Jatuh cinta memanglah hal yang membahagiakan. Tapi, jika jatuh cinta tanpa dicintai, apakah masih dikatakan hal yang membahagiakan?
Itulah yang dirasakan oleh seorang wanita yang bernama Mita Yuriko. Jatuh cinta kepada seorang dokter bedah nan tampan yang banyak disukai oleh wanita cantik, merupakan tantangan bagi dirinya.
Ia terus menunjukan rasa sukanya kepada pria itu, namun pria tersebut tak pernah menanggapinya. Sampai pada akhirnya sebuah insiden yang seharusnya tak terjadi kepada mereka berdua, membuat keduanya menjadi terikat. Dan membuat mereka menyandang sebagai suami istri yang dirahasiakan dari orang-orang sekitar.
Apakah Mita masih memperjuangkan rasa cintanya itu? Apakah ia memilih menyerah saat mengetahui jika pria itu masih belum menyukainya?
——————
Info dulu. Cerita ini kelanjutan dari 'Perjuangan Cinta Si Gadis Desa' jadi, jika kalian penasaran awalan cerita mereka bisa baca dulu karya Author yang itu✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wndanaomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 0019. Penghinaan
🍄🍄🍄
-
-
-
“Mana Mino, Daf?” tanya Mita saat tak melihat keberadaan adiknya ketika masuk kedalam kamar sahabatnya itu.
“Jangan-jangan kamu tipu aku ya?” ucapnya sambil menatap sipit lelaki itu.
Yang ditatap itu langsung gelagapan sambil menghela nafasnya. “Ya kali aku bohongin kamu Mit. Aku tuh serius bilang kalo Miko memang nginep dirumah aku.”
“Trus? Mino nya kemana?” Mita pun kembali mencari adiknya mulai dari sudut kamar Dafa.
“Tadi tuh Miko masih ada disini. Aku cuma tinggal sebentar buat jemput kamu... entah kemana Miko sekarang, mungkin sedang jalan-jalan kali?” Dafa pun ikut membantu Mita mencari keberadaan Miko dari balik kamar mandi. Namun sosok pria remaja itu tidak tampak.
“Kemarin dia kesini sama siapa?” Mita mendekati Dafa untuk bertanya.
“Aku lihat kemarin dia dianter sama sopir kamu.”
Mita langsung mengangguk paham. “Trus, Mino kemarin ada cerita sesuatu sama kamu?”
“Sebagian kecil sih...” jawab Dafa menatap mata Mita, yang mana membuat wanita itu menjadi gugup.
“Cerita apa?”
“Aku cuman diceritain kalo Miko dan kamu lagi ada masalah dirumah, dan sedikit bertengkar karena alasan. Trus gitu doang. Aku enggak tanya masalah apa sih... karena ngerasa gak enak sama Miko, jadi sekarang aku pengen nanya sama kamu. Emang ada masalah apa?” tatapan Dafa tak lepas dari kedua mata Mita. Pria itu terlihat khawatir.
“Emm... aku gak bisa ceritain sekarang Daf, mungkin lain kali..”
Dafa pun kembali menghela nafasnya. “Yasudah senyaman kamu aja.”
Mita tersenyum mendengarnya. “Thanks Da–”
“SEDANG APA KALIAN?!”
Mita langsung terlonjak kaget saat mendengar teriakan itu. Begitu tiba-tiba yang tentu membuat Mita hampir saja tersungkur kesamping akibat kakinya yang sedikit keseleo.
Untung saja Dafa sigap menagkapnya. Jika tidak entah apa yang akan terjadi pada Mita.
“Mama!” Dafa tak habis pikir dengan wanita yang merupakan ibu kandungannya itu. Tak seperti biasanya datang tak mengetuk pintu, yang mana membuat Dafa mendengus kesal.
“Kenapa sih ma? Datang kok gak ketuk pintu.”
“Kamunya yang kenapa Dafa....” sungut mama Dafa, yang langsung menarik tangan anaknya untuk menjauh dari Mita. Lalu wanita itu menatap Mita dengan tatapan sinis.
“Kenapa bawa dia lagi kesini...?” sarkasnya menatap tajam putranya.
“Emang apa masalahnya mah? Dia sahabat aku!” tekan Dafa.
'Masalahnya dia itu jadi batu sandungan buat kamu. Wanita ini membawa pengaruh jelek buat kamu Dafa...' ucap wanita paru baya itu hanya mampu didalam hati.
Sedangkan Mita entah kenapa menjadi semakin gugup dan canggung. Apalagi ia masih belum siap untuk bertemu kembali dengan sosok ibu sahabatnya itu.
“Halo tante... apa kabar....” tanya Mita dengan suara lirih.
“Kabar saya gak baik sejak kamu kesini lagi!” jawab wanita itu dengan judes.
“Mama! Mama jangan ngomong gitu dong! Mita sahabat aku mama.” Dafa kembali tersulut kesal. Entah mengapa ibunya itu berubah menjadi seratus derajat, beda saat berbicara dengannya. Tutur kata yang lembut tak seperti sekarang. Bertindak kasar hanya kepada Mita, entah salah apa sahabatnya itu sehingga membuat ibunya itu begitu benci kepada sahabatnya.
“Mama enggak peduli dia sahabat kamu atau apa. Yang pasti, mama gak mau perempuan ini ada dirumah kita. Mama gak mau kamu masih berhungan sama dia! Dia tuh hanya akan membuat kamu sial Dafa!” cecarnya yang mana membuat Mita dan Dafa melotot mendengarnya.
“Mama! Jangan bicara begitu tentang Mita!” teriak Dafa yang mana membuat Mita terlonjak kaget mendengarnya.
“Lihat kan? Ini yang mama gak suka saat wanita ini datang kerumah kita. Kamu jadi berani membantah mama saat ada wanita ini!” ucapnya menatap begitu jengkel kepada Mita.
“Aku gak pernah membantah mama. Mama dulu yang memulai.”
“Dafa!!”
Mita pun menjadi cangung sendiri disana. Apalagi saat melihat ibu sahabatnya yang tak begitu suka dengannya.
“Maaf tante, jika saya menganggu kenyamanan anda dirumah. Saya disini sebenarnya hanya akan menjemput adik saya yang menginap disini. Tidak ada maksud lain,” jelas Mita.
“Menjemput adikmu?” wanita paru baya itu mengangkat sebelah alisnya. “Halah alasan saja kamu! Kamu kesini pasti pengen ketemu anak saya! Trus mau godain anak saya?”
“Mamah...” Dafa mengusar rambutnya dengan kasar, yang mana saat ini dirinya benar-benar merasa malu kepada Mita, saat wanita itu menerima perlakuan tak mengenakan dari mamanya.
“Tapi, memang begitu tujuan saya disini tante.”
“Halah gak usah alasan lagi! Lebih baik kamu cepat pulang dari sini. Nanti aura sial mu nempel dirumah saya!” ujar wanita paru baya itu yang mendorong tubuh Mita, untuk keluar dari kamar itu.
“Mama! Jangan begini mah...!” Dafa mencoba menghentikan aksi mamanya, namun mamanya itu terus mendorong tubuh Mita.
“Kakak?”
Suara dari arah depan, membuat ketiga orang itu menghentikan langkahnya. Dan memandang kedepan dimana ada Miko yang sedang menghampiri mereka menggunakan kursi roda.
“Kakak kenapa disini?” tanya Miko.
“Mino...” Mita berjalan cepat menghampiri adiknya, lantas langsung memeluknya. “Kakak cemas sama kamu... jadi kakak nyusul kamu disini untuk kakak ajak pulang...”
Miko diam, namun arah pandangnya tepat tertuju pada Dafa. Dafa pun memberi jawaban dengan menganggukan kepala.
Akhirnya pun Miko menghela nafas, karena paham dengan situasi sekarang.
“Oh... jadi ini adik kamu? Pantesan... saya kira siapa. Mana mungkin anak saya punya teman cacat kayak dia?”
Semua pun langsung menoleh kearah wanita itu. Yang ditatap itu pun terdiam sambil menyentuh bibirnya, seperti menyadari sesuatu.
“Mama jangan bicara begitu!” teriak Dafa.
“Emang kenapa? Mama kan bicara benar. Dia kan memang cacat?”
“CUKUP!” teriak Mita membuat semua orang disana terkejut.
“Sudah cukup anda berkata kasar seperti itu!” Mita menatap tajam ibu dari sahabatnya itu, dengan pandangan mata amarah. “Saya terima jika anda terus memper-olok saya! Tapi saya tidak akan terima jika sampai anda menghina adik saya juga!” jelas Mita sambil berteriak.
“Emang kenapa? Masalah buat kamu?” ucap wanita itu, memandang Mita sedikit ragu-ragu.
“Kenapa kata anda?” Mita terkekeh sejenak. “Jawabannya karena saya tak ingin nama adik saya disebut dengan mulut kotor anda itu!” tekan Mita langsung membuat wanita paru baya itu terdiam.
Mita pun berbalik, lantas langsung memegang gagang kursi roda adiknya. Kemudian membalikkan adiknya untuk menuju pintu.
“Ayo Mino, kita pulang.”
Miko tak menjawab ucapan kakaknya, hanya diam menurut.
Namun langkah Mita terhenti saat tepat diambang pintu. Ia pun menoleh kebelakang.
“Terimakasih Dafa sudah mau mengizinkan adik ku untuk menginap disini.”
Setelah berkata, barulah Mita keluar dari rumah itu, menyisakan Dafa dan mamanya terdiam sambil melihat kepergian kakak beradik itu.
-
-
-
🍄🍄🍄
Jangan lupa selalu komen ya kakak²😊
untung aja lo selamat dri rayuan si dikta bejat filda
yg lain juga dilanjut donk 😆😆😆
semangat author 💪💪💪