NovelToon NovelToon
Bukan Ibu Tiri Biasa

Bukan Ibu Tiri Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Cemburu pada Diri Sendiri

Dia... semudah itu melepas cincin untuk istrinya yang sudah meninggal?

Pertanyaan itu mengikuti Ning sampai malam.

Saat makan malam, ia berusaha tersenyum. Saat Bi Ruan menyajikan sup ayam jahe dan memanggilnya Nyonya, ia mengangguk sopan. Saat Kevin menaruh obat di dekat mangkuknya dan berkata, "Minum setelah makan," hatinya justru berdenyut aneh.

Di jari manis kiri Kevin, cincin baru darinya berkilat tenang.

Tidak mahal. Tidak bersejarah. Baru dibeli terburu-buru.

Tapi Kevin memakainya tanpa ragu, seolah cincin lama yang menunggu enam belas tahun bisa disingkirkan hanya karena istri barunya memberi pengganti.

Ning menusuk potongan ayam di mangkuknya.

Sebagai istri yang sekarang, ia seharusnya senang.

Sebagai Ning yang dulu, ia ingin mengguncang bahu Kevin dan bertanya, kamu katanya mencintaiku enam belas tahun, lalu kenapa semudah itu?

Masalahnya, dua perempuan itu adalah dirinya sendiri.

Ia hampir tertawa karena kesal.

Setelah makan, Ning naik ke kamar untuk merapikan koper. Di dasar tas, ia menemukan buku catatan kecil bersampul hitam yang ia beli setelah keluar dari rumah sakit. Halaman pertamanya masih berisi tulisan tergesa:

`Aku bangun di tubuh Ning Tju yang lain. Kian masih hidup. Kevin masih hidup. Aku harus hati-hati.`

Ning menutup buku itu cepat-cepat.

Jantungnya berdebar.

Catatan itu terlalu berbahaya, tapi ia belum sanggup membuangnya. Beberapa hari terakhir terasa seperti mimpi yang bisa hilang kalau tidak dituliskan. Di halaman berikutnya, ia menulis satu baris baru dengan tangan yang masih gemetar:

`Hari ini aku menjadi istri Kevin lagi, tapi dia belum tahu bahwa aku juga istri yang pernah ia tunggu.`

Ning menatap kalimat itu sampai tinta hitamnya mengering.

Kalau orang lain membaca buku ini, hidupnya bisa runtuh dalam semalam. Tapi kalau ia tidak menulis, ia takut suatu hari dirinya sendiri yang runtuh lebih dulu.

Ia menyelipkan buku itu di antara sketsa, lalu memasukkannya ke laci paling bawah meja kerja.

Ketukan pelan terdengar dari pintu.

Ning buru-buru berdiri. "Masuk."

Kian muncul di ambang pintu, tangan di saku hoodie, wajah seperti orang yang dipaksa datang oleh seluruh alam semesta.

"Pak Kevin bilang kalau lo mau lihat ruang belajar, gue bisa tunjukin."

Ning menahan senyum. "Kalau kamu tidak sibuk."

"Gue sibuk." Kian berhenti sebentar. "Tapi bisa lima menit."

Lima menit itu berubah menjadi perjalanan ke lantai dua sisi timur, ke sebuah ruang belajar besar yang pernah menjadi ruang kerja kecil Ning dulu. Begitu pintu dibuka, napas Ning tertahan.

Rak buku masih sama.

Meja kayu di dekat jendela masih sama.

Lampu baca kuningan yang dulu ia beli karena bentuknya mirip leher angsa masih berdiri di sudut meja, hanya saja kini mengilap seperti baru dirawat kemarin.

Di rak tengah, ada buku-buku seni miliknya. Anatomi gambar. Sketsa patung. Katalog pameran yang pernah ia coret dengan pensil. Di sebelahnya, beberapa mainan bayi Kian disimpan dalam kotak transparan: rattle kayu, boneka kecil, sepatu bayi putih yang ukurannya bahkan lebih kecil dari telapak tangan Ning sekarang.

Ning menggenggam tepi meja.

"Kamu boleh lihat," kata Kian, suara dibuat datar.

Ning menoleh. "Boleh?"

"Ya. Ngapain nanya?"

"Ini barang ibumu."

Kian menatap rak, lalu mengalihkan wajah. "Dia gak akan marah."

Kalimat itu menghantam Ning lebih aneh daripada yang ia perkirakan.

Dia tidak akan marah.

Tentu saja tidak. Itu barang-barangnya. Itu buku yang ia beli, mainan yang ia pilih sebelum Kian lahir, sepatu kecil yang dulu membuatnya menangis karena membayangkan bayi mereka akan benar-benar punya kaki sekecil itu.

Tapi sebagai Ning yang sekarang, sebagai perempuan yang baru menjadi ibu tiri di mata dunia, ia mendadak cemburu.

Kian, bagaimana kamu bisa sesantai itu membiarkan orang luar menyentuh barang ibumu?

Lalu bagian lain dari dirinya langsung membalas.

Orang luar itu aku.

Ning menutup mata.

Ini konyol.

Ia cemburu karena Kevin terlalu cepat melepas cincin untuk dirinya yang dulu. Sekarang ia cemburu karena Kian terlalu mudah memberi izin kepada dirinya yang sekarang untuk melihat barang dirinya yang dulu.

Dua Ning di dalam dadanya seperti bertengkar sambil menarik rambut satu sama lain.

"Lo kenapa?" tanya Kian.

"Tidak apa-apa."

"Muka lo kayak habis kalah war."

"Kamu terlalu banyak main gim."

"Itu bukan jawaban."

Ning mengambil salah satu buku sketsa dari rak. Di halaman pertama, ada tulisan tangannya yang lama. Lebih tajam, lebih bebas, lebih percaya diri. Ia menyentuh garis tinta itu, lalu menutupnya lagi sebelum dadanya semakin sesak.

"Kamu benar-benar tidak keberatan?" tanyanya.

Kian mengangkat bahu. "Kalau barangnya cuma disimpan terus, buat apa? Mungkin..." Ia berhenti, memilih kata dengan susah payah. "Mungkin dia bakal senang kalau ada orang yang pakai lagi."

Ning hampir menangis.

Lalu cemburu lagi.

Anaknya bahkan membayangkan ibunya dengan begitu lembut, tapi memberikannya kepada ibu tiri dengan begitu mudah. Apa ia sedang menang atau kalah?

Kian menatapnya makin curiga. "Serius, lo aneh banget malam ini."

"Aku memang aneh."

"Gue gak bilang begitu."

"Tapi wajahmu bilang."

"Wajah gue emang begini."

Ning tertawa kecil, lalu tawa itu berubah menjadi embusan napas kesal. Ia meletakkan buku sketsa kembali ke rak dengan gerakan terlalu rapi.

"Aku mau keluar sebentar."

"Ke mana?"

"Koridor."

"Koridor juga butuh izin?"

"Aku butuh udara."

Ning berjalan cepat keluar dari ruang belajar. Ia tahu dirinya kekanak-kanakan. Ia tahu ia sedang marah pada orang yang salah, pada situasi yang salah, bahkan pada dirinya sendiri. Tapi kalau tetap berada di depan buku-buku itu, di depan Kian yang tiba-tiba terlalu baik, ia mungkin akan mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

Di belakangnya, Kian menggaruk kepala.

"Pak Kevin," gumamnya ke arah pintu lain yang sedikit terbuka, tempat Kevin ternyata berdiri sejak tadi. "Kayaknya dia marah."

Kevin keluar dari bayangan.

"Aku tahu."

"Karena apa?"

Kevin menatap arah Ning pergi, sudut bibirnya bergerak sangat tipis. "Karena dia sedang cemburu."

"Sama siapa?"

"Dirinya sendiri."

Kian memandang Kevin seperti melihat soal matematika tanpa angka. "Orang dewasa ribet banget."

"Ya."

Ning tidak mendengar percakapan itu. Ia turun satu lantai terlalu cepat, belok ke koridor dekat kamar utama, lalu hampir menabrak seseorang.

Tangannya refleks menahan dada pria itu.

Hangat.

Basah.

Ning mengangkat wajah.

Kevin berdiri di depannya, baru selesai mandi. Rambutnya masih basah, beberapa helai jatuh di dahi. Kemeja putihnya belum terkancing penuh, memperlihatkan garis tulang selangka dan kulit yang masih lembap oleh air.

Ning lupa bernapas.

Telinganya panas sampai nyaris berdengung.

"Maaf!" Ia menarik tangan seperti tersengat.

Kevin menunduk menatapnya.

Di koridor yang terlalu sepi, suaranya rendah, nyaris seperti rahasia.

"Kamu sedang..." Ia berhenti sebentar, mata gelapnya menahan senyum. "Cemburu pada dirimu sendiri?"

1
Siti Hawa
ceritanya bagus, ku kasih Bintang 5 thoor..
Siti Hawa
lanjut thoor.. mawar untuk mu
Anbu Hasna
sementang aku juga punya pr essay Bahasa, aku disuru tunggu juga. sama kayak Kian... 🤣🤣🤣
neng ade
sukaa banget dengan interaksi keluarga kecil ini .. ❤️
neng ade
akhirnya Ning menemukan kebahagiaan nya bersama anak dan suami nya ❤️
neng ade
😭😭 selamatkan Ning
neng ade
nyesek ..🥹
neng ade
sedikit demi sedikit mulai ada titik terang
neng ade
syukurlah mereka semua nya baik-baik aja
neng ade
semoga Ning bisa selalu dekat dengan Kian dan Kevin ❤️
neng ade
semoga suatu saat nanti Kian bisa menerima kehadiran Ning
Anbu Hasna
hal yang sama yg aku ucapin tiap Mama ketemu bestinya... "setengah bulan lagi kujemput, aku mau tidur". 🤣🤣
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya
Anbu Hasna
Kian mulai ogah punya bapak kulkas
End Shara
sukaa ceritanya,beda dr yg lain...semangat k up yg banyak
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!