NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Status: tamat
Genre:Romantis / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 4.9
Nama Author: mommy Eng

(Spin off dari The love story'of Single Parents)
Disarankan membaca novel The love stroy of single parents dulu, agar mengetahui bila Raka dan Jodhi itu tidak bisa terpisahkan.

🌺🌺🌺


Novel ini bergenre Romantis Dewasa, dengan membaca ini, pembaca berarti telah mengerti jika jalan cerita membutuhkan kebijaksanaan yang lebih.

***
Galuh, wanita itu merasa hidupnya hancur kala mengetahui jika suaminya telah menikahi wanita lain secara siri tanpa sepengetahuan dirinya.

Hingga takdir mempertemukan dirinya dengan duda yang notabene merupakan Ayah dari murid tempat dia mengajar. Bisakah mereka bersama? Saat rival masing-masing menghantam tak kenal kasihan?

***

Cintanya yang bertepuk sebelah tangan kepada Lintang membuat Jodhi memiliki sedikit dendam kepada teman semasa SMP- nya itu. Tak di nyana, di masa depan ia bertemu dengan Lintang yang menjadi wanita malam.

Kejadian fatal malam itu membuat Lintang harus mengandung benih dari Jodhi. Sialnya, Jodhi harus kehilangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Eng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Hati yang terluka

Bab 19. Hati yang terluka

.

.

.

...🌺🌺🌺...

Citra

Pertahanannya seketika runtuh kala melihat Ayah yang baru pulang dengan seorang wanita yang terlihat membawa paper bag.

Ayah baru pergi belanja? Tanpa aku?

Ia marah kepada Ayah. Ayah selalu tidak bisa seperti Ibu, Oma, Mbak Nining bahkan tidak seperti Bu Galuh.

Ayah selalu menjadi Ayah yang selalu sibuk dengan dunianya.

Bukan tanpa alasan, Citra memang benar-benar haus perhatian Raka. Sepeninggal ibunya, ia memang menjadi serakah dan ingin memonopoli kasih sayang Ayah. Tapi apakah itu salah?

Ia berharap, sedikit waktu yang Raka miliki dari kesibukannya bekerja itu, bisa Raka luangkan khusus untuk dirinya. Tapi kenyataannya? Ayah merupakan orang sibuk dan Oma bilang laki-laki memang akan sibuk.

Ia menangis dengan posisi tengkurap. Melebur emosinya dengan menangis. Entah mengapa ia tak mau menjawab apapun saat dia marah.

" Anak Ayah kenapa, hm?" Ia hanya diam saat merasakan tangan besar itu mengusap punggungnya yang mungil.

" Maafin Ayah ya? Tadi Ayah jenguk temen ayah dulu!"

Ia tak mau menjawab dan berjanji tak akan bicara. Citra kesal sekaligus kecewa. Kenapa Ayahnya tidak mau mengerti.

Merasa di abaikan, Raka diam seraya terus mengusap punggung anaknya. Ia menarik napas panjang guna menetralisir rasa pengap di dada demi melihat reaksi Citra yang merajuk.

Jelas ini suatu beban untuknya.

" Citra...!" Panggil Ayah lagi namun ia sama sekali tak mau menjawab.

Raka menghembuskan nafasnya pasrah. Anak itu persis ibunya. Jika sudah marah, lebih banyak diam dan tak mau berbicara.

.

.

Raka

Pintu itu terlihat mengayun setelan beberapa saat lamanya Raka berada di dalam. Menampilkan sosok Mama dan Kalyna yang rupanya berdiri diluar. Entah sejak kapan?

"Gimana Citra?" Tanya Mama cemas.

" Dia ketiduran. Kecapekan nangis!" Sahutnya dengan wajah lesu.

" Persis ibunya dulu. Kalau lagi marah sama kamu, nangis terus sampai hatinya lega terus ketiduran!"

Membuat kesemuanya terdiam.

" Lagian kamu ini, pergi enggak tanggung-tanggung kamu!"

" Itu anak di pikir Ka. Mau mama seharian disini, Nining juga, tapi tetep kamu yang berperan penting disana. Anak itu lagi butuh-butuhnya sosok orang tua!"

Mama mencecarnya dengan omelan. Dan ia terima akan hal itu. That's my bad!

" Dewi mana ma?" Tanya Raka sejurus kemudian penuh kecemasan. Mengabaikan ocehan mama yang memang benar adanya.

" Pulang. Tadi dia bilang suruh nyampaikan ke kamu kalau...!" Sahut Mama terdengar kurang suka.

" Aduh Raka enggak enak sama Dewi ma, CK!"

Raka mendecak frustasi. Ia takut jika Dewi tersinggung dengan kelakuan perilaku Citra yang secara kasar menolak mainan yang wanita itu belikan. Dan itu sukses membuat mama makin kesal.

" Ka! Anak kamu itu lebih penting. Kenapa kamu justru khawatir akan orang lain. Dewi aja ngerti kalau Citra itu marah sama kamu. Ini kamu malah ngawatirin yang enggak-enggak!"

" Anak kamu itu marah karena merasa waktu Ayahnya selalu habis untuk orang lain!" Tutur Mama terdengar marah.

Oh astaga!

" Mama bener mas. Mas Raka ini harus sadar kalau peran mas itu peran ganda. Mas inget itu!" Tutur Kalyna turut geram dengan kakaknya.

Raka tertegun dengan ucapan adiknya yang terdengar memukul telak kesadarannya itu. Dari mana bocah SMA itu mendapat kata-kata menohok seperti itu.

" Mama senang kamu mau dekat dengan orang lain. Tapi tetap libatkan Citra dalam apapun. Sebab tujuan kamu tak lain ialah Citra. Jangan pernah lupakan hal itu Ka!"

.

.

Dibawah temaram lampu balkon kamarnya, Raka menghisap rokok dalam-dalam. Ia tak bisa memejamkan matanya barang sejenak pun. Otaknya benar-benar penuh dengan berbagai hal yang membuat dirinya terjaga.

"Ayah jahat!"

Tentang Citra yang marah dan harus ia akui jika itu salahnya. Perasaan tak enak hati kepada Dewi atas sikap Citra yang tidak sopan, dan masih banyak lagi serentetan hak yang membuatnya pusing. Termasuk perkataan mama yang mengatakan jika ia harus melibatkan Citra untuk urusan apapun.

"Mama senang kamu mau dekat dengan orang lain. Tapi tetap libatkan Citra dalam apapun. Sebab tujuan kamu tak lain ialah Citra. Jangan pernah lupakan hal itu Ka!"

Dan itu benar adanya.

Ia sebenarnya mulai tertarik dengan Dewi, wanita itu menurutnya merupakan sosok yang hangat dan idealis. Terlebih, pemikirannya selalu membuat Raka takjub. Mungkin Citra masih perlu waktu sedikit lagi agar mau mengenal Dewi, begitu pikirnya.

Namun, di saat ia masih gencar memetakan segala pikiranya yang semrawut, sekelebat wajah seseorang melintas tanpa izin ke otaknya. Wajah lelap Galuh tadi siang lagi-lagi datang dan membuatnya tersentak.

"Sialan! Kenapa wajah wanita itu tidak mau hilang dari ingatanku sih!"

Raka seketika menggelengkan kepalanya agar bayangan wajah itu rontok dan gugur dari otaknya. Sungguh, Raka sama sekali tak mengerti dengan dirinya sendiri.

Kenapa wajah itu menyelinap masuk ke otaknya? Sial!

.

.

Galuh

Malam ini terasa dingin sekali. Ia melirik jam dan ternyata sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Kemana mas Adi pikirnya. Kenapa tempat tidur sebelahnya masih kosong.

Namun sejurus kemudian, pintu kamarnya terlihat mengayun, dengan gerakan cepat ia pura-pura memejamkan matanya.

Dari gerakan yang ia dengar, mas Adi terlihat mengganti bajunya dengan setelan pakaian tidur. Sejurus kemudian pria itu mematikan lampu di kamarnya.

Tubuhnya turut bergoyang saat mas Adi membaringkan tubuhnya tepat di sampingnya. Ia bisa merasakan jika mas Adi juga menarik selimut yang sama dengan yang ia gunakan.

Posisi Galuh yang memunggungi Adipati membuat pria itu tak mengetahui bila ia saat ini tengah menitikan air matanya.

Galuh menangis dalam diam.

Dari lampu yang berpijar redup itu, bisa ia simpulkan jika suaminya itu tengah menyalakan ponselnya. Siapa juga yang ia hubungi malam-malam begini? Dan apa yang barusaja pria itu lakukan diluar?

" Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari pernikahan ini mas?"

Galuh menahan sesak di hatinya. Air mata itu mengalir dan merembes hingga ke bantalnya, bahkan tanpa suaminya ketahui.

Malam hangat yang ia dambakan, nyatanya hanya omong kosong belaka.

.

.

Pagi hari ia melihat ponsel Mas Adi yang tergeletak di atas kasur mereka. Suara gemericik air menandakan jika suaminya itu belum selesai dengan ritual mandinya.

Terselip rasa penasaran dan ingin tahu histori di ponsel suaminya. Tapi...untuk apa dia curiga? Toh selama ini mas Adi sikapnya memang begitu kan? Bahkan sejak awal mereka menikah.

Ia bahkan ingat, malam pertama mereka bahkan tidak terlalui seperti pengantin pada umumnya. Pria itu bahkan pertama kali menggaulinya saat mabuk di hari ketiga mereka menikah. Entah dari mana, mas Adi pulang-pulang sudah dalam keadaan sempoyongan.

Ia ingat betul saat itu, bahkan ia sempat tak percaya jika suaminya itu mencabut penyatuan mereka sesaat sebelum kelelakianya hendak memuntahkan isinya.

Detik itu juga, ia tahu jika Adipati benar-benar masih belum mau menerimanya. Dan dari sanalah pula, semua itu menjadi cikal bakal dirinya yang mengkonsumsi pil KB.

" Kamu enggak ke sekolah?" Ia tersentak dari lamunannya saat melihat mas Adi yang sudah berada di ambang pintu kamar mandinya.

" Hari ini terakhir mengajar privat. Jadi aku masih akan berangkat siang!" Sahutnya.

" Privat? Dimana? Sejak kapan?" Mas Adi nampak ingin tahu, tak seperti biasanya.

Galuh menatap punggung lebar suaminya yang kini hendak meraih ****** *****. Tentu saja dia tidak tahu apapun. Bahkan pria itu tidak tahu soal pekerjaannya hingga detik ini kan?

" Sudah seminggu ini!" Sahutnya yang kini membantu Adipati memakaikan kemejanya. Ia tak berani menatap Adipati dan hanya tekun melakukan tugasnya. Ia hanya mau menjalankan tugasnya dengan baik.

" Ibu besok datang...jadi...!"

Ia masih tekun mengancingkan satu persatu kancing kemeja suaminya. Menarik napasnya dalam dan bersiap untuk mendengar kalimat berikutnya.

" Aku harap kita tidak ribut lagi saat ada papa dan mama!"

Galuh menelan ludahnya. Apakah sedikitpun kau tidak memikirkan perasaanku mas?

" Tenang aja, bukankah ini bukan pertama kalinya aku harus berlakon?" Ucapnya masih tekun dengan pekerjaannya. Ia sama sekali tak menatap Adipati, namun kini sibuk beralih membuat simpul dasi untuk suaminya.

Ia bisa melihat jakun mas Adi yang naik turun, jelas menandakan jika pria itu pasti terpojokkan dengan ucapannya.

" Jangan pikirkan diriku. Tetapi pikirkan dirimu sendiri....!" Ia menarik simpul dasi itu dengan tajam, membuat tubuh Adipati turut berguncang.

Sejurus kemudian ia menatap tajam mata suaminya, " Sebab di mata orang tua, kita ini masih anak-anak untuk mereka. Sekecil apapun kebohongan yang kita lakukan, mereka bisa mengendus hal itu dari kejauhan!"

Galuh seketika melesat pergi usai mengatakan hal itu. Meninggalkan Adipati yang diam mematung karena jelas tengah terpukul oleh ucapannya.

.

.

.

1
Khairul Azam
astaga naga mulutnya,
Khairul Azam
itu nanti tau rumah yg ditinggali lintang jhodi semakin bertambah rasa bersalahnya
Khairul Azam
melok nangis aku, bener" sensitif banget aku klo menyangkut anak dan keadaan seperti lintang ini, dulu aku jg seperti itu, pisah sama mantan suami pas anakku umur kurang dua bulan, aku keluar dari rumahku sendiri cuman bawa anak gak punya uang, pas anak umur 9bln aku krj Alhamdulillah skrng aku bisa nyukupi anak punya tabungan punya kebun, dan mantan suamiku skrg hidupnya ya begutu" saja. iihh jd curhat
Khairul Azam
heran ya sama orang" itu, makan jg gak minta mereka
Khairul Azam
udah baca aku, bagus jg ceritanya
Khairul Azam
aku pas baca mas kawinya langsung tak hitung 😅😅😅
Khairul Azam
bukan nya waktu galuh nyamperin si adi sama maya, waktu itu si maya udah hamil ya? lha kq numpk skrng blm lahir jg
Khairul Azam
kasihan dwwi dia masih kecil gak tau apa" kenapa ditaruh panti asuhan, meski bukan anak kamdungnya kenapa gak dirawat aja orang anak kecil
TongTji Tea
astagaa...sambil makan pecel aku pas baca ini untuk kesekian Kali nya 😩😓.kawusss tenan.
Mommy Eng: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
TongTji Tea
Disini aku jadi meragukan Jodi. badboy beneran Nggak sih? padahal kalo badboy itu biasanya lebih peka ,lebih antisipasi .Bukan sekedar ena2 aja .Jadi kalo mudah banget masuk perangkap Dewi y jodhi ini Masih amatiran 😂
Lia Kiftia Usman
Luar biasa
Lia Kiftia Usman
he eh...😊 nikmat mana lagi yg kamu dustakan
Siti Zubaedah
Luar biasa
Egi Zen
aku ingin kisah Denok dan Jojon dan rumah baru lintang dan mantan2 jodhi
Irawati Soetojo
Sampai kemekel.....astaga
Phiphiet Safitri
Luar biasa
Cha Zharaa
kok jd kpikiran itu calist ya
Muhammad Jain
Kecewa
Mommy Eng: kak jika tidak suka tolong jangan kasih rate dua. Tinggalkan saja dan tidak usah baca
total 1 replies
Widia Annisa Santoso
akhirnya berakhir dg bahagia...🥰
Ennyyl
AQ kok keingat Tini ya. kalau ada mbk denok
Khairul Azam: hahhahh sama, novelnya juskelapa
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!