NovelToon NovelToon
Love At Second Chance

Love At Second Chance

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:25.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tabir Senja

Ruri dan Zainudin adalah orang yang sama-sama punya kisah gagal dalam rumah tangga. Zai mempunyai putra yang menguak tabir rumah tangganya, sementara Ruri harus berjuang sendiri demi anak-anaknya.

Pertemuan keduanya tak terduga di sekolah anak mereka. Apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Yuk, ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LSC 19

Ruri Aprilita, wanita berusia 30 tahun hidup menjadi janda setelah berpisah dengan suaminya beberapa tahun yang lalu dimana telah membuat hidupnya menderita karena kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Berkat dukungan orang tua dan teman-temannya, Ruri resmi berpisah dari suami tempramentalnya dan hidup bertiga dengan kedua anaknya yang bernama Bobby Abraham dan Berry Abraham.

Ruri bekerja sebagai pegawai Bank dan rumah yang ditempatinya adalah rumah bersama mantan suami dulu dan telah dialihkan atas nama Ruri sendiri. Sekarang, Ruri mendaftarkan anak bungsu sekolah agar satu arah dengan tempatnya bekerja.

"Bu, ini bukti pembayaran sudah lunas serta seragam sekolah dan baju olahraga untuk putranya," kata Bu Indri seraya menyerahkan tiga bungkus seragam sekolah kepada Ruri.

"Terimakasih, Bu Indri," jawab Ruri tersenyum seraya mengambil seragam tersebut.

"Sama-sama, Bu. Untuk info selanjutnya nanti akan dihubungi melalui grup wali murid sekolah," terang Bu Indri pada Ruri.

"Baik, Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Ruri seraya berdiri dan bersalaman dengan guru baru Berry nantinya. Lalu, Berry pun ikut bersalaman dengan guru cantik tersebut dengan tersenyum canggung.

Kemudian Ruri segera menggendong anaknya menuju parkiran sekolah untuk mengajak Berry jalan-jalan di taman kota. Beruntung, atasannya mengizinkan libur sehari untuk mendaftarkan sekolah anaknya tersebut.

"Mau jalan-jalan dan makan es krim?"

"Mau, Mama!"

"Oke. Duduk yang manis, sayang."

Ruri melajukan kendaraannya keluar area sekolah menuju taman untuk membahagiakan Berry agar tidak selalu menanyakan ayahnya yang tidak ingin Ruri ingat sama sekali setelah apa yang terjadi.

Cukup Bobby yang merasakan kepahitan hidup yang dialaminya selama berumah tangga. Akan tetapi, tidak untuk Berry yang saat itu masih kecil dan tidak tahu apa-apa.

Flashback on

"Mas, sakit! Jangan pukul aku lagi. Iya, aku akan kasih kamu uang lagi. Tolong, jangan pukul aku lagi! Kasian Bobby nangis terus!" pinta Ruri sambil menangis memohon melepaskan tangan suaminya dari rambut yang ditariknya.

"Coba dari tadi, ngasih uangnya. Jadi 'kan gak perlu ada adu mulut dan Bobby juga gak akan nangis lihat kamu dipukul kayak gini," cerca Bagas dengan wajah bengisnya. Lalu, mendorong Ruri ke belakang.

"Hasilkan uang yang banyak dong? Dengan begini aku bisa kaya nanti kalau aku menang judi," ucap Bagas duduk seraya menunggu Ruri mengambil uang di kamar.

Ruri menyerahkan uang lima lembar seratus ribu kepada Bagas dan langsung diterima dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.

"Nah, gini dong. Lumayan banyak juga uangmu. Terimakasih sayang. Oke, aku pergi dulu," Bagas berdiri mengambil jaket di kamar, lalu melangkah pergi keluar rumah untuk berjudi lagi seperti biasanya.

"Mamaaaa!"

"Tenang sayang, mama tidak apa-apa. Sudah jangan menangis lagi." Ruri berusaha menghibur Bobby dan memeluknya erat agar tidak menangis terus.

"Awas kamu, Mas. Aku gak akan tinggal diam setelah apa yang kamu lakukan selama ini. Sudah cukup rasa sabarku menghadapi sifat burukmu itu hingga buatku muak," batin Ruri berucap menatap kepergian suaminya dengan mata menyorot tajam.

Suami yang suka mabuk tidak jelas dan Ruri yang harus banting tulang bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selama ini Ruri bertahan karena mengharapkan suaminya mau berubah dan sifat buruknya yang kadang baik kadang jahat membuat Ruri bingung dengan sikap Bagas.

"Bobby, setelah ini kita segera pergi dari rumah ini bersama dengan Berry ke rumah Kakek dan Nenek, ya? Mumpung papamu sedang pergi," ajak Ruri segera membawa Bobby ke kamar dan mengemasi barang-barang yang dibawanya.

"Baik Ma."

Ruri mengambil semua pakaian anak-anak mereka ke dalam koper, begitu juga baju miliknya. Setelah semua beres, Ruri menggendong Berry dan menggandeng tangan Bobby keluar rumah menuju rumah orang tuanya dengan naik angkutan umum.

Bu Rosa yang melihat kepergian Ruri pun bingung dan bertanya kemana istri Bagas membawa kedua anaknya.

"Bu Ruri, mau kemana kok membawa koper?" tanya salah satu tetangga melihat kepergian Ruri.

Ruri berjalan dengan tenang agar tidak terlalu panik dengan kondisinya yang sekarang. Mengingat, para tetangganya yang suka ingin tahu urusan orang.

"Mau ke rumah neneknya Bobby, Bu. Kebetulan, mereka berdua kangen dengan neneknya," jawab Ruri seraya tersenyum lembut.

"Oh, begitu ya? Kok, suaminya gak diajak?" tanya Bu Rosa dengan logatnya yang sedikit centil.

"Tidak Bu, Mas Bagas lagi ada urusan pekerjaan. Nanti juga menyusul kalau urusannya sudah selesai," terang Ruri memberi alasan dan mulai resah dengan Bu Rosa itu.

"Baiklah Bu. Kalau begitu Ruri permisi dulu," pamit Ruri tersenyum pada tetangganya itu.

"Hati-hati dijalan Bu Ruri."

Ruri tidak menanggapinya dan berjalan terus menuju jalan besar agar bisa cepat sampai di rumah orang tuanya.

Sedang Bu Rosa yang menatap kepergian Ruri hanya bisa menggelengkan kepala. "Hah, pergi kok gak ajak suaminya. Bawa tas besar pula. Pasti ada apa-apanya. Dikiranya, aku gak tahu apa masalah kalian. Huh!"

Setelah menunggu beberapa menit. Ruri langsung masuk ke dalam angkutan dengan kedua anaknya. Meninggalkan Bagas selamanya seraya mengurus surat perceraian nantinya.

Bagas yang tidak mengetahui istri dan anaknya telah meninggalkan rumah sejak pagi. Kali ini nampak terkejut saat rumah dalam keadaan gelap gulita.

"Kemana mereka? Kenapa rumah dalam keadaan gelap?" Bagas menggedor pintu beberapa kali memanggil istri dan anaknya.

"Ruri."

"Bobby."

"Ruri! Buka pintunya!" teriak Bagas di luar rumah yang mulai kesal karena tak ada jawaban dari dalam.

Beberapa orang yang lewat hanya menatap sekilas dan berlalu begitu saja tanpa mau ikut campur dengan Bagas. Lelaki yang suka marah-marah tidak jelas dan pengangguran.

Hingga suatu saat tiba waktunya surat pengadilan datang ke rumah Bagas yang sejak pertengkarannya dengan Ruri di rumah orang tuanya berakhir dengan perceraian. Bahkan, hak anak asuh jatuh ke tangan Ruri beserta rumah peninggalannya. Sedang Bagas, mendekam di penjara karena tindak kekerasan juga main judi sampai berujung pemukulan terhadap teman-temannya.

Info bukti tersebut didapatkan dari beberapa tetangga yang tidak menyukai sikap Bagas selama ini.

Flashback off

"Ma, Mama."

"Mama."

"Ya, sayang." Ruri tersentak kaget. Ternyata dirinya sedang melamun tentang masa lalunya yang pahit.

"Mama menangis?"

"Gak kok. Mama gak menangis. Mama hanya terharu bahagia. Ternyata Berry sudah tumbuh besar dan mau sekolah," ujar Ruri memberi alasan agar anaknya tidak bertanya lebih banyak lagi.

Setibanya di taman, Berry dan Ruri turun dari mobil dan masuk ke taman bermain. Berry terlihat bahagia dan tersenyum ceria menikmati masa kecilnya. Ruri hanya bisa berharap dalam hati, semoga kebahagiaan ini akan sempurna bila ada sosok ayah di sampingnya.

"Andai saja kamu memiliki ayah yang sangat sayang padamu, Mama pasti bahagia," gumam Ruri menatap tubuh kecil Berry yang sedang bermain.

Ruri membeli es krim dan cemilan roti kepada Berry yang sedang istirahat bermain. "Capek ya?"

"Iya, Ma. Capek banget main sendirian. Andai Mas Bobby bisa ikut bermain," ucap Berry dengan wajah polosnya.

"Mas Bobby 'kan sedang sekolah. Nanti liburan kita kesini lagi."

"Benarkah, Ma?"

"Iya, sayang,"

"Horeee. Mama yang terbaik," Berry memeluk Ruri dengan sangat bahagia. Walau tanpa sosok Ayah di sisinya sejak kecil. Tetapi, dirinya cukup bahagia dengan keadaannya yang sekarang. Berharap suatu saat nanti akan ada sosok Ayah menemaninya belajar bersama.

Hai, author kembali lagi nih. Maaf baru bisa update sekarang karena kesibukan menyita waktu. Mohon dukungannya ya, agar author tetap semangat menulis. Happy reading 🥰

1
🎧✏📖
hadir😇
Rahma Putri
aku suka cerita nya bagus
Dina⏤͟͟͞R: makasih kak. dah mampir🙏
total 1 replies
Rahma Putri
ya thorr semangat terus berkarya
wonder mom
klo.mo dpt suami kaya, selingkuh j dlu. kek Reni. pembohong, tukang selingkuh tp malah dpt suami yg puluhan x lbh kaya dri Zai. naik derajat bgt kn?
Dina⏤͟͟͞R: 🤭🤭namanya juga ketiban rejeki. tp dr situ reni secara perlahan dah mulai sadar akan kesalahannya.
total 1 replies
wonder mom
koq reni beruntung bgt c. ditiduri ceo. jd pacar ceo. wkwkwk...patut ditiru tu. peselingkuh yg sukses
blue¹⁸
keren thor. mampir. semangat berkarya
dino²
sangat bagus dan menarik
blue²
aku mampir kak
Alimkin
mampir kak 🏃
blue⁴
mampir kak othor
blue⁶
semangat berkarya kak
R.F
2like hadir semangat
mampir y
Dina⏤͟͟͞R: makasih. kak dah mampir
total 1 replies
Senajudifa
aku mendukung mu zai
Senajudifa
tp mantan istri zai kok nggak bersyukur punya suami baik dan ganteng y
Dina⏤͟͟͞R: kaarena hanya materi yang di inginkanny
total 1 replies
Senajudifa
jodoh kan zai dan ruri
Dina⏤͟͟͞R: hehehe begitlah
total 1 replies
Senajudifa
ksh racun aj tuh si Bagas
Dina⏤͟͟͞R: 😂😂😂 🤭🤭haruse
total 1 replies
Senajudifa
lanjut din
Dina⏤͟͟͞R: iya sen
total 1 replies
Senajudifa
ngga akan pernah sadar tuh reni
Dina⏤͟͟͞R: 🤭🤭moga aja sadar
total 1 replies
💞Amie🍂🍃
kesalahan orang diingat sedangkan kesalahan sendiri ditutupi
Dina⏤͟͟͞R: 🤭🤭iya kak
total 5 replies
💞Amie🍂🍃
Wihh si reni/Sleep/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!