“Ajudan , cepat penggal kepala wanita itu. Ahahah” perintah Singkasa sambil memutar gelas yang berisi darah segar.
Suara tebasan leher yang dia sukai, darah mengalir deras di dalam kolam raksasa. Ratu Singkasa membenamkan diri menikmatinya. Kecantikan abadi berasal dari darah perawan yang telah dia tumbalkan. Setiap bulan purnama merah, dia tidak pernah berhenti mencari korban. Berita kehilangan para gadis yang di laporkan warga diabaikan oleh para petugas. Hingga pada suatu hari, seorang pendekar wanita berani melawan sampai meruntuhkan kerajaannya.
Siapakah wanita misterius itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getah penyembuh Gergania
Satu persatu para dayang mendapatkan cakaran di wajah mereka. Kuku tajam sang ratu merobek kulit yang dia benci lebih mulus darinya. Saat tinggal dayang Rasma dan Omna yang tersisa, keduanya memiliki peran penting bagi sang ratu dan Sida. Terlihat yang paling ketakutan adalah dayang Omna, posisi tubuhnya membungkuk gemetaran membayangkan wajahnya akan hancur melihat tetesan darah pada kuku sang ratu.
“Omna kau yang maju terlebih dahulu” ucap Sida.
Sang ratu mengerutkan dahi, dia tidak mau menyakiti kedua dayang itu. Mereka bagai mata dan kaki yang sangat dia percaya. Sang ratu berpura-pura pingsan, pengawal pribadinya terlebih lagi di penyihir tua ikut panik melihat tubuh sang ratu yang tiba-tiba melemah.
“Apakah kekuatan ku sudah tidak ampuh lagi?” gumam si penyihir tua mengusap bagian kepala tongkat.
Usiga dan Gentra menghadap si penyihir tua, mereka mengabarkan buronan penjahat menghilang tanpa jejak. Mengingat kondisi sang ratu yang tidak memungkinkan, dia meminta kedua pelayan ratu untuk tidak memberitahukan padanya. Begitupula laporan lain dari para anggota jubah hitam memberitahu hal yang sama.
“Aku perintahkan kalian semua meninggalkan ruangan kebesaran ini” ucap si penyihir.
“Ssthh! Kenapa si wanita bau tanah itu yang mengatur kita?” bisik salah satu dayang.
Beberapa dari mereka yang tidak terkena cakaran kuku tajam sang ratu merasa mendapatkan keberuntungan di sepanjang seumur hidup mereka. Tapi bagi beberapa dayang lain yang mendapatkan kesialan itu tidak berhenti menangis walau sudah meninggalkan ruangan.
“Ratu Singkasa bengis dan kejam!”
“Wajah ku! Hiks, hiks.”
“Dia tidak pantas menjadi seorang pemimpin kerajaan ini.”
“Dasar iblis.”
Sumpah serapah, amarah dan caci maki yang di tuju pada sang ratu. Mereka semua terdiam melihat kedatangan Sida. Dia memegang sebuah nampan berukuran kecil, ada beberapa botol yang dia bagikan pada setiap masing-masing para dayang.
“Hapus air mata kalian dan segera obati luka itu agar sembuh” ucap Sida.
“Apa tujuan mu? kenapa sangat baik kepada kami? Bukan kah kau pengikut setia sang ratu?”
“Ya, bisa saja di dalam botol kecil ini bukan lah obat penyembuh wajah tapi malah semakin membuat wajah kami bertambah parah”
Sida membuka penutup di wajahnya. Semua dayang yang melihat sangat terkejut bahkan memalingkan muka karena tidak kuat melihatnya. Bekas wajah yang di ambil kulitnya untuk di tempelkan ke wajah sang ratu. Sejak saat itu, beberapa dayang yang mendapatkan pengobatan dari Sida secara diam-diam menjadi pengikut setianya.
Semua rencana itu di susun oleh Tantrum yang kini bersembunyi di dalam laci rahasianya.
Sementara Yeti memutuskan pergi ke pura teratai putih menyusul sang perdana menteri Hakim. Racikan tumbuhan penyembuh wajah yang terinfeksi kuku tajam. Meski menimbulkan bekas, tanaman langka yang di dapat dari hutan itu bisa menutup luka sehingga mengering secara merata.
Tumbuhan langka getah Gergania.
Tanaman langka yang tumbuh di sisi tebing yang curam. Banyak tantangan untuk mendapatkan tumbuhan itu. Di dekatnya di kelilingi sarang ular yang mematikan.
Tantrum berusaha sekuat tenaga menggunakan kekuatan dan keahliannya untuk berjuang mendapatkannya. Tantrum juga mengambil bibit tanaman itu. Beberapa dayang yang di percaya Sida di tugaskan merawat tumbuhan itu sebagai bahan dasar racikan penyembuh wajah mereka.
Agar leluasa keluar masuk istana, Tantrum menyamar sebagai salah satu dayang kepercayaan Sida. Kehadirannya yang tampak asing membuat Omna memata-matai wanita itu hingga mengikutinya melewati gerbang istana. Tantrum yang mengetahui Omna di belakang, langkah kaki berhenti di sebuah pepohonan bambu. Dia berjongkok mengeluarkan seekor bangkai kelinci yang sengaja dia bawa untuk berjaga jika ada yang mengikutinya.
Omna memperhatikan Tantrum yang berpakaian dayang simbol perias Sida sedang mengubur sesuatu. Gerakan mata Tantrum berpura-pura melihat ke sekitar lalu secepatnya berlari. Omna penasaran melihat bekas galian, menemukan seekor kelinci mati.
“Apa yang di pikirkan dayang baru itu? Apakah dia mempunyai riwayat sakit jiwa?” gumam Omna.
Berhasil mengelabui Omna, langkah Tantrum menuju ke kolam raksasa. Sida mengatakan bahwa para petugas istana seolah sedang melupakan hal yang paling penting sebagai jejak untuk menemukannya. Pisau belati milik Tantrum yang masih terjatuh di sekitar kolam. Sebuah tempat yang sangat luas dan besar, air bersimbah darah, potongan tubuh para gadis yang mengapung di atas lautan darah dan keadaan ruangan yang di penuhi asap putih pekat di atasnya.
Mencari benda itu di waktu yang terbatas tidak lah mudah. Dia menggunakan kekuatannya menggulung angin membentuk pusara menggulung di kolam berdarah. Benda menggulung di atasnya, pisau belati miliknya yang memiliki simbol seekor naga. Setelah mendapatkan benda miliknya dia segera keluar namun dia menoleh melihat sosok bayangan besar. Jeritan rintihan kesakitan terlihat arwah para gadis tidak tenang.
“Kenapa Tantrum lama sekali? Kalau dia sampai tertangkap memakai baju dayang simbol milik ku maka aku akan di penggal sang ratu” gumam Sida.
“Perias Sida, engkau di panggil ke ruang kebesaran” ucap dayang Rasma.
Dari balik pepohonan Tantrum melompat masuk ke ruangan Sida. Bajunya sedikit robek tersangkut ranting pepohonan. Dengan penyamarannya yang sempurna, dia berdiri di belakang mengikuti langkahnya.
Di dalam ruangan khusus kedua sang ratu, tidak terdapat satu pun cermin di dalamnya. Dia meminta dia mengobati luka pada lehernya. Setelah lehernya di balut syal, dia tidak berani membukanya sendiri. Sida menahan amarahnya, dia membuka syal lalu mengoleskan obat herbal di leher wanita itu. Suara ringisan sang ratu menahan sakit terhenti melirik wajah seorang dayang berada di sampingnya.
Dayang itu memakai penutup wajah, manik mata menunduk tidak berani melihatnya. Di dalam benak Tantrum sudah tidak sabar akan menikam, menebas tubuhnya atau memotong anggota badan seperti si ratu iblis itu lakukan pada para gadis di kolam raksasa.
“Sida kenapa kau bawa dayang kesini? Apakah kau sengaja memamerkan pada dunia bahwa aku sekarang memiliki cacat pada tubuh ku?”
“Ampun yang Mulia, dia baru saja tiba membawakan racikan yang hamba buat khusus mengobati luka ini. “
“Jadi apa bisa kau sembuhkan luka ku ini dengan cepat? Penguasa negeri matahari akan datang kedua kalinya. Apakah kau bisa membantu masalah ku ini?”
“Yang mulia, hamba hanya seorang perias wajah. Sebenarnya hamba meminta dayang yang di samping ku ini meracik obat yang dia ambil dari hutan.”
Tantrum menempelkan perekat palsu sehingga seperti wajah yang terluka bekas cakaran. Sosok dayang yang di perkenalkan oleh Sida di beri nama dengan sebutan Gulma. Dia memberi hormat pada sang ratu, membungkukkan tubuh pandangan tetap menghadap ke arah bawah.
“Hormat saya pada ratu tercantik dari seluruh negeri. Semoga sang ratu di di beri umur yang panjang.”