NovelToon NovelToon
Lelaki Rumah Sebelah

Lelaki Rumah Sebelah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Diam-Diam Cinta / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cerai / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:45k
Nilai: 5
Nama Author: NurAzizah504

Berprofesi sebagai seorang penulis, Dinara berharap kisah cintanya akan semanis novel yang ditulisnya. Akan tetapi, menemukan seseorang yang tepat tidaklah semudah saat kita menulis cerita. Kisah cinta yang penuh lika-liku membuat Dinara belum juga menikah meski usianya hampir menginjak kepala tiga.

Kehidupan Dinara semakin bertambah kacau saat Mama mulai mencampuri urusan asmaranya. Jika dalam waktu tiga bulan Dinara belum juga mendapatkan lelaki yang tepat, terpaksa dirinya harus menerima pria yang mamanya jodohkan.

© 2023 | Nur Azizah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurAzizah504, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian di Lorong

Bukankah Helena terlalu terburu-buru teruntuk seorang teman yang tidak lama bertemu? Dia seharusnya bertanya hal lain terlebih dahulu. Seperti nyamankah Dinara tinggal seorang diri di sana? Apakah Dominik masih sering mengganggunya? Atau apalah.

"Gimana? Kok, diem aja? Belum ketemu, ya?"

Helena resek. Dinara berdecak keras, urung menghabiskan lemon tea miliknya.

"Elo, sih, jadi orang pasif banget. Gue tebak, pasti dua bulanan ini lo gak keluar rumah?" gerundel Helena sambil memukul meja dengan gemas.

"Lo kira gue apaan yang betah di rumah aja?" tanyaku keki, "Gue juga keluar rumah kali. Tapi, menggait laki-laki gak semudah itu."

"Iya, deh, iya." Helena mengalah lalu mengembuskan napas dengan keras. "Tapi, di sini, lo ada naksir seseorang, 'kan? Ya, kali udah dua bulan, tapi hati lo masih belum ada isinya."

Senyum Dinara mengembang tipis. Antara senang dan sedih. Dia berhasil menafsirkan rasa yang ia punya untuk Adam adalah perasaan cinta. Namun, dirinya tak yakin kalau Adam juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

Tingkahnya belum menunjukkan ketertarikan penuh. Pria itu memang sering membantunya, tetapi tidak bisa dijadikan tolak ukur untuk seriusnya perasaan seseorang. Bisa jadi, kan, kalau Adam membantunya memang tulus sebagai seorang tetangga? Ya, selayak memanusiakan manusia lainlah.

"Orangnya siapa, sih, Nar? Gue jadi penasaran. Soalnya lo jarang banget naksir sama laki-laki. Terakhir itu Dominik bukan?" Helena menebak tepat sasaran.

Dinara sangat sulit untuk jatuh cinta. Lihat saja, Arhan yang sudah sejelas itu, belum mampu menggetarkan hatinya. Namun, dengan Adam, Dinara merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan saat dengan Dominik dulu.

"Dia itu baik banget, Hel. Orangnya sopan dan sering bantuin gue. Gue suka karena sikap dan sifatnya dia. Walau udah sering banget gue repotin, tapi gue tau kalau dia selalu tulus sama gue," jabar Dinara sambil menatap lurus ke depan, ke arah lorong gelap yang berakhir pada ruang kerja Adam.

Dinara tidak lupa kalau ini adalah kafe milik seseorang disukainya. Orang itu juga bisa muncul kapan saja. Saat ini, nanti, atau tidak sama sekali. Dinara perlu bersiap untuk segala kemungkinan. Kalau Adam benar-benar hadir di depannya, haruskah dia terang-terangan menunjukkan perasaannya? Dia tidak ingin disebut sebagai manusia pasif oleh Helena. Bagaimanapun, dia pernah berusaha untuk lebih dekat dengan Adam.

"Dia sebaik itu emang?" tanya Helena dan mendapatkan sebuah anggukan. Diam dua detik, gadis dengan lipstik merah gelap itu kembali bertanya, "Namanya siapa, Nar? Atau punya fotonya gak? Gue penasaran tau."

Dinara memilih bungkam, tidak memberitahukan kepada Helena tentang siapa laki-laki yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Dinara perlu memastikan beberapa hal. Salah satunya, apakah Adam memiliki perasaan yang sama dengannya?

Dia tidak ingin bertindak gegabah. Karena saat kita memberitahukan sebuah rahasia kepada Helena, bersiaplah jika hal itu akan terbuka detik itu juga.

"Dasar pelit. Awas, ya, gue bakalan cari tau sendiri," ancam Helena sambil menepuk meja.

Digertak begitu Dinara hanya tertawa. Dia tahu kalau Helena memang sepayah itu dalam menguak informasi. Sampai kapanpun, jika Dinara tidak memberitahukan siapa orang disukainya, Helena jelas tak akan mengetahuinya.

"Lo sama Ali gimana? Rencana nikahnya kapan?" Dinara mengalihkan obrolan. Ekor matanya tak sengaja melirik Ali sedang membakar ujung rokok yang baru.

"Dia ngajak nikah tahun ini, tapi ...."

"Tapi, apa?" Dinara yang tak sabar dengan kediaman Helena lantas menyela ucapannya. "Lo mau tunda lagi?"

Helena tidak menjawab. Kepalanya menunduk dengan bahu merosot jatuh. Diam Helena adalah jawaban dari pertanyaannya.

"Mau sampai kapan, sih, Hel? Ali udah serius banget, lo. Dia udah mau nunggu lo sejak tiga tahun yang lalu. Tega lo kecewain dia lagi?"

Helena mengangkat wajah, menatap Dinara dengan pandangan tajam. "Bukan gue tega, tapi gue takut, Nar. Lo tau, kan, gimana hancurnya keluarga gue? Gue lahir dari seorang Ibu yang suka gonta-ganti pria. Saking banyaknya pria yang masuk ke kehidupannya, dia jadi bingung sendiri siapa ayah dari anaknya."

Helena nyaris menangis. Kedua tangan yang diletakkan di atas meja tampak meremas udara dan bergetar hebat hingga membuat meja juga ikut bergoyang. Dia mendesis lalu menggigit bibir dalamnya kuat-kuat.

"Gue trauma sama yang namanya keluarga. Gue bahkan gak tau makna dari kata itu yang sebenarnya. Selama gue hidup, gue gak pernah, tuh, ngerasain gimana serunya pas lagi ngumpul sama orang tua. Gak tau gimana rasanya dimasakin setiap pagi sama Ibu, dianterin sekolah sama Ayah, atau dicium dan dipeluk penuh kasih sayang. Jadi, gimana bisa gue ngebentuk sebuah keluarga kalau merasakan hidup di antara mereka aja gak pernah?"

Suara Helena bergetar. Di ujung kalimatnya, sebutir air yang mengenang di kelopak mata bawah jatuh tak tertahan. Helena menangis dalam diam. Dia menarik napas kuat-kuat seolah tak ada hari esok untuk melakukannya lagi.

Dinara tahu betul bagaimana hancurnya keluarga Helena. Mereka sudah sekelas saat SMA, tetapi baru akrab ketika sudah menjadi mahasiswa di jurusan yang sama. Dinara pernah beberapa kali mengunjungi rumah Helena. Dari beberapa kunjungan, dia akhirnya tahu kalau ibunya Helena merupakan seorang wanita malam.

"Lo emang gak pernah merasa bahagia dalam keluarga lo, bukan berarti lo juga gak bisa bangun keluarga bahagia untuk hidup lo sendiri, 'kan? Lo punya keluarga impian, gue tau itu. Lo bisa mewujudkannya bersama Ali. Lo bisa masakin suami dan anak lo setiap pagi. Lo bisa nemenin mereka main. Lo bisa menyaksikan mereka tumbuh dengan baik dan pintar. Lo bisa, Hel. Dan, gue yakin Ali juga bakalan bantu lo buat mewujudkannya."

Helena terdiam, tetapi Dinara tahu dia mendengarkan. Setiap kalimat yang ia ucapkan seolah menjadi mantra baginya. Memaksa masuk ke dalam pikiran Helena dan mendekam dalam ruang hatinya.

Gadis yang pernah terjun dalam dunia gelap seperti ibunya lantaran kurang biaya untuk menempuh pendidikan itu lantas mengangkat kepala. Sekali lagi, manik mata berlensa abu-abu itu memandangi Dinara dengan pandangan sulit diartikan.

Antara yakin tidak yakin kalau Helena marah atau tersinggung padanya. Namun, kalau hal buruk itu memang terjadi, Dinara siap akan konsekuensinya. Selama ini, dia gemas sendiri dengan hubungan asmara Helena dan Ali. Dia sudah terlalu sering membuat Ali menunggu. Siang ini, Dinara berusaha meluruskan semuanya.

"Gak ada yang perlu ditakutkan lagi, Hel. Ali tepat buat lo. Percaya sama gue," tutur Dinara meyakinkan Helena.

"Kalau pas udah nikah dan punya anak terus Ali ninggalin kita, gue harus gimana, Nar?" resah Helena. Sepertinya, perkataannya tidak banyak membantu.

"Bilang sama gue. Biar gue patahin leher dan kakinya sekalian."

"Emang lo kuat? Ali itu hobinya boxing, lo. Digampar dikit, langsung bonyok lo, Nar." Helena sudah mulai tertawa. Ia menyeka sudut mata dan sekalian pipinya. Tersenyum pelan dengan kedua mata kembali berbinar. Walau tak secerah sebelumnya, tetapi ini awalan baik untuk langkah kedepannya.

"Bonyok dikit gak ngaruh," lontar Dinara bersikap santai.

Selang beberapa detik, ponsel Helena tiba-tiba berdering. Ia menjawab panggilan yang katanya dari salah satu karyawan di butiknya. Sesaat wajah Helena berubah tegang dan cemas. Ia menutup panggilan dan melemparkan tatapan penuh permohonan maaf.

"Gue harus balik sekarang. Ada masalah di butik yang mengharuskan gue untuk segera hadir."

Dinara paham dan membiarkan Helena untuk menyelesaikan masalahnya.

Saat ini, gadis tersebut mengirim pesan singkat kepada Ali agar kembali masuk ke kafe. Begitu Ali tiba di meja, wajahnya seketika berubah cemas dan khawatir. Dia menatap Helana lekat-lekat sambil melemparkan pertanyaan singkat. "Kenapa nangis?"

Dinara merasa tersentuh. Entah kebaikan apa yang Helena lakukan sampai Tuhan mengirimkan orang seperhatian Ali untuknya.

"Urusan cewek, gak bakalan juga kalau dijelasin." Tanpa berusaha menyinggung sebab air matanya keluar, Helana membawa kabar bahwa mereka harus segera pulang.

Ali menurut saja. Toh, kedatangannya ke sini memang untuk menemani Helana.

Kepergian Helena dilepas dengan peluk haru yang erat. Seolah tak ada hari esok, keduanya saling melemparkan senyum dan balas mendekap.

"Kalau udah sampai kabarin gue, ya," pesan Dinara sebelum Helena keluar dari pintu kafe.

Dinara juga akan bersiap pergi saat lemon tea selesai diseruput. Namun, ekor matanya yang nakal tak sengaja melirik ke arah lorong ruang kerja Adam.

Napasnya tertahan, sulit menarik oksigen untuk mengisi paru-parunya. Jantungnya seolah jatuh ke lantai yang dingin saat kejadian tersebut terjadi di depannya. Singkat memang, tetapi Dinara tak mungkin salah lihat.

Saat ini, Adam berdiri bersama seorang perempuan. Mereka ... mereka tengah berciuman, 'kan?

* * *

1
Muanisah Jariyah
kasian mas arhan jadi sad boy
Bening
arhan km memang cwok sejati...
sequel cerita arhan, dong
NurAzizah504: Kapan2, yaa. Nunggu idenya dulu /Sob/
total 1 replies
Bening
arhan sm q ajah, ok
NurAzizah504: Doain Arhan move on dulu /Joyful/
total 1 replies
Bening
kinara ada2 ajah
NurAzizah504: /Joyful/
total 1 replies
Bening
kata2 ini bkin q tersentuh
NurAzizah504: Iya, nih, Kak. Wisnu emg the best
total 1 replies
Bening
kok ada bau2 gk sedap ini, dengan keadaan adam selanjutnya
NurAzizah504: Wahh, apa ituuu
total 1 replies
Bening
adam mknya jgn sakiti dinara, noh anak nya gk mau sm km lgi
NurAzizah504: Adam kapok, tuh /Joyful/
total 1 replies
Bening
arhan selalu jd penyelamat
NurAzizah504: Beruntungnya Dinaraaa
total 1 replies
Bening
adam lo lupain sherly, dong
NurAzizah504: Siap2, hahaha
total 1 replies
Bening
sherly loe gila
NurAzizah504: Sangat
total 1 replies
Bening
ayo adam km bisa kok milikin dinara seutuh nya
NurAzizah504: Pastinya, dong
total 1 replies
Bening
thp bicara serius antara adam dan arhan
Bening
adam yang tegas dong, jadi cwok
NurAzizah504: Iya, nih. Jangan lembek, Dam /Joyful/
total 1 replies
Bening
arhan come back
Bening
adam, si sherly itu rubah licik
NurAzizah504: Sangat sangat licik /Proud/
total 1 replies
Bening
sherly km mau gunain akal licik apalagu
NurAzizah504: Gatau, nih. Ada aja ide jahatnya /Sob/
total 1 replies
Bening
dinara mau aku bantu jawab pertanyaan nya
NurAzizah504: Wah, boleh bgt, dong, ya /Joyful/
total 1 replies
Bening
ciuman kok nanggung
falea sezi
cerita nya aneh ada yg tulus malah milih yg munafik gk menarik
NurAzizah504: Waduh, maaf bgt kalo ceritanya jauh dari ekspetasi Kakak /Frown/
total 1 replies
falea sezi
dinara gatel bgt
NurAzizah504: Waww /Blush/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!