NovelToon NovelToon
Suara Yang Tak Pernah Terucap

Suara Yang Tak Pernah Terucap

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.

Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.

Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.

Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.

Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.

Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perkenalan Dengannya

Di sisi lain lorong, Rommy masih berjalan setengah langkah di depan Bu Lina. Tatapan pustakawan itu belum benar-benar melembut.

“Rak wirausaha di sana,” katanya menunjuk deretan buku dengan label ekonomi dan bisnis.

Rommy berhenti, memeriksa kode kecil di ujung rak, lalu mencocokkannya dengan buku di tangannya.

“Ah, iya. Ketemu.”

Ia menyelipkan buku itu ke celah yang sesuai, lalu menepuk-nepuk punggungnya pelan seolah memastikan posisinya rapi.

“Bu,” panggilnya tiba-tiba.

Bu Lina menoleh.

“Buku di sini bisa dibeli gak?”

Alis Bu Lina terangkat.

“Dibeli?”

“Iya. Aku tertarik sama isinya. Kalo bisa beli, sekalian aja.”

Bu Lina menggeleng pelan. “Ini perpustakaan, Mas. Buku di sini dipinjam, bukan dibeli.”

Rommy terdiam sepersekian detik.

Lalu wajahnya berubah cerah.

“Oh.”

Senyumnya melebar.

“Berarti… gratis dong?”

“Pinjamnya gratis. Terus nanti ada kartu anggota.”

Rommy mengangguk cepat. “Wah… enak juga ya.”

Baru kali ini nada suaranya terdengar benar-benar antusias.

Ia teringat botol minuman yang tadi diambilnya.

“Oh iya, Bu. Kalo minuman itu bayarnya di mana? Kasirnya di depan?”

Bu Lina memandangnya sebentar, lalu menjawab datar, “Tidak ada kasir. Itu disediakan untuk pengunjung. Gratis juga.”

Rommy membeku.

“Gratis?”

Bu Lina hanya mengangguk sambil tersenyum.

Hening setengah detik.

Lalu senyum Rommy makin lebar, nyaris tak tertahan.

“Bu… kenapa saya baru tahu tempat beginian ada di kota ini?”

Bu Lina hampir tersenyum, tapi tetap menjaga wibawa. “Karena kamu jarang ke perpustakaan kali?"

Rommy terkekeh kecil.

“Kayaknya saya bakal sering-sering ke sini deh, Bu.”

Ia meraih kembali buku wirausaha yang tadi sudah ia masukkan, memandang Bu Lina seolah minta izin tanpa mengucap.

“Pinjam ya, Bu.”

“Kalau sudah jadi anggota.”

“Siap. Nanti daftar.”

Bu Lina mengangguk, lalu berjalan menyusuri lorong lain, memanfaatkan momen untuk mengecek kerapian rak.

Rommy berbalik sambil membuka bukunya dan membaca daftar isi. Kali ini langkahnya kini lebih ringan. Bukan hanya karena minuman gratis. Tapi karena ia sadar tempat ini… tak semenakutkan yang ia kira.

Ketika ia hendak mendekati lorong tempat Yuda tadi masuk, langkahnya melambat.

Dari kejauhan, ia melihat dua sosok berdiri berdampingan di antara rak tinggi.

Tak ada lagi gerakan kabur. Tak ada wajah canggung. Tak ada tingkah panik.

Mereka benar-benar berbicara empat mata.

Rommy berhenti beberapa meter sebelum lorong itu, bersandar santai di sisi rak, pura-pura membaca buku di tangannya.

Namun senyum tipis tak bisa ia sembunyikan.

“Gitu dong…” gumamnya pelan.

Melihat sahabatnya yang biasanya cuma bisa overthinking, kini berdiri di sana. Meski mungkin masih gugup, tapi ia tetap bertahan.

Sunyi turun perlahan di antara mereka.

Nazwa berdiri dengan buku di tangannya, senyum kecil masih tertahan di sudut bibir. Tatapannya menyusuri deretan punggung buku di rak, seolah memberi ruang bagi keheningan itu untuk bernapas.

Yuda tidak ikut melihat rak. Matanya tetap terpaku padanya.

Pada garis halus di ujung kacamatanya. Pada helaian rambut yang jatuh di bahu. Pada cara ia berdiri dengan tenang, seakan lorong ini memang ruang miliknya.

“Kamu tahu gak…” suara Nazwa tiba-tiba memecah lamunan itu.

Yuda tersentak kecil. Refleks ia memalingkan wajah, pura-pura memperhatikan judul buku di hadapannya.

Nazwa mengangkat wajahnya pelan.

“Lorong ini tempat pertama kali kita ketemu, loh.”

Kata-kata itu membuat jantung Yuda berdegup keras.

Matanya membulat. Pandangannya menyapu sekitar—ujung rak, tangga kecil di sudut sana, lampu temaram di atas kepala. Detail-detail yang dulu samar, kini terasa jelas.

Ia memang mengingat momen itu. Tapi ternyata… bukan cuma dia.

“Kadang... aku masih kepikiran soal hari itu,” lanjut Nazwa pelan.

Kalimat itu menggantung di udara.

Yuda menoleh kembali, kali ini tanpa sadar. Tatapan mereka hampir bertemu, sebelum Nazwa menunduk sedikit.

“Entah kenapa…”

Nazwa berdeham kecil.

“Ehm, maksudku…” Ia menggigit bibir bawahnya sebentar. “Aku minta maaf waktu itu. Kalau mungkin ucapanku menyakiti hatimu.”

Yuda benar-benar terdiam.

Ia mengingatnya.

Kalimat spontan Nazwa yang terdengar seperti candaan, tapi saat itu menghantam rasa percaya dirinya yang sudah rapuh. Ia pulang dengan perasaan kecil, merasa tak pantas berdiri di tempat ini.

Dan sekarang—

Nazwa justru mengingatnya lebih detail dari yang ia kira. Bahkan mengingat sudut lorong ini.

Nazwa menoleh lagi ke arahnya.

Gerakan kecil itu membuat Yuda kembali salah tingkah. Pandangannya buru-buru berpindah ke rak lain, padahal tak satu pun huruf ia baca.

“Maafin aku ya,” bisik Nazwa tulus. “Aku gak bermaksud melukai perasaanmu waktu itu.”

Senyumnya lembut. Bukan senyum basa-basi. Senyum seseorang yang benar-benar memikirkan perasaan orang lain.

Yuda merasa tenggorokannya kering.

Perasaan berdebar atas harapan untuk bertemu dan menyapanya, tapi gadis itu justru berdiri di sampingnya untuk meminta maaf.

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu Yuda akhirnya menggeleng pelan.

“Engga,” ucapnya lirih. “Yang salah itu bukan kamu.”

Ia menarik napas, mencoba menahan getar di suaranya.

“Itu karena emang aku gak tahu.”

Kalimat itu keluar jujur. Tanpa tameng.

Yuda menelan ludah, lalu tanpa sadar berkata terlalu cepat,

“Berarti… kamu sering mikirin aku dong?”

Kalimat itu meluncur begitu saja.

Nazwa langsung tersentak.

“T-tapi aku gak sering kok!” jawabnya buru-buru. “Aku cuma… ngerasa bersalah aja, Mas. Makanya jadi kepikiran. Tapi anu… dalam konteks yang gak seperti yang kamu pikirin mungkin.”

Tangannya refleks merapikan rambut di samping telinga. Ujung jarinya sedikit gemetar.

Yuda yang tadi tegang, kini justru terdiam melihatnya salah tingkah.

“Aku tahu kamu orang baik,” lanjut Nazwa lebih pelan, mencoba mengendalikan nada suaranya.

“Karena di rating profilmu… rata-rata lima bintang, kan ya? Makanya aku selalu kepikiran.”

Detik itu juga Yuda membeku.

Profil.

Rating.

Berarti—

“Jadi kamu sering liatin profilku?” celetuknya spontan.

Nazwa mematung.

Matanya membulat di balik kacamatanya. Pipi yang tadi hanya merona tipis kini berubah lebih jelas.

“Eh e-engga!” bantahnya cepat. “M-maksudnya itu anu… aku cuma sesekali lihat kok. gak lebih dari lima kali malah, Mas!”

Yuda merasa sesuatu di dadanya menghangat.

Ia menahan senyum.

“Berarti empat kali?” tanyanya pelan, mencoba terdengar santai.

“Bukan!” Nazwa langsung menggeleng. “Tiga kali! Sumpah! Abis itu langsung ku-close HP-ku.”

Ia terkekeh kecil, lalu tanpa sadar menggaruk tengkuknya.

Yuda terdiam.

Gerakan itu... itu kebiasaannya sendiri setiap kali gugup. Gerakan spontan yang tanpa sadar sering ia lakukan. Ingin dia menghilangkan kebiasaan itu karena membuatnya sering dicap tak percaya diri. Namun ketika melihat Nazwa melakukan hal yang sama, entah mengapa, membuatnya merasa dekat.

Bukan karena ia ditiru. Tapi karena ia sadar, kecanggungan itu bukan miliknya sendirian.

Apakah dia... juga merasa gugup?

Perlahan Nazwa menurunkan tangannya. Lalu kembali menyisir rambutnya yang tergerai di depan dadanya. Sesekali sudut matanya melirik ke arah Yuda. Bibirnya mengatup rapat. Namun masih jelas menampilkan senyum yang berusaha ditahan.

Nazwa menarik napas kecil, lalu tersenyum canggung.

“Lagipula… rating lima bintang gak bisa bohong kan?”

Yuda menatapnya.

“Aku cuma nganter barang, loh,” jawabnya pelan.

“Tapi orang tetap bisa jahat meskipun cuma nganter barang,” sahut Nazwa lembut. “Dan kamu engga.”

Hening lagi.

Kali ini bukan karena gugup.

Lebih karena keduanya sama-sama mencoba memahami perasaan yang perlahan berubah arah.

“Oiya, Mas?”

Yuda berkedip.

“Kita belum kenalan loh.”

Ia melangkah setengah langkah lebih dekat, lalu menjulurkan tangannya dengan senyum tulus.

“Namaku Anindita Annazwa. Salam kenal ya, Mas.”

Nama itu terasa lebih indah ketika diucapkan langsung olehnya.

Yuda menatap tangan yang terulur itu sepersekian detik terlalu lama, sebelum akhirnya ia meraihnya.

Sentuhan itu ringan. Dan hangat.

“Aku Yuda, Firnanda,” jawabnya pelan. “Salam kenal.”

Tangan mereka terlepas pelan. Tak ada yang buru-buru menarik diri kali ini.

Di antara rak-rak tinggi itu, mereka berdiri sedikit lebih dekat dari sebelumnya.

Dan tak satu pun berniat pergi lebih dulu.

1
mmmmuuuuu
sehat² dah para kurir
Writer_lynn
Tempat terbaik untuk merenung☺️
saya orang gila baru
perpustakaan memang semenenangkan itu
saya orang gila baru
"di di"/Slight/
saya orang gila baru
apakah namanya benar² rahasia/Sly/
saya orang gila baru
klo diganti "sudut bibirnya terangkat" pasti lebih bagus😌
Pengabdi Uji
km jutek jg kali jd org2 tktduan😭😭
Pengabdi Uji
ooohh si cewe di omelin bosnya ya
Pengabdi Uji
wkwk enggak lg ngulek itu bk. fashion show🤣
Mingyu gf😘
hahaha😆😆emang suka gitu kalau mengikuti maps yang banyak belokan
Mingyu gf😘
hayoo nazwa🤭🤭🤭
Mingyu gf😘
tapi perasaan kurir gak ada libur
Cecilia
ANJERRRRR NANGGUNG BANGETTT
Chimpanzini Sudah Hiatus: /Shy//Shy//Shy/
total 1 replies
Cecilia
dia lucu banget sihh😭
Chimpanzini Sudah Hiatus: adekku kok. makanya lucu/Proud/
total 1 replies
Cecilia
aku jga mww
Chimpanzini Sudah Hiatus: wkwk author pun jga mau🤣🤣
total 1 replies
Cecilia
mari kita juluki romi si uler coklat
Chimpanzini Sudah Hiatus: mana boleh kek gitu
total 1 replies
Cecilia
BU LINA CANTIKKK BANGETTT
Chimpanzini Sudah Hiatus: /Awkward//Awkward//Awkward/
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
cantik nya😍😍😍😍😍
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
ya itu akan timbul alami ketika bertemu orang baik
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
senyuman formalitas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!