Kehidupan Nadira semakin menderita sejak kejadian malam itu. Mulai dirinya yang ternyata hamil di luar nikah, di keluarkan dari kampus secara tidak hormat. Semua orang mengecapnya sebagai wanita tidak baik. Pupus sudah impiannya selama ini untuk bisa lulus kuliah dan bekerja kantoran. Yang ada dirinya harus hidup penuh penderitaan. Leon yang merupakan ayah dari anak yang di kandungnya pun tak mau bertanggung jawab.
Hingga pada akhirnya kedua orang tua Leon tahu kelakuan anaknya. Mereka terpaksa menikahkan Leon dengan Nadira. Setelah menikah pun kehidupan Nadira jauh lebih menderita dari sebelumnya, karena Leon memperlakukannya dengan buruk.
Suatu hari mantan kekasih Leon yang bernama Vanesa meminta kembali menjalin hubungan dengannya. Hampir setiap hari Leon dan Vanesa bermalam bersama di rumah yang sama dengan Nadira. Hati Nadira semakin sakit saat melihat kemesraan mereka. Biar bagaimana pun Leon adalah suaminya dan tak pantas berselingkuh di depan matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama di kampung
Nadira sudah berada di kampung halaman NIngsih yang berada di Jawa Tengah. Tentu Ningsih dan Devan yang mengantarnya. Orangtua Ningsih menerima dengan baik kehadiran Nadira.
''Ibu, tolong jaga Kak Nadira disini ya. Takutnya pemuda disini godain dia, secara dia cantik,'' ucap Ningsih kepada ibunya.
''Beres, Ibu bakalan melarang siapa pun yang naksir dia. Nanti Ibu bilang deh kalau Nadira sudah punya pasangan,'' ucap Bu Ela.
Kebetulan Bu Ela tinggal sendirian di rumah itu. Dengan kedatangan Nadira dan Asila tentu bisa membuat rumah itu ramai. Ningsih pun diminta untuk tetap tinggal di desa, hanya saja ia menolak dengan alasan ingin mengumpulkan uang dulu untuk modal nikah nanti. Entah kapan saat itu tiba, yang pasti Ningsih tak mau merepotkan Ibunya.
''Ning, ayo bantu ibu masak!'' aja Bu Ela.
''Baik, Mah,'' jawab Ningsih.
''Aku juga bantu ya, Bu,'' sahut Nadira.
''Tidak usah, Nak. Kamu jagain anakmu saja.''
Kini tinggal Nadira duduk berdua bersama Devan. Sedangkan Asila di tidurkan di kasur berukuran kecil yang ada di atas lantai.
''Nad, sepertinya kakak akan pulang besok. Maaf ya tidak bisa terus menemanimu disini.'' Devan menatap lekat wajah cantik Nadira yang duduk di hadapannya.
''Iya tidak apa-apa kok. Lagian Kak Devan juga masih harus bekerja,'' ucapnya.
''Mengenai rencana kerjasama kita, apa kamu sudah memikirkannya lagi?'' tanya Devan memastikan.
Nadira mengangguk. ''Sepertinya aku memang harus menerima tawaran itu. Terima kasih ya sudah banyak membantu. Soal hutangku .... '' ucap Nadira terhenti karena Devan memotong perkataannya.
''Tidak usah terlalu di pikirkan. Kamu bisa mengembalikan uang itu kapan pun kamu mau,'' ucap Devan yang memang tulus membantu Nadira.
''Terima kasih, Kak. Oh iya, nanti kalau kakak sudah sampai di ibukota, aku pasti menghubungi kakak.''
''Baiklah, aku tunggu.'' Devan begitu senang. Diam-diam ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak peduli biarpun Nadira mempunyai anak.
Tak lama, Bu Ela sudah selesai memasak. Lalu mengajak mereka semua untuk makan bersama. Ningsih diam-diam memperhatikan Devan. Tetapi sepertinya Devan tak menyadari itu. Devan malah asyik memperhatikan Nadira.
'Plis Ning, kamu tidak boleh egois. Kamu harus melupakan kekagumanmu terhadap Kak Devan. Sepertinya Kalian berdua tidak di takdirkan untuk bersama,' batin Ningsih. Dari gerak-geriknya pun ia tahu jika Devan itu memiliki ketertarikan kepada Nadira. Dan ia harus mengalah akan hal itu.
....
....
Pagi ini Ningsih dan Devan akan bersiap untuk kembali ke ibukota. Sebenarnya mereka masih ingin lama-lama disana. Hanya saja mereka tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Terlebih Ningsih hanya mengambil cuti satu hari.
''Ning, Ibu masih kangen sekali sama kamu. Tidak bisakah kamu disini beberapa hari lagi?'' Wajah Bu Ela berubah sendu.
''Mamah tenang saja, nanti kalau sudah gajian pasti Ningsih pulang lagi,'' ucap Ningsih.
''Ning, kalau kamu tetap tinggal, kita bisa loh memulai usaha disini sama-sama,'' sahut Nadira.
''Nanti aku pikir-pikir lagi, Kak. Untuk saat ini aku masih ingin bekerja di kota,'' ucap Ningsih.
Nadira atau pun Bu Ela tak bisa melarang keinginan Ningsih. Apa pun keputusannya mereka akan mendukung.
Setelah berpamitan, Ningsih dan Devan langsung pergi.
''Nad, ayo kita masuk!'' ajak Bu Ela.
''Iya, Bu. Aku juga akan memikirkan usaha yang akan aku rintis di kampung ini.''
Nadira duduk berdua bersama Bu Ela membahas usaha Nadira yang baru ia rintis di Jakarta tetapi harus ia tinggalkan. Bu Ela tampak menyimak semua yang Nadira jelaskan.
''Wah kamu sangat pintar sekali berjualan, Nak. Kalau dari cerita kamu, pasti kamu bisa mengembangkan usaha itu di kampung ini. Hanya saja mungkin kita juga bisa memanfaatkan hasil panen di kampung ini dan menjualnya ke kota. Kebetulan Pak Kades memiliki perkebunan yang sangat luas dan kita bisa mengambil bahannya dari sana.''
''Wah ide yang sangat bagus, nanti kita langsung saja pergi ke perkebunan itu. Aku ingin melihat langsung apa saja yang di tanam di perkebunan,'' ucap Nadira.
''Sebaiknya kita izin kepada pak Kades dulu, Nad. Setelah itu baru berkeliling perkebunan. Tidak semua orang bisa mengunjungi perkebunan kecuali pekerja,'' ujar Bu Ela.
''Baik, Bu,'' ucap Nadira menyetujui.
....
....
Bu Salma kembali ke kontrakan Ningsih dan menanyakan keberadaan Nadira. Namun, Ningsih tetap mengatakan tak tahu. Tanpa persetujuan, Bu Salma menggeledah kontrakan itu. Ternyata memang tak ada keberadaan Nadira.
''Maaf jika kedatangan saya kurang sopan. Awalanya saya meraa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari saya. Tetapi sepertinya kamu memang tak mengetahui keberadaan Nadira. Kalau begitu saya permisi.'' Bu Salma langsung pergi setelah berpamitan.
Di tengah perjalanan pulang, Bu Salma mendapatkan telepon dari Leon. Hampir lupa jika hari ini ada janji dengan anaknya itu. Bu Salma meminta Pak Sopir untuk mengantarkannya ke kantor Leon.
Kedatangan Bu Salma tentu di sambut hangat oleh para karyawan.
Tok tok
Bu Salma mengetuk pintu ruangan Leon. Lalu segera masuk begitu saja tanpa di suruh. Menghampiri Leon yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Apa yang ingin kamu katakan sama mamah?" tanya Bu Salma sambil menarik kursi yang ada di hadapan Leon.
"Leon minta mamah menginap di rumah Leon. Bukankah ada cucu kesayangan yang baru lahir?"
"Memangnya dimana mertuamu? Apa mereka tidak bisa membantu mengurus cucunya?" tanya Bu Salma.
"Ibu mertuaku tidak bisa terus berada di rumah Leon. Apalagi suaminya sedang sakit dan katanya akan langsung pulang hari ini ke rumahnya."
Bukan maksud Bu Salma menolak permintaan Leon. Ia hanya tak mau berlama-lama hidup dengan wanita penuh drama seperti Vanesa. Apalagi menantu tak tahu diri itu sempat mencoba membunuhnya dengan memberikan racun. Tentu Bu Salma trauma akan hal itu.
"Mamah janji akan berkunjung setiap hari untuk melihat cucu mamah. Tapi maaf, mamah tidak bisa tinggal disana," ucap Bu Salma.
"Mah, jika mamah masih belum memberikan restu dengan pernikahanku aku akan terima itu. Tapi pikirkanlah cucu mamah. Apa mamah tidak ingin terus berada di dekatnya?"
"Maaf, Mamah tetap pada keputusan mamah. Jika tidak ada lagi yang kamu bicarakan, mamah akan langsung pergi." Bu Salma beranjak dari duduknya dan bergegas pergi dari ruangan itu. Menghiraukan Leon yang sejak tadi terus memanggilnya.
Tring tring
Leon mengambil ponselnya yang berdering. Terlihat nama istrinya di layar ponselnya. Dengan perasaan senang Leon mengangkat panggilan itu.
📞"Hallo, sayang. Ada apa nih jam segini telepon? Bagaimana anak kita? Lagi ngapain dia?"
📞"Anak kita sedang tidur, Mas. Capek banget loh harus ngurus anak sendirian. Bagaimana mamah? Apa mamah mau tinggal di rumah kita?" tanya Vanesa dari seberang sana.
📞"Maaf, Sayang. Mamah tidak mau tinggal di rumah kita. Nanti biar Mas cari baby sister saja untuk membantu kamu mengurus anak kita ya," ucap Leon.
Vanesa yang mendengar suaminya berkata seperti itu terlihat tak suka. Sebenarnya ada niat tersembunyi yang membuatnya meminta Bu Salma untuk kembali tinggal di rumah itu.
📞"Baiklah, sayang." Vanesa menghela napasnya dan langsung mematikan panggilan itu secara sepihak.
...
hrs Leon yg minta maaf ma nadira krn bohong
g suka bila lelaki yg sudah selingkuh tetap diterima istrinya