Sinopsis:
Menceritakan saudara kembar yang saling bermusuhan dan membenci. Sang kakak bernama Aksa, sedangkan adiknya bernama Arion. Meski kembar mereka memiliki kemampuan yang berbeda. Arion memiliki IQ tinggi. sedangkan Ares bisa di bilang kurang cerdas daripada Arion sehingga Ayah mereka sering membandingkan mereka berdua.
Sampai suatu masa, sahabat masa kecil mereka datang kembali. Naya, gadis yang lincah dan cantik ini menarik perhatian mereka berdua. Sehingga mereka bersaing merebut hari Naya.
Siapakah pemenang hati Naya?!🤔🤔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Olivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
...✩*⢄⢁✧ --------- ✧⡈⡠*✩...
"Nice shot!" seru Reno ketika Arion berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
Raul memandang Arion tidak suka,sementara Arion tidak mengacuhkannya dan berjalan ke bangku untuk mengambil handuk. Arion sedang mengelap wajahnya ketika Raul mendekatinya.
"Lo nggak ambil serius kata-kata gue kemaren rupanya," kata Raul sambil berpura-pura minum untuk menghindari tatapan curiga Reno.
"Buat apa?" tantang Arion.
Raul terdiam, dan Arion dapat melihat dia mengepalkan kedua tangannya dengan gemetar.
"Denger, gue butuh ini, oke?" katanya dengan nada mengancam.
"Kalo lo pikir ini cuma sekadar turnamen, ini bukan buat gue. Gue bener-bener butuh main di turnamen ini."
"Kenapa?" balas Arion ketus.
"Oh, tunggu. Jangan dijawab. Gue rasa gue tau kenapa. Ini karna Lala, kan?"
"Bukan," sahut Raul dingin sambil melirik Lala yg sedang duduk di bangku penonton.
"Ini soal hidup dan mati gue."
"Oh, jadi kalo lo nggak ikut final, lo bakal menggelepar, trus mati, gitu?" sindir Arion, lalu terkekeh.
"Lo tau kan, bokap gue mantan petinggi basket terkenal," sergah Raul.
"Kalo gue nggak main, gue nggak akan bisa dilirik manajer tim-tim besar! Dan bokap gue bakal bunuh gue!"
Arion menatap Raul galak. "Sejak kapan lo jadi pengecut gini, heh?" sahut Arion.
Wajahnya hanya berjarak tiga senti dari wajah Raul. "Sekarang lo minta belas kasihan gue untuk main di final cuma karna lo takut bokap lo?"
Raul tampak terhina sesaat, tapi itu tak bertahan lama. Dia kembali mengeluarkan wajah liciknya, lalu mencondongkan tubuhnya ke Arion sehingga mereka sekarang hanya berjarak beberapa mili saja.
"Gue udah meminta lo baik-baik, bahkan ngasih tau alasan kenapa gue pengen banget final ini, tapi lo kayaknya terlalu sombong. Jangan salahin gue kalo terjadi apa-apa nantinya. Inget itu," ancam Raul, lalu bergerak pergi.
"Kalo lo emang pengen banget, kenapa lo nggak berusaha?" sahut Arion kesak.
Raul tak menjawabnya. Dia berjalan kembali ke lapangan, sambil berusaha menahan rasa sakit di lututnya yg sudah setahun ini menderanya.
Aksa merebahkan dirinya di sofa. Hari ini, sesuatu yg besar telah terjadi padanya, pada hidup dan cita-citanya. Aksa sudah mendaftarkan diri sebagai siswa sekolah penerbangan di Deraya Flying School di bandara Halim Perdana Kusuma.
Tadi pagi setelah kuliah, Aksa mengecek persediaan uang di ATM-nya. Ternyata sudah cukup untuk membiayai sekolahnya. Aksa telah mengambil formulir, mengisinya dengan penuh gairah, lalu diam-diam membubuhkan tanda tangan Ayah yg sudah lama dipalsukannya.
Besok, Aksa akan melakukan serangkaian tes kesehatan. Aksa yakin dirinya cukup sehat, kecuali keadaan paru-parunya yg sudah memburuk karna rokok. Tes kesehatan ini diperlukan untuk mendapatkan Student Pilot Permit dari pihak Deraya.
Aksa menghempaskan kepalanya ke atas bantal dan membayangkan dirinya menerbangkan sebuah pesawat jet. Aksa melakukan beberapa manuver, membuat semua orang yg menonton di bawahnya berdecak.
Aksa menemukan keluarganya di antara orang-orang itu, dan dari langit, Aksa bisa dengan jelas melihat Ayah yg tersenyum bangga. Aksa membuka matanya lagi. Aksa tak pernah sesemangat ini dalam hidupnya.
Keseluruhan tes berjalan dengan sangat melelahkan. Aksa tak tahu apakan dia bisa lulus atau tidak. Pada saat tes kesehatan tadi, Aksa melihat dokter mengernyitkan dahinya saat mengecek paru-paru Aksa melalui stetoskop dan mungkin akan lebih tercengang dengan hasil rontgen nanti.
Mengenai luka-luka di wajah Aksa yg seperti menjelaskan bahwa Aksa adalah preman terminal, jelas dokter itu tidak begitu terkesan. Aksa sampai lelah karna tes yg berlangsung sangat lama itu.
Sekarang, Aksa tinggal menunggu hasil tes kesehatan itu, sambil menyesali hobi merokoknya, karna bisa saja hal itu menjadi penghambat cita-citanya. Nanti setelah Aksa mendapatkan hasil tes yg baik, baru Aksa akan diperbolehkan untuk mendapatkan Student Pilot Permit.
Sebelum itu, harus melakukan tes bahasa Inggris dulu dan Aksa yakin untuk hal yg satu ini. Sepanjang perjalanan ke rumah, Aksa tak bisa menurunkan otot bibirnya. Semua orang di bus disenyuminya.
Dia sangat bahagia sekarang, mengetahui cita-citanya tinggal selangkah lagi. Aksa membayangkan akan mengajak Reina terbang ke tempat-tempat romantis di seluruh dunia.
Aksa terduduk tegang saat tiba-tiba, dia teringat sesuatu. Sesuatu yg sangat penting. Naya sudah terlalu lama berada di Indonesia. Dia pasti akan pulang beberapa hari lagi, dan
Aksa tidak menyadarinya. Atau mungkin saja Naya pulang hari ini, Aksa tidak tahu lagi. Aksa memukul kepalanya, menyesali kebodohannya karna selama ini tidak pernah bertanya pada Naya. Di sisa perjalanan, Aksa berharap-harap cemas Naya masih di rumah.
Ketika sampai, Aksa melihat rumahnya sepi dan gelap. Tak sorang pun ada di sana. Kalap, Aksa menggedor-gedor pintu rumahnya, tapi tak ada yang menyahut.
...•.:°❀×═════════×❀°:.•...
alur? bukan urusanku, w gak ahli romance🗿