NovelToon NovelToon
Takdir Terindah

Takdir Terindah

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:446.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Ukhfira

Menjadi sarjana diusia yang masih muda, tentu impian semua wanita, begitu pula dengan Alesya Faihanah, seorang wanita muslimah yang bersungguh-sungguh menghabiskan waktu mudanya untuk meraih impiannya.
Ketika Alesya sedang mempersiapkan baju toga entah mengapa ia harus memakai baju pengantin secara tiba-tiba. Apakah ini menjadi TAKDIR TERINDAH bagi Alesya?, yaitu menjadi seorang mahasiswi sekaligus seorang istri.

~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~

"Teruntuk kalian yang sedang membaca, jadilah pembaca yang aktif ya, aktif beri bintang dan beri komentar, Percayalah jempol kalian adalah suntikan semangat bagi saya sebagai penulis pemula yang masih belajar merangkai cerita"

{Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yak🙏}

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ukhfira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Terbongkar

Sepandai-pandainya menyembunyikan sesuatu

Pasti akan terbongkar jua

Sepandai-pandainya menyembunyikan cinta

Pasti akan terungkap jua

~Takdir Terindah~

Ukhfira

~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~

Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yah🙏

Selamat membaca

Semoga suka

🌻🌻🌻

"Alhamdulillah akhirnya datang juga."

Seorang perempuan sedang bernapas lega ketika melihat seorang perempuan muslimah baru saja turun dari motornya yang sudah terparkir rapi di depan rumahnya.

"Assalaamu 'alaikum." Ucap salam perempuan tersebut yang tak lain adalah Alesya.

Silmi tersenyum. "Wa 'alaikumus salaam."

"Aduh maaf ya Silmi Sayang sudah menunggu lama, tapi nggak sampai jamuran kan?"

Silmi berhasil mencubit pelan lengan Aleysa yang baru saja tiba dihadapannya itu dan malah mengejeknya dengan sebuah gurauan.

"Alhamdulillah nggak, oh ya memangnya kamu dari mana sih Al?, tumben banget nggak ajak aku."

Alesya memutar bola matanya seakan menyusun kata untuk menjawab pertanyaan tersebut yang ditujukan untuk dirinya.

"Kepo deh, sudah ayo masuk."

Dengan paksa Alesya merangkul Silmi lalu membawanya ke dalam rumah, tetapi sebelum itu Alesya membuka pintunya yang tadinya terkunci.

"Selamat datang di istana sederhana kami tuan putri, silahkan duduk dulu dengan tenang ya, pelayan yang cantik ini akan menyuguhkan makanan yang spesial untuk tuan putri, tunggu sebentar ya tuan putri."

Mendapat perlakuan bak tuan putri dari Alesya yang mengaggap dirinya sendiri sebagai pelayan, Silmi dibuatnya geleng-geleng kepala dan tersenyum lalu mendudukkan dirinya di sofa ruang kelurga. Karena sudah seringnya bermain ke rumah sahabatnya itu tanpa sungkan lagi Silmi meraih remot TV untuk menyalakannya.

Sementara Alesya, dia kebingungan sendiri karena tidak ada sama sekali bahan makanan di dapur, di kulkas pun demikian, hanya tersisa air mineral sebening embun.

"Subhanallah, nggak ada makanan sama sekali?, apa rumah ini sudah lama nggak ditempati ya?, tapi bersih kok nggak berdebu. Terus aku mau hidangkan apa ini untuk Silmi?"

"Assalamu 'alaikum." Suara salam yang terdengar dari ruang tamu mengejutkan Alesya yang sedang meratapi dapur yang kosong melompong.

"Itu seperti suara Ayah dan Bunda, mereka sudah pulang."

Dengan girangnya Alesya langsung berjalan dengan setengah berlari untuk medatangi seseorang yang sedang mengucapkan salam dari arah ruang tamu.

Alesya berhenti di ruang keluarga dimana ia melihat ayah, bundanya serta Alula yang baru saja datang dari luar dengan membawa barang-barang belanjaan berupa bahan-bahan makanan.

"Eh ada Nak Silmi sudah lama ya di sini?"

Silmi menggeleng pelan sambil tersenyum manjawab pertanyaan dari bunda Aiza yang baru saja ia cium punggung tangannya.

"Lesya juga ada di sini?." Tanya Ahyar yang baru melihat kedatangan Alesya dari arah dapur.

"Lho iya, Alesya sendirian saja Sayang?" Sambung Aiza yang ikut beralih memandang putri bungsunya yang kini sudah berada dihadapannya.

Silmi kebingungan karena pertanyaan dari Ahyar dan Aiza yang ditujukan untuk Alesya, sementara Alesya sudah panik bukan main lantaran melihat Silmi yang kebingungan.

"Ayah, Bunda, Kak Alula, ada yang Alesya bicarakan, Silmi kamu tunggu sini bentar ya."

Dengan sigap Alesya langsung membawa ketiga anggota keluarga itu menjauh dari Silmi, sementara Silmi malah semakin dibuat curiga dan merasa bahwa ada yang sedang Alesya sembunyikan darinya.

"Kamu mau bicara apa sih Dik, pakai menjauh segala dari Silmi."

Alula pun penasaran apa yang ingin dibicarakan oleh sang adiknya sampai harus menjauh dari Silmi bahkan mereka sudah berada di dapur.

Sebelum membicarakan sesuatu Alesya mengambil barang-barang belanjaan yang masih menggantung ditangan bunda dan ayahnya lalu ia menaruhnya diatas meja dapur.

"Ayah, Bunda, Kakak, aku mohon sama kalian tolong jangan beritahu Silmi kalau aku sudah menikah, karena sampai sekarang aku belum memberitahu Silmi tentang status baru aku ini."

Ungkapan permohonan Alesya itu direspon dengan penuh keheranan dari kedua orang tuanya serta kakaknya.

"Lho Lesya kenapa Silmi belum kamu beritahu?, Silmi kan sahabat kamu Nak?" Tanya Ahyar kebingungan.

"Iya Sayang, memangnya kenapa tidak memberitahunya?." Sambung Aiza ikut kebingungan.

"Iya nih Adik, aneh banget, masa sahabat sendiri nggak diberitahu." Timpal Alula yang malah memarahi Alesya.

"Aku punya alasan kuat kenapa aku nggak memberitahu Silmi, tapi maaf aku nggak bisa memberitahu sekarang, nanti aku akan beritahu Ayah, Bunda dan Kakak, jadi aku mohon jangan beritahu Silmi ya, Ayah Bunda, Kakak."

Dengan penuh harap Alesya memohon kepada kedua orang tuanya sekaligus kakaknya untuk menuruti permintaannya itu agar tidak memberitahu Silmi tentang dirinya yang sudah menikah lebih tepatnya menikah dengan laki-laki yang bernama Afnan.

Ahyar mendekati putri bungsunya lalu menyunggingkan senyuman "Ayah tidak akan memberitahu Silmi, putri bungsu Ayah tenang saja ya."

"Bunda juga tidak akan memberitahu Silmi, Sayang, yang terpenting putri bungsu Bunda bahagia."

Kini Alesya dapat tersenyum dengan tenang karena kedua orang tuanya tidak akan membongkar rahasianya kepada Silmi, tetapi kakaknya si Alula belum mengeluarkan suara apa dia menyetujui permintaan Alesya atau tidak.

"Kakak?"

"Oke aku nggak bilang apa-apa ke Silmi kamu tenang saja."

"Alhamdulillah."

"Tapi kamu harus memberitahu alasannya sama aku, secepat mungkin." Ancam Alula yang terlihat begitu penasaran.

Alesya menganggukkan kepala meyakinankan sang kakak bahwa dirinya akan memberitahukam alasannya nanti disaat Silmi sudah mengangkat kaki dari rumah mereka.

"Ya sudah kalau begitu aku mau menemui Silmi dulu, kasihan dia, hehehe."

"Alesya tunggu sebentar masa kamu mau menemui Silmi dengan tangan kosong."

Aiza menahan Alesya untuk tidak keluar dari dapur lalu dia mengeluarkan sesuatu dari bungkusan belanjaannya.

"Jadi Ayah, Bunda sama Kakak pergi belanja?." Tanya Alesya yang baru tersadar bahwa anggota keluarnya itu tidak ada di rumah karena sedang berbelanja untuk bahan dapur dan bahan-bahan yang lainnya.

"Iyalah bahan-bahan dapur sudah habis semua." Jawab Alula dengan gaya khasnya yang sedikit cuek.

"Pantas tadi aku ke dapur nggak ada makanan apa-apa."

"Ini Sayang kamu suguhkan ke Silmi ya."

Sepiring bolu sedang berada diatas telapak tangan bunda Aiza yang menyuruh Alesya memberikannya kepada Silmi, sahabat Alesya sekaligus tamu di rumah mereka.

"Maa syaa Allah bolu pandan, Bunda tahu aaja kalau Alesya suka bolu pandan." Ujar Alesya dengan senangnya.

"Itu buat Silmi bukan buat kamu." Celetuk Alula membuat Alesya menampakkan wajah cemberut.

"Sama saja kali, yang jelas bukan buat Kakak yang ngeselin."

Alesya pun berlalu meninggalkan Alula yang sedang mengomelinya karena bolu itu dia yang membelinya dan berniat ingin menghabiskannya sendiri tetapi malah Alesya yang akan menghabiskannya. Bunda Aiza pun merasa bersalah karena seharusnya dia izin dulu kepada putri sulungnya bukan malah langsung dengan seenaknya memberikan kepada Alesya untuk disuguhkan kepada tamunya yang tidak lain adalah Silmi.

"Nggak apa-apa kok Bun, nanti aku bisa beli lagi."

Seolah tahu bahwa bundanya akan meminta maaf kepada dirinya, Alula langsung mengatakan tidak apa-apa dan sama sekali tidak mempermasa lahnya.

"Maa syaa Allah, kamu memang Kakak yang baik, Bunda bangga sama kamu Sayang." Tutur Aiza dengan bangganya kepada Alula.

∆∆∆∆∆

"Sil, Silmi bangun audah sore, ayo sholat ashar dulu."

Alesya yang sudah siap dengan mukenannya mencoba membangunkan Silmi yang sedang tertidur di kasur empuk kamarnya, sebenarnya tadi sesudah menonton tv dengan ditemani bolu pandan yang diberikan bundanya Alesya dan Silmi sama-sama mengantuk hingga akhirnya mereka memilih untuk tidur siang dan Alesya kebangun karena mendengar suara adzan berkumandang.

Tubuh Silmi akhirnya bergerak setelah cukup lama Alesya membangunkannya. Walau tidak langsung beranjak dari tidurnya tetapi kedua matanya lebih dulu terbuka dan menangkap sosok Alesya yang cantik dengan mukenah silvernya.

"Iya Al kenapa?." Tanya Silmi dengan suaranya yang serak akibat baru terbangun dari tidur siangnya yang begitu nyenyak.

"Ayo sholat ashar dulu, Bunda sama Kak Alula sudah menunggu kita."

"Aku lagi libur sholat Al." Jawab Silmi yang semakin merapatkan selimutnya.

"Ya sudah kalau kamu memang lagi libur sholat, mandi sana, ini sudah sore jangan tidur terus, ayo mandi."

Melihat yang Silmi yang masih pada posisi tidurnya Alesya langsung menarik lengan Silmi dan berhasil membangunkan tidurnya.

"Iya-iya aku mandi, oh ya Al aku lupa memberitahu kamu, malam ini aku menginap di rumah kamu ya, di kost lagi sepi, semuanya pada keluar ya nggak tahu kemana."

Alesya tersentak ketika mendengar keinginan Silmi yang akan menginap di rumahnya malam ini, itu artinya malam ini dia juga akan tidur di rumah orang tuanya, lalu bagaimana dengan Afnan?, dan apakah Afnan juga akan mengizinkannya untuk menginap di rumah orang tuanya, jikalaupun diizinkan pasti Afnan juga akan menginap bersamanya, tetapi itu tidak mungkin.

∆∆∆∆∆

Usai melaksanakan sholat ashar berjamaah bersama bunda dan kakaknya, lalu Alesya segera melipat mukenah yang ia kenakan begitupun dengan Aiza dan Alula. Sudah lama sekali mereka tidak menunaikan sholat berjamaah lantaran Alesya yang sudah menikah dan sudah tidak tinggal di rumah orang tuanya. 

"Oh ya Bun katanya malam ini Silmi mau menginap di sini, Bunda mengizinkan kan?"

"Iya Bunda izinkan kok, tapi izin juga sama Ayah ya?." Jawab Aiza yang tak lepas dengan senyumannya.

"Iya Bun, nanti aku akan suruh Silmi untuk izin sama Ayah."

"Kalau Silmi menginap di sini berarti kamu juga menginap di sini dong Dik?, terus suami kamu bagaimana?"

Ternyata Alula terpikir akan Afnan, adik iparnya itu yang tidak mungkin ikut menginap di rumahnya karena Silmi tidak mengetahui bahwa dia adalah suami dari sahabatnya sendiri.

"Lho iya Sayang, kalau kamu menginap disini, terus Afnan bagaimana?, apa dia juga akan menginap disini juga?"

"Nggak Bun, Afnan nggak mungkin menginap disini juga, biar nanti aku telpon dia dan meminta izin untuk menginap di sini, Bunda sama Kakak nggak usah khawatir ya?"

Alesya mencoba meyakinkan bunda dan kakaknya agar tidak mengkhawatirkan nasib Afnan yang malam ini akan tidur sendirian tanpa sang istri disampingnya.

∆∆∆∆∆

Sementara seorang Afnan sedang gelisah di teras rumahnya, pandangannya selalu tertuju kepintu pagar yang tertutup rapat, dia sedang menunggu seseorang lebih tepatnya sedang menunggu kepulangan sang istri dari rumah orang tuanya, tetapi yang ditunggu-tunggu belum juga memunculkan diri membuat Afnan semakin dilanda kegelisahan.

"Aduh Alesya kok belum pulang juga sih, sudah sore begini lagi, apa dia lupa kalau sudah punya suami?, tapi masa iya sih dia lupa, Alesya cepat pulang dong Sya, suami kamu sudah rindu banget ini."

Bukan hanya kegelisahan yang sedang menyapa seorang pangeran arab ini melainkan rasa rindu yang menggebu kepada istri tercintanya. Ia benar-benar sudah tidak bisa menahan rindu kepada perempuan sholihah yang berhasil membuatnya tidak bisa berlama-lama berjauhan dengannya.

"Aku harus telpon Alesya."

Tanpa berlama-lama lagi Afnan langsung merogoh kantong celananya dan mengeluarkan handponenya yang berwarna hitam. Ia pun segera memanggil nomor yang tertera nama "Alesyaku"

Berdering, Afnan berharap sekali panggilan itu diangkat oleh Alesya, karena dia sudah tidak sabar ingin mendengar suara lembut yang berasal dari perempuan yang dicintainya.

Handpone yang tergeletak di meja ruang tengah sedang berbunyi, semua yang sedang asyik menonton tv dengan kompaknya menoleh kearah handpone tersebut, kecuali Alesya yang begitu mendalami film yang disuguhkan di televisi yang mereka nyalakan.

"Handpone siapa tuh bunyi." Ujar Alula sembari kembali menonton filmnya.

Silmi menoleh kearah handpone tersebut dia mengenali siapa pemilik benda pipih yang sedang mengeluarkan bunyi.

"Al itu handpone kamu kan?, coba diangkat siapa tahu penting." Tegur Silmi yang menyadarkan Alesya.

Dengan gusarnya Alesya mengambil handponenya dia merasa terganggu sekali dengan suara handponenya yang berbunyi ingin rasanya dia memarahi orang yang sudah beraninya mengganggu konsentrasinya dalam menonton film yang sangat bagus menurutnya.

"Afnan?"

Bola mata Alesya melotot seakan ingin meloncat keluar dari kelopak matanya setelah membaca nama yang tertera dilayar handponenya.

"Siapa yang nelpon Al?" Tanya Silmi penasaran.

"Hah?, ini Sil nomor baru, nhgak penting." Jawab Alesya dengan langsung menolak panggilan tersebut.

"Oh."

"Kalau begitu aku ke kamar mandi dulu ya."

Dengan tergesa-gesa Alesya beranjak dari duduknya meninggalkan Alula yang cuek saja tetapi tidak dengan Silmi yang malah curiga melihat gelagat aneh dari sahabatnya tersebut.

"Aneh, kok Alesya mau ke kamar mandi tapi bawa handpone?"

"Lho Sil mau kemana?"

Silmi yang tadinya berniat ingin menyusul Alesya tidak jadi lantaran Alula memergoki dirinya yang sudah bersiap melangkah.

"Itu Kak aku mau, mau minum, iya aku mau minum." Jawab Silmi yang berasalan ingin mengambil air minum ke dapur.

"Biar aku yang ambilkan ya, kamu di sini saja."

Tanpa menunggu persetujuan dari Silmi, Alula sudah berlalu menuju dapur untuk mengambilkan air minum.

Sementara Alesya, dia beneran masuk ke dalam kamar mandi bahkan menutup pintunya dengan sangat rapat, lalu segera memencet daftar panggilan masuk dihandponenya.

"Hallo assalamu 'alaikum."

Panggilannya tersambung dengan cepat bagaimana tidak Afnan yang awalnya kaget karena panggilannya ditolak langsung senang ketika sang istri menelponnya balik.

"Wa 'alaikumus salaam, alhamdulillah Sya akhirnya kamu menelpon aku juga, ya walaupun harus aku pancing dulu, oh ya kamu kok belum pulang sih, ini sudah sore lho, suami kamu sudah rindu banget nih sama kamu."

"Aduh maaf ya Afnan aku baru bisa nelpon kamu soalnya dari tadi aku nggak ada kesempatan buat nelpon kamu, oh ya aku minta izin ya, untuk malam ini aku menginap di sini, kamu nggak keberatan kan?"

Afnan yang mendengarkan permintaan izin sang istri yang katanya akan menginap di rumah otang tuanya langsung kaget sekagetnya.

"Aku nggak keberatan kok asal aku menyusul kamu dan menginap di sana juga."

"Aduh kalau seperti itu nggak bisa, soalnya aku menginap di sini karena Silmi mau menginap di sini jadi mau nggak mau aku juga harus menginap di sini, kamu tolong mengerti aku ya, aku mohon."

Permohonan Alesya kali ini tidak bisa diterima oleh Afnan, jelas Afnan tidak menerimanya karena dia tidak ingin tidur sendirian malam ini, jangankan tidur sendirian ditinggal sebentar saja oleh Alesya sudah menderita akibat sesaknya rindu

"Ya nggak bisa begitu dong Sya, mana bisa aku tidur sendirian tanpa kamu, ditambah lagi sekarang aku sudah rindu sama kamu, nggak aku nggak izinkan kamu, lagi pula kenapa sih kamu jujur saja sama Silmi, kalau kamu jujur semuanya beres kan?"

"Kamu mau persahabatan aku sama Silmi hancur?, apa kamu tega memutuskan tali ukhuwah antara aku dan Silmi?"

Jleb, Afnan sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi kecuali mengizinkan sang istri untuk menginap di rumah orang tuanya, mau bagaimana lagi Afnan tidak akan mungkin memutuskan tali persaudaraan antara Alesya dan Silmi itu sama saja dia mendapatkan dosa.

"Ya sudah aku izinkan, tapi cuma malam ini ya, jangan ada malam-malam lainnya."

Alesya senang karena Afnan mengizinkannya. "Alhamdulillah kalau kamu izinkan, iya in syaa Allah cuma malam ini kok Silmi menginap di sini, oh ya untuk sementara waktu kamu jangan telpon aku ya, soalnya Silmi sudah mulai curiga, ini saja aku menelpon kamu di dalam kamar mandi."

Alesya meringis melihat ruangan yang kini sedang ia pijaki, walaupun kamar mandinya bersih tetapi tetap saja ruangan tersebut tidak akan lepas dari bakteri apalagi saat ini dia sedang membawa handpone sudah dipastikan handponenya itu sudah dipenuhi dengan bakteri, setelah selesai menelpon Alesya akan langsung membersihkan handponenya supaya bakterinya lenyap.

"Sebenarnya aku nggak bisa kalau nggak menelpon kamu setiap waktunya tapi ya mau bagaimana lagi, ya sudah deh aku nggak menelpon kamu."

"Kalau begitu sudah dulu ya, aku harus keluar dari kamar mandi, takutnya kalau kelamaan Silmi malah semakin curiga."

Mendengar Alesya akan segera mengakhiri sambungan teleponnya Afnan langsung menahannya.

"Tunggu Sya, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."

"Kamu mau ngomong apa?." Tanya Alesya yang sudah tidak sabar ingin segera mengakhiri sambungan teleponnya.

"Aku rindu, aku rindu sama kamu Sya, rindu parah." Ungkap Afnan dengan nada pelan tetapi terdengar manis ditelinga Alesya.

Senyuman terlukis di wajah Alesya tatkala mendengar kata rindu yang diutarakan oleh Afnan, hatinya langsung berbunga-bunga bagaikan sedang ditaman bunga.

"Sya kok kamu diam?, kamu nggak kangen sama aku?"

"Ya nggaklah, kan baru tadi ketemu masa sudah kangen, sudah ya aku tutup telponnya sekarang juga, assalamu 'alaikum."

"Lho Sya kamu beneran nggak kangen sama aku?, wah awas saja kamu ya Sya nanti, oke wa'alaikumus salaam."

Sambungan teleponnya pun terputus tetapi tidak dengan senyuman Alesya yang masih awet, ternyata kata rindu yang diucapkan oleh Afnan mampu membuatnya tersenyum bahagia.

"Astaghfirullahal adzim, Silmi?"

Jantung Alesya seakan mau copot ketika keluar dari kamar mandi ternyata Silmi sedang berdiri dihadapannya. Pikiran Alesya sudah kemana-mana bahkan ia menerka apakah Silmi menguping pembicaraannya dengan Afnan di telepon?, itu artinya Silmi sudah mengetahui semuanya bahwa dirinya sudah menikah dengan Afnan?.

"Sekarang jawab aku dengan jujur Al, siapa yang kamu telpon barusan?, dan kenapa harus di kamar mandi?, kamu menyembunyikan sesuatu dari aku?"

Rentetan pertanyaan yang dicecarkan untuk Alesya sukses membuat dirinya panik tetapi ia masih dapat bernapas lega karena ternyata Silmi tidak mengupingnya itu artinya dia masih aman lebih khususnya Afnan yang aman.

"Sil aku minta maaf ya, baik aku akan jujur sama kamu, sebenarnya aku memang sedang menyembunyikan sesuatu dari kamu, tapi maaf sekali lagi aku nggak bisa memberitahu sekarang, tapi aku janji aku akan memberitahu kamu nanti kalau waktunya sudah tepat, aku janji Sil in syaa Allah."

Walaupun Alesya tidak menjawabnya dengan keseluruhan tetapi itu cukup bagi Silmi yang dari tadi menaruh rasa penasaran dan akhirnya kecurigaannya benar bahwa sahabatnya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

"Oke Al, aku percaya sama kamu, aku akan tunggu sampai kamu mau menceritakan semuanya sama aku."

Senyuman tulus yang terukir diwajah Silmi menandakan kepercayaannya kepada Alesya yang memang berusaha untuk tidak membohonginya, kini kedua sahabat yang saling menyayangi karena Allah saling berpelukan karena Allah jua.

∆∆∆∆∆

Kenyataannya Afnan memang tidak kuat menetap di rumahnya seorang diri, kehadiran Alesya benar-benar membuat dirinya ketergantungan, daripada merenungkan nasib seorang diri di rumahnya, jadi Afnan mengungsi untuk sementara waktu di istana keluarganya dan kini dia sedang duduk santai bersama mami papi dan Ziva sang adik.

"Kasihan banget sih yang malam ahadnya gegana, padahal sudah punya kekasih halal."

Puas sekali Ziva mengejek sang Abang yang malah tidak sadar sedang diejek oleh adiknya sendiri yang memang sangat iseng sekali.

"Ziva kok ngomongnya seperti itu sih, nggak boleh Sayang." Ucap Izma menasehati putri bungsunya.

Ziva cengengesan. "Iya Mami, Ziva bercanda kok, Abang Af Ziva minta maaf ya."

Afnan tersentak dan tersadar dari lamunannya setelah sang adik menggeser duduknya disebelahnya.

"Sudah Aang Af yang sabar saja, kan besok sudah bertemu lagi sama Kak Al." Ujar Ziva mencoba menyemangatkan Afnan yang sepertinya benar-benar gegana.

"Tapi Zi, Bang Af tuh kangen banget sama Kakak iparmu yang ngangenin itu, sehari saja sudah berasa seperti setahun."

Jawaban Afnan yang mencurahkan segala rasa sesak rindunya yang berkecamuk didadanya itu bukannya direspon baik oleh sang adik malah Ziva menertawainya.

"Ya Allah Bang Af lebay banget sih" Ejek Ziva dengan polosnya.

Afnan yang mendengarkan ejekan sang adik yang begitu jelas sekali tertangkap oleh telinganya langsung menyerngitkan dahi sekaligus menatap tajam kearah adiknya, mendapat tatapan tajam dari abang Afnya memudarkan gelak tawa di wajah Ziva.

"Kamu itu kan belum menikah, jadi kamu belum tahu bagaimana rasanya menahan gejolak rindu yang membara ini saat berjauhan dengan orang tercinta, tanyakan saja sama Mami dan Papi kalau kamu nggak percaya."

Tatapan Ziva tertuju kearah mami dan papinya yang selalu tampil mesra apalagi dihadapan anak-anaknya malah menjadi-jadi mereka, mungkin mereka ingin anak-anaknya akan mencontoh mereka agar tetap bisa mesra dengan pasangannya bukan pengantin baru lagi.

"Mami, Papi benar ya apa yang dikatakan Bang Af?"

Dengan kompaknya Izma dan Zawir menganggukkan kepala seraya tersenyum, sementara Ziva langsung menggigit bibir bawahnya karena merasa bersalah sudah mengejek abangnya yang sedang merana karena berjauhan dengan kakak iparnya.

"Ziva jangan mengejek Abang Afnya lagi ya, soalnya Ziva kan masih jomblo jadi nggak kan tahu apa yang sedang dirasakan Abang Af." Ujar Zawir bersuara.

Ziva pun berpindah duduk ditengah-tengah Mami dan Papinya yang dibuat terkejut apa lagi Zawir yang sudah cemberut karena dipisahkan dari istrinya, sementara Izma segera mengelus punggung tangan putrinya yang begitu manja dengannya.

"Tapi Papi, Ziva pernah kok kangen berat sama Mami saat Papi bawa Mami jalan-jalan ke luar negeri dan Ziva nggak dibolehkan ikut."

Zawir memijit pelipisnya yang terasa pening usai mendengar perkataan polos dari sang anak bungsu ditambah lagi putrinya itu menceritakan waktu dia bersama istrinya berlibur berdua saja ke luar negeri kira-kira 1 tahun yang lalu.

"Itu beda Sayang, nanti kamu akan merasakannya sendiri kalau sudah menikah ya." Tutur Izma memberitahu Ziva dengan begitu lembut namanya juga seorang ibu jiwa keibuannya begitu dominan.

"Terus Ziva menikahnya kapan Mami?." Tanya Ziva dengan tersenyum penuh arti.

"Kamu yakin mau menikah Zi?, masih manja begitu mau jadi istri?, yang ada kamu menyusahkan suami kamu terus."

Kini giliran Afnan yang mengejek Ziva karena memiliki sifat manja yang berlebihan dan tidak yakin bahwa adiknya akan menjadi seorang istri yang sempurna seperti Alesya, kekasih hatinya.

"Ishhh Abang Af, Mami Papi Bang Af tuh mengejek Ziva." Oceh Ziva yang mengaduh kepada kedua orang tuanya.

"Sudah-sudah, Afnan kok malah mengejek Adiknya sih." Tegur Izma dengan halus.

"Iya Mami maaf, Zi Bang Af minta maaf ya."

Ziva pun menganggukkan kepala tanda menerima permintaan maaf dari sang abang yang sebenarnya tidak ada maksud untuk mengejeknya.

∆∆∆∆∆

Pagi-pagi sekali pangeran Arab berjemur di teras rumahnya, sepertinya dia sedang menunggu seseorang, para tetangga yang sedang lari pagi bertegur sapa dengannya bahkan ada yang mengajaknya untuk berlari pagi bersama namun dengan halus Afnan menolaknya, siapakah yang dia tunggu sampai-sampai ajakan lari pagi yang sudah menjadi aktivitas wajibnya itu ia tolak mentah-mentah.

Sebuah motor matic memasuki pekarangan rumahnya dan berhenti di garasi, senyuman Afnan langsung mengembang tatapan matanya berbinar penuh cinta. Perempuan yang baru saja membuka helmnya langsung melangkah menghampirinya.

"Assalaamu 'alaikum."

"Wa 'alaikumus salaam."

Tiba-tiba Alesya terperanjat karena tubuh gagah sang suami sudah berada dalam pelukannya, sangat erat dan sepertinya tidak bisa dilepas, begitu rindunya Afnan kepada istrinya sampai pelukannya sangat erat. Dengan rasa rindu yang sama Alesya pun membalas pelukan suaminya.

"Afnan sudah dong meluknya aku sesak napas nih."

5 menit telah berlalu tetapi pelukan mereka enggan terlepas lebih tepatnya Afnan yang sengaja memperlama pelukannya, sepertinya dia sangat merindukan tubuh istrinya yang pas sekali dalam pelukannya. Percuma Alesya meronta-ronta agar Afnan melepas pelukannya sebab suaminya itu begitu nyaman memeluk tubuhnya sampai lupa untuk melepaskannya.

"Afnan lepaskan aku dong."

"Nggak mau, ini hukuman buat kamu,  karena kamu sudah membuat aku rindu separah-parahnya, jangan banyak gerak dulu Sya, rindu aku masih belum sepenuhnya terobati."

"Lepaskan dulu Afnan, nggak enak dilihat orang-orang, meluknya lanjut di dalam rumah saja, ya."

Permintaan Alesya rupanya langsung disetujui oleh Afnan yang sudah melepaskan pelukannya, Alesya pun bernapa dengan normal karena tubuhnya sudah terlepas dari tubuh gagah sang suami.

"Ya sudah ayo masuk, biar aku bisa meluk kamu dengan sepuasnya." Goda Afnan yang mengakibatkan pipi Alesya merah merona, rasa malu dan gugup langsung menghampirinya.

"Tapi cuma meluk doang kan?, bukan yang lainnya?." Tanya Alesya dengan gugup dan tidak sanggup untuk menatap tatapan suaminya yang genit.

"Memangnya kenapa kalau yang lainnya Sya, kan sudah halal, bahkan berpahala lho, masa kamu nggak mau pahala?"

"Ya tapi, tapi..." Jawab Alesya dengan sangat gugup.

"Aku bercanda Sya, memangnya yang lainnya itu apa coba?, tolong beritahu aku dong." Goda Afnan sekali lagi.

Dengan sebalnya Alesya langsung mencubit pinggang sang suami yang menghasilkan rintihan sakit dari mulut suaminya itu.

"Aw Sya sakit tahu, oh kamu mau aku cubit ya, oke aku akan cubit kamu."

Sebelum Afnan melancarkan renacanya untuk membalas cubitan Alesya, rupanya Alesya lebih dulu masuk ke dalam rumahnya dengan tertawa, Afnan pun menyusulnya dengan gelak tawa pula.

∆∆∆∆∆

"Kamu sudah siap Sya?" Tanya Afnan ketika melihat sang istri turun dari tangga.

Alesya sudah cantik dengan gamis+khimar syari yang berwarna navy senada dengan kaos casual lengan panjang kombinasi batik yang dipakai oleh Afnan, tentu itu produk dari butik batiknya yang sedang jaya saat ini.

"Kita mau kemana sih?." Tanya Alesya penasaran karena sang suami tidak memberitahukan tempat tujuan yang ingin mereka datangi.

"Kita mau ngedate Sya, lebih tepatnya ngedate yang tertunda."

Alesya terkekeh mendengar suaminya mengatakan ngedate yang tertunda, karena kemarin malam ahad seharusnya mereka ngedate tetapi harus dibatalkan sebab kedatangan Silmi yang menginap di rumah orang tuanya.

Dengan penuh cinta Afnan menggandeng sang istri keluar dari rumah megahnya menuju garasi untuk menaiki kendaraan yang akan membawa mereka pergi ngedate alias pacaran halal.

"Sya sepertinya lebih romantis lagi deh kalau kita ngedatenya naik motor kamu, lagi pula kalau naik motor lebih cepat sampainya dan nggak akan terjebak macet."

Usulan sang suami yang ada benarnya juga segera dianggukkan kepala oleh Alesya lalu tanpa berlama-lama lagi Afnan menaiki motornya kemudian disusul oleh Alesya yang duduk dibelakangnya.

"Peluknya yang erat Sya, biar kamu aman."

Perintah Afnan itu langsung membuat Alesya mencubit pinggangnya tetapi tidak sakit malahan Afnan keenakan.

"Bisa saja kamu ya cari kesempatan, dasar pak suami genit." Oceh Alesya dengan senyum-senyum sendiri.

Walaupun mengatakan suaminya genit tetapi Alesya justru menuruti perintah Afnan untuk memeluknya dengan erat, demi keselamatan dan demi keharmonisan hubungannya dengan suaminya, itulah alasan Alesya.

∆∆∆∆∆

"Silakan dinikmati hidangannya Tuan dan Nyonya Rafisqy."

Pelayan yang baru saja meletakkan makanan yang dipesan oleh pasangan halal yang sedang menikmati pacaran setelah menikah itu mempersilahkan Afnan dan Alesya untuk menikmatinya.

"Terima kasih Mbak." Tutur Alesya yang tak kalah ramahnya.

Setelah kepergian pelayan tersebut, Afnan dan Alesya langsung menikmati makanan yang telah mereka pesan.

"Maa syaa Allah ini enak banget makanannya." Puji Alesya setelah berhasil mencicipi makanan tersebut.

"Masih enakan masakan kamu Sya, ini nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama masakan kamu yang terenak di dunia."

Alesya pun menggeleng-gelengkan kepala mendapatkan pujian berlebihan dari suaminya itu, tetapi bagi Afnan ini tidak berlebihan melainkan fakta nyata, masakan istrinya memang enak dan lezat membuatnya ingin terus makan masakan sang istri.

Sementara disisi lain, terlihat Kalista dan 2 teman perempuannya yang baru saja masuk ke dalam restoran dimana Afnan dan Alesya sedang makan malam, Kalista pun menoleh kearah Afnan dan betapa kagetnya dia melihat laki-laki yang dia cintai setulus hati sedang makan malam bersama perempuan lain.

"Itu Kan Afnan?, dan siapa perempuan itu?." Tanya Kalista sangat penasaran begitu juga dengan kedua temannya yang ikut menoleh kearah Afnan dan Alesya.

"Lho iya itu Afnan Kal, apa jangan-jangan perempuan itu istrinya."

Salah satu teman Kalista menerka bahwa perempuan yang sedang makan malam bersama Afnan adalah istrinya Afnan, rasanya Kalista tidak bisa menahan dirinya untuk melabrak Afnan bersama perempuan itu.

"Kal mau kemana?"

"Ayo ikuti Kalista."

Kedua mata Kalista sudah memerah ketika dirinya sudah berada dihadapan laki-laki yang sama sekali tidak membalas perasannya.

Afnan dan Alesya kompak sekali menoleh kearah perempuan yang sedang mengganggu makan malam romantis mereka. Mata Alesya langsung terbelalak melihat perempuan yang sudah berada dihadapannya begitu juga dengan Afnan yang langsung berdiri dari duduknya.

"Siapa perempuan ini?, ada hubungan apa kamu dengan dia?." Tanya Kalista dengan wajah yang sudah penuh akan kemarahan.

"Ya Allah perempuan ini kan yang waktu itu menyatakan cintanya sama Afnan, aduh gawat ini kalau sampai dia taHu kalau aku adalah istrinya Afnan, Afnan aku mohon, jangan bilang kalau aku istri kamu, jangan bilang Afnan."

"Ini bukan urusan kamu."

"Sya ayo kita pulang."

Alesya langsung baranjak dari duduknya lalu Afnan menggandengnya untuk pergi meninggalkan Kalista yang kemarahannya sudah tidak bisa ia tahan, tetapi kedua temannya segera menenangkannya.

"Siapa perempuan itu?, dan kenapa Afnan menggandeng tangannya?"

Rasa penasaran langsung muncul dalam benak Kalista setelah melihat kedekatan Afnan dengan perempuan yang asing bagi Kalista karena ini baru pertama kalianya ia melihat perempuan itu, apakah perempuan itu adalah istrinya Afnan?, Kalista harus mencari tahu.

❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

Assalamu 'aikum Warohmatullah Wabarokaatuh

Vote dan komen ya Readers, supaya Ukhfira tahu pendapat kalian bagaimana readerss

Ditunggu lho

Vote dan komennya

Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabatokaatuh

1
Amora
aamiin
Widiya _Al ahyani faccing widiyaningrum
bagus sekali dan sangat menarik
Semoga ada season 2 dari karya ini
Sofa Hamid
banyak berkarya Thor novelmu kasih pelajaran yg baik
ukhfira: Alhamdulillah terima kasih atas dukungannya reader🤗
total 1 replies
Sofa Hamid
suka banget karyamu Thor sangat mendidik utk anak2 renaja
ukhfira: Alhamdulillah terima kasih reader semoga menebar manfaat🤗
total 1 replies
Erah R Zaelani
cerita ny bagus..lanjut
ukhfira: Selamat membaca
semoga suka Kanca🤗
total 1 replies
Erah R Zaelani
suka bngtt crita nya..mendidik bngtt
ukhfira: Alhamdulillah semoga bermanfaat Kanca🤗
total 1 replies
Lia Mukarromah
kalo suaminya seperti Afnan udh Sholeh ganteng lagi.wanita mana yg gak tebar pesona
ukhfira: Betul betul betul
total 1 replies
Tihtin
thor,,belum move on dari cerita azlan dan filzah ya,,karena nama afnan sering ketukar ma azlan 😁😁
ukhfira: Masa sih???😂
total 1 replies
Karina Na
nanti masih marah nggak ya mamanya si alsya?
ukhfira: Terima kasih Kanca🤗
total 5 replies
Iloel
masya Allah...luar biasa...indahnya cinta karena Allah...
ukhfira: Maa syaa Allah indah dan berpahala tentunya💙
total 1 replies
Iloel
suka bgt dg tokoh yg bernama afnan...di novel lain ...jg ada tkoh afnan...sifatnya sama...baik,perhatian,romantis,baik akhlaknya,baik ibadahnya...mendekati 'perfect'...
ukhfira: Maa syaa Allah kira2 di dunia nyata ada juga gk ya Kanca???😁
total 1 replies
Syarifah Yanti
sangat bsgus
ukhfira: Alhamdulillah terima kasih Kanca🤗
total 1 replies
Noer Fitriani
intinya aku suka novelnya udah pakek buangeettt..
lanjut ah baca yang ke dua
ukhfira: Intinya aku mau bilang terima kasih adeq mungilku pake bangettt..
semoga suka juga sama novel yg kedua ya
total 1 replies
Noer Fitriani
bagus bak firaaa
ukhfira: Alhamdulillah Fifinnn🤗
total 1 replies
Nurhalimah
sebel tuh sama mamah nya
ukhfira: Sama Ukhfira juga Kanca😂
total 1 replies
Nurhalimah
kata nya sholehah ko sama suami ga ada ramah2 nya
ukhfira: Mohon maaf Kanca atas ketidaksukaannya kepada karakter Alesya, di sini Ukhfira sebagai author ingin meluruskan bahwa Alesya juga manusia biasa yang sering khilaf dan mungkin ini adalah kekurangannya, yaitu belum bisa menjadi istri yang baik bagi Afnan, suaminya. Tapi itu cuma diawal-awal kok, mungkin Alesya shock dengan status barunya, di akhir-akhir Alesya bisa menjadi istri yang sholihah dan ibu yang baik untuk anak kembarnya🤗
total 1 replies
Lilis Hermawati
crtanya bagus pisan seneng banget skrng baca novel yg menangkat ajaran islam😘😘
ukhfira: Alhamdulillah, semoga bermanfaat Kanca🤗
total 1 replies
Khoirotul Ni'mah
suami idaman bangett
ukhfira: Alhamdulillah🤗
total 1 replies
Khoirotul Ni'mah
suka bangetttt
ukhfira: Alhamdulillah terima kasih Kanca🤗
total 1 replies
Nurfanya Rudie Ajalah
belah duren🥰🥰🥰
ukhfira: Versi halal ya Kanca🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!