Hana di paksa menikahi Janghyun seorang CEO perusahaan terkenal hanya untuk membalaskan dendam keluarganya dan merebut kembali perusahaan yang telah Janghyun ambil dari keluarganya.
Tetapi, setelah Hana menikah dengan Janghyun ternyata sifat pria itu tak seperti yang di rumorkan orang-orang. Dia malah adalah orang yang manja kepada Hana dan sosok ayah yang baik untuk putrinya.
" Sadarlah Hana, kau tak boleh terbawa perasaan pada pria itu " Batin Hana semakin bingung.
Yuk baca keseruan dan apa yang akan Hana pilih, apakah ia akan memilih tetap membalaskan dendam keluarganya atau membiarkan hatinya berlabuh dengan cinta Janghyun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Istri Yang Sempurna
Kini waktu telah menunjukkan pukul empat sore, dan Hana baru saja selesai melakukan semua pekerjaan rumah di bantu asisten rumah tangga keluarga tersebut.
Hana mulai duduk di sofa ruang tamu sembari menantikan kepulangan sang suami dari bekerja.
Hana juga sudah bertekad, mulai saat ini ia akan menjadi sosok istri yang sempurna selayaknya seorang istri pada umumnya.
"Janghyun sepertinya belum juga pulang dari kantor, apa dia ada lembur dadakan?" gumam Hana sambil terus mencemaskan sosok Janghyun yang belum kunjung pulang juga.
"Mama Eun-hye laper." gadis kecil itu mulai berjalan ke arah Hana sambil mengucek matanya karena baru saja bangun tidur siang.
"Eun-hye kalau laper makan duluan aja ya sayang, mama tadi sudah masak makanan kesukaan Eun-hye." Hana tersenyum lembut mengelus pipi Eun-hye.
"Eun-hye mau di suap sama mama." Eun-hye mulai kembali manja kepada Hana.
"Yasudah, Eun-hye tunggu di sini biar mama yang ambilkan makanannya ya." Hana terkekeh pelan langsung berjalan ke meja makan.
"Asiik!" senyum riang Eun-hye.
Hana tersenyum saja sambil mengambil makanan untuk Eun-hye. Ini lah yang Hana harapkan dari sebuah keluarga yaitu Ketenangan dan keharmonisan.
Itu lah yang selama ini di impi-impikan oleh Hana sejak kecil hingga ia dewasa tentang sebuah keluarga. Lebih baik hidup di keluarga yang berkecukupan namun saling mencintai dan selalu bersama dari pada harus hidup di keluarga yang kaya namun merasa sendirian dan di acuhkan.
Janghyun pov
Baru saja aku sampai dan memarkirkan mobilku di garasi, ku lihat Hana yang sedang menyuapi Eun-hye makan sambil menonton acara tv khusus untuk anak-anak.
Masih terdiam di ambang pintu masuk, aku kembali teringat dengan semua ucapan dari Eunjun siang tadi kepadaku.
Dan aku pun juga yakin bahwa Hana adalah korban dari keserakahan keluarganya sendiri yang rela menjualnya kepadaku cuma karena ingin perusahaan itu kembali.
"Aku akan tetap bersamamu dan melindungi mu walau harta atau pun nyawaku taruhannya demi mu, istriku." ucap batinku sambil terus menatap ke arah Hana yang sedang tertawa bersama Eun-hye karena melihat acara kartun itu yang lucu.
Kembali ku langkahkan kaki ku masuk menuju kamar terlebih dahulu. Namun, bagaikan tersengat listrik tubuhku menegang ketika sebuah tangan menggenggam tangan kananku.
"Kau sudah pulang sayang? Bagaimana di kantor? Apa ada macet jadi kau pulang telat hari ini?" Hana tampak menatapku dengan tatapan khawatir.
"Imut." hanya satu kata yang dapat ku gambarkan untuk sosok Hana sore hari ini.
"Tadi ada kemacetan di jalan yang biasa ku lewati." ucapku dengan jujur.
"Syukurlah, ku pikir kau kenapa-kenapa sayang." hela nafas pelan Hana keluarkan di sertai sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.
"Tenang saja sayang, lanjutkan saja menyuapi Eun-hye makan dulu." aku tersenyum menatapnya yang masih berdiri di hadapanku.
"Sudah selesai barusan kok sayang." Hana tersenyum kepadaku lalu langsung membawa tas kerja milikku ke kamar.
Ku pandangi lagi sosok Hana yang hari ini cukup berbeda dan aneh menurutku. Biasanya dia tidak akan sampai perhatian seperti saat ini ketika aku pulang kerja.
"Tumben sekali dia semakin perhatian kepadaku hari ini." gumam batinku sambil ikut berjalan masuk ke dalam kamar.
"Air hangat untukmu mandi sudah selesai ku siapkan sayang!" Hana berjalan keluar dari kamar mandi.
"Tumben sekali sayang." ku beranikan diri untuk memulai pembicaraan dari tingkah laku Hana yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Kau pasti bingung kenapa aku begini bukan, sayang?" Hana mulai terkekeh menatapku.
Kenapa dia tertawa seperti itu menatapku, apakah ada kotoran di wajahku. Atau mungkin karena penampilanku yang sedikit berantakan karena terlalu lama terjebak macet di jalan pulang tadi.
Hana pov
"Akan ku beritahu nanti setelah kau selesai mandi dan makan malam sayang." ucapku sengaja untuk sedikit menjahilinya.
"Kenapa aku harus menunggu lama untuk mendapatkan jawabannya, sayang?" ku lihat dari raut wajah Janghyun yang sepertinya terpancing dengan ucapanku barusan itu tertekuk dan cemberut kesal.
"Mangkanya cepatlah pergi mandi dan makan malam suamiku." aku langsung kabur dari dalam kamar menuju ruang tv masih sambil menahan tawa mengingat ekspresi yang Janghyun tunjukkan tadi.
Setelah selesai memandikan Eun-hye, aku langsung berjalan kembali ke meja makan untuk memastikan apa Janghyun sudah ada di sana atau belum.
Awalnya aku mengira bahwa Janghyun masih mandi. Tetapi ternyata dugaanku salah, Janghyun sudah ada di meja makan itu sambil memakan makan malamnya.
"Kau berhutang penjelasan denganku tadi, sayang!" Janghyun menatapku intens.
"Yang mana?" aku mulai berpura-pura lupa.
"Di saat kita sedang di dalam kamar barusan?" Janghyun langsung menarik salah satu lenganku untuk langsung duduk di kursi meja makan di sampingnya.
"Baiklah, akan ku jelaskan namun hanya satu kali akan ku katakan padamu." aku langsung tampak mulai merona malu.
"Baiklah...baiklah..." Janghyun mengangguk mengerti.
"Aku ingin belajar menjadi sosok istri yang sempurna untukmu dan ibu yang baik pula untuk Eun-hye." Aku mulai menunduk malu sambil mengucapkannya.
Ku beranikan diri untuk mengintip sedikit, melihat bagaimana raut wajah Janghyun saat ini mendengar ucapanku barusan.
Dan ku lihat wajah Janghyun saat ini sungguh sangat kaget. Ia hanya terdiam menatap ke arahku.
"Jadi maksudmu, kau sudah siap menjalankan semua tugas-tugasmu selayaknya seorang istri, sayang?" Janghyun mulai angkat bicara setelah terdiam beberapa menit yang lalu.
"Benar sayang, aku sudah siap dengan semuanya. Mari bangun rumah tangga yang aman dan damai demi anak-anak kita di masa depan nanti." kembali ku lemparkan sebuah senyuman manis ke Janghyun.
"Tetapi kau juga harus ingat, aku tidak mau jika kau sampai memaksakan diri untuk menjadi seorang istri yang sempurna demi kau." Janghyun kembali menatapku dengan tatapan keyakinan.
"Iya, aku akan ingat itu sayang." aku terkekeh pelan dan memberanikan diri untuk mengecup pipi Janghyun.
Author pov
Hana dan Janghyun akhirnya mulai saling berpelukan. Bagaikan sepasang kekasih yang telah lama tak saling berjumpa belasan tahun lamanya.
Mungkin inilah jalan yang tuhan berikan serta restui dalam kehidupan rumah tangga Janghyun dan Hana.
Sebuah kisah cinta yang tak terduga sama sekali. Bahkan Hana rela membuah botol racun yang Jiho berikan kepadanya dulu. Karena Hana tahu dan sadar, bahwa hanya Janghyunlah yang mengerti akan perasaannya dan ada di sisinya kapan pun mulai saat ini.
"Terimakasih banyak ya sayang, aku juga akan belajar menjadi sosok suami yang sempurna untukmu serta ayah yang sempurna bagi anak-anak kita nantinya!" kini Janghyun mulai mengecup lembut bibir Hana dengan penuh kasih sayang.