Indra dan Tiwi, dua anak manusia itu bersatu karena perjodohan.
Keduanya sama-sama memiliki jawaban, kenapa mereka menerima perjodohan tersebut.
Awal pertemuan yang buruk dan tidak adanya rasa satu sama lain menjadi masalah besar dalam rumah tangga mereka.
Lantas, saat keduanya benar-benar jatuh cinta, masa lalu dari masing-masing pihak kembali muncul dan mampu meretakkan pondasi pernikahan mereka.
Lalu apakah yang akan Indra dan Tiwi lakukan agar pernikahan sekali dalam seumur hidup seperti yang mereka impikan itu bisa bertahan selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Yuniar Frida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh, Tapi Bukan Cinta
Setengah tujuh, begitulah waktu yang terus berjalan di area taman, belum ada yang pulang, yang ada pengunjung semakin bertambah. Hari minggu yang cerah begitu dimanfaatkan oleh penghuni kompleks Graha Lestari, anak-anak bermain ria di playground yang ada di taman. Beberapa pedagang jalanan mengisi stan yang memang sudah tersedia di taman itu.
"Mau sarapan apaan? Dari tadi jalan terus, ini udah ujung tau," peringat Indra pada Tiwi yang terus berjalan.
"Gue maunya bubur ayam sih, udah gue tinjau tapi gak ada gerobak penjualnya," kata Tiwi lesu seperti pernah mempijakkan kaki di taman dan tahu persis letak gerobak penjual bubur ayam. Padahal ini pertama kalinya, dan belum tentu juga ada yang menjualnya.
"Sarapan apa ja ya, Wi, udah lapar gue," tawarnya pada sang istri dengan nada lembut.
"Tap—"
"Lo kayak orang ngidam aja pengen buryam segala. Gue bikin lo ngidam betulan, baru tau rasa," potongnya dengan godaan.
"Iya, iya, ih, gitu aja diperlebar," Tiwi berbalik langsung menyambar lengan Indra mengarah ke gerobak penjual nasi goreng. Sedikit risih dengan ucapan Indra yang sedikit-sedikit menguras pikiran.
"Perpanjang biasanya," kritik Indra pelan.
"Itu kalau dipanjangin, lo sekarang itu melebarkan, gitu aja diprotesin segala. Herman gue," balas Tiwi sambil bergeleng.
"Herman lo? Pacar lo namanya Herman?" Tanya Indra dengan mengangkat kedua alisnya.
Ini suami gue laparnya udah akut banget kali, gak fokus gitu!
Tiwi diam, malas sekali menanggapi kekonyolan suaminya itu.
"Gue tanya malah diam, Herman itu siapa?" Desak Indra yang kini menghentikan langkah keduanya.
"Astaghfirullah, dosa apa yang gue dulu lakuin sampai dapat suami modelan gini," ujarnya lirih masih mengabaikan pertanyaan Indra.
"Lo harusnya bersyukur dapat suami gini, lo dulu udah lakuin kebajikan besar tau gak, ngucap syukur," pintanya memperbaiki ucapan wanita yang ada di sampingnya.
"Alhamdulillah," ujar Tiwi sontak.
Indra tersenyum puas, lalu kembali mengingat pertanyaan yang diabaikan oleh Tiwi. "Tadi gue nanya, Herman itu siapa?" Tanyanya sedikit ketus.
"Maksud gue heran Indra, lidah gue tadi keseleo, makanya melesat jadi herman," ujarnya jujur tapi dengan nada pasrah, rasanya tidak bertenaga berdebat, apalagi keinginannya untuk memakan bubur ayam tidak terpenuhi.
Indra manggut-manggut, menggulung bibirnya agar tidak tersenyum, ia paham maksud Tiwi, tapi niat menggodanya berada dilevel teratas. Seru rasanya melihat Tiwi terus berjudes padanya.
"Duduk situ di pojokan," pinta Tiwi saat mereka memasuki tenda penjual nasi goreng, ada beberapa pembeli di tenda yang sama.
"Bang, nasi gorengnya dua porsi," ujar Tiwi pada lelaki yang sibuk mengaduk nasi goreng pada wajan besar dengan sangat telaten.
"Porsi yang mana dulu, ada macam-macam soalnya, Neng," kata abang penjual nasi goreng itu.
Tiwi menoleh pada Indra meminta pendapat, Indra hanya mengendikkan bahu tidak tahu, seumur-umur, ia belum pernah makan di angkringan.
"Yang umum aja, Bang, yang ukuran dewasa," putusnya sepihak.
"Pedas apa gimana, Neng?" Tanya abang itu lagi membuat Tiwi menghela napas.
"Ori aja, Bang, masih pagi juga entar sakit perut lagi," jawabnya nada sedikit ketus.
"Ini, telurnya mau ceplok atau di—"
"Ceplok," potong Tiwi.
"Pakai tahu tem—"
"PORSI LENGKAP AJA BANG," celetuk Tiwi kesal, membuat abang penjual nasi goreng itu terlonjak kaget.
"Maafin istri saya ya, Bang, lagi sensi-sensinya, biasa Bang lagi hamil," kekeh Indra berusaha mencairkan suasana, dan alhasil abang penjual nasi goreng itupun ikut terkekeh. Sedang, Tiwi sudah melirik tajam Indra yang suka berbicara tanpa difilter terlebih dahulu.
"Iya, gak apa-apa, Pak, udah biasa mah begitu, bini di rumah juga pernah hamil," kekeh lelaki itu yang terus mengaduk wajannya.
Tau-tau dipanggil Bapak, gue dukung aksi Tiwi yang menjudesi Abang itu. Tiwi dipanggil Neng, gue Pak, Pak Pak Ketoprak kali!!
"Ck," desis Indra pelan yang membuat Tiwi menoleh.
"Dipanggil Bapak aja marah, emang situ udah tua kali," bisik Tiwi membuat Indra bungkam.
Tiwi ini cenayang kali ya? Tanya Indra dalam hatinya.
"Iya, gue cenayang," kata Tiwi sukses membuat Indra mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.
Beneran ih, jadi merinding gue!
"Gak usah takut sama gue kali," lagi-lagi Tiwi berujar membuat Indra yakin akan praduganya.
"Lo ngomong gak jelas sama siapa?" Akhirnya Indra angkat bicara.
"Sama ini!" Tiwi menoyor kepala Indra dengan tidak santai, membuat si pemilik kepala mengaduh.
"Dosa lo gituin suami, yang tadi-tadinya lo kandidat penghuni surga malah dihempas ke nereka, tanpa mencalonkan langsung diceburkan ke lahar panas!" Seru Indra dengan nada seriusnya, menatap dalam-dalam iris hitam milik wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu.
"Dosa istri ditanggung suami, jadi kalau gue berb—"
"Otak lo kok jadi nyungsep, lo pernah dengar kan istri yang durhaka pada suami, lo masuk kategori itu, lo gak layanin suami lo dosa, itu bukan tanggungan suami, lo kurangajar sama suami lo itu dosa yang gak ditanggung sama suami lo, lo—"
"Jadi gue gitu?" Tanyanya dengan nada tidak terima, memotong siraman kalbu dari Indra. Begitu susah membangun ikatan di atas hubungan yang dipaksaan, pikir Tiwi.
"Lo potong pembicaraan suami lo yang sedang berbicara baik-baik itu juga dosa, Tiwi." Indra memalingkan pandangannya, menatap keluar tenda.
Tidak ada lagi kata yang keluar dari bibir Indra, dan Tiwi pun memilih diam. Hanya deburan napas masing-masing, dan pekikan pengunjung di luar tenda yang samar-samar tertangkap oleh telinga.
***
Kedua pasangan itu telah keluar dari tenda penjual nasi goreng, lagi-lagi belum ada yang mengeluarkan intrupsi apapun, berjalan bersama tanpa arah menurut naluri masing-masing. Entah siapa mengikuti dan siapa yang diikuti. Yang jelas, Indra mengikuti langkah Tiwi dan Tiwi juga mengikuti langkah Indra.
Mereka menghentikan langkah, lalu duduk di atas setapak yang tingginya selutut, berdiam dan berkalut dalam perasaan dan pikiran masing-masing.
Bugh
Sebuah bola karet berwarna hijau menggelinding mengenai kaki Indra.
"Bang, tendang kesini bolanya," teriak salah satu anak yang berdiri agak jauh dari posisi Indra.
Indra patuh, tanpa ba-bi-bu ia menendang pelan bola karet itu ke depan, dan berhasil ditangkap oleh anak itu.
"Makasih, Bang," ujarnya menaikkan jempol lalu berbalik bergabung dengan teman-temannya.
Indra kembali duduk di samping Tiwi, matanya fokus memandang anak-anak kecil yang sedang bermain ria di depan sana. Hal itu tidak luput dari pandangan Tiwi kala Indra sedikit menyunggingkan bibirnya tersenyum.
Lagi-lagi hati Tiwi seakan tercubit, setelah pengakuan Indra tentang betapa berdosa dirinya, ia kembali dihadapkan kenyataan, ia dilemparkan bukti betapa bersalahnya ia. Ia tersenyum kecut, merutuki dirinya sendiri.
Tapi sebenarnya apa masalahnya selama ini? Tiwi sudah menerima kedatangan Indra dalam hidupnya sebagai seorang suami, namun ia masih enggan untuk percaya pada lelaki berwajah tampan itu. Apakah masalah Jessica? Berumah tangga di bawah bayangan sang mantan kekasih yang selalu mengekori suaminya membuat ia belum lega, dan lagi ia takut bila saja Indra tidak memiliki rasa apapun padanya, bagaimana nantinya, jika Tiwi terperangkap sendirian, lalu Indra memilih pergi bersama yang lain, mengingat ia dan Indra adalah sebuah keterpaksaan pada awalnya.
Tiwi menghela napas pelan, lantas mengumpulkan keberanian untuk menggengam tangan lebar milik Indra.
Indra reflek menoleh sehingga kedua iris mata mereka bertubrukan, menatap dalam-dalam, seolah menyalurkan perasaan yang sedang mereka rasakan sekarang ini.
"Pulang yuk, udah mau jam delapan, udah panas juga, mana rumah sama tamannya sama-sama di ujung, jauh." Ujar Tiwi pelan dan selembut mungkin.
"Kegerahan?" Tanya Indra sambil tersenyum.
Ini senyum palsu apa gimana? Gue gak bisa bedain.
"Gerah hati," gumam Tiwi begitu pelan.
"Kok bisa?" Tanya Indra mengangkat satu alisnya.
Mendadak lidah Tiwi mati rasa untuk menjelaskan kegerahan hati yang sedang melandanya, tapi anggota tubuh yang lainnya dengam reflek bergerak sendiri, menunjuk ke samping kanan.
Indra yang melihat isyarat jari telunjuk Tiwi bergerak ke samping sigap mengikutinya. Sontak kedua matanya membulat melihat pemandangan yang membuat hati istrinya kegerahan. Tanpa ia pungkiri, hatinya ikut mengalami kegerahan. Ia meneguk salivanya dengan susah.
"Gerah hati juga kan?" Tanya Tiwi setelah Indra kembali menegakkan badannya.
"Nanti di kamar, kita gitu juga," bisik Indra pelan.
"Ya-ya udah, ayo pulang, badan gue udah meronta diguyur air dingin," Tiwi berdiri dan melepas genggamannya pada tangan Indra.
"Bilang aja kalau pengen menuntaskan kegerahan hati yang sudah menggebu-gebu itu," goda Indra ikut berdiri. Mereka melangkah pergi.
Keduanya berjalan bersejajar di setapak kecil khusus pejalan kaki itu, beberapa pasang mata melirik mereka dan menggumamkan betapa cantik dan tampannya pasangan yang baru saja melintas itu.
Tiwi tersenyum manis kala pendengaran tajamnya menangkap kata 'cantik' di bibir-bibir berbeda warna milik ibu-ibu. Dan...
Bugh
"MAMA," teriak Tiwi yang reflek memanggil sapaan milik wanita yang telah melahirkannya kala salah satu kakinya tidak memijak setapak dan berakhir jatuh ke dalam selokan.
"Mama mana?" Tanya Indra yang masih belum menyadari bahwa teriakan Tiwi tadi adalah teriakan ketakutan bukan kegirangan, ia celingak-celinguk mencari sosok wanita yang telah menjadi ibu mertuanya itu.
"Mas-mas ceweknya jatuh!" Sontak Indra menoleh ke belakang saat seorang pemuda di depannya meneriaki dan menatapnnya dengan tangan yang menunjuk-nunjuk ke belakang.
"ALLAHUAKBAR, PRATIWI!!" Pekiknya saat mendapati istrinya sudah duduk lemas dalam selokan.
Buru-buru ia turun ke bawah membantunya, beberapa orang berkumpul saat melihat langsung kemalangan Tiwi. Niat hati ingin berbelok pada jembatan kecil yang menghubungkan taman dengan jalan raya, malah kurang fokus karena pujian membuat kakinya reflek membelok mengira ia sudah memijakkan kaki di atas jembatan kecil itu.
"Nih minum dulu," Indra menyodorkan botol aqua setelah membuka penutupnya.
Dalam tiga tegukan, Tiwi menyudahinya. Rasa sakit bercampur rasa malu sedang bersaing dalam dirinya. Ingin menangis, rasanya malu karena sudah besar, namun rasa sakit pada tubuhnya tidak bisa ia tahan.
"Tunggu sebentar lagi, gue telpon orang rumah suruh bawa mobil ke sini," karena panik ia menekan kontak panggilan terakhir pada ponselnya yang belum kunjung ia ganti atau memperbaiki keretakannya.
Mommy
"Halo? " Sapa Vina terlebih dahulu.
"Suruh supir segera ke taman ya, Mom, Tiwi jatuh, kakinya lu—"
"Jatuh gimana? Kamu kok gak jagain menantu Mommy sih," bentak Vina di seberang sana.
"Mommy buruan suruh supir, bentar di rumah baru ngoceh," Indra memutuskan sambungan sepihak.
Indra menatap prihatin pada wanita di depannya ini. Sepatu olahraga putih yang sudah berubah warna menjadi hitam, celana yang sudah basah, benar-benar tidak enak untuk dipandang pokoknya. Tidak lagi keningnya yang sudah tergores pada dinding selokan, apalagi yang lain. Indra benar-benar ingin membawanya pulang.
"Yang sakit apanya, hm?" Tanya Indra lembut seraya mengusap pelan sebelah wajah istrinya.
"Kaki aku tolong dilurusin," ujarnya lemah, dengan embel 'aku'. Kesepakatan yang sudah mereka ikrarkan tiga bulan yang lalu tepatnya di dalam kamar apartment milik Yura, mereka ingkar sehari setelahnya, keduanya kembali menggunakan 'lo-gue', karena Indra bertingkah menyebalkan membuat Tiwi kesal dan memanggilnya 'lo'.
Dengan pelan-pelan Indra meluruskan kaki Tiwi, tidak ada rasa jijik sekalipun disaat bau khas selokan menyiksa indera penciumannya.
"Arrghh," ringis Tiwi merasakan nyeri saat kakinya digerakkan.
"Iya, aku pelan-pelan ini udah." Indra berhasil meluruskan kaki Tiwi.
"Apanya lagi yang sakit?" Tanyanya sekali lagi dan hanya gelengan yang Tiwi responkan.
PIP
Sebuah mobil hitam menepi di samping mereka. Dua orang keluar dari pintu depan, Vina dan Pak Ahmad—supir keluarga Adhitama tanpa mematikan mesin mobil.
"Pak Ahmad, bukain pintu belakang," titah Indra yang langsung sigap dilaksanakan oleh Pak Ahmad. Ia lalu mengendong Tiwi ala bridal style dan memasuki jok belakang mobil.
"Buruan, Mom, Pak Ahmad!"
Vina dan Pak Ahmad segera menyusul masuk. Pak Ahmad melajukan mobil kembali ke rumah sesuai permintaan Tiwi yang tidak ingin dibawa ke rumah sakit. Tiwi dan Indra benar-benar tidak sadar bahwa posisi mereka saat ini benar-benar membuat jantung mereka kalang kabut. Tiwi menaruh kepalanya di ceruk leher Indra, ia duduk menyamping di atas paha Indra dengan kaki sengaja di luruskan. Sementara kedua tangan Indra merengkuh posesif pinggang ideal milik Tiwi.
_______
TBC
Vote, comment, like, and follow my account <3
so may i marry u?
kalimat yg bikin aku cekikikan😂
next kak
semangats
semoga bisa up tiap hari hehehe