NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Hal Kecil yang Tak Terduga

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, tapi Dika merasa ada yang sedikit berbeda. Bukan karena ada peristiwa besar yang terjadi, tapi lebih pada suasana di sekitarnya. Setiap kali ia berjalan melewati lorong atau bekerja di taman, rasanya selalu ada mata yang mengawasi. Bu Marni yang biasanya hanya tegas, kini terlihat lebih sering melongok ke mana pun Dika pergi. Begitu juga dengan pembantu lain; mereka jadi lebih berhati-hati, bahkan sering berhenti bicara begitu Dika lewat, seolah takut ada yang salah terdengar.

Dika memahami itu semua. Sejak Paman Arga bicara padanya dua hari lalu, ia sadar posisinya semakin diperhatikan. Maka dari itu, ia berusaha bekerja lebih giat lagi. Ia bangun lebih pagi dari yang diminta, sebelum matahari benar-benar terbit, sudah terlihat sibuk menyiram tanaman satu per satu. Ia membersihkan rumput liar di pinggir jalan setapak sampai tidak tersisa sedikit pun, mengelap daun-daun besar yang berdebu, dan merapikan alat-alat kebun sampai tertata rapi di gudang. Kalau tidak ada yang menyuruh bicara, ia akan diam saja, fokus pada apa yang dikerjakannya. Ia tidak ingin memberi alasan sedikit pun bagi siapa pun untuk mencarinya kesalahan.

Namun, meski ia sudah berusaha menjaga jarak dan menghindari perhatian lebih, takdir seolah sering mempertemukannya dalam hal-hal kecil yang tidak bisa dihindari.

Suatu pagi, udara masih terasa sejuk dan embun masih menempel di ujung daun. Dika sedang membawa dua ember berisi air dari sumur belakang untuk menyiram tanaman di sisi taman yang agak tersembunyi, dekat pohon mangga tua yang besar. Saat baru sampai di sana, ia melihat Kirana berdiri di bawah pohon itu. Wajahnya terlihat cemas, matanya menengadah ke atas sambil sesekali memanggil dengan suara pelan.

Dika berhenti sejenak. Ingat pesan keras Paman Arga terngiang di telinganya: Jangan berduaan, jangan terlalu dekat. Tapi saat ia melihat Kirana menoleh ke arahnya, matanya terlihat bingung dan sedikit takut, ia merasa tidak mungkin hanya lewat begitu saja tanpa menolong.

“Permisi, Non. Ada yang bisa dibantu?” tanyanya sopan, tetap berdiri agak jauh, tidak berani mendekat terlalu cepat.

Kirana menunjuk ke atas dahan pohon yang agak tinggi. “Ini kucing peliharaanku, Mili. Tadi dia main ke atas, lalu tiba-tiba takut turun. Sudah sepuluh menit saya panggil, dia malah gemetar saja di situ.”

Dika menengadah. Benar saja, di dahan yang tidak terlalu tebal itu ada seekor kucing kecil berbulu oranye, matanya melotot ketakutan. Angin pagi berhembus pelan, membuat dahan itu bergoyang sedikit, seolah siap membuat kucing itu tergelincir.

“Tunggu sebentar, saya coba bantu turunkan,” kata Dika. Ia meletakkan embernya dengan hati-hati agar airnya tidak tumpah, lalu memeriksa batang pohonnya. Cabang-cabangnya cukup kuat, dan ia sudah terbiasa memanjat pohon sejak kecil di kampungnya untuk mengambil buah jambu atau mangga.

Dika mulai memanjat perlahan, mencari pijakan yang aman. Di bawah, Kirana berdiri memandang dengan napas tertahan, tangannya menggenggam ujung gaunnya. Ia takut Dika terpeleset atau kucing itu malah terjatuh. Beberapa menit kemudian, Dika berhasil mencapai dahan tempat kucing itu berada. Ia bicara dengan suara sangat pelan dan lembut, agar tidak menakuti hewan itu.

“Tenang saja, tidak apa-apa. Saya bawa kamu turun, aman kok,” bisiknya.

Perlahan-lahan, Dika mengulurkan tangannya. Awalnya kucing itu ragu, tapi karena merasa suaranya tidak mengancam, akhirnya ia mau mendekat dan menggosokkan kepalanya ke telapak tangan Dika. Dika mengangkatnya dengan hati-hati, menempelkan kucing itu ke dadanya agar tidak terlepas, lalu turun perlahan satu per satu cabang sampai akhirnya menginjak tanah kembali.

“Ini dia, Non. Sudah aman,” katanya sambil menyerahkan kucing itu.

Kirana segera menerima Mili, mengelus punggungnya dengan lega. “Terima kasih banyak. Kalau tidak ada kamu, saya tidak tahu harus bagaimana. Paman Arga dan Bu Marni tadi pagi pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan, dan pembantu lain semuanya sibuk di dapur menyiapkan makanan.”

“Sama-sama, Non. Hati-hati lain kali kalau main di dekat pohon tinggi,” jawab Dika singkat, lalu berbalik hendak melanjutkan pekerjaannya. Ia pikir lebih baik cepat pergi sebelum ada yang melihat dan salah paham.

“Tunggu sebentar,” panggil Kirana. Dika berhenti dan menoleh sedikit. “Kenapa akhir-akhir ini kamu terlihat berbeda? Seolah-olah menghindar setiap kali saya lewat. Apakah ada yang salah, atau ada orang yang bicara apa-apa padamu?”

Dika terdiam sejenak. Ia tidak bisa menceritakan ancaman Paman Arga secara langsung, takut justru akan menimbulkan masalah yang lebih besar dan membuat suasana semakin runyam. “Tidak ada apa-apa, Non. Saya hanya ingin memastikan semua pekerjaan saya selesai dengan baik, tidak ada yang mengeluh atau merasa terganggu.”

Kirana mengernyitkan dahi, matanya menatap Dika seolah ingin membaca apakah pemuda itu berbohong atau tidak. Ia merasa ada yang disembunyikan, tapi sebelum sempat bertanya lebih lanjut, suara langkah kaki cepat terdengar dari arah teras rumah.

“Kirana! Kamu di mana?”

Keduanya menoleh bersamaan. Ternyata Bu Marni yang datang, napasnya sedikit terengah seolah baru saja mencarinya. Saat melihat Dika dan Kirana berdiri berdekatan di bawah pohon, wajahnya langsung berubah menjadi curiga. Matanya segera menatap tajam ke arah Dika dari atas sampai bawah.

“Saya hanya menolong kucing Non Kirana yang terjebak di pohon, Bu,” cepat Dika menjelaskan sebelum Bu Marni sempat bicara.

Bu Marni melirik kucing di pelukan Kirana, lalu kembali menatap Dika. “Sudah, Non, sebaiknya masuk dulu. Angin pagi ini agak dingin, nanti kamu masuk angin. Dan kamu Dika, lanjutkan pekerjaanmu. Jangan berhenti di tengah jalan atau mengobrol yang tidak perlu.”

“Baik, Bu.”

Kirana menatap Dika sekali lagi, pandangannya masih penuh rasa ingin tahu, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berjalan mengikuti Bu Marni masuk ke dalam rumah.

Dika menghela napas panjang, lalu mengambil kembali embernya yang penuh air. Ia melanjutkan menyiram tanaman, tapi pikirannya agak kacau. Ia tahu, meski kejadian tadi hal yang sangat wajar dan hanya soal menolong, bagi orang yang ingin mencari kesalahan, hal sekecil apa pun bisa dijadikan alasan. Tapi di sisi lain, ia merasa tidak bersalah. Ia hanya melakukan hal yang menurutnya benar.

Siang harinya, saat matahari sedang terik dan sebagian besar orang di rumah sedang beristirahat di dalam, Dika disuruh membereskan barang-barang lama di gudang belakang. Gudang itu agak gelap dan berdebu, jarang ada orang yang masuk. Saat sedang memindahkan kotak-kotak tua, tangannya menyentuh sebuah tumpukan buku yang tergeletak di sudut, tertutup lapisan debu tebal.

Dika membersihkannya sedikit. Ternyata itu adalah buku-buku peninggalan ayah Kirana, yang sudah lama tidak dibuka. Sebagian besar buku pelajaran dan catatan bisnis, tapi di bagian paling bawah ada satu buku bersampul cokelat yang agak tebal. Ia membuka sedikit, ternyata isinya tentang cara menanam dan merawat berbagai jenis tanaman. Hal itu langsung menarik perhatiannya.

Dika duduk di atas balok kayu tua di sudut gudang, lalu mulai membaca pelan. Ia sangat tertarik dengan isi buku itu, menjelaskan hal-hal yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Ia asyik membaca sampai tidak sadar ada orang yang datang dan berdiri di ambang pintu gudang.

“Kamu suka buku tentang tumbuhan juga?”

Suara itu membuat Dika terkejut. Ia menoleh cepat, melihat Kirana berdiri di sana. Kali ini ia datang sendirian, tidak ada Bu Marni atau orang lain di sekitarnya. Wajahnya terlihat tenang, tidak ada tatapan curiga seperti biasanya.

“Ya, Non. Saya memang suka melihat tanaman tumbuh. Buku ini menjelaskan banyak hal yang belum saya ketahui, cara merawatnya agar tidak mudah layu dan lain-lain,” jawab Dika jujur, lalu hendak menutup bukunya takut dikira sembarangan mengambil barang.

“Tidak apa-apa, boleh dibaca. Buku itu sudah lama tergeletak di sini, tidak ada yang pernah membukanya lagi sejak ayah saya meninggal,” kata Kirana sambil melangkah masuk perlahan, tetap menjaga jarak yang wajar. “Saya juga punya buku tentang tanaman di kamar, tapi saya tidak pernah sempat membacanya. Ibu selalu menyuruh saya membaca buku tentang bisnis, tata krama, atau cara berbicara di depan orang banyak saja.”

“Semua buku pasti ada gunanya, asalkan dibaca dengan senang hati. Kalau dibaca karena dipaksa, rasanya jadi berat saja,” kata Dika pelan.

Kirana tersenyum tipis, senyum yang terlihat lebih tulus dari biasanya. “Kamu memang selalu punya cara pandang yang berbeda. Terima kasih lagi ya tadi pagi, sudah menolong Mili. Kalau tidak ada kamu, mungkin dia masih ketakutan di atas pohon sampai sore.”

“Tidak apa-apa, Non. Itu hal kecil saja.”

“Bagi saya tidak kecil. Tidak semua orang mau repot-repot memanjat pohon hanya untuk menolong kucing orang lain.”

Sebelum percakapan bisa berlanjut lebih jauh, suara langkah kaki cepat terdengar mendekat lagi. Keduanya segera berdiri tegak, tahu pasti siapa yang datang. Benar saja, Bu Marni muncul di ambang pintu, wajahnya langsung terlihat tidak senang melihat mereka berdua di dalam gudang yang sempit.

“Dika! Apa yang kamu lakukan di sini? Bukan waktunya beristirahat atau main-main! Dan Non Kirana, sebaiknya kamu tidak masuk ke gudang seperti ini. Nanti bajumu terkena debu dan kotor, Nyonya pasti tidak suka.”

“Saya hanya melihat-lihat buku lama saja, Bu,” kata Kirana tenang.

“Buku-buku ini sudah tidak terawat, nanti saya suruh orang lain membereskannya. Mari masuk, Nyonya sudah menunggu di ruang tamu untuk membahas rencana sekolah minggu depan.”

Kirana melirik Dika sekilas, matanya seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa diucapkan. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berjalan keluar mengikuti Bu Marni.

Dika menghela napas panjang, lalu meletakkan buku itu kembali ke tumpukan semula. Ia tahu, selama ia tinggal di rumah ini, hal-hal sederhana seperti ini akan selalu diawasi dan dicurigai. Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan tetap bersikap jujur dan apa adanya. Selama ia tidak melakukan kesalahan, biarlah orang lain bicara apa saja. Ia ada di sini demi ibunya, dan itu yang paling penting.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!