Follow ig author @tulisan_bee 😚
Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.
Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.
My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?
Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Hukuman
"Aku tidak tahu kau bisa sehangat ini. Sentuhanmu ternyata berbanding terbalik, dengan tembok yang kau coba bangun di depan mataku." ~Luana Casavia.
.
.
.
Rey melonggarkan ikatan dasi yang terasa menyesakkan. Lelaki itu melirik sekilas pada arloji yang tersemat di pergelangan tangan kirinya, mendapati hari telah beranjak semakin malam.
Seusai menghadiri jamuan makan malam itu dengan sangat baik, Rey dan Jovi masih harus melanjutkan beberapa pertemuan penting dengan kolega mereka.
Hingga kini jarum pendek di arlojinya itu menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, dan tampaknya dia sudah cukup mengulur waktu.
"Aku akan naik," katanya pada Jovi yang masih berusaha untuk terus fokus, meski sebenarnya lelaki itu sudah merasa cukup lelah.
Jovi mengangguk.
"Baik, Tuan."
Lelaki itu membereskan beberapa berkas yang berada di atas meja, dengan sigap berdiri mengikuti Rey yang kini telah bangkit lebih dulu dari tempat duduknya.
"Apa kau sudah menyiapkan semua keperluan untuk besok?" tanya Rey tepat sebelum ia mengambil langkah pertama.
"Semua sudah tersedia. Anda tetap ingin pergi?"
Rey tidak langsung memberikan jawaban, tetapi mengambil jeda untuk menarik napas dalam-dalam.
"Kita lihat besok saja," jawab Rey setengah hati, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya kini.
Jovi memberikan gestur tubuh hormat, tepat saat Ray berbalik badan dan mengayun langkah untuk pergi dari ruang meeting itu.
Menunggu hingga tuannya berbelok untuk menuju arah lift, barulah Jovi berlalu juga dari sana. Mengambil arah yang berbeda, tangan kanan Rey Lueic itu berencana untuk menuju kamarnya.
Denting bel terdengar ketika Rey mencapai lantai di mana kamarnya berada, menduga-duga dalam hati apakah perempuan yang telah berstatus menjadi istrinya hari ini itu telah terlelap atau belum.
Sempat menghentikan langkah di depan pintu, Rey mengembuskan napas berat ketika ia mengeluarkan kartu dari saku celana.
Menempelkan kartu itu pada mesin detektor, sang bangsawan mencengkram handle dan mendorong pintu itu perlahan-lahan.
Kamar itu tampak temaram, sebab lampu utamanya telah berganti dengan lampu tidur di kedua sisi ranjang. Tetapi bola mata Rey malah menangkap sesuatu yang membuatnya mematung, kehabisan kata-kata saat ia mendapati Luana sedang duduk di sofa dengan kedua tangan yang memeluk kakinya di depan.
Perempuan itu tampak menundukkan kepala, dan sudah mengganti gaunnya tadi dengan sepasang baju tidur bercorak bunga yang berwarna abu cerah.
Rey memelankan langkah. Memasuki kamar itu dan berusaha untuk tidak menimbulkan banyak suara, sang bangsawan tidak menyadari bahwa kakinya kini menuntun ia untuk menghampiri Luana.
Perempuan itu ternyata telah tertidur, dengan wajah yang ia letakkan di atas lututnya yang rapat.
Rey tidak tahu mengapa Luana memilih untuk terlelap di sofa dengan posisi seperti itu, dibandingkan dengan berbaring di ranjang mereka yang sangat besar dan masih kosong.
Kini berhenti tepat di samping Luana, Rey mengamati bagaimana wajah perempuan itu tampak begitu halus dengan bulu-bulu mata yang terlihat sangat lentik.
Pipi Luana memiliki rona kemerahan yang alami, dengan rambut yang terikat menyerupai kucir kuda.
Menikmati bagaimana dirinya memperhatikan perempuan itu, Rey merasakan gemuruh yang teramat sangat di dalam dadanya sekarang.
Reka adegan saat lelaki asing tadi mendaratkan satu kecupan di punggung tangan Luana, begitu berhasil mengusik Rey dan membuatnya merasa tidak nyaman.
Seperti ada perasaan yang hilang, dengan harga diri yang tercoreng habis.
Entah mendapati keberanian dari mana, Rey begitu saja menggerakkan tangan untuk mengusap kepala Luana kini.
Merasakan betapa halusnya surai perempuan itu di kulit tangannya, Rey sempat menahan napas.
'Tidak,' bisiknya pada diri sendiri. 'Seharusnya tidak seperti ini.'
Tidak urung menarik tangannya dari kepala perempuan itu, Rey mematung ketika Luana tiba-tiba mengerjap dan membuka mata.
Mendapati sang bangsawan berada sangat dekat dengannya, kali ini Luana yang tersentak kaget. Sebab dia merasakan sesuatu yang teramat hangat di kepalanya tadi, yang ternyata adalah ucapan dari Rey si lelaki dingin.
Luana mengangkat kepala untuk menatap lurus ke wajah Rey.
"Kau sudah kembali?" tanya perempuan itu dengan suara serak.
Rey tidak langsung menjawab, tetapi tidak juga mengangkat tangannya dari kepala Luana. Seakan ada lem yang merekatkan tangan kokoh lelaki itu di kepala istrinya, Rey hanya balas menatap Luana.
"Kenapa kau tidur di sini?" tanya Rey bernada datar.
Luana berdehem pelan. Dia masih merasakan tangan sang bangsawan di kepalanya, namun tidak sedikit pun dia berusaha untuk menghindari sentuhan itu.
"Kau bisa tidur di atas sana," kata Luana ragu-ragu. "Aku akan tidur di sini saja."
Luana sungguh menyadari betapa dia memiliki derajat yang berbeda dengan seorang Rey Lueic. Dia hanyalah pelayan rendahan, saat lelaki itu adalah seorang bangsawan terpandang.
Tidak pernah terlintas di benak Luana untuk berbaring di sebelah bangsawan manapun, terlebih berada di ranjang yang sama.
Rey mengamati Luana lekat-lekat. Memandangi bola mata perempuan itu, begitu saja Rey terprovokasi akan kekesalannya yang masih bercokol di hati yang paling dasar.
Jelas sekali perempuan ini menghindarinya, jelas sekali perempuan ini sedang menjaga jarak dengannya.
Luana masih menunggu, ketika Rey memilih untuk tidak lagi membuka suara.
Tiba-tiba saja mendekat, lelaki itu sudah menyampirkan kedua lengan kokohnya pada tubuh Luana. Dengan satu hentakan, Rey berhasil menggendong istri mungilnya itu dalam dekapan.
Bola mata Luana refleks membesar, mendapati dirinya kini telah berpindah ke dalam pelukan Rey dengan waktu yang sangat singkat.
Luana berusaha untuk turun dari gendongan sang bangsawan, tetapi tubuh mungilnya tidak memiliki tenaga yang sepadan dengan bagaimana Rey mendominasi tubuhnya kini.
"Hei, apa yang kau--"
Lelaki itu mengambil langkah besar-besar, menuju ke arah ranjang mereka dengan napas yang memburu cepat.
Seperti sedang kehilangan kendali, namun langkah kaki Rey tidak memelan.
Jantung Luana berdetak kencang sekali, seakan-akan dia sedang menghadapi akhir dari riwayatnya saat ini.
Rey menghempaskan tubuh perempuan itu ke atas ranjang, menyorot Luana tajam dari posisinya berdiri sekarang.
Luana kembali terkesiap, hampir kesulitan bernapas.
"Sungguh, aku bisa tidur--"
Tiba-tiba saja jemari lelaki itu bergerak, meraba kancing kemejanya dari yang paling bawah.
Memperhatikan gerakan Rey dan yang tampak absurd, Luana hampir pingsan.
'Tidak,' batin Luana. 'Dia tidak mungkin melakukannya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?'
Menerbitkan satu senyum cemooh di sudut bibirnya, Rey tidak sama sekali mengurangi gerakan untuk membuka kemejanya kini.
Hingga kancing teratas kemeja biru navy itu terlepas, Rey membiarkan Luana memandangi bagaimana tubuh bagian atasnya kini hanya terbalut kaos dalam yang juga berwarna gelap.
Tubuh lelaki itu tampak begitu liat, dengan dada bidang dan otot yang tersembunyi di sebaliknya. Rey Lueic benar-benar sesuatu. Dia memang bukan pria sembarangan.
Semakin tersenyum penuh kemenangan lelaki itu, saat kini mendapati Luana mencoba menutup mata dengan gerakan yang jelas malu-malu sekali.
"Pakai bajumu!" seru Luana tidak sabar. "Apa yang kau lakukan sekarang?!"
Ray mendekat, tidak menghiraukan pertanyaan Luana yang penuh nada ketakutan.
"Apa lagi?" sahut Rey santai. "Tentu saja menyentuh istriku."
.
.
.
~Bersambung~
sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu
pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga
pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar