Semua cerita yang ada di dalam adalah hasil imajinasi dan kecerdasan penulis,harap bijak dalam membaca.
Ketika alena masih kecil, ibunya selalu di pukul oleh ayah tirinya hingga bercucuran darah, namun ayah tirinya tidak pernah di penjara walaupun sudah beberapa kali ibunya melapor ke polisi, kini alena sudah tumbuh dewasa dan ia melihat bahwa mantan ayah tirinya tidak berubah sama sekali. Alena mengambil tindakan sendiri dan memukulinya dengan brutal.Setelah menjalani kehidupan nya di kampus sebagai mahasiswi teladan fakultas seni Alena akan kembali ke apartemen nya dan di malam hari ia akan mulai menjalankan misinya, melakukan keadilan ketika hukum tidak menghukum dengan adil, akankah Alena bisa melakukannya? Apakah sisi gelapnya tidak akan pernah di ketahui oleh orang lain? Simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Livi Neghe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Motif yang sama
Jam menujukan pukul 09.25 pagi, dua orang mahasiswa sedang duduk bersandar di dinding luar sambil menguping, mereka mencari tahu di mana keberadaan Natan.
"Alena, menurut mu ini akan berhasil? Aku benar-benar lelah dan ingin tidur" ujar Zean.
"Kamu bisa kembali ke kelas jika mau, aku akan tetap di sini" ujar Alena
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan mu,hatiku melekat erat di hatimu" ujar Zean yang membuat Alena mencubit perutnya
"Diamlah" ujar Alena
Di sisi lain, di sebuah gedung yang tidak jelas lokasinya berada, Natan sedang duduk termenung di dalam sebuah kamar, dia tengah menatap ke arah luar jendela sambil menangis.
"Bagaimana aku bisa keluar dari sini" ujar Natan kesal
"Kamu harus menunggu, setiap hari sabtu dia akan datang melihat dirimu, selagi kamu menurutinya kamu tidak akan di sakiti" ujar gadis itu
"Bagaimana kamu tahu? Arghh benar kamu lebih dulu di sini" ujar Natan
"Saat pertama kali aku melihatnya, aku bertanya mengapa dia melakukan ini padaku, jawabannya sungguh membuat ku terkejut" ujar gadis itu.
"Apa jawabannya? Tunggu aku tidak tahu namamu, aku harus memanggil mu apa?" ujar Natan
"Namaku Ajela, sebenarnya aku tidak pernah tahu apa yang terjadi jauh sebelum aku lahir, tapi intinya dia ingin balas dendam terhadap orang tuaku yang ternyata dulu kejam kepada mereka" ujar Ajela
"Itu berarti aku di sini karena kesalahan orang tuaku juga?" ujar Natan
"Benar, tidak ada motif lain, dia hanya akan membuat sadar orang tua ku betapa sakitnya di perlakuan semena-mena, dan aku tahu sikap asli orang tuaku dari nya, dia menujukan beberapa cuplikan video dan rekaman suara ayahku yang sedang menyusun rencana jahat, karena itu aku ingin membantu nya" ujar Ajela
"Baiklah, sekarang aku mengerti, tapi dia ada baiknya juga, dengan kata lain dia menyelamatkan ku dari kejaran polisi itu" ujar Natan
"Kamu benar jadi cobalah bertahan di tempat ini beberapa waktu ke depan" ujar Ajela
Di sisi lain di sebuah taman di temukan wanita dewasa tewas dengan tubuh yang penuh dengan memar dan luka, mulutnya di sayat seperti kematian putri Zagas, Aurora Berryl.
Para polisi, detektif dan juga petugas forensik datang dan mengamankan TKP.Mereka frustasi karena kejadian yang sama terulang kembali dengan motif yang sama, sayatan di mulut.
Di sisi lain, di kantor polisi, detektif Vernon baru saja tiba, namun saat memarkirkan mobilnya, area parkir tampak sepi, karena penasaran dia bertanya kepada beberapa polisi yang ada di sana.
"Seorang wanita di temukan tewas di taman, pipinya di sayat seperti gadis lain" ujar nya
"Kamu yakin pipinya di sayat?" ujar detektif Vernon kaget
"Ya, aku yakin, para detektif dan polisi bergegas ke sana setelah sarapan" ujar nya lagi
Setelah mendengar hal itu detektif Vernon bergegas menuju TKP, kini jam menujukan pukul 13.00 siang, di sebuah kamar mayat, detektif Vernon masuk dan mengecek tubuh korban yang di temukan di taman.
"Memar di bagian lutut dan sikunya, panjang sayatan di kedua pipi, tapi sayatan yang rapi, semuanya identik dengan Aurora Berryl" ujar dokter sambil menujukan beberapa foto dan juga hasil otopsi kepada detektif Vernon
"Penyebab kematian?" ujar detektif Vernon
"Sesak napas, tidak ada tanda-tanda kekerasan seksual, juga sama seperti Aurora Berryl, selain jejak kekerasan" ujar sang dokter
"Kenapa dia di serang?" guman detektif Vernon dalam hati
"Kuku-kukunya patah, jelas dia melawan"ujar dokter
Detektif Vernon memperhatikan jari tangan wanita tersebut yang sudah terlihat menghitam dengan kuku yang patah dan kini berubah warna menjadi hijau pucat.
" Pelakunya sama?" ujar detektif Vernon
"Berdasarkan tanda di tubuhnya saja, ada 99 persen pembunuhnya sama" ujar sang dokter
"Aku tidak mengerti, Jun Rian ada di rumah sakit, bagaimana dia bisa membunuh wanita ini?" ujar detektif Vernon
"Kapan dia di rawat?" ujar dokter
"Pada hari penyanderaan, tanggal 15 sekitar pukul 06 pagi?"ujar detektif Vernon
" Kalau begitu, mungkin saja, waktu kematian nya antara tengah malam, dan pukul satu pagi tanggal 15" ujar dokter
"Dasar licik" ujar detektif Vernon sambil menatap foto-foto di papan hasil penyelidikan
Kini di rumah sakit, Jun Rian sedang berusaha melepaskan tangannya dari borgol, beberapa menit kemudian tiba-tiba pintu terbuka secara kasar, detektif Vernon masuk dengan penuh amarah langsung menarik kerah baju Jun.
"Kamu pelakunya? Kamu membunuh wanita di taman itu bukan?" ujar detektif Vernon dengan wajah penuh amarah
"Siapa?" ujar Jun Kaget
"Keisya Amora! " ujar detektif Vernon dengan suara keras
"Detektif kamu tidak boleh melakukan itu" ujar petugas polisi penjaga pintu yang baru saja masuk dan menarik tangan detektif Vernon
"Baiklah aku hanya akan bertanya" ujar detektif kepada polisi
"Kamu membunuh nya tanggal 15 sekitar tengah malam dan jam 2 pagi, kamu menyayat pipinya dan membunuhnya bukan?" ujar detektif Vernon penuh tekanan dan sedikit berteriak
"Benarkah? Dia di bunuh sekitar waktu itu? Aku punya alibi" ujar Jun Rian
(Alibi adalah metode peradilan penyangkalan yang dilakukan oleh terdakwa untuk membuktikan diri bahwa terdakwa/tertuduh sedang berada di tempat lain ketika suatu peristiwa sedang terjadi, ataupun pada saat tindak kejahatan sedang dilakukan).
"Alibi, apa alibi mu?" ujar detektif Vernon
"Ya, wanita itu adalah alibiku" ujar Jun Rian
"Siapa wanita itu?" ujar detektif Vernon
Kini di kantor polisi, detektif Vernon sedang menginterogasi seorang gadis berumur 20 an, gadis itu adalah alibi Jun Rian.
"Cobalah untuk mengingatnya" ujar detektif Vernon
"Di hari kamu menunggu taxi, pukul berapa kamu melihat Jun Rian?" ujar detektif Vernon
"Saat itu pukul 11.50 malam" ujar nya
"Bagaimana kamu tahu saat itu pukul 11.50 malam?" ujar detektif Vernon
"Saat itu kembali dari toko buku, aku berpisah dengan teman-temanku dan aku berencana untuk menunggu bus di halte, bus lewat pukul 11.45,saat aku masuk hanya ada Keisha Amora yang duduk di bangku belakang sambil bermain game di ponsel nya, aku duduk di deka jendela di bagian tengah,setelah sampai aku turun, hanya sopir itu orang terakhir bersama nya, setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi" ujar nya
"Kamu mengenalnya bukan? Dia bersekolah di tempat yang sama dengan mu" ujar detektif Vernon
"Ya, tapi dia merupakan mahasiswa baru dari fakultas Hukum, aku tidak terlalu mengenalnya di saat aku turun dari bus, aku mendengar suara ambulans di tengah jalan, saat itu adalah kecelakaan Jun Rian, karena penasaran aku mendekat dan melihat lebih jelas, hampir satu jam aku di sana,karena cuaca sangat dingin aku mengecek ponselku, saat aku melihat jam menujukan pukul 02.45 hampir jam tiga pagi,dan saat itu ayahku menghubungi ku melalui panggilan video, aku menyimpan rekaman nya, di sana ada jam nya, kalian bisa mengecek nya jika tidak percayalah,sebelum aku pergi aku melihat Jun Rian sempat tertawa dengan wajah yang penuh luka "ujar nya panjang lebar
"saat itu detektif Vernon langsung berlari menuju papan penunjuk arah dan pergi tanpa tahu apa yang terjadi di sana" ujar nya
"Lalu siapa yang memberi laporan waktu rawat Jun Rian pukul 02 pagi? Jelas itu hampir jam 03" ujar Detektif Vernon sambil berpikir
"Baiklah terima kasih atas kerja samamu" ujar detektif Vernon sambil tersenyum
Kini dari seberang ruangan, kepala Polisi dan beberapa detektif yang sedang memantau proses pengecekan nya juga berpikir.
"Ini berarti ada yang mengganti laporan penahanan Jun Rian di rumah sakit, siapa itu? " ujar Kepala Polisi
" kasus ini hanya Pihak kepolisian yang tahu, itu berarti orang itu berada di sekitar kita" ujar kepala detektif
"Tunggu di saat Jun Rian Jatuh itu karena seseorang menembak ban motornya, kalian sudah mengetahui siapa orang itu?" ujar Kepala polisi
"Dia memakai jubah hitam dan wajahnya tertutup, kami sulit mengidentifikasi nya" ujar detektif
"Itu berarti bukan Jun Rian" ujar kepala polisi
"Kita harus mengecek kamera pengawas dan mencari mobil bus yang lewat di pukul 11.45 malam, di mana pemberhentian, lacak dan cari siapa sopirnya" ujar detektif Vernon
Mereka pun bubar dari ruangan itu lalu menuju meja masing-masing, mereka mencari informasi, dan mengecek rekaman kamera pengawas yang ada.
mari kita saling support author baru
tq
jgn lpa feedback baiknya di secretly sorry mksh kakak.
jgn lpa mmpir jg ya d secretly sorry 🙏
jgn lpa mampir di secretly sorry
thx