Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.
Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.
Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Kerja Kembali
Xena melangkah menuruni anak tangga satu per satu dengan kening yang masih berkerut. Di ruang tamu, tampak Mami sedang duduk menemani dua orang pria yang menjadi tamu tak diundang di jam delapan lewat ini.
Satu di antaranya adalah Pak Heru, agen properti yang waktu itu dipercaya untuk mengurus proses penjualan rumah baru Xena, rumah yang dahulu kala hampir saja ia berikan cuma-cuma sebagai hadiah pernikahan untuk mantan suaminya yang tidak tahu diri.
Akan tetapi fokus Xena justru teralihkan pada pria paruh baya yang duduk di sebelah Pak Heru. Pria itu mengenakan pakaian sederhana, dan posisi duduk yang sangat membungkuk dan memakai topi upluk, pakai masker juga dengan dalih sedang pilek.
"Selamat malam, Pak Heru. Maaf membuat menunggu," sapa Xena.
"Eh, malam, Ibu Xena. Mohon maaf sekali saya bertamu di jam yang kurang sopan ini. Begini, Bu. Urusan dokumen penjualan rumah yang kemarin kan sudah beres semua. Seperti yang Ibu ketahui, rumah itu ternyata akhirnya dibeli oleh Dokter Ibra, yang mana ternyata calon suami Bu Xena."
Xena mengangguk pelan. Mengingat hal itu, sudut bibirnya otomatis terangkat sedikit. Ibra memang sengaja membeli rumah itu dari tangan Xena. Pria itu secara jantan mengatakan bahwa rumah itu akan menjadi rumah masa depan mereka setelah menikah nanti. Ibra bahkan menyerahkan seluruh kunci dan pengelolaan renovasinya kepada Xena, membiarkan wanita itu "mengide" sendiri dan mengatur segalanya demi kenyamanan Xena kelak.
Xena yang memang berjiwa perfeksionis dan mandiri tentu saja menyambut ide itu dengan senang hati, ia bebas mendesain istana masa depannya tanpa ada campur tangan mertua beracun seperti di masa lalunya.
"Iya, Pak Heru. Saya ingat. Lalu ada keperluan apa lagi ya, Pak?" tanya Xena lembut. sedangkan Pria yang disamping Pak Heru langsung melirik sekilas ke Pak Heru, seperti ada yang ia kejutkan.
Pak Heru berdeham, lalu melirik pria di sebelahnya. "Jadi begini, Bu Xena. Saya dengar dari asisten Dokter Ibra, Ibu sedang mencari seorang pekerja untuk mengurus pekarangan dan taman di rumah baru itu? Kebetulan, ini ada orang yang mau melamar jadi tukang kebun di sana."
Xena mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Matanya menyipit, menatap lekat-lekat wajah pria paruh baya di depan Pak Heru. Kok sepertinya aku kenal ya? Tapi di mana? batin Xena bingung. Wajah itu terasa familiar di ingatannya.
Melihat Xena yang tampak ragu dan memperhatikannya dengan intens, pria itu langsung menundukkan kepala sedalam-dalamnya, takut jika wajahnya terlihat jelas.
"Mari, Pak, silakan diperkenalkan dirinya," bisik Pak Heru menyenggol lengan pria di sampingnya.
"Anu... selamat malam, Nyonya. Nama saya... Yanto. Saya sangat butuh pekerjaan ini, Nyonya. Saya berjanji akan bekerja keras, membersihkan rumput, merawat bunga, apa saja asal saya bisa dapat upah untuk makan sehari-hari."
"Betul, Bu Xena. Pak Yanto ini kelebihannya sangat rajin dan jujur, kebetulan saya mengenalnya. Beliau sedang butuh pekerjaan, saya berani menjamin kinerjanya tidak akan mengecewakan Ibu."
Xena terdiam sejenak. Rasa iba mengalir di hatinya, walaupun ada secercah rasa penasaran mengapa wajah pria ini tidak asing, Xena memilih untuk mengesampingkannya. Jiwa sosialnya yang tinggi tidak tega menolak orang yang benar-benar berada di titik nadir kehidupan.
"Baiklah, Pak Yanto. Kebetulan taman di rumah itu memang cukup luas dan saya butuh seseorang yang telaten untuk merawatnya dari sekarang, sebelum rumah itu ditempati. Mengenai gaji, kita sesuaikan dengan standar yang berlaku, dan saya akan berikan uang makan harian. Bagaimana? Bapak bersedia?"
"Bersedia nyonya, terima kasih banyak. Kebaikan Ibu tidak akan saya lupakan."
Kesepakatan pun terjadi malam itu. Setelah menandatangani beberapa dokumen pengantar kerja dari Pak Heru, kedua tamu itu pamit pulang.
...***...
Masa cuti melahirkan sekaligus cuti bermasalah Nadine rupanya sudah habis. Hari ini adalah hari pertamanya mulai bekerja di kantor baru, kantor tempat Reyhan bekerja. Dan bagi Reyhan, kehadiran Nadine di kantor yang sama adalah awal dari bencana yang membuatnya semakin merasa terpenjara secara lahir dan batin.
Sejak subuh, suasana di dalam rumah sudah sedingin es. Reyhan bersiap-siap dengan wajah masam, sementara Nadine sibuk bersolek dengan pakaian kantornya yang ketat, mencoba mengembalikan citra dirinya sebagai wanita karier yang modis.
Setiap harinya Reyhan selalu mencueki Nadine. Jangankan memberikan senyuman, menatap wajah istrinya itu saja Reyhan sudah merasa mual. Bahkan kehadiran Aksara, bayi yang baru dilahirkan Nadine, sama sekali tidak dipedulikannya. Reyhan sengaja membangun tembok pembatas yang sangat tebal, berharap dengan sikap dinginnya yang keterlaluan itu, Nadine tidak akan betah menjadi istrinya dan memilih pergi meninggalkannya tanpa perlu ia minta.
Dalam kebutaan egonya itu, Reyhan sama sekali tidak menyadari satu hal yang ganjil. Per mulai hari ini, bahkan sejak kemarin, sudah tidak ada lagi suara tangisan bayi Aksara yang biasanya mengudara memekakkan telinga di rumah itu.
Rumah itu mendadak sepi dari suara tangis anak kecil. Laki-laki itu benar-benar lupa akan sosok anak kecil bernama Aksara, yang beberapa waktu lalu amat ia sayangi setengah mati karena diyakini sebagai darah dagingnya sendiri.
"Mas, aku sudah siap. Ayo berangkat."
Reyhan tidak menyahut. Ia langsung meraih kunci mobilnya dan berjalan mendahului Nadine tanpa menoleh sedikit pun.
Di dalam mobil sepanjang perjalanan menuju kantor, mereka saling diam. Reyhan benar-benar enggan berangkat bersama Nadine seperti ini. Sementara Nadine merasa harinya begitu cerah.
Reyhan tahu betul konsekuensinya. Di kantor baru nanti, kehadiran Nadine yang berstatus sebagai istrinya bisa menjadi bulan-bulanan segelintir teman-teman kantornya yang tahu masa lalunya.
Orang-orang yang tahu bahwa istri Reyhan yang dulu adalah Xena, pasti akan langsung memandangnya dengan sebelah mata. Sudah pasti cap jelek sebagai pria bodoh yang membuang berlian demi sebongkah batu kerikil akan melekat erat pada dirinya.
Sebelum mobil memasuki area parkir gedung kantor, Reyhan mendadak menginjak rem dengan keras, membuat tubuh Nadine sedikit terjungkal ke depan.
"Mas, pelan-pelan dong."
"Dengar ya, Nadine. Di kantor nanti, jangan macam-macam. Jangan pernah buat ulah atau bertingkah seolah-olah kamu itu ratu di sini. Jaga sikapmu!"
"Kenapa memangnya? Kamu malu punya istri aku? Aku ini bekerja di sini secara profesional ya."
"Profesional kamu bilang? Kamu itu tidak tahu apa-apa, Nadine. Kamu tahu siapa pemilik asli dari seluruh perusahaan besar ini? Siapa bos tertinggi yang memegang saham utama di gedung tempat kita bekerja sekarang?"
"Siapa?"
"Itu adalah Xena-ku, Ndin! Xena yang dulu kamu kamu rebut suaminya." ucap Reyhan dengan nada berapi-api.
Nadine seketika membeku.
"Kok bisa?!"
"Tentu saja bisa. Makanya, gunakan otakmu itu untuk berpikir yang lebih jernih. Jangan sampai kamu berulah dan membuat posisiku ikut terancam di sini." cemooh Reyhan lagi sebelum kembali melajukan mobilnya memasuki area parkir dengan kasar.
Mengapa harus Xena lagi?! Mengapa takdir selalu berpihak pada wanita itu, dan mengapa dia harus menjadi bosku di sini Argggh. jerit Nadine.
Bersambung.
jd pnsran,gmna nsib emaknya reyhan???kn dia biang keroknya....
mntn mrtua gila msh aja usaha....
mga xena cpt hmil deh,biar yg onoh pd bungkam......