💫 Sebelum baca 👉 Azka & Anna, ada baiknya mampir ke season 2 ( Cinta Masa Kecil Presdir Cantik ) 💫
.
.
Season 3 :
Di alun-alun kota Lubuk PAKAM, berlari sepasang bocah kembar berusia 5 tahun. Melihat ada seorang pria dewasa sedang duduk termenung, Azka mendekati pria dewasa tersebut, dan berkata:
" Paman yang jelek, dan orang dewasa yang penuh dengan banyak tekanan dalam hidup. Kenapa kau terlihat murung? Apakah kamu sedang memikirkan hutang yang belum kau bayar? "
Melihat kembarannya berkata seperti itu, Anna menarik tangan Azka, dan berkata :
"Abang, Mama biyang tidak boyeh berkata kasar kepada orang yang lebih tua. Cekalang Abang harus minta maaf sama Om Jeyek ini!"
Pria dewasa itu tidak menjawab, ia hanya menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Kenapa bocah perempuan ini memiliki bola mata sama seperti wanita ia cintai 6 tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
Azka mendekati Aulia, wajahnya terus memandang tajam ke tuan Agung, Marsya, dan lainnya. Nampan kecil berisi gelas minuman jus diletakkannya di atas meja. Azka menerobos Marsya, dan memeluk Aulia.
“Cup…cup. Mami ndak apa-apa ‘kan? Apa mereka menyakiti tubuh Mami?” tanya Azka cemas, matanya memandang luas ke tangan dan kaki Aulia.
“Ha ha ha…kok gemes banget sih, kamu!” rasa gemas sudah dari tadi Ningrum tahan sudah tak terbendung lagi. Ningrum mendekati Azka, ia jongkok tepat di sebelah Marsya jongkok, dengan serentak mereka mencubit pipi Azka, “Iihh…..gemes banget Nenek melihat kamu!” sambung Ningrum.
“Benar, perasaan dulu Mami, kamu tidak seperti ini. Uduh…uduh…calon pewaris ku!” sambung Marsya, mengacak-acak rambut Azka.
Azka sedang di unyel-unyel hanya bisa diam dan pasrah, dengan raut wajahnya masih tetap suram. Tuan Agung, Tarjok, tuan muda Alexdian, dan Vanesha, hanya bisa tertawa. Tak tahan karena terus di unyel-unyel, Azka menepis tangan Marsya, dan Ningrum, dengan cepat ia mengambil nampan minum berisi gelas jus, lalu kabur, menaiki anak tangga menuju lantai 1, tempat Anna, Zahida, dan Baldwin, bermain.
Sesampainya di ruangan lebar di lantai 1, Azka membulatkan kedua bola matanya, melihat Baldwin terus menatap wajah adiknya, Anna, dengan posisi telungkup, dagu di topang satu tangan, kedua kaki berayun.
“Ehem…” dehem Azka.
Menyadari kedatangan Azka dengan raut wajah suram, Baldwin sedari tadi terus memandang Anna, langsung bangkit, duduk, dan berpura-pura bermain
mobil-mobil.
“Bumm….buuum….tit…titt…” Baldwin menghentikan mobil-mobilannya di depan rumah boneka barbie Anna, “Hai, gadis. Apakah kau perlu tumpangan?” sambung Baldwin mencoba merayu.
“Terimakasih, atu sudah punya mobil sendili,” tolak Anna lembut, tangannya memainkan boneka Barbie.
“Yakin? Kursi di sebelahku masih kosong?” goda Baldwin kembali.
‘Bocah ingusan ini kenapa sangat genit kepada Anna. Sok ganteng kali dia, goda-goda adikku,’ gerutu Azka dalam hati.
Ctak!
Zahida memukul kepala Baldwin, dengan Barbie miliknya, dan berkacak pinggang.
“Duh..duh…kenapa kau, nenek sihir selalu kasar padaku?!” teriak Baldwin, duduk dengan sedikit membungkuk, kedua tangan mengelus puncak kepalanya.
“Itu karena kamu terlalu genit. Apa kamu tidak sadar jika kamu itu adekan kami semua. Baru umur 4 tahun saja sudah berani menggombal seperti ini. Kalau terserang flu sudah tidak di jilat, atau makan sudah bisa sendiri, baru kamu bisa gombal!” omel Zahida.
Anna tak suka melihat kekerasan, dan kasihan melihat Baldwin. Anna berdiri, ia berjalan mendekati Baldwin, dan memeluknya.
“Cup…cup..Bawin (Baldwin) jangan nangis ya?” Anna mengelus, dan meniup ubun-ubun Baldwin, “Huuu..huuu…sudah atu embus agal sakit nya ilang,” sambung Anna menenangkan Anna.
Merasa senang di peluk oleh Anna, Baldwin menyandarkan kepalanya, dan berpura-pura menangis, “Hua…sakit.. di sini sakit, Kak Anna,” rengek Baldwin sengaja, sebelah matanya menyipit, dan lidahnya menjulur, mengejek Azka, dan Zahida, menatapnya dengan suram.
Dengan kepolosan, dan kebaikan Anna, Anna mengelus ubun-ubun Baldwin, dan menghembusnya sekali lagi. Hal itu membuat Zahida, dan Azka, semakin meradang menahan emosi, dan amarah saat di depan Anna, karena mereka sangat tahu kalau Anna tidak suka melihat orang marah, dan melakukan kekerasan.
Maklum saja, namanya Baldwin keturunan tuan muda Alexdian, sudah pasti darah playboy, kelicikan, dan kenakalan mengalir ke Baldwin. Rasa terus ingin mengejar seseorang dan pandai berakting juga nurun dari Vanesha.
Azka memegang bahu Anna, “Dek,” panggil Azka, ia sudah tidak tahan melihat Anna terus di tipui Baldwin.
“Iya bang,” sahut Anna, kepalanya menoleh sedikit ke Azka berdiri di sisi kirinya.
“Kepala abang tiba-tiba pusing, apa adek nggak mau embusin kepala abang?” pinta Azka berbohong, agar Anna melepaskan pelukannya dari Baldwin.
“Hem,” angguk Anna, ia juga melepaskan pelukannya, dan berdiri di belakang Azka, memijat kepala Azka.
Azka sendiri menjulurkan lidahnya, mengejek Baldwin, terlihat tampak kesal karena Azka berhasil membujuk Anna.
.
.
Di luar negeri, tempatnya kediaman Azzuri. Rumah mewah dengan nuansa klasik modern, dengan semua benda di dalamnya dari bahan antik. Terlihat Azka, duduk di sofa berbahan kulit dengan warna maroon. Di belakang sofa Azzuri sudah berdiri Jack, dan di sofa sisi kirinya sedang duduk seorang wanita muda, dan cantik. Rambut ujungnya ikal berwarna ungu gelap. Azzuri terus memandangi wanita muda itu, sebut saja Zalfa Hanin. Zalfa terus di pandang seperti itu merasa geer, dan salah tingkah.
“Maaf, kenapa tuan mengundang saya ke sini?” tanya Zalfa, tangannya menyelipkan rambutnya di belakang daun telinga, dan meletakkannya ke belakang, membuat jenjang leher putih mulus dan terdapat tato kupu-kupu terlihat.
“Kenapa waktu acara itu kamu tidak datang?” tanya Azzuri dingin, mengingat ia sudah capek-capek pesan tiket pesawat untuk segera bertemu dengan Zalfa di acara salah satu undangan, tapi Zalfa malah tidak datang.
“Oh…saya sedang ada urusan. Kenapa tuan bertanya seperti itu? Apa tuan ingin melihat penampilan saya?”
“Tidak!” ketus Azzuri, tatapan dingin masih terus memandang Zalfa.
“Jadi kenapa tuan bertanya, dan kenapa hari ini tuan menyuruh saya untuk berkunjung ke rumah tuan?” tanya Zalfa lembut.
“Apa kamu saat ini sedang menjalin hubungan dengan orang lain?” Azzuri bertanya.
“Tentu saja tidak. Tapi kalau tuan mau…mau..menjalin hubungan dengan saya, maka saya akan menerimanya,” sahut Zalfa malu-malu.
“ Apa kamu pernah bertemu dengan Aulia?” tanya Azzuri mulai masuk ke topik masalah. Zalfa tadi tertunduk langsung menegak, wajahnya terlihat gugup.
‘Kenapa tuan Azzuri bertanya seperti itu? Apa tuan Azzuri sudah menemukan Aulia. Karena setau aku, waktu aku menemui Aulia, saat itu Azzuri sudah berada di Luar Ngeri, dan Aulia juga sudah langsung kabur. Sekarang entah di mana ia berada. Jika memang benar, bisa habis karir ku!’ gerutu Zalfa ketakutan dalam hati. Tidak ingin di curigai oleh Azzuri, Zalfa mengulas senyum palsu.
“Tentu saja pernah, bukannya kami pernah bertemu saat acara pertunangan tuan mua Alexdian 5 tahun lalu. Saat Aulia sedang mengandung anak kembar milik tuan,” sahut Zalfa tenang, menutupi ketakutannya pada Azzuri.
Siapa sih yang tak kenal dengan Azzuri. Seroang Presdir paling terkejam, licik, dan tanpa hati. Azzuri juga terkena tidak akan pernah melepaskan mangsanya, sebelum ia puas.
Azzuri berdiri, “Zalfa, mari ikut aku ke kamar!” ajak Azzuri, ia berjalan terlebih dahulu.
“Ke-kemar? Kenapa dengan kamar tuan?” tanya Zalfa gugup.
“Jangan berpikir yang macam-macam, aku hanya ingin memberikan kamu sesuatu,” ucap Azzuri berbohong, kedua kakinyaa masih terus berjalan menuju lift ke lantai 3, kamar Azzuri. Diikuti Zalfa, dan Jack.
Azzuri, Jack, dan Zalfa, masuk ke dalam lift menuju lantai 3, menit selanjutnya pintu lift terbuka. Azzuri, Zalfa, dan Jack keluar dari lift, berjalan di koridor menuju kamar Azzuri. Sepanjang melewati koridor, Zalfa terus berdecak kagum, memandang setiap lukisan di pajang di dinding begitu indah, dan ada juga lukisan bernilai 1 milliar.
‘Sepertinya tuan Azzuri benar-benar tertarik padaku. Aku harus benar-benar mendapatkan hati tuan Azzuri, dan menyingkirkan Aulia, sebelum Aulia kembali,’ batin Zalfa mempunyai rencana buruk.
Langkah kaki Azzuri, Zalfa, dan Jack sudah terhenti di depan pintu. Azzuri mengambil kartu pin, menempelkan kartu pin ke handle pintu. Pintu tersebut terbuka.
“Silahkan masuk, dan kamu juga, Jack,” ajak Azzuri, tangannya membuka pintu.
Setelah Zalfa, dan Jack masuk, Azzuri masuk, dan menutup pintu.
“Tuan mau memberikan apa pada saya?” tanya Zalfa, ia menatap Azzuri berjalan, kedua tangannya membuka jas miliknya.