7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk pasangan suami isteri Mia dan Shendy membina rumah tangga, dan kebersamaan mereka selama ini kurang lengkap karena belum hadirnya buat hati di tengah-tengah kehidupan mereka
Shendy memang tidak mempermasalahkan hal itu, bisa hidup bahagia bersama sang isteri sudah cukup baginya namun berbeda dengan Mia, wanita itu selalu merasa kesepian dan sedih kerap kali membayangkan adanya kehadiran anak di rumah mereka
Bahkan Sendy kerap kali harus menghibur sang isteri setiap kali mendengar kabar berita kehamilan para sahabatnya
Shendy merupakan sosok yang penyabar dan sangat mencintai isterinya tapi rasa cintanya di uji ketika sang isteri mengungkapkan keinginan konyolnya pada Shendy hingga membuat pria tersebut marah besar dan terjadilah pertengkaran hebat diantara keduanya
Apakah keinginan konyol sang isteri hingga membuat Shendy yang penyabar itu marah besar?
Simak terus cerita selanjutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianshen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
" Sayang!"
Mia mengerjapkan matanya dan saat kedua bola matanya terbuka sempurna ia melihat sang suami tengah duduk di sampingnya dengan raut wajah khawatir sambil menggenggam erat tangannya
"Syukurlah akhirnya kamu sadar juga" ucap Sendy penuh rasa syukur
" Aku ada di mana mas?" tanya Mia seraya mengedarkan pandangannya
" Di rumah sakit, tadi kamu pingsan bikin mas khawatir" sahut Sendy
" Apa?aku pingsan mas?" tanya Mia yang cukup terkejut ketika ia dinyatakan sempat pingsan
" Iya sayang, kamu tadi pingsan. makanya kalau tidak kuat jangan dipaksain beginikan jadinya" omel Sendy
" Oh ya ampun mas, kenapa sekarang mas malah berada di sini?" tanya Mia yang tiba-tiba teringat dengan acara ijab qobul yang tadi berlangsung di kediaman Marisa
Sendy mengerutkan keningnya " Memangnya kalau tidak disini mas harus berada di mana? masa isteri berada di rumah sakit mas tinggal ada-ada aja kamu ini!" sahut Sendy dengan geleng-geleng kepala
" Tapi mas bukankah tadi mas baru saja melaksanakan acara ijab qobul, lalu di mana Marisa mas?"
Glek
Sendy menelan salivanya kasar, pertanyaan Mia sungguh membuat lidahnya tercekat bahkan dalam kondisi seperti ini pun isterinya itu masih saja memikirkan keberadaan madunya
" Kenapa kau memikirkannya? seharusnya kau itu memikirkan kesehatan mu sendiri" kesal Sendy
" Mas bagaimanapun sekarang Marisa kini sudah sah menjadi isteri mas juga, dia juga berhak atas diri mas" sahut Mia membuat Sendy semakin mendengus kesal pada isteri naifnya itu
" Jangan memaksaku melakukan hal yang tidak aku inginkan sayang, bagiku kau adalah prioritas ku" tegas Sendy
Mia pun tidak lagi berkata apa-apa, ia tahu saat ini bukan hanya dirinya yang terluka tapi pria yang ada di hadapannya pun pasti merasakan hal yang sama seperti apa yang sedang ia rasakan
" Maafkan aku mas!" ucapnya lirih
Sendy menarik napas dalam-dalam lalu dihempaskannya kasar
" Jangan meminta maaf pada mas, tapi minta maaflah pada dirimu sendiri karena secara tidak langsung kau sudah membuatnya terluka" ucap Sendy membuat Mia tercekat
" Istirahat lah, mas akan menemani mu disini!" Sendy pun menarik selimut Mia sampai sebatas dada
" Jangan pikirkan apa-apa tenanglah pikiranmu!" ucapnya lagi
Mia hanya menjawab dengan anggukan kepala lalu berusaha untuk memejamkan mata
Sendy memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, ia tidak tahu harus dibawa kemana hubungan pernikannya yang rumit ini
" Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" batin Sendy
" Baru permulaan saja kau sudah jatuh pingsan seperti ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan mu di hari-hari berikutnya setelah ini!"
Sendy tidak dapat membayangkan keadaan isterinya setelah ini, untuk tinggal bersama itu rasanya tidak mungkin tinggal terpisah pun dia tidak akan rela membiarkan isterinya memikirkan keadaannya terus menerus yang pastinya akan membuat batinnya tersiksa
Meskipun ini adalah keputusan Mia sendiri Sendy sebagai suami jelas tahu hal ini tidaklah mudah untuk Mia jalani, meskipun dibibir wanita itu selalu mengatakan dia baik-baik saja tapi di dalam hati pasti ia merasa sangat tersiksa
Berpura-pura tersenyum padahal di dalam hati ia menjerit kesakitan
Melihat Mia yang sudah terlelap Sendy pun memutuskan untuk keluar sebentar mencari makanan untuk dirinya dan juga Mia yang sudah ia pastikan pasti belum makan apa-apa sejak kemarin
Ceklek
Setelah kembali ke ruang rawat inap Mia dengan membawa sekantong keresek yang berisi makanan di tangannya, Sendy yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut di sambut senyuman manis dari seseorang yang sebenarnya enggan untuk ia temui saat ini
" Mas!" ucapnya
Wajah Sendy nampak datar bahkan tanpa merasa berdosa ia melewati begitu saja wanita yang baru beberapa jam lalu ia nikahi
Mia yang melihat sikap dingin sang suami pada madunya hanya bisa tersenyum tipis pada Marisa
" Mas itu ada Marisa, sebaiknya mas pulang saja, aku sudah tidak apa-apa kok mas" ucap Mia namun tidak di gubris oleh Sendy
" Mas kenapa diam saja? malam ini adalah malam pertama kalian loh mas" ucap Mia yang sebenarnya merasakan nyeri ketika mengingat ini adalah malam pertama suaminya dengan madunya
Glek
Mia langsung terhenyak ketika melihat tatapan tajam suaminya yang tidak suka dengan ucapannya itu
" Makanlah!" ucapnya membuat Mia terperangah dengan sikap suaminya yang tiba-tiba berkata lembut
Mia pikir suaminya akan membentak dan marah kepadanya tapi justru perlakuannya sungguh di luar dugaan
" Ayo cepat buka mulutmu!" Ucap Sendy seraya menyodorkan sesendok nasi kedepan bibir Mia
" A...aku bisa makan sendiri mas" tolak Mia secara halus
Sendy bergeming tangannya tetap menyodorkan sesendok nasi yang berada di tangannya
Mia melirik Marisa sekilas lalu membuka mulutnya menerima suapan dari sang suami
" Aku juga tahu kalau kamu belum makan kan mas!" ucap Mia yang mengambil sendok yang berada di tangan Sendy lalu balik menyuapinya
Melihat suami dan isteri pertamanya saling suap-suapan Marisa semakin dibuat panas dan karena tidak kuat melihat keromantisan keduanya wanita itu pun memilih untuk pergi meninggalkan keduanya dengan hati yang remuk redam