Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur
Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23: Potongan Ingatan yang Kembali
Matahari pagi menyingsing perlahan, menyinari permukaan danau dengan cahaya lembut berwarna keemasan, menghapus sisa kabut tipis yang masih melayang di atas air. Suasana di sana masih tenang, hanya terdengar suara angin yang menghembus dedaunan dan suara burung yang berkicau riang.
Setelah momen pengakuan hati itu, Raga dan Lira masih duduk diam di bangku kayu tua itu, berdekatan tapi tidak saling menyentuh, seolah takut jika mereka bergerak sedikit saja, kehangatan dan kedamaian ini akan hilang kembali seperti mimpi. Hati Lira terasa begitu ringan, begitu damai, beban berat yang selama ini menekan dadanya perlahan terangkat, digantikan oleh rasa percaya dan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun saat ia menatap wajah Raga yang duduk di sampingnya, meskipun hatinya sudah mengenalinya dengan pasti, kepalanya masih tetap kosong. Tidak ada satu pun nama, tempat, atau kejadian yang muncul dengan jelas di pikirannya. Semuanya masih tertutup kabut tebal, samar, dan tidak berbentuk.
“Raga…” panggil Lira pelan, mengucapkan nama itu untuk pertama kalinya dengan suara yang lembut dan bergetar. Nama itu terasa begitu pas di mulutnya, terasa seperti nama yang sudah pernah ia ucapkan ribuan kali sebelumnya, nama yang paling akrab dan paling ia cintai di dunia ini. “Katakan padaku… Bagaimana kita bertemu dulu? Bagaimana kita saling jatuh cinta? Di mana rumah kita? Siapa keluarga kita? Aku ingin tahu semuanya… Aku ingin mengingat semuanya.”
Raga menatapnya dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang, lalu perlahan mengangguk. Ia tidak akan menceritakan semuanya sekaligus, ia tahu itu akan terlalu berat, terlalu mengejutkan, dan bisa membuat kepala Lira sakit parah. Ia akan menceritakan sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, seiring dengan kembalinya ingatan wanita itu secara alami.
“Baiklah, sayang. Aku akan menceritakannya semuanya, satu per satu, pelan-pelan. Jangan paksakan kepalamu, biarkan semuanya datang dengan sendirinya. Yang paling penting, aku ada di sini bersamamu, menjagamu, menemani setiap potongan ingatan yang kembali padamu.”
Dari situlah, perlahan-lahan, cerita masa lalu mereka mulai terbuka sedikit demi sedikit bagi Lira. Dan bersamaan dengan itu, hal yang paling dinanti sekaligus paling menyakitkan mulai terjadi: potongan-potongan ingatan yang hilang itu, mulai perlahan kembali ke dalam pikirannya.
Ingatan itu tidak datang utuh, tidak datang dengan jelas seperti cerita yang teratur. Ia datang dalam bentuk bayangan kabur, kilatan cahaya, suara samar, rasa sakit, atau rasa bahagia yang tiba-tiba muncul lalu hilang lagi, sering kali membuat kepala Lira berdenyut hebat, pusing berputar, dan terasa sangat berat.
Kadang ingatan itu datang saat ia sedang tenang, kadang datang tiba-tiba tanpa alasan apa pun, kadang dipicu oleh benda, tempat, atau suara yang mirip dengan masa lalu.
Kilatan Pertama: Aroma Melati
Sore itu, Raga mengajak Lira berjalan-jalan di taman kota, tempat yang dulu sering mereka kunjungi. Di sana, ada bunga melati yang mekar indah, mengeluarkan aroma harum yang manis, lembut, dan menenangkan, aroma yang sama persis dengan aroma yang selalu dipakai Lira sejak kecil, aroma yang selalu melekat di baju dan rambutnya, aroma yang paling diingat dan dicintai oleh Raga.
Saat aroma itu tercium masuk ke hidungnya, tiba-tiba kepala Lira terasa berdenyut tajam. Pandangannya seolah bergetar, kabur sebentar, dan di depan matanya muncul bayangan samar:
Ia melihat dirinya sendiri, masih muda, mengenakan baju putih, sedang memetik bunga melati di halaman rumah yang luas dan hijau. Di sebelahnya, ada sosok pemuda yang wajahnya agak kabur, tapi postur tubuhnya persis sama dengan Raga sekarang, sedang tersenyum manis, lalu mengikatkan rangkaian bunga melati itu di rambutnya, sambil berkata dengan suara lembut yang samar-samar terdengar:
“Bunga ini indah, tapi tidak seindah pemiliknya. Melati ini akan layu, tapi cintaku padamu akan tetap segar selamanya.”
Bayangan itu muncul hanya sedetik saja, lalu lenyap kembali secepat kilat, digantikan oleh pandangan nyata di taman kota saat ini.
Lira terhuyung mundur sedikit, tangannya segera memegang dahinya yang terasa sakit dan panas, napasnya tersengal-sengal kaget.
“Aaahhh…” erangnya pelan.
Raga yang berjalan di sampingnya segera menangkap bahunya dengan cemas, menatap wajah pucat istrinya dengan hati gelisah.
“Lira! Ada apa? Apa yang terjadi? Apakah kepalamu sakit lagi?”
Lira mengangkat wajahnya perlahan, matanya terbelalak kaget dan penuh air mata, menatap wajah Raga dengan pandangan tidak percaya dan penuh harapan.
“Aku… Aku baru saja melihat sesuatu… Aku melihat aku sedang memetik bunga melati… Dan ada kamu… Kamu ada di sana, tersenyum padaku… Kamu mengikatkan bunga ini di rambutku… Kamu bilang sesuatu… Suaramu terdengar samar, tapi aku tahu itu suaramu… Aku ingat itu, Raga! Aku benar-benar ingat sedikit saja!”
Suara Lira gemetar penuh kegembiraan, air mata bahagia mengalir deras di pipinya. Itu adalah pertama kalinya ia mendapatkan kembali sepotong ingatan dari masa lalunya, pertama kalinya ia melihat gambaran nyata tentang kehidupan yang dulu ia miliki.
Raga juga kaget dan bahagia luar biasa, matanya seketika basah berkaca-kaca, tangannya erat menggenggam kedua tangan Lira yang dingin dan gemetar.
“Benarkah, sayang? Kamu ingat? Itu benar-benar kita dulu… Di halaman rumah besar kita… Kamu sangat suka bunga melati, sampai seluruh halaman rumah kami penuh dengan bunga itu… Aku sangat bahagia, Lira… Sangat bahagia sekali…”
Momen itu membuat hati mereka berdua semakin erat, semakin yakin, semakin kuat. Potongan kecil itu adalah bukti nyata bahwa ingatan itu belum hilang selamanya, bahwa semuanya masih ada di dalam sana, tertidur lelap, dan perlahan-lahan akan bangun kembali.
Kilatan Kedua: Suara Teriakan Panik
Namun ingatan yang kembali tidak semuanya indah dan membahagiakan. Ada juga ingatan yang datang dengan rasa sakit, rasa takut, dan rasa kaget yang hebat, ingatan tentang kejadian paling mengerikan yang pernah terjadi dalam hidup mereka: kecelakaan itu.
Beberapa hari kemudian, saat Lira sedang berjalan di pinggir jalan raya yang cukup ramai, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju kencang lewat di sampingnya, lalu mengerem mendadak dengan suara gesekan ban yang keras dan tajam di aspal: KREEK!!!
Suara itu persis sama dengan suara yang terdengar tepat sebelum kecelakaan itu terjadi.
Seketika itu juga, kepala Lira terasa seperti dihantam batu besar. Pandangannya seketika gelap, telinganya berdenging kencang, dan bayangan-bayangan mengerikan melesat cepat di depan matanya:
Suara benturan keras yang menggegarkan, kaca pecah berhamburan, tubuhnya terlempar keras, rasa sakit yang tajam di kepala, darah yang menetes membasahi wajahnya, suara teriakan panik yang sangat jelas dan penuh keputusasaan:
“LIRA!!! TAHAN SEBENTAR!!! AKU ADA DI SINI!!! AKU TIDAK AKAN MENINGGALKANMU!!!”
Suara itu… suara itu adalah suara Raga. Suara yang penuh rasa sakit, rasa takut, dan cinta yang luar biasa.
Lira seolah merasakan kembali rasa sakit itu, rasa takut itu, rasa jatuh ke dalam kegelapan yang mencekam itu. Tubuhnya gemetar hebat, kakinya lemas seketika, matanya terpejam rapat, mulutnya mengeluarkan erangan ketakutan yang menyedihkan.
“TIDAKKK!!! JANGAN!!! SAKIT!!! SAKIT SEKALI!!!”
Lira jatuh berlutut di aspal, kedua tangannya memegang kepalanya yang terasa mau pecah, menangis ketakutan seolah ia sedang mengalami kecelakaan itu lagi saat ini juga.
“LIRA!!! SAYANG!!! TENANG!!! ITU SUDAH LEWAT!!! ITU SUDAH BERAKHIR!!!”
Raga segera berlutut di depannya, memeluk tubuh Lira yang gemetar hebat itu erat-erat, mengusap punggung dan rambutnya dengan lembut, membisikkan kata-kata penenang berulang kali dengan suara tegas namun penuh kasih sayang. Ia tahu, Lira baru saja mengingat kembali momen paling mengerikan dalam hidupnya, momen yang menjadi penyebab hilangnya seluruh ingatannya.
Perlu waktu lama, butuh belaian lembut dan kata-kata penenang yang tak henti-hentinya, sampai akhirnya Lira perlahan membuka matanya yang basah penuh air mata, napasnya masih tersengal-sengal kencang, tubuhnya masih gemetar ketakutan. Ia menatap wajah Raga yang cemas di depannya, lalu dengan suara parau dan lemah, ia berkata pelan:
“Kecelakaan… Aku ingat kecelakaan itu… Mobil kami jatuh… Aku sakit sekali… Kamu menangis… Kamu berteriak memanggil namaku… Kamu sangat sedih… Rasa sakit itu… Masih terasa jelas di tubuhku…”
Raga mengangguk pelan, air matanya juga menetes melihat rasa sakit yang kembali dirasakan oleh istrinya. Ia mengecup kening Lira dengan lembut, menghapus air mata di pipinya.
“Iya, sayang. Itu yang terjadi. Kita mengalami kecelakaan parah di hari pernikahan kita. Kamu terluka sangat parah, sampai kamu lupa segalanya… Dan aku… Aku pikir aku akan kehilanganmu selamanya… Tapi syukurlah, kamu selamat… Kamu ada di sini sekarang…”
Meskipun ingatan itu membawa rasa sakit kembali, tapi bagi Lira, itu tetap berarti sesuatu yang besar. Ia akhirnya tahu alasan kenapa kepalanya sering sakit, kenapa hatinya sering merasa takut tanpa sebab, kenapa ia merasa ada kekosongan besar di hidupnya. Semua rasa itu sekarang punya alasan, semua rasa itu berasal dari masa lalu yang kini perlahan mulai terbuka.
Kilatan Ketiga: Janji di Bawah Langit
Seminggu kemudian, malam itu bulan purnama bersinar terang kembali, sama seperti malam saat mereka duduk berdua dan saling mengakui perasaan. Mereka kembali duduk di bangku batu di taman kota itu, tempat yang selalu membawa perasaan mendalam bagi hati mereka berdua.
Angin malam bertiup sejuk, membawa suasana yang tenang dan damai. Lira bersandar bahu di bahu Raga dengan nyaman, matanya menatap bulan yang bulat bersinar itu dengan tatapan lembut. Dan tiba-tiba, tanpa ada suara atau benda yang memicu, tanpa rasa sakit sama sekali, ingatan itu muncul dengan sendirinya, perlahan, lembut, dan jelas, seperti sebuah mimpi yang indah.
Ia melihat dirinya dan Raga, muda, bahagia, berdiri di halaman rumah besar di bawah sinar bulan purnama yang sama persis. Raga memegang kedua tangannya erat-erat, menatap matanya dengan penuh cinta, lalu berkata dengan suara yang jelas, tegas, dan penuh janji suci:
“Lira, di bawah langit ini, di hadapan Tuhan dan alam semesta, aku berjanji. Aku akan mencintaimu, menjagamu, melindungimu, sampai darah terakhir mengalir di tubuhku, sampai napas terakhir keluar dari mulutku. Mati hidup kita tidak akan terpisahkan. Apa pun yang terjadi, bahaya apa pun yang datang, aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu.”
Dan ia melihat dirinya sendiri, tersenyum bahagia sambil menangis terharu, lalu menjawab dengan suara yang sama tegas:
“Aku juga berjanji, Raga. Aku akan selalu bersamamu, mencintaimu, setia padamu, sampai kapan pun. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, bahkan maut sekalipun.”
Bayangan itu begitu jelas, begitu nyata, begitu penuh perasaan, sampai membuat hati Lira terasa penuh sekali, sampai membuat air mata bahagia mengalir deras di pipinya tanpa sadar.
Lira mengangkat wajahnya perlahan, menatap profil wajah Raga yang diterangi cahaya bulan itu, lalu dengan suara lembut dan penuh getaran, ia mengulang kata-kata itu persis sama, kata-kata yang baru saja ia ingat kembali dari masa lalu:
“Aku berjanji… Aku akan selalu bersamamu, mencintaimu, setia padamu, sampai kapan pun. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, bahkan maut sekalipun.”
Raga tersentak kaget luar biasa, seketika menoleh cepat menatap wajah istrinya dengan mata terbelalak tidak percaya, napasnya tertahan di tenggorokan.
“Li… Lira… Kamu… Kamu ingat janji kita? Kamu benar-benar ingat kata-kata itu?”
Lira menganggukkan kepalanya pelan, senyum indah dan bahagia mengembang di bibirnya, matanya bersinar terang penuh air mata haru.
“Aku ingat… Aku ingat semuanya tentang malam itu… Kita berdiri di halaman rumah besar… Bulan bersinar terang seperti ini… Kamu pegang tanganku… Kamu berjanji padaku… Dan aku berjanji padamu… Rasanya indah sekali, Raga… Rasanya seperti itu baru saja terjadi kemarin saja…”
Raga tidak bisa menahan bahagianya lagi. Ia langsung memeluk tubuh Lira erat-erat, sangat erat, menangis terharu dan bahagia di bahu istrinya, rasa sakit, rasa lelah, rasa rindu yang selama tiga tahun ia simpan sendirian, semuanya kini terbayar lunas dengan kembalinya ingatan itu sedikit demi sedikit.
Itu adalah kemenangan besar pertama mereka. Ingatan Lira mulai bangun. Ia mulai mengenal siapa dirinya, siapa Raga, apa cinta mereka, apa janji mereka. Meski masih banyak bagian yang hilang, meski masih banyak rahasia dan masa lalu kelam yang belum ia ingat, meski bahaya dari Lingkaran Emas masih mengintai di kegelapan… tapi sekarang mereka punya harapan yang nyata, jalan yang jelas untuk kembali menjadi satu kesatuan yang utuh.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Di kejauhan, di balik semak belukar gelap, orang yang mengawasi mereka itu masih ada di sana. Ia mendengar semuanya, ia melihat semuanya. Ia melihat Lira yang perlahan mulai mengingat masa lalunya, ia melihat ikatan cinta mereka yang semakin kuat dan tidak tergoyahkan.
Dan hal itu membuat rencana jahat mereka semakin cepat dipercepat.
Jika Lira sudah mulai ingat, jika Lira sudah mulai sadar siapa dirinya, maka mereka tidak punya banyak waktu lagi. Mereka harus bertindak cepat, sebelum ingatan Lira kembali utuh sepenuhnya, sebelum kekuatan dan perlindungan keluarga Ardiansyah kembali bangkit.
Malam itu, saat Raga dan Lira pulang dengan hati penuh bahagia dan harapan, mereka tidak tahu bahwa bahaya besar sudah berada tepat di belakang mereka, mengikuti langkah mereka diam-diam, siap menyerang kapan saja dengan rencana yang jauh lebih kejam dan berbahaya dari sebelumnya.
Perjalanan mengembalikan ingatan dan melindungi cinta mereka baru saja memasuki babak yang paling sulit dan paling berbahaya.
Bersambung ke Episode 24