Di latar belakangi suasana awal terbentuknya penduduk Nusantara. Di mana terjadi konflik kepentingan antara kaum pendatang dari utara dengan penduduk yang telah terlebih dahulu tinggal di wilayah kepulauan Hindia.
Tidak sampai di situ, persaingan dan intrik meraih kekuasaan mewarnai kehidupan masyarakat Nusantara ketika itu, terutama sejak Raja mereka Hyang Parikesit mengangkat Petruk menjadi Perdana Menteri.
Banyak pejabat dan cendikiawan yang mempertanyakan kebijakan Sang Raja. Mereka menganggap penunjukkan Petruk menjadi Perdana Menteri melanggar aturan, karena tidak melalui kompromi terlebih dahulu.
Terlebih lagi, selama menjadi Perdana Menteri, Petruk terkadang membuat peraturan yang dianggap aneh. Akibatnya penentangan terhadap penunjukkan dirinya, semakin menjadi-jadi.
Konflik antar pendukung semakin meruncing disertai adu siasat untuk menghancurkan lawan membuat suasana bertambah ruyam.
Apakah Petruk dapat mempertahankan jabatannya? Mari kita ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rimau Melayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersatunya 3 Putri Pilihan
Sebagai murid Nyai Buyut Melur, dan masih terhitung keluarga dekat Istana, reputasi Putri Raras tidak bisa dipandang enteng.
Hyang Parikesit yang sudah cukup lama mengenal Putri Raras, memberi tugas kepada Sang Putri menjadi wakil koordinasi kaum wanita yang posisinya di bawah langsung permaisuri Ratu Kirana.
Ratu Kirana tentu sangat berbahagia mendapatkan seorang wakil yang cerdas dan cekatan seperti Putri Raras. Terlebih lagi Ratu Kirana sangat mengenal keluarga besar Mpu Salya yang merupakan sepupu suaminya.
Tugas yang diberikan kepada Ratu Kirana memang cukup berat, yakni mempersiapkan dapur umum dan klinik perawatan jika nanti terjadi peperangan.
Namun ada yang sedikit mengganjal di hati Ratu Kirana, yakni keberadaan Putri Dara Putih yang santer diceritakan memiliki kedekatan dengan putranya, Pangeran Hyang Jayanaga.
Pada awalnya Ratu Kirana agak sungkan dengan Putri Dara Putih. Namun dengan pembawaan Sang Putri yang lincah dan ramah, akhirnya luluh juga hati Ratu Kirana. Bahkan kemudian Putri Dara Putih mendapat tugas khusus menjadi koordinasi wanita dari kalangan Suku Formosa.
Setelah beberapa kali bertemu, Ratu Kirana menjadi tahu Putri Dara Putih sangat ahli dalam memasak makanan. Bermacam jenis masakan dari berbagai suku dan bangsa dia mampu membuatnya.
Kemampuan Putri Dara Putih ini telah membuat Ratu Kirana kagum, bahkan terpikir olehnya andai Pangeran Hyang Jayanaga bukan seorang putra mahkota, Putri Dara Putih ini sangat pantas menjadi menantunya.
Sementara itu di tengah lautan, Kapal Kerajaan yang mengangkut rombongan delegasi pimpinan Mpu Tantra nampak terus melaju ke arah tenggara.
Dan berbeda dengan saat berangkat, selama perjalanan pulang adu argumen antara Pangeran Hyang Jayanaga dengan Putri Puspa sudah sedikit berkurang. Mungkin juga karena pembahasan yang dikaji lebih banyak masalah sosial, seni dan kebudayaan ketimbang pemerintahan.
Tidak terasa Kapal Kerajaan sudah mendekati Pelabuhan Pulau Mentawai. Setelah tiba, baru rombongan tahu bahwa keadaan negara pada saat ini sedang darurat. Mengetahui hal itu, tanpa memikirkan kondisi tubuh yang sudah lelah, rombongan delegasi langsung menghadap Hyang Parikesit.
Setelah Hyang Parikesit menceritakan keadaan negara yang sebenarnya, Sang Raja kemudian menugaskan Mpu Tantra bersama Menteri Perdagangan antar Bangsa kembali berangkat ke luar negeri untuk melobi bangsa Yunnan dan Bangsa Shin.
Tujuan lobi antar bangsa adalah mencegah kedua bangsa tersebut mengambil kesempatan, apabila nanti Negeri Mayapada mengalami kekacauan.
Sementara Putri Puspa ditugaskan bergabung dengan Permaisuri Ratu Kirana yang mengkoordinasi kaum wanita Negeri Mayapada. Sementara Pangeran Hyang Jayanaga dibantu Ki Jayalaga bertugas mengkoordinasi para pemuda baik dari Bangsa Punt maupun Suku Formosa.
Meski kondisi darurat, Hyang Parikesit masih bisa berpikiran jernih. Pemilihan Ki Jayalaga yang merupakan pimpinan Pasukan Bhayangkara untuk membantu Pangeran Hyang Jayanaga bukan tanpa alasan. Ki Jayalaga bisa memiliki dua fungsi yakni membantu tugas Putra Mahkota sekaligus juga menjadi pengawalnya.
Hal yang sama ketika Hyang Parikesit memilih Putri Raras sebagai wakil Ratu Kirana, bukan saja dikarenakan Putri Raras ahli dalam pengobatan melainkan juga memiliki kemampuan beladiri untuk menjaga Sang Permaisuri.
Bergabungnya Putri Puspa ke dalam Tim Ratu Kirana tentu disambut baik, namun terbesit ada kekhawatiran dari Sang Ratu mengingat di dalam tim bergabung juga Putri Dara Putih, yang santer dikabarkan dekat dengan Pangeran Hyang Jayanaga.
Namun kekhawatiran Permaisuri akhirnya sirna, ketika Putri Puspa bergabung dirinya bisa menjaga sikap dan langsung akrab dengan Putri Raras dan Putri Dara Putri.
Melihat hal ini, terasa lega di hati Ratu Kirana dan yang membuatnya bertambah gembira, sekarang dirinya dibantu oleh 3 orang Putri Pilihan yang memiliki kecerdasan dan keahlian yang berbeda-beda.
Sementara itu Pangeran Hyang Jayanaga yang mendapat tugas dari ayahnya untuk menghimpun kekuatan dari para pemuda, segera bergerak cepat.
Pangeran Hyang Jayanaga berinisiatif untuk mengumpulkan beberapa tokoh pemuda di kediamannya, diantara yang hadir adalah temannya yang bernama Datuk Rimau Perkasa.
Datuk Rimau Perkasa adalah sahabat Pangeran Hyang Jayanaga saat bersekolah di luar negeri. Sebetulnya masih ada satu orang lagi yakni Datuk Kuala Perak, namun temannya yang satu ini tewas di tangan pasukan kerajaan, karena dianggap sebagai pemberontak.
Sosok lain adalah Ki Kumara yang merupakan anak dari Ki Gareng Wali Negeri bagian Nusantara. Ki Kumara salah seorang siswa yang dikirim Hyang Ismaya untuk membantu Laskar Lebah saat mencari Padepokan Gagak Hitam.
Dari kelompok Suku Formosa hadir salah seorang tokoh pemudanya bernama Sang Baruna yang merupakan sepupu dari Putri Dara Putih.
"Sahabatku Rimau Perkasa, apa ada usulan terkait peran para pemuda dalam menghadapi situasi seperti sekarang ini?" tanya Pangeran Hyang Jayanaga kepada Datuk Rimau Perkasa.
"Tuan Pangeran, saya mengusulkan di kalangan para pemuda di bentuk laskar khusus" jawab Datuk Rimau Perkasa dalam bahasa formal.
"Setelah terbentuk, kita berharap bisa dilatih oleh Pasukan Khusus Kerajaan Laskar Lebah" ucap Datuk Rimau Perkasa lagi.
"Apa waktunya masih cukup?, sementara kondisi negara dalam keadaan darurat?" tanya Pangeran Hyang Jayanaga kepada sahabatnya itu.
"Tuan Pangeran, jika kita bergerak cepat mudah-mudahan masih cukup" jawab Datuk Rimau Perkasa.
"Tempat latihannya juga tidak harus di kaki Gunung Krakatau, melainkan diadakan di ibukota kerajaan" kata Datuk Rimau Perkasa menambahkan.
"Usulan yang sangat bagus, namun khusus untuk pelatih kita harus bicarakan dahulu dengan Pimpinan Laskar Lebah, mengingat mereka sangat sibuk sekarang ini" kata Pangeran Hyang Jayanaga menanggapi pendapat sahabatnya itu.
"Sahabatku Kumara, apa punya ide terkait persoalan ini?" tanya Pangeran Hyang Jayanaga kepada Ki Kumara.
"Saya setuju dengan pendapat sahabat Rimau Perkasa, memang para pemuda perlu memiliki laskar khusus" jawab Ki Kumara mendukung pendapat Datuk Rimau Perkasa.
"Kami dari siswa Padepokan Punakawan siap bersinergi dengan Laskar Pemuda jika nantinya berhasil di bentuk" kata Ki Kumara menambahkan.
"Saat ini, kami lebih banyak fokus di wilayah Jawadwipa untuk mengantisipasi serangan Ki Kerto dan kelompoknya" ujar Ki Kumara menjelaskan situasi teman-temannya.
"Iya memang siswa Padepokan Punakawan sekarang ini, lebih banyak terkosentrasi di Pulau Jawa" ungkap Pangeran Hyang Jayanaga setelah mendengar pendapat Ki Kumara.
"Bagaimana dengan sahabatku Baruna, apa ada masukkan?" tanya Pangeran Hyang Jayanaga kepada Sang Baruna.
"Tuan Pangeran, usulan sahabat Rimau Perkasa sangat tepat dan perlu segera di realisasikan" jawab Sang Baruna dengan bersemangat.
"Kami para pemuda dari Suku Formosa siap bergabung jika Laskar Khusus Pemuda terbentuk, saya dan teman-teman dari Suku Formosa sudah menganggap Negeri Mayapada adalah tanah air kami" kata Sang Baruna panjang lebar.
Dari pertemuan dengan para pemuda ini, sepertinya pembentukan Laskar Khusus Pemuda mendapat dukungan penuh dari semua yang hadir.
Selepas pertemuan, Pangeran Hyang Jayanaga segera menemui Ki Tirem komandan Pasukan Laskar Lebah, yang pada saat itu sedang berada di ibukota Kerajaan. Pangeran Hyang Jayanaga berharap anggota Laskar Lebah bisa memberi pelatihan militer bagi para pemuda di negeri Mayapada.
d tunggu novel selanjutnya kak
Ini Cerita kisah nyata bukan sejarah..
BTW author suka nonton wayang y:)
taunya datuk maringgi..
mereka saudaraan y..atau nama Marga y
dilanjut lagi ya kak, tetap semangat nulisnya.
aku udah kasih jempolnya, ya🙏
mampir dicerita aku
hati yang terluka sama aku menikahi pacar sahabat ku
jngan lupa mampir