Di desa terpencil, Zifa hidup bersama Mama Auna dan Uti Yaya, dihantui kerinduan akan ayahnya yang hilang, hingga kebenaran pahit terungkap bahwa ayahnya telah menikah lagi, berbeda dengan cerita Mama Auna tentang ayahnya yang bekerja di luar negeri. Malam-malam misterius dengan hilangnya hewan ternak warga desa menambah teka-teki, sementara takdir mempertemukan Auna dengan cinta pertamanya, Zhafran, yang kini kaya raya. Rahasia masa lalu yang terkubur dalam-dalam muncul ke permukaan: Zifa ternyata bukan anak Fauzan, melainkan darah daging Zhafran! Kini, Auna harus memilih antara mengungkap kebenaran yang mengubah hidup Zifa atau terus memendamnya demi melindungi putrinya dari intrik dunia gemerlap. Mampukah Auna mempertahankan Zifa, ataukah takdir akan memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Senyap Rafka (Bongkar Dalang di Balik Kamera Tersembunyi)
Rafka nggak buang-buang waktu semenit pun. Setelah janji ke Auna dan Uti Yaya, dia langsung tancap gas. Bukan ke kantor polisi, karena dia tahu, cara resmi itu bakal makan waktu lama dan bisa bocor ke mana-mana. Masalahnya di sini adalah waktu, sebelum Zhafran benar-benar membuat keputusan bodoh.
Dia nelpon teman lamanya, Dito. Dulu, Dito ini terkenal super nerd yang kerjanya ngulik komputer, tapi sekarang dia sukses jadi konsultan keamanan siber, orang yang paling jago kalau urusan "nggak terlihat" di balik layar.
"Bro, gue butuh bantuan lo, serius, emergency!" Rafka bicara cepat begitu Dito angkat telepon.
"Woles, Raf. Tumben suara lo kayak dikejar setan? Ada apa? Server lo kena ransomware?" tanya Dito dengan nada santai khasnya.
Rafka nggak sempat basa-basi. Dia cerita singkat soal jebakan di hotel, foto-foto, Zhafran yang ngilang, dan Auna yang hancur.
"Hotel... CCTV... foto perselingkuhan. Oke, gue paham. Ini drama banget, tapi challenging," komentar Dito, suaranya langsung berubah serius. "Kirim alamat hotel dan nomor kamarnya sekarang. Kita harus gerak cepat sebelum rekaman di-timpa."
Sore itu juga, Rafka dan Dito sudah berada di lobi hotel mewah tempat kejadian. Dito pakai baju rapi kayak eksekutif muda, bawa tas kerja yang isinya penuh alat-alat canggih.
"Gini, Raf. Kita nggak bisa langsung minta rekaman koridor. Mereka pasti curiga. Apalagi kalau yang minta lo, kan lo 'pelaku' di foto," bisik Dito sambil pura-pura sibuk dengan laptopnya di sudut lobi. "Gue punya cara lain. Gue bisa coba tap jaringan mereka dari luar."
Rafka menghela napas. "Ribet banget sih,To. Coba aja langsung ke manajer hotel. Bilang lo kehilangan barang berharga di koridor, biar mereka nunjukkin CCTV-nya."
"Nggak bisa, Bro. Kalau Rina sejahat itu, dia pasti udah bayar orang dalam hotel juga buat nutupin jejak. Kita main bersih, biar bukti yang kita dapat nggak bisa disanggah di pengadilan nanti kalau sampai ke sana, ya," tegas Dito.
Selama hampir tiga jam, Dito fokus di balik laptopnya, mengutak-atik sistem keamanan hotel itu secara senyap. Sementara Rafka mondar-mandir kayak setrikaan, cemas menunggu.
"Yes! Dapet!" seru Dito pelan, tapi Rafka langsung merapat.
Di layar laptop, muncul tampilan rekaman CCTV koridor di lantai kamar Auna. "Gue cuma bisa akses 24 jam terakhir. Untunglah kejadiannya baru kemarin," jelas Dito sambil mempercepat rekaman.
Mereka berdua menahan napas saat adegan kunci muncul. Terlihat Auna berjalan gontai, tampak sangat pusing, lalu Rina muncul dari balik tangga, wajahnya menyeringai puas. Rina tidak sendiri. Ada seorang pria bertubuh besar di samping Rina. Pria itu lah yang memapah Auna, dan kemudian, pria itu pula yang terlihat keluar dari kamar beberapa menit setelah Zhafran pergi.
"Tunggu, stop!" perintah Rafka. "Itu Rina! Dan itu pria yang sama yang keluar dari kamar sebelum Zhaf datang! Liat, dia lagi nelpon seseorang, pasti ngasih kode kalau aksinya berhasil."
Dito langsung menangkap layar itu. "Kita dapat wajah si pria dan konfirmasi keterlibatan Rina. Ini bukti yang kuat, Raf. Bukan cuma perselingkuhan, ini pemaksaan dan jebakan."
Bukti CCTV sudah di tangan, tapi Rafka masih merasa ada yang kurang. Kata Auna, dia nggak ingat apa-apa setelah minum. Itu berarti ada obat bius.
"To, kita butuh tahu Auna dikasih apa," kata Rafka. "Auna bilang, botolnya ada di rumah, bekas minumannya. Kita harus analisis itu."
Rafka bergegas kembali ke rumah Auna. Uti Yaya, yang sudah disiapkan sebelumnya, dengan hati-hati menyimpan botol yang dipakai Auna di kamar, dibungkus plastik steril.
"Ini, Nak. Gelasnya Ibu simpan di sini. Semoga ini bisa bantu Auna," ujar Uti Yaya, matanya penuh harap.
Rafka kembali lagi ke Dito. Kali ini, mereka menuju sebuah laboratorium forensik swasta yang Dito kenal baik.
"Gue jamin, ini bisa selesai semalam. Temen gue kerjanya cepat," kata Dito meyakinkan.
Setelah memberikan sampel botol dan beberapa residu cairan yang tersisa, Rafka dan Dito menunggu dengan gelisah. Pukul 10 malam, telepon Dito berdering.
Dito menyimak telepon itu, raut wajahnya berubah serius, lalu menghela napas lega. "Dapet, Raf. Nama obatnya... Rohypnol."
Rafka membelalakkan mata. "Rohypnol? Itu kan obat penenang keras! Gila, Rina mau bunuh Auna apa gimana?!"
"Bukan bunuh, Raf. Tapi bikin nggak sadar dan nggak berdaya, alias Date Rape Drug. Ini bukti paling kuat kita. Kita bisa buktikan Auna nggak sadar dan di bawah pengaruh obat. Rina bisa kita seret ke penjara karena ini," jelas Dito.
Dua bukti krusial sudah di tangan: Rekaman CCTV yang menunjukkan Rina dan seorang pria misterius, serta hasil lab yang mengkonfirmasi Auna dibius.
Rafka langsung mengembuskan napas panjang, beban berat di dadanya terasa sedikit terangkat. Dia langsung mengirim pesan pada Auna.
📩 Rafka: "Au, tarik napas. Aku udah dapet buktinya. CCTV dan hasil lab. Kamu dijebak. Rina nggak akan menang. Besok pagi, kita temui Zhafran. Kamu harus kuat, sekarang kita udah punya senjata."
Auna yang sedari tadi nggak bisa tidur, langsung terduduk di kasur saat membaca pesan itu. Air mata kembali mengalir, tapi kali ini, air mata itu terasa hangat. Air mata kelegaan dan harapan. Dia akhirnya melihat seberkas cahaya di tengah kegelapan yang diciptakan Rina. Sekarang, tantangannya cuma satu: Menemukan Zhafran dan membuat suaminya percaya.