Nara seorang gadis biasa dan sederhana terpaksa harus menikah dengan pria yang tidak pernah dia kenal sebelumnya karena sebuah surat wasiat dari kakeknya.
Dia harus rela berpisah dengan kekasihnya dan menjalani kehidupan pernikahannya yang bagaikan neraka.
Follow IG Author : @hanania442 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Revan segera berlari kecil mencari keberadaan Nara. Dia mencoba memanggil nama wanitanya, namun tidak
ada jawaban. Sepertinya Nara sedang beristirahat dikamar tidur mereka.
Betul saja ketika Revan membuka pintu kamar terlihat Nara sedang duduk di tepi ranjang menghadap ke arah luar jendela.
Revan berlutut tepat dihadapan Nara dan menggenggam erat kedua tangan istrinya dan mencium tangan itu dengan satu kecupan.
Nara tak bergeming. Dia tetap menatap kosong kearah luar jendela.
Revan heran dengan sikap Nara yang terlihat dingin dan tidak peduli dengan kehadiranya.
Namun kini Revan tidak perlu cemas karena beberapa saat lalu dia baru saja membaca sebuah artikel tentang kehamilan, dalam artikel itu mengatakan bahwa mood wanita hamil memang sering berubah. Apalagi di kehamilan trimester pertama ini.
Sejak mengetahui Nara hamil. Revan jadi sering mencari berita tentang kehamilan, bahkan dia sudah mendapatkan nama untuk calon bayinya.
Sepertinya dia harus segera memberi tahu Nara tentang nama untuk bayi mereka kelak.
Tetapi ada berita besar yang lebih penting dan Revan yakin berita ini akan membuat Nara sangat bahagia dan moodnya akan membaik.
Revan beranjak duduk di samping Nara.
“Ada berita bahagia untukmu,” ucap Revan menatap Nara dengan senyumman.
Namun Nara hanya menoleh sekilas lalu mengabaikan kembali Revan.
“Hei,, kamu kenapa?”tanya revan
Revan menghembuskan napas kasar. Menahan emosinya. Memang butuh kesabaran yang penuh untuk menghadapi wanita hamil.
“Baiklah, aku akan menceritakan berita baik itu apa walaupun kamu tidak bertanya.”
“Papa sangat bahagia mengetahui bahwa dia akan menjadi seorang kakek dan papa akan memberikan semua perusahaannya kepadaku, dan semua kuasa penuh ada padaku ketika anak kita lahir nanti.” ucap Revan dengan bangga di hadapan Nara
“Selamat!” jawab Nara dengan tetap
“Nara, kamu terlihat tidak senang dengan berita ini?” Revan meraih pundak Nara dan memposisikan agar Nara menghadap padanya.
“Dengarkan, walaupun semua itu atas namaku. Kamu juga memilik hak yang sama denganku karena kamu istri dan ibu dari anak-anakku.”
“Ceraikan aku, Revan.”
“Kamu sedang bercanda? Aku tidak suka candaan murahan seperti ini."
"Ini bukan candaan."
Revan berusaha mencerna apa yang baru saja di katakan Nara. Berharap semua itu hanya salah mendengar.
“Ini enggak lucu Nara. Kamu marah karena aku terlambat pulang dan tidak membawakanmu cemilan? Baiklah jangan marah lagi setelah aku mandi kita akan makan di luar.”
Revan beranjak dari duduknya dan membuka kancing kemejanya satu persatu dan bersiap untuk mandi. Namun, Nara mengucapkan kata-kata itu lagi.
“Aku serius Revan. Aku ingin kita bercerai,” ucap Nara dengan derai air mata.
Revan terdiam membeku. Untuk bernapas saja rasanya sangat sulit. Terasa sangat sesak dan sekujur tubuhnya seperti tersengat aliran listrik.
“Aku tidak sanggup jika harus berbagi cinta. Aku tidak ingin membagi suamiku dengan wanita lain.”
Nara menundukkan wajahnya dan meremas pinggiran ranjang dengan kedua tangannya. Berusaha menguatkan dirinya sendiri.
“Nara jangan seperti ini. Aku mohon kita sudah berjanji memperbaiki semuanya. Apakah ini ada hubunganya dengan Natali? apa wanita itu mengatakan yang tidak-tidak padamu?”
“Ini tidak ada hubunganya dengan Natali. Aku sudah tahu semuanya Revan. Jangan terus menutupi kesalahanmu. Itu membuatku semakin muak!”
Aku memang bukan semangatmu, aku hanya pendukung berlidah kelu. Membiarkanmu pergi memang bukanlah cara terbaik, tapi aku memintamu untuk kembali pun bukan cara yang tepat. Biarlah semua ini mengalir dengan semestinya.
"Nara, katakan dengan jelas. Apa yang sebenarnya kamu bicarakan."
"Di saat seperti ini kamu masih saja bersandiwara. Apa kamu pikir selama ini aku bodoh tidak berdaya. Aku berusaha menahan semuanya untuk keluarga kita. Tapi semuanya hancur karena ke bohongan demi ke bohongan yang kamu ciptakan. Begitu sulitkan kamu berkata jujur padaku."
Revan terduduk lemas di bawah kakiku. Dia terdiam, membeku tanpa kata.
Hatiku semakin sakit terasa tercabik - cabik. diamnya itu sudah menjawab semuanya, bahwa memang benar adanya. Ada wanita lain di kehidupan kami.
"Siapa yang mengatakan ini padamu?"
"Apakah hanya itu yang kamu ingin tahu. Lalu bagaimana dengan perasaanku, apa kau pernah bertanya bagaimana perasaanku saat mengetahui semua pengkhianatan ini."
"Aku tidak sanggup untuk mengatakan ini padamu, Nara."
"Brengsek, ****. Kamu sudah menghancurkan semua impian kita! Aku kau anggap apa selama ini?"
"Nara, aku akan menjelaskan semuanya saat kamu sudah tenang."
Revan keluar dari kamar. Menutup rapat pintu.
Begitu pentingkah wanita itu, sampai kamu tidak jujur padaku. Lalu untuk apa dia mempertahankan aku selama ini.
Dengan polosnya aku selalu menantinya pulang ke rumah, memberikan aku seluruh cinta dan perhatiannya.
Namun, semuanya hanya sandiwara belaka. Sandiwara saling mencintai.
Jangan lupa 👍 ❤️Vote & Comment
Follow IG Author: @hanania442
sejauh ini memang menarik ceritanya....
Mampir jg ke novelku ya : HARD TO SAY GOODBYE, ini bikin baper jg lho... Thx...