buruk perlahan mulai muncul di dalam hatinya.
“Kaluna,” ucap Gayatri pelan namun tajam. “Ibu sedang bertanya serius padamu. Dari mana kau mendapatkan barang-barang itu?”
Kaluna menggigit bibir bawahnya pelan. Sementara Gayatri mulai merasa bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh putrinya sendiri.
“Kaluna,” panggil Gayatri lagi, tatapannya sepenuhnya tertuju pada putrinya yang tampak gugup. “Kenapa? Kau tidak bisa menjawabnya?”
Kaluna mengangkat wajahnya perlahan, menatap sorot mata sang ibu yang seakan siap untuk marah padanya kapan saja.
“Jika aku mengatakan yang sebenarnya, apakah Ibu akan marah padaku?” tanyanya lirih. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuannya.