Ini HIDUPKU dan yah ini KISAHKU.
Kisah yang diawali oleh ucapan ku sendiri, ucapan bukan sembarang ucapan melainkan sebuah ucapan yang mengikat janji pada diriku sendiri.
"Hanya karena cintai bukan berarti lu bisa jadi brengsek Dav..."
Nadzar (janji) yang berisikan tentang keputusan untuk sendiri dalam jangka umur 17tahun dan berakhir dengan perjodohan, hahaha... setelah menyelesaikan satu Nadzar harus menyelesaikan satu Nadzar yang lain.
Itulah hidupku yang dipenuhi dengan perjodohan Nadzar, hingga suamiku pun terikat oleh janji menjaga anak gadis orang lain.
~DEVIRA SINDI ALICIA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisrina Ulya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lemot kumat
"Lelahnyaa..." Sindi menggeliat meregang-regang menarik-narik tangan dan badan membangunkan sistem motorik sensorik.
Kini keluarga Sindi dan Farel sudah berada di kediaman orangtua Sindi, kalian pasti bertanya tanya kenapa tidak menginap di hotel? Mengapa dirumah Sindi bukan rumah Farel, jawabannya karena nikah Sindi tidak di hotel melainkan di gedung, rumah Sindi lebih dekat dengan gedung dibanding rumah Farel.
"Aduhhhh..." Sindi mengaduh kesakitan memegang pinggangnya.
"Kenapa?" Tanya Farel kawatir.
"Aduh duh duh sakit kak pinggang Cia aduhh..." Sindi duduk di ranjang sambil menekan pinggangnya.
Farel mendekat, memijat pelan pinggang istrinya.
"Salah posisi pasti." Tangan Farel terus memijat.
"Sakit kak pelan pelan..."
"Tahan bentar, tiduran aja." Sindi merebahkan badannya dengan posisi miring.
"Rasanya kayak saraf Cia putus." Keluh Sindi.
"Makanya hati hati, gimana udah enakan?"
"Udah... Makasih yups." Sindi kembali duduk.
"Iyupss..." jawab Farel menirukan nada Sindi.
"Dihhh hihihi..." Sindi terkekeh geli.
"Ci tadi papa dateng." Tubuh Sindi menegang mendengar ucapan suaminya.
"Papa pakai koko putih sama peci putih, papa kelihatan bahagia banget Ci senyum kearah kita." Lanjut Farel lirih.
"Alhamdulillah... kita kirim Al fatihah buat papa kak." Sindi mengelus lengan Farel, ia seakan ikut merasakan apa yang suaminya rasakan.
Farel menunduk menyatukan kedua tangan di depan wajahnya, matanya mengatup, nafasnya menghembus berat, elusan Sindi berpindah ke punggung Farel yang sedikit bergetar.
"Ikhlas kak... Sabar... besok kita njenguk papa." Seketika Sindi tertarik menubruk dada bidang suaminya.
"Gue ikhlas Ci... tapi dada gue sakit inget papa, gue masih butuh sandaran seorang papa." Farel memeluk erat Sindi tubuhnya semakin bergetar menahan tangis dan sesak didada.
"Cia siap jadi sandaran buat lu kak, nangis aja jangan ditahan, tumpahin semua setelah ini udah, papa bakal sedih kalo lu kaya gini terus." Sindi membalas pelukan Farel.
"Hiks... gu_gue kangen papa Ci..." tangis Farel pecah.
"Gue belum hiks bahagiain papa." Setelah itu Farel hanya mengeluarkan tangisnya.
Sindi dengan sabar mengelus punggung suaminya, ia merasa jilbabnya sudah basah oleh air mata Farel, setelah merasa tenang Farel melepaskan pelukan dan mengelap air matanya.
"Cengeng banget ya gue."
"Enggak lah siapa bilang cengeng, justru setelah ini lu bakal jadi orang yang paling kuat." Sindi mengangkat kedua tangannya.
"Makasih..." Farel tersenyum tulus.
"No problem." Sindi menaik turunkan alisnya.
Cup
Sindi terdiam kaget.
"Kak..."
"First kiss? Belum juga bibir baru pipi, apa mau sekalian?" Gantian Farel yang menaik turunkan alisnya.
"Nggak isss..."
"Pasti bakal dapet semua nggak cuma bibir tinggal tunggu waktunya aja." Farel mengeluarkan seringai mesumnyan.
"Bodo amat bodo amat... air mata belum kering bisa bisanya omes." Sindi merebahkan badannya dan menarik selimut sebatas dadanya.
"Gue tidur dulu jangan macem macem lu kak."
"Sholat dulu Ci."
"Bocor kak." Sindi mulai memejamkan mata.
Farel melihat istrinya yang mulai masuk kedalaman mimpi masih menggunakan jilbabnya hanya bisa membatin apakah tidak panas tidur menggunakan jilbab? Tapi Farel paham mungkin istrinya itu masih belum terbiasa memperlihatkan mahkotanya yang ia telah jaga, ada rasa bangga tersendiri dihati Farel mengetahui istrinya sangat menjaga auratnya meskipun tidak menggunakan pakaian syar'i namun itu cukup baginya karena jaman sekarang jarang ada orang yang benar benar memegang teguh prinsip mungkin kebanyakan hanya pasang copot pasang copot.
Farel beranjak menuju kamar mandi yang ada di kamar Sindi dan mungkin sekarang juga menjadi kamarnya untuk melakukan salah satu syarat sah sebelum ia melaksanakan Sholat.
🌸
"pagi pagi udah ngerusak mood orang aja..." aku memilih pergi ke dapur, bagaimana tidak ia sedang enak enak tidur mendapat cipratan dari seorang pria yang sedang menyisir rambutnya yang basah.
"Selamat pagi mom²"
"eh udah bangun pengantin baru, gimana tidurnya." Sapa mama.
"Nyenyak ma..."
"wah bagus tuh"
"iya jeng, cepet cepet lah" sambar Mami.
"Cepet apa mi?" Tanya Sindi bingung.
"kita udah tua Loh sayang." Pancing mama.
"Iya ma... Turus Sindi harus ngapain? Mama sama mami jangan mikir yang aneh aneh jangan tinggalin Cia dulu." Ucap Sindi waswas.
"haduhhhhh penyakitnya kumat, kamu tadi malem capek banget ya?" Mama menggeleng.
"Iya ma... Capek duduk terus" keluh Sindi.
"wahhhh nggak ganti posisi?" Tanya mami semangat, 🌚.
"Kadang berdiri, tamunya banyak banget" oke anggap saja Sindi polos.
"Kok tamu si sayang" mama mulai curiga penyakit anaknya mulai akut.
"Kan emang tamunya banyak ma..."
"Astaga... Kamu bener bener capek ya nak?." Mama memastikan walaupun ia sudah tau kalau memang kambuh.
"Iya ma..." jawab Sindi lesu.
"Ouhhhhh.. jadi kalo Cia capek ngeselin ya hehehe..." mami manggut manggut diakhiri dengan kekehan.
"Kok ngeselin si mi... Kan Cia jawab jujur pertanyaan mama sama mami..." Sindi cemberut.
"iya jeng emang gitu... Dari kecil"
"Iya kan Cia dari kecil udah jujur" aku menarik kursi dan duduk di sana.
"udah ahhhh nggak selesai selesai ngomong sama kamu." Mama melanjutkan masaknya
"tante, Chika pamit dulu ya..."
"kok buru buru si ngga sarapan dulu?." mama mencuci tangannya.
"Nggak usaha tan, soalnya ini mau langsung jemput mama papa." setelah 3 bulan lamanya mama Chika akhirnya pulang dari Amerika karena ikut papa perjalanan bisnis.
"Oalahhh, ya udah titip salam ya."
"Iya Tante"
"makasih ya Chika"
"iya tan sama sama."
"Emangnya Tante sama om pulang kapan Chik?" Tanya Sindi.
"Harusnya ini udah di bandara" mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oalah yang jemput siapa?" Tanya Sindi lagi, apakah kurang jelas yang dikatakan Chika tadi? Ahhh iya lagi kumat.
"Gue."
"Ya udah buruan keburu di tunggu Tante loh..." Sindi mengibarkan tangannya.
"Ck, iya Ci.... Istirahat Sono."
"Hhhhhhhhh ngeselin emang." Tawa mami pecah.
"Udah biasa tan."
"Siapa yang bikin kesel?" Tidak usah tanya lagi siapa orang yang melontarkan pertanyaan itu, pastinya Davira Sindi Alicia.
"Chika pamit ya tan." Chika pamit tanpa memperdulikan pertanyaan sahabatnya itu.
"iya..."
"Hati hati jangan ngebut."
"Iya tan Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
"Hih... Di cuekin" Sindi mendengus kesal, mood nya benar benar hancur pagi ini.
" Farellllll...." panggil mami melihat anaknya menuruni tangga.
"iya mi" Farel berjalan menuju sang mami.
"Bawa Cia istirahat gih, dia capek banget kelihatannya" suruh mami.
"Enggak ah Cia mau bantu masak" tolak Sindi.
"Nggak usah, nggak selesai selesai jadinya kalo ada kamu, istirahat aja sana sama Nak Farel."
"Tapi ma..."
"Yuk" ajak Farel
"Kemana?"
"Ke kamar"
"Ngapain?"
"Istirahat, biar nyambung"
"Nyambung apanya?"
"Udah.. sana" titah mami.
"Iya mi..." akhirnya Sindi menurut.
"Maksutnya apa sih? Siapa yang ngeselin? Siapa yang nggak nyambung coba?" Gerutu Sindi.
"Udah istirahat aja, nanti siang kita ke papi sama ke rumah sakit." Farel sedikit mendorong Sindi menuju ranjang.
"Siapa yang sakit?"
"Kita jenguk Rangga."
"Ouhhh... ya udah kalo gitu Cia mandi dulu." Sebelum Sindi pergi sudah di cegah Farel terlebih dahulu.
"Ci... istirahat tidur."
"Katanya mau jenguk kak Rangga, gimana sih." siapa yang harus disalahkan disini?
"Tidur!." Ucap Farel tak terbantahkan, kan berabe kalo ke rumah sakit belom konek gini.
"Isss iya!." Sindi membaringkan tubuhnya di ranjang lalu menutup matanya.
Farel menghela nafas lega, ia duduk di kursi belajar istrinya, Farel mengamati wajah terlelap istrinya, eitttt... lebih tepatnya pura pura terlelap karena Farel melihat beberapa kali mata itu mengintip.
Farel bangkit menarik kursi mendekati istrinya berada.
"Tidur... gue tau lu pura pura tidur."
"Isss kok tau sih."
"Tidur Ci tidur!." Farel mengulurkan tangannya mengelus puncak kepala Sindi.
"Iya Cia tidur." Sindi memperbaiki posisi tidurnya lalu perlahan memasuki alam mimpi dengan usapan nyaman di kepalanya.
{\_/}
( •.•)
/>❤
smga up ny g lama..
jga kshtan dan smngat nulis ny...
smngat ka nina,, d tunggu kelanjutn ny. 🤗
cerita nya bagus
Numpang promo ya, mampir juga ke novel pertamaku
Salam dari Calon Istri CEO