Andin seorang anak tunggal yang harus bekerja keras karena orang tuanya jatuh miskin dan bangkrut. Ia juga akhirnya terpaksa mau di menikah muda karena kondisi ekonomi keluarga yang mendesak.
Sementara Bimo terpaksa mau menikah dengan sistem perjodohan, karena adiknya Silvia sudah hamil duluan. Karena orang tua Bimo yang baru akan memberi restu untuk menikah pada Silvia setelah Bimo menikah, akhirnya Bimo menyetujui perjodohannya dengan Andin yang ia anggap hanya sebagai menyewa pelacur.
Akankah Silvia akan ketahuan?
Akankah Bimo mampu merubah pandangannya soal Andin dan bisa menerima Andin sebagai istrinya?
Akankah Andin mampu bertahan dengan segala ujian hidupnya dan ikhlas dengan segalanya?
Penasaran? Temukan jawabannya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dasp.98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
Usai solat Bimo baru bisa tidur meskipun ia masih semangat menulis. Tapi apa daya tempat tidurnya lebih menggoda. Bukan di tempat tidur, lebih tepatnya sajadahnya. Andin juga ikut tidur di sajadah karena melihat Bimo begitu nyaman, sampai akhirnya ia terbangun karena bu Alin yang masuk kamar tanpa mengetuk pintu.
"Ada apa Ma?" tanya Andin.
"Kamu sama Bimo kenapa tidur di bawah? Kasurnya kurang gede?" tanya bu Alin heran.
"Bukan Ma, tadi habis solat. Terus ketiduran..." jawab Andin lalu melepas mukenanya dan melipatnya rapi.
"Nanti temenin mama pergi ya."
"Kemana Ma?"
"Jalan-jalan."
"Em, iya Ma. Nanti Andin minta ijin mas Bimo dulu ya."
"Nanti chat aja. Biasanya mama juga gitu."
"Tapi Ma, aku mau menghormati mas Bimo sebagai suamiku..." jawab Andin halus. "Gapapa kan Ma? Sekalian kita sarapan dulu gitu," sambung Andin lalu merangkul mama mertuanya sambil berjalan keluar kamar.
Bu Alin makin damai dan senang tiap mengetahui lebih dalam soal Andin. Selain pembawaannya yang sangat kalem dan lembut. Andin juga menghormati orang tua dan suaminya. Bu Alin merasa sangat senang tak salah pilih menikahkan putranya dengan Andin. Sangat berbeda jauh dengan Silvia, putri kesayangannya yang sudah membuatnya kecewa.
Hanya ada roti tawar di meja makan, juga beberapa macam selai. Andin tidak terlalu suka dengan makanan manis memilih untuk memasak nasi goreng dengan bahan nasi dingin semalam. Bu Alin hanya membiarkan menantunya melakukan apa yang ia sukai. Bu Alin yang sama sekali tak bisa memasak sangat kagum dengan kelihaian Andin saat memasak, meskipun hanya menu sederhana. Aroma masakan Andin sangat harum tercium keseluruh rumah. Sayang Andin hanya memasak sedikit karena hanya ada sedikit nasi. Pas dua porsi yang rencananya hanya untuknya dan mertuanya. Tapi siapa sangka pak Hendro ikut menunggu masakannya matang, Bimo juga jadi bangun dan ikut mencicipi malah ikut menunggu matang. Silvia juga ikutan meskipun suasana jadi tidak enak karena kehadirannya dan dengan tau diri Silvia kembali masuk ke kamarnya.
"Andin aku mau," ucap Bimo saat Andin selesai memasak.
"Enak aja! Papa duluan!" ucap pak Hendro tak mau kalah.
"Hus! Jelas-jelas mama yang ngajak Andin! Jadi itu buat mama dulu!" ucap bu Alin yang membuat pak Hendro dan Bimo mingkem.
Andin di buat bingung harus membagi bagaimana. Akhirnya ia memutuskan untuk membuat omlet sebagai pendamping nasi gorengnya agar semua kebagian. Semua terlihat puas dan senang dengan masakan Andin untuk sarapan pagi ini. Bimo bahkan sudah melirik nasi goreng di piring Andin yang masih banyak.
"Makasih ya sarapannya, papa berangkat dulu," ucap pak Hendro sambil menyalimi Andin dan Bimo. "Sarapan tiap pagi kayak gini kan jadi semangat!" puji pak Hendro lagi yang membuat Andin tersipu.
Andin gemesin. Batin Bimo.
"Mama anter papa kedepan dulu ya," pamit bu Alin yang di angguki Bimo dan Andin.
Andin langsung mengganti sendoknya dan membawa piring nasi gorengnya ke kamar Silvia tanpa memperhatikan Bimo. Tak selang lama Andin langsung keluar dan mengambilkan sebotol air mineral dingin untuk Silvia. Bimo hanya menghela nafas melihat Andin yang ternyata memperhatikan Silvia juga.
"Gapapa kan Mas?" tanya Andin takut-takut pada Bimo.
"Dah kamu jalanin baru tanya!" cibir Bimo yang membuat Andin sedikit murung. "Iya gapapa," ucap Bimo agar Andin tidak murung.
Andin sedikit tersenyum lalu merapikan meja makan. Tak lama pembantu datang dengan tergopoh-gopoh lalu mengambil alih apa yang di kerjakan Andin.
"Saya aja Non, nanti saya gak kerja kalo Non semua yang ngerjain," ucapnya takut dan khawatir dengan sifat rajin Andin.
Andin hanya mengangguk lalu membiarkannya mengerjakan pekerjaan rumah.
"Aku ngantuk, kamar yuk!" ajak Bimo.
"Mas, nanti mama mau ngajak aku jalan-jalan boleh?" tanya Andin.
"Kapan?"
"Habis mandi."
"Gak ngantuk?"
Andin langsung menggeleng-geleng kepalanya.
"Yaudah gapapa," ucap Bimo mengijinkan lalu cepat-cepat ke kamar karena merasa sudah salah bicara mengajak Andin tidur. Lagi pula Andin dan dirinya tidak tidur seranjang meskipun dalam kamar yang sama. Buat apa juga mengajaknya tidur.
kaciaaaan🤪
semoga hubungan pernikahan andin dan bimo bisa menjadi lebih baik lagi...
🤭🤣🤣🤣🤣🥰🥰🥰
😂😂😂😂