Entah siapa yang menjebak Bima dengan obat sampai harus memanfaatkan gadis yang tidak berdaya bernama Olivia, di malam pertunangan gadis itu
“Saya khawatir kalau nanti Olivia ….” Bima menjeda ucapannya lalu menghela nafas,“Hamil.”
“Kamu pikir aku mau mengandung anak kamu! Kalaupun aku hamil, pasti akan aku gugurkan,” pekik Olivia
Benarkah Bima dan Olivia dijebak? Mungkinkah Bima dan Olivia akhirnya menjadi pasangan dan melupakan masa lalunya?
====
Spin Off : Jerat Cinta Dibalik Dendam
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19 ~ Mencoba Berdamai
Naya terbaring di ranjang, kepalanya terasa sakit dan berdenyut. Teringat kejadian semalam saat Olivia meminta waktu untuk bicara. Wanita itu menduga kalau putrinya akan setuju ikut pindah ke luar kota karena Tristan sedang fokus pada perusahaan cabang.
“Ada apa sayang?” tanya Naya karena Olivia terlihat cemas dan takut. Tristan mengusap punggung tangan Naya, untuk memberi kesempatan pada putrinya bicara.
“Katakan sayang, jangan takut,” ujar Tristan.
“Pih, Mih, maafkan Oliv.”
Olivia menunduk dan ujung matanya sudah merembes air mata. Dadanya begitu sesak membuatnya sulit membuka suara. Hidupnya sudah kacau sejak malam itu, belum lagi penghinaan dari Haris dan Helen. Jelas bukan hanya Olivia yang terpukul dan kecewa, keluarganya pun sama. Kenyataan bahwa dirinya hamil akan menambah kesedihan orangtuanya.
“Oliv,” tegur Naya.
“Aku, aku … hamil.”
Sejenak hening, lalu ….
“Apa?”
“Naya!”
“Kamu yakin, sayang?” tanya Naya memastikan apa yang baru saja dia dengar.
Olivia mengangguk pelan, dia tidak sanggup menatap wajah orangtuanya. Dia sendiri pun takut membayangkan dan membayangi bagaimana menjalani kehidupan juga hinaan orang ketika tahu dia hamil di luar nikah.
“Olivia, ada kami di sini. Jangan takut, kita bisa hadapi bersama. Ini bukan salahmu,” tutur Tristan yang harus memenangkan Naya juga setelah ini. Dia yakin, Naya akan terpukul sama seperti Olivia yang ketakutan.
“Maaf Pih, aku harus bagaimana?”
“Kita akan bicarakan lagi nanti. Pergilah ke kamar dan istirahat.”
“Sayang.”
Panggilan Tristan menyadarkan lamunan Naya.
“Masih pusing?” tanya pria itu pada istrinya yang sedang berbaring, bahkan dia ikut duduk di tepi ranjang.
Naya menghela nafasnya lalu beranjak duduk berhadapan dengan suaminya.
“Bagaimana?” tanya Naya tentang pertemuan Tristan dengan Bima.
“Bima kooperatif dan dia sudah tahu kalau Olivia hamil, bahkan selama ini dia ingin bertanggung jawab tapi Olivia menolaknya.”
“Kenapa Oliv tidak cerita kalau dia magang di tempat kerja pria itu.”
“Bima, namanya Bima. Dia akan menjadi menantu kita, aku akan pastikan pria itu bertanggung jawab. Sudahlah, mungkin ini sudah campur tangan Tuhan. Bagaimana mereka terlibat dan bersama saat ini adalah takdir. Kita pun punya cerita masa lalu yang tidak kalah menarik,” tutur Tristan sambil mengusap wajah istrinya.
“Lalu kapan Olivia akan kita nikahkan, jangan sampai tunggu perutnya ….”
Naya tidak sanggup menghentikan kalimatnya, apa yang pernah dia rasakan dulu terjadi pada putrinya. Hamil di luar nikah. (Baca kisah Tristan dan Naya, judulnya Jerat Cinta Dibalik Dendam)
“Bima akan sampaikan pada keluarganya dan kita adakan pertemuan untuk bicarakan kelanjutan hubungan ini.”
***
“Kamu sudah sehat? Aku dengar dari Om Tristan kalau kamu ….”
“Nggak apa-apa,” jawab Olivia menyela pertanyaan Bima.
“Magang kamu di sini berapa lama?” Bima kembali bertanya, masih penasaran dengan kondisi Olivia.
“Dua bulan, kurang dua minggu lagi.”
Obrolan mereka terhenti karena harus mengikuti briefing sebelum memulai tugas. Bima selalu mengawasi Olivia, memastikan tidak terlalu lelah bahkan ketika jam istirahat, Bima tanpa sungkan menunjukan kekhawatirannya.
“Oliv, buka pintunya!”
Menjelang pagi, morning sickness kembali melanda dan saat ini Olivia berada di toilet. Bima mengetuk dan minta dibukakan pintu, karena khawatir.
“Kenapa Bim?” tanya salah satu pegawai.
“Ini, Oliv sakit. Muntah-muntah tapi nggak mau buka pintu.”
“Udah mau ganti shift, suruh rehat dulu aja.”
“Iya.”
Wajah Olivia terlihat pucat ketika keluar dari toilet, bahkan tubuhnya terlihat lemas. Bima mengarahkan untuk duduk dan membuatkan teh hangat.
“Sudah dijemput? Atau mau pulang bareng aku?”
“Nggak usah, supir aku sudah di jalan,” jawab Olivia mulai berdamai dengan hati dan keadaannya termasuk pada Bima.
walaupun gak sepenuhnya salah tp keadaan yg bikin Bima bersalah..
lawannya keluarga kalangan atas pula...
kuat² yaaa Bima🤭
wkwkckk..good job,teruslah berkarya, bravo anak2 bangsa yg hebat , aku bangga padamu 🥰💪🙏