NovelToon NovelToon
MY BLOOD: Lycoris Radiata

MY BLOOD: Lycoris Radiata

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mata-mata/Agen / Anak Genius / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Chicklit
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: olivia junia f.

Mencintai akan di sakiti.
Di cintai akan menyakiti.
Saling mencintai akan tersakiti
Sang anak Athena bersinar bak surya.
Merubah konsonan takdir dunia.

Kekasih takdir yang saling memberontak.
Membuat jurang kebodohan.
Sang anak Athena yang terus merintih sakit.
Yang melihatnya adalah saksi-saksi kekejaman takdir.

Sinopsis: Seorang dara yang masuk ke dalam sebuah novel Dektektif dengan segudang misteri. Namun tidak pernah terpikirkan bahwa dia memiliki peran di bawah pena takdir.

Terbagi menjadi pikiran dan emosi, sang jiwa luntang-luntung mencari jiwa yang asli. Paus yang bertemu putri duyung di pinggir laut lepas, serta sang Dewi yang terus mencari sang dara.

Mengikat janji di bawah lembayung biru bumantara dan berkeliaran di dunia yang menurutnya fiksi. Sang dara yang terus mencari apakah ia pikiran atau emosi, sampai ia mengetahui ekspresinya adalah 'kebohongan'.

—BLUE ROSE—

Tak peduli bahwa ia merubah takdir, takdir tetaplah takdir. Ia tidak akan bisa menebus semua dosanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olivia junia f., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17: Jika Kau Tak Berusaha, Apa Yang Kau Dapatkan? (1)

Like That—BabyMonster

00:08 ————————————— • ——————01:06

⏭ ▶ ⏮

“**Untuk apa aku menuruti keinginannya sedangkan aku ingin melakukan apapun yang ku inginkan? Yang bener aja, rugi 'dong!” —Yukijima Athanoe**.

Menghargai ...

Kipas menyala, kaleng soda di mana-mana, kursi terjungkir balik, dan Akami yang greget kepingin membuat dua makhluk biadab keluar ruangan. Ruangan kantor porak poranda seperti kapal pecah, menyisakan anggotanya yang tepar di meja dengan kipas angin masing-masing.

Kecuali duo abnormal agensi, Noe dan Fujitsu yang tepar di lantai dengan buku sebagai kipas di tangannya. Kursi yang jungkir balik di jadikan sandaran kaki oleh Noe. Jadilah dia kepala di bawah kaki di atas.

Akami mengerutkan kening, ia sudah lelah dengan mereka, “Kalian berdua, cepat kerjakan dokumennya!”

“Berisik! Hari ini terlalu panas bagi otak kami yang minus!” celetuk Hiro yang ikut-ikutan baring di lantai.

“Gak usah ikut-ikutan bego!?” seru Akami dengan tanda kemarahan di pelipisnya.

Sementara Hikami, ia duduk di kursinya dengan kipas yang ia dapat dari dinding—diturunkan dari dinding—dengan tablet di tangannya.

“Apa pasar senjata tak ada perubahan ...” gumam gadis kecil itu sambil menatap layar tabletnya yang berisi penjualan senjata.

“Oy! Chibi-Chan! Kenapa kau menurunkan kipasnya, sih!” seru Hiro yang tidak mau mengalah.

Hiro mulai berdiri di belakang Hikami agar kebagian angin, “Kau sedang apa, sih?”

“Apa kau buta? Aku sedang menerima angin dari kipas.” jawab Hikami dengan nada datarnya seperti biasa.

Hiro yang terlewat kesal, ia menyeret Hikami jauh dari kipas, “Dasar bodoh, harusnya kau berbagi angin dengan seniormu!”

Hiro pindah ke tempat duduk Hikami, membuatnya yang terkena angin kipas itu. Hikami yang bodo amat menurunkan salah satu kipas lagi dari dinding.

“Hikami-San! Jangan menurunkan kipas seenaknya!” seru Akami kesal.

Hikami menoleh pada Akami, “Baiklah ...”

Namun tangannya malah tetap menurunkan kipas itu—Larangan adalah perintah, perintah adalah larangan. Akami yang sudah lelah pingsan di tempat.

Noe menoel-noel pipi Akami, namun tidak ada respon. Mulailah dia dengan panik mengguncang tubuh Akami.

“Woy! Akamimama! Hutangmu belum kau bayar! jangan mati dulu, sialan!” serunya panik.

Fujitsu bangkit lalu menggaplok kepala Noe, membuat Noe meringis pelan, “Niat nolongin gak, sih? Gak guna banget.”

“Maaf Fuji-San, butuh kaca?” ucap Hashira yang telah membawa kaca segede harapan orang tua.

Fujitsu langsung cengo, “Itu kaca dari mana?”

“Kurang besar, ya? Aku bawa yang lebih besar, nih.” ucap Romino.

Di belakang Hashira berdiri Romino, Judy, dan Tarasama dengan kaca yang lebih besar. Setelah itu di temukan mayat lelaki berambut merah yang pingsan di tempat.

Noe sweatdrop, lalu ia menaruh bunga tulip dari Vas ke atas tubuh Fujitsu, “Ara~ Semoga tenang di alam sana.”

Tarasama tertawa kecil, namun langsung di gaplok oleh Romino. Sebuah ide terlintas di pikiran Fujitsu, membuatnya langsung terduduk. Noe yang melihat itu terjengit kaget.

“Ke Cafe, yuk! Sekalian numpang AC di sana sambil makan.” seru Fujitsu, membuat Akami juga bangun dari pingsannya.

Akami membenarkan letak kacamatanya, “Ide yang bagus, nanti Noe yang bayar,”

“Loh? Kenapa aku!?” seru Noe tidak terima.

Hiro tertawa jahil, “Kau menang permainan papan kemarin, kan? Hari ini kau pasti tidak mengeluarkan uang untuk membayar. Daripada uangmu nganggur di dompet, lebih baik traktir kami.”

Noe berseru kesal, tapi semuanya tidak menghiraukannya dan keluar kantor. Noe menatap ke arah Hashira dengan tampang memelas, semoga saja di bantu.

Hashira tersenyum tipis lalu menggeleng pelan dan ikut berjalan keluar kantor. Noe pundung di pojokan, padahal uangnya mau buat beli action figure anime Mafumafu.

Anggota SevenSix duduk di sebuah meja Cafe. Takina sang pelayan Cafe mencatat pesanan, jangan lupakan Noe yang men-traktir mereka karena uang Noe nganggur.

Pakai uang Noe?—tentu tidak—dia meminta uang pada Tou-sannya.

\[**Tou-SanGantengkuhh**\]

@**You**

\[*Tou-San, transfer uang, dong!♥*\]

@Tou-SanGantengkuhh

[Uangmu habis?]

@Tou-SanGantengkuhh

Send.transfer

@Tou-SanGantengkuhh

[Sudah masuk?]

@**You**

\[*Arigatou, Tou-San*!\]

—————

Noe memesan ramen pedas dan kopi Cappucino kesukaannya. Kopi dengan gambar hati itu tersanding di depannya. Noe sweatdrop, ia jadi tidak tega meminumnya.

“Noe-San? Tidak meminumnya?” tanya sang pembuat kopi—Uzumaki Jirou.

Noe menoleh ke arah Uzumaki, “Uzumaki-San, ini terlalu cantik. Aku tidak tega meminumnya.”

Semuanya sweatdrop mendengarnya. Noe hanya nyengir tanpa dosa, itu terlalu cantik untuknya. Noe perlahan-lahan meminum kopinya, menjaga agar gambar hati miliknya tidak rusak—biar aesthetic katanya.

'Gak ingat umur.' batin semua anggota saat melihat Noe.

“Yahh, bagaimanapun Uzumaki-San terlalu ahli dalam membuat kopi.” celetuk Fujitsu sambil bersandar ke kursi Cafe.

Uzumaki terkekeh pelan, “Membuat kopi itu harus dengan penuh perhatian, agar rasanya pas,”

Bagaikan sebuah komik, senyuman Uzumaki menyinarkan cahaya ilahi imajiner. Sontak semuanya memakai kacamata hitam sebagai penetral.

'Silau Men!?' batin semuanya sweatdrop.

Fujitsu berdeham pelan, membuat atensi mengarah padanya, “Noe-San, kau suka cappucino, ya?”

Noe yang di tanyai mengangguk pelan, “Ya, memangnya kenapa?”

“Aku juga suka. Rasanya manis.” ucap Fujitsu lalu ia tersenyum tipis, “Tapi lebih manis kamu.” lanjutnya dengan aura-aura jamet.

Noe menatap datar dan yang lain swetdrop. Mulai lagi kejametannya, begitu pikir Noe. Fujitsu menggenggam tangan Noe, lalu mencium punggung tangan Noe.

Noe masih menatap datar, sedatar triplek tetangga, “Pasti saat pembagian otak, anak ini datang terlambat.” gumam Noe pelan.

Fujitsu tersenyum ikemen, “Bagaikan bunga mawar biru yang mekar dan cahaya mentari menyinari bunga itu untuk menambah kecantikan sang bunga.” ucap Fujitsu menggantung.

“Maukah kau menikah denganku—” lanjut Fujitsu, namun sebuah pukulan telak dari Takina mendarat di kepalanya.

Fujitsu meringis pelan, membuat genggaman tangannya pada tangan Noe terlepas. Takina menahan kesalnya, lalu membuat Noe menjauh dari Fujitsu.

“Lebih baik kau menyiapkan warisan untuk membayar hutangmu di Cafe ini sebelum mati, Fujitsu-San.” ucap Takina dengan senyum manisnya (baca: senyum iblis).

Fujitsu langsung kicep dan ciut, takut dengan senyuman milik Takina. Ia masih sayang nyawa, soalnya hutangnya di Cafe belum di bayar. Tidak mau harga dirinya sebagai lelaki ikemen tercoreng.

Akami menghela nafas lelah, sudah seperti janda anak tujuh. Noe sweatdrop, seharusnya saat itu ia tidak meminta masuk ke dalam dunia ini.

Suara lonceng berbunyi, menandakan ada seseorang masuk ke dalam Cafe. tiga perempuan remaja masuk dan duduk di salah satu kursi Cafe, salah satu gadis itu terlihat lebih mencolok di rombongannya. Tidak terlalu jauh dari rombongan Noe.

Noe sedikit bingung, lalu otaknya konek bahwa ada salah satu scene ini di buku. Noe berpikir, apakah dia akan ikut campur? Seharusnya itu panggung untuk Fujitsu, karena lelaki itu yang menyelesaikannya.

Keputusan Noe sekarang hanya diam, iya, menonton live secara gratis. Salah satu dari tiga gadis tadi memesan tiga kopi Cappucino dan Uzumaki membuat kopinya.

“Ah, Hashira-San, apa Bleidmu?” tanya Judy pada Hashira yang seperti tengah melamun.

Hashira menatap Judy, “Ah, aku menamainya Griseo ...” ucap Hashira, “Aku bisa menyerang dengan spesifik singa, seperti tinju singa kembar atau membuat telinga menjadi lebih sensitif terhadap suara ...”

Judy terperangah, ia kagum dengan Bleid Hashira. Hashira yang melihat itu terkekeh pelan, baginya itu Bleid yang biasa saja.

“Bagaimana denganmu, Judy-San?” tanya Hashira.

Judy tersenyum senang, “Ah, Bleid milikku ku namai Neko!”

“Kucing?” gumam Hashira bingung.

Judy melipat tangannya di depan dada dengan percaya diri. Noe tersenyum tipis, mulai sudah kepercayaan diri Judy.

“Aku sedikit sama denganmu, namun aku hanya bisa berlari kencang.” ucap Judy, “Tapi kalau aku sudah bersin, kecepatanku akan menurun. Aku harus bersin lagi agar kecepatanku kembali.”

Hashira manggut-manggut, jujur saja dia juga tidak tahu apa kelemahannya. Dia baru tahu Bleid miliknya kemarin, saat penyelamatan tupai.

Hashira menoleh pada Hiro, “Bagaimana dengan Hiro-San?”

Hiro yang mendengarnya memancarkan aura pamer. Noe dan Akami sweatdrop, sudah pasti Hiro akan pamer di depan Hashira. 'Mulai lagi ini bocah.' batin mereka berdua.

“Bleid milikku kunamai Benang Harapan!” ucap Hiro bangga.

Hashira menatap bingung, “Benang harapan?”

“Benar! Benang tak kasatmata yang bisa membuat seseorang mengungkapkan kejujuran. Hanya bisa mengikat, minimal dua orang.” ucap Hiro, “Satu orang batas mengungkapkannya 30 menit, jika dua orang 15 menit.”

“Kelemahannya apa?” tanya Hashira.

Hiro tersenyum, “Aku akan jadi bego selama 10 menit jika menggunakan kemampuan ini kepada dua orang.”

Noe tersenyum remeh, “Udah bego, jadi tambah bego,” celetuknya.

Hiro ingin membalas perkataan Noe, namun ponselnya berdering. Ia mengangkat telepon dan pamit pada rombongannya bahwa Yukijima memanggilnya. Hiro pulang ke organisasi untuk menghadap Yukijima.

“Hiro-San sepertinya sibuk.” celetuk Hashira.

Tarasama mencibir, “Aku yakin dia menghadap Sachou untuk mengerjakan dokumen satu minggu lalu.”

“Terlalu rajin sampai dokumen satu minggu lalu belum di kerjakan.” Romino memanas-manasi.

“Umurnya saja yang sudah mapan, otaknya perlu di ganti.” ucap Akami sambil menyesap tehnya.

Noe menatap Akami, “Anaknya aktif ya bund.”

“Iya, Paps.” ucap Akami.

1
Anonim
"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!