"Bagaimana? Apa kau menerima tawaranku?" tanya seorang pria yang berpenampilan dengan setelan jas bermerk dunia. Matanya menatap gadis dihadapannya dengan sejuta maksud.
"Apa anda akan memenuhi semua kebutuhan saya? Termasuk biaya perawatan tubuh saya yang terbilang tidak murah?" gadis itu mencoba memastikan kembali apa yang ditawarkan oleh pria yang tengah mengunci pergerakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 19. Pernikahan
Kemudian pria itu ditarik keluar oleh mereka berdua dan melangkah keluar. Kebetulan prosesi akad nikah akan segera dimulai. Di mana kedua mempelai duduk bersandingan dan berhadapan dengan penghulu.
"Apa anda sudah siap, saudara Revald Rahardian Burrack?" tanya sang penghulu kepada Revald.
Pria itu mengangguk. "Siap, Pak." jawabnya begitu mantap menatap tegas ke arah penghulu tanpa menoleh ke samping sama sekali.
Sedari duduk di tempat yang entah kenapa terasa sangat menegangkan bagi Revald, dia sama sekali tidak melirik ke arah samping. Meskipun Arruna datang dan duduk di sebelahnya dengan dibantu oleh beberapa WO.
Kemudian sang penghulu berjabat tangan dengan Revald, dan pria itu mulai mengikrarkan janji tertingginya sebagai seorang laki-laki. Mengambil alih tanggung jawab seorang wanita dari walinya.
Meskipun hubungan di antara mereka terdapat sebuah kontrak, akan tetapi janji yang Revald ikrarkan benar-benar nyata.
Hingga selang beberapa detik, kata sah diteriakkan beberapa saksi yang berada di sana. Mereka mengucap syukur karena ternyata Revald sangat fasih melafalkan kalimat yang tidak sembarang bisa diucapkan tersebut.
Setelah menandatangani surat pernikahan mereka, dengan di arahkan oleh petugas WO, pasangan pengantin tersebut disuruh saling berhadapan.
Ada getaran yang tidak biasa mereka rasakan. Namun, segera mereka tepis. Terutama Revald.
Pria itu segera membuang rasa yang begitu aneh dalam dirinya. Satu kali hembusan napas, pria itu kemudian menatap Arruna. Perempuan yang baru saja dia nikahi.
Arruna bingung dengan adat yang ada di negara ini. Terlebih lagi ketika Revald menjulurkan tangannya dan menggantung di udara tepat di hadapannya.
"Buruan, kecup tangan saya." bisik Revald ketika Arruna tidak kunjung meraih tangan Revald dan malah menoleh ke kanan dan ke kiri.
Dari kecil tinggal di Amerika, membuat Arruna tidak terlalu paham dengan budaya yang ada di tanah kelahiran orang tuanya. Wanita itu juga enggan jika diajari oleh sang mama mengenai tata Krama yang ada di sini. Alhasil sekarang Arruna terlihat bingung. Tidak tahu harus seperti apa.
"Kenapa?" tanya Arruna dengan suara lirih dan sedikit mencondongkan wajahnya.
Di negara yang dia tinggali selama ini, tidak sekali pun Arruna melihat ada scene seperti ini ketika menghadiri pernikahan kerabat atau temannya di sana. Yang sering ia jumpai ialah, sepasang pengantin yang sudah dinikahkan akan berciuman di depan para tamu undangan.
"Mempelai wanita, silahkan cium tangan mempelai pria," ujar sang MC yang memandu acara agar berlangsung lancar.
Arruna tetap tidak mengerti. Sampai-sampai membuat Revald gemas sendiri. Bukan. Lebih tepatnya pria itu ingin acara ini cepat selesai. Atau paling parahnya tidak mau kalau sampai keesokan harinya akan menjadi bahan ejekan bagi teman-temannya mengenai sosok istrinya ini.
Tanpa berkata, Revald menarik tangan Arruna hingga tubuh wanita itu terhuyung ke depan dan di detik berikutnya Revald mengecup kening Arruna seraya menaruh tangannya di pinggang wanita itu.
Singkat. Sangat singkat memang. Namun sentuhan dari benda yang terasa lembut dan kenyal di keningnya, mampu membuat tubuh Arruna menegang.
Jika dikulik ke belakang, ini bukan pertama kalinya Revald mencium dirinya dengan sengaja. Namun rasa-rasanya masih sama saja. Membuat Arruna reflek kaget dan sialnya kali ini tidak bisa mendorong tubuh pria itu agar segera menjauh. Apa kata orang-orang kalau dirinya melakukan hal tersebut pada suaminya sendiri. Yang bisa Arruna lakukan ialah mengeram kesal di tempatnya. Menatap tajam pria itu, seolah akan membalas perbuatannya yang telah membuat ia malu di depan banyak orang.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Arruna dengan suara lirih, serta menahan geram. Namun bibirnya tetap mengulas senyuman yang tampak begitu manis.
"Melakukan sesuai perintah MC," jawab Revald sekenanya. Membuat Arruna begitu was-was dengan apa yang akan dilakukan oleh Revald.
kampus rada elit bayar e
ubaya
petra
kampus yg standart
itats
unipra
stesia
wijaya
hangtua
upn
17agustus
tinggal pilih
itu bukan manja tp kebablasan
salah asuham
gkk bahaya tah