"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."
Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.
Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.
Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.
Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Wasiat 2
...****************...
Sementara dikediaman keluarga Pradipta, seseorang tengah tersenyum kecil sambil memandangi sebuah map berwarna putih yang berada di tangannya.
Sudah lama sekali ia memimpikan hari ini. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa Kanaya adalah sosok yang sangat ambisius dalam hal pendidikan. Selama masa kuliahnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar di banding mengikuti berbagai kegiatan yang tidak terlalu penting baginya.
Ia selalu percaya bahwa setiap orang memiliki impiannya masing-masing. Jika sebagian orang memimpikan pernikahan di usia muda, maka Kanaya memiliki impian yang telah di pupuknya sejak lama.
Ada banyak hal yang ingin dilakukannya sebelum memutuskan untuk membangun rumah tangga. Namun, impian itu hanya disimpannya sendiri. Bahkan kedua orang tuanya pun belum mengetahui secara pasti apa yang sedang di persiapkannya selama beberapa tahun terakhir.
Malam ini, ia akhirnya merasa telah siap untuk membagikan kabar tersebut kepada kedua orang tuanya.
Perempuan berusia dua puluh lima tahun itu kemudian melangkah menuruni anak tangga dari lantai dua rumahnya. Senyum tipis yang sedari tadi menghiasi wajahnya bahkan belum juga menghilang.
"Naya?" panggil sang ibu dari arah ruang makan.
"Iya, Bu."
"Kamu dari tadi Ibu liat senyum-senyum terus. Ada kabar baik?"
Kanaya hanya tertawa pelan seraya memeluk map putih tersebut di dadanya. "Ada, Bu. Tapi Naya maunya cerita sekalian sama Ayah."
Wina yang melihat putrinya tampak begitu bahagia pun ikut tersenyum. Sejak kecil, Kanaya memang bukan tipe anak yang banyak bicara. Ia lebih sering menyimpan segala sesuatu sendiri hingga benar-benar yakin ingin membagikannya kepada orang lain.
Tak lama kemudian, suara mobil yang memasuki halaman rumah terdengar dari luar. Tama baru saja pulang dari kantornya.
Kanaya yang sedang membantu sang ibu menata meja makan pun segera menghampiri sang ayah.
"Ayah."
"Wah, putri Ayah ini kelihatannya lagi senang sekali," ujar Tama sembari tersenyum. "Ada apa?"
"Nanti saja, Yah. Pokoknya kabar baik."
Tama tertawa kecil mendengar jawaban putrinya. "Baiklah. Kalau begitu, Ayah akan menebaknya setelah makan malam."
...****************...
Suasana hangat keluarga Pradipta malam itu terasa seperti biasanya. Obrolan ringan di meja makan sesekali di iringi dengan candaan kecil dari kedua orang tuanya.
"Naya sekarang sudah dua puluh lima tahun, ya," ujar Wina di tengah makan malam mereka.
"Iya, Bu."
"Kalau dipikir-pikir, anak Ibu sudah cukup umur untuk menikah."
Kanaya hanya tersenyum kecil mendengar ucapan sang ibu. Topik tersebut sebenarnya bukan hal baru di rumah mereka. Namun, kedua orang tuanya tidak pernah sekalipun memaksanya untuk segera menikah.
"Kalau memang sudah menemukan orang yang tepat, Ayah dan Ibu pasti akan mendukung," ujar Tama.
"Untuk sekarang, Naya masih punya banyak hal yang ingin dilakukan," jawabnya lembut.
Tama tersenyum kecil mendengar jawaban putrinya. Sejak kecil, Kanaya memang selalu memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya. Ia bukan tipe anak yang mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya.
"Memangnya masih banyak yang ingin kamu capai?" tanyanya.
Kanaya mengangguk pelan. "Masih banyak, Yah."
"Sampai kapan?" g0da Wina sambil tertawa kecil.
Perempuan itu terdiam selama beberapa detik sebelum menjawab dengan senyum tipis di wajahnya.
"Selama Naya masih di beri kesempatan untuk meraihnya."
Ucapan sederhana itu membuat kedua orang tuanya tersenyum bangga. Mereka tidak pernah sekalipun membatasi impian putri semata wayang mereka. Bagi Tama dan Wina, kebahagiaan Kanaya selalu menjadi prioritas utama.
...****************...
Setelah makan malam selesai, ketiganya berpindah ke ruang keluarga. Kanaya yang sejak tadi membawa map putih tersebut akhirnya merasa inilah waktu yang tepat untuk membuka pembicaraan.
"Yah, Bu, sebenarnya ada sesuatu yang ingin Naya sampaikan."
Kedua orang tuanya pun menatapnya dengan penuh perhatian.
"Naya-..."
TING TONG!
Ucapan Kanaya terpotong oleh suara bel rumah yang tiba-tiba berbunyi.
Tama mengernyitkan dahinya. Jarum jam telah menunjukkan pukul delapan malam. Rasanya cukup jarang ada tamu yang datang di jam seperti itu tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Ayah lihat dulu, ya."
Beberapa saat kemudian, Tama kembali ke ruang keluarga bersama seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas hitam rapi.
"Selamat malam. Maaf mengganggu waktu bersama keluarga Anda , Pak Tama."
"Tidak apa-apa, Pak. Silakan duduk."
Pria tersebut kemudian meletakkan sebuah map berwarna cokelat di atas meja ruang keluarga sebelum menghela napas pelan.
Pria paruh baya itu menatap Kanaya selama beberapa saat sebelum tersenyum hangat.
"Tidak terasa ternyata Nona Kanaya sudah sebesar ini," ujarnya.
Kanaya hanya membalasnya dengan senyum sopan. Ia memang pernah beberapa kali bertemu dengan pria tersebut ketika masih kecil, meskipun tidak terlalu mengingatnya.
"Terakhir kali saya melihat Anda, sepertinya Anda masih duduk di bangku SMA ya?"
"Benar, Pak," jawab Kanaya singkat.
Ucapan tersebut membuat kedua orang tuanya kembali tersenyum. Namun, tidak ada yang menyangka bahwa hari ini juga menjadi hari di bacakannya surat wasiat yang telah disimpan selama bertahun-tahun.
Pria tersebut kemudian meletakkan sebuah map berwarna cokelat di atas meja ruang keluarga sebelum menghela napas pelan.
"Saya datang malam ini untuk menyampaikan amanat terakhir dari mendiang Ayahanda anda, Pak Tama."
Suasana yang semula hangat mendadak berubah hening.
"Amanat?" tanya Tama heran.
Pria itu menganggukkan kepalanya pelan lalu mengalihkan pandangannya kepada Kanaya.
"Sesuai surat wasiat yang telah dititipkan kepada saya sejak beberapa tahun lalu, surat ini baru boleh dibacakan ketika Nona Kanaya Pradipta genap berusia dua puluh lima tahun."
Kanaya sedikit mengernyitkan dahinya. Seingatnya, sang kakek tidak pernah sekalipun menyinggung mengenai surat wasiat yang berkaitan dengan dirinya.
Yang ia ketahui, sang kakek hanyalah seseorang yang sangat menyayanginya semasa hidup. Bahkan, beliau selalu mendukung apapun keputusan yang di ambilnya selama itu merupakan hal yang baik.
Karena itulah, ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa sang kakek ternyata telah meninggalkan sebuah amanat yang baru boleh di ketahuinya setelah genap berusia dua puluh lima tahun.
Dan untuk pertama kalinya, kabar yang begitu ingin ia sampaikan harus tertunda karena sebuah surat wasiat yang bahkan tidak pernah diketahuinya.