Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.
Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.
Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.
Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Sungai Naga Hijau
Dunia kultivasi di alam bawah ini telah lama terbagi oleh dominasi tiga sekte besar yang saling mengunci kekuatan. Di puncak tertinggi berdiriah apa yang disebut sebagai Sekte Naga Hitam, yaitu sebuah faksi yang teramat kuat namun dipenuhi dengan kekejaman, korupsi, serta nafsu ekspansi yang tidak pernah surut. Sementara Sekte Pedang Suci berada di peringkat kedua, menjunjung tinggi keadilan namun memiliki sifat yang teramat eksklusif serta sangat selektif dalam menerima pengikut. Kemudian ada pula Sekte Garuda Putih tempat Zhao Fei bernaung berada di posisi ketiga, sebuah faksi yang kuat meskipun belakangan ini mulai terdesak oleh pergerakan para rivalnya.
Perselisihan maut di antara ketiga sekte besar itu telah diwariskan turun-temurun, berakar dari perbedaan ideologi yang tajam serta perebutan wilayah sumber daya spiritual. Jika telusuri di masa lampau, perang besar pernah pecah hingga menewaskan ribuan kultivator berbakat, menghancurkan ratusan desa, serta membuat aliran sungai berubah warna menjadi merah pekat oleh genangan darah. Kendati sebuah kesepakatan gencatan senjata akhirnya disetujui setelah jatuhnya banyak korban, perdamaian itu tidaklah tulus dan hanya bertindak sebagai jeda sementara bagi masing-masing faksi untuk memulihkan kekuatan.
Sedangkan situasi justru menjadi semakin rumit ketika sebuah faksi baru bernama Sekte Ular Berbisa memunculkan diri ke permukaan setelah gencatan senjata itu dideklarasikan. Kelompok itu sangat membenci perdamaian semu yang tercipta, sehingga mereka kerap melakukan berbagai keributan serta mengirim pembunuh bayaran guna memicu adu domba di sepanjang garis perbatasan. Zhao Fei sangat menyadari bahwa keputusannya untuk menetap di Sekte Garuda Putih merupakan pilihan yang paling tepat. Faksi itu tidaklah mengekang pergerakannya, tidak menjadikannya sebagai alat politik, serta menyediakan ruang yang sangat luas bagi dirinya untuk tumbuh memulihkan kekuatan murni sebelum menuntut balas pada Li Tianming.
Dua ekor kuda berjalan menyusuri sebuah jalan setapak sempit di pinggiran tebing batu yang terjal. Di sisi sebelah kanan, dinding batu raksasa menjulang tinggi, sedangkan di sisi sebelah kiri terhampar sebuah jurang dengan aliran Sungai Naga Hijau yang mengalir sangat deras di dasarnya. Air sungai itu berkilauan diterpa terik matahari yang telah bergerak jauh melintasi kubah langit.
Mereka telah menunggangi kuda selama hampir setengah hari perjalanan, dengan tiga kali melakukan pemberhentian singkat untuk sekadar mengistirahatkan fisik hewan tunggangan. Zhao Fei memalingkan wajahnya ke arah samping, menatap gadis yang berkuda di dekatnya. "Seberapa jauh lagi jarak yang harus kita tempuh untuk mencapai lokasi?"
Liu Xue tidak segera memberikan jawaban langsung atas pertanyaan itu, melainkan memilih untuk memaparkan detail mengenai misi pertama mereka sebagai anggota divisi khusus. Dia menjelaskan bahwa sebuah desa yang terletak di kaki gunung telah melayangkan permohonan bantuan darurat kepada pihak Sekte Garuda Putih. Hubungan antara desa itu dengan pihak sekte telah terjalin sejak puluhan tahun silam, di mana para nenek moyang warga desa pernah memberikan kontribusi besar dalam membantu pasukan sekte selama perang besar melanda. Sebagai bentuk imbalan atas jasa masa lalu itu, pihak sekte telah mengikrarkan sebuah janji setia untuk memberikan perlindungan mutlak kepada seluruh keturunan desa itu selamanya.
Namun, saat ini pemukiman itu tengah berada dalam kondisi penderitaan yang sangat mematikan. Bagaimana tidak, aliran sungai besar yang menjadi sumber vital bagi kehidupan harian mereka mendadak tercemar oleh zat asing misterius. Dampaknya teramat masif, menyebabkan seluruh tanaman ladang mengalami gagal panen, hewan-hewan ternak mati secara mendadak, serta puluhan warga mulai diserang oleh penyakit ganjil.
Zhao Fei mengagguk paham setelah memastikan seluruh informasi yang baru saja didengarnya. "Jadi, keluhan utama yang mereka sampaikan adalah perihal kegagalan panen, kematian mendadak hewan ternak, serta pencemaran air sungai. Saat ini beberapa warga bahkan sedang berada dalam perawatan intensif oleh tabib setempat, tetapi kendala terbesar mereka tetaplah berupa kesulitan untuk mengakses pasokan air bersih."
Liu Xue memberikan isyarat setuju dengan gerakan kepala yang minimalis. "Benar, itulah seluruh rangkaian petaka yang sedang melanda mereka saat ini."
"Aku akan memprioritaskan tindakan untuk menyembuhkan seluruh warga yang sakit terlebih dahulu begitu kita menginjakkan kaki di sana," cetus Zhao Fei. "Setelah urusan keselamatan jiwa mereka teratasi, kita bisa segera bergerak untuk melacak titik pusat dari pencemaran air sungai itu. Aku berharap kita dapat menemukan pelaku di balik tindakan keji ini dalam waktu sesingkat mungkin."
Gadis itu memberikan isyarat setuju melalui tatapan matanya. "Rencana yang kau susun sangat tepat, dan hal itu memang yang menjadi alasan utama mengapa pihak dewan sekte mengutus kita ke tempat ini."
Tidak lama kemudian, kedua kuda mereka akhirnya memasuki kawasan perbatasan desa yang tampak sangat sepi dan gersang. Seorang pria paruh baya yang bertindak sebagai perwakilan desa segera menyambut kedatangan mereka dengan wajah yang dipenuhi oleh ketergesaan serta rasa cemas. Tanpa membuang waktu untuk melakukan basa-basi formal, pria itu langsung menuntun langkah kaki kedua utusan sekte menuju ke arah bangunan aula utama desa.
Di dalam ruangan bangunan yang luas itu, pemandangan yang teramat memprihatinkan segera tersaji di depan mata. Puluhan orang warga terbaring lemah di atas lantai, sebagian menggunakan tikar anyaman bambu, sementara sebagian lagi hanya beralaskan selembar kain tipis. Kulit wajah mereka terlihat sangat pucat, dipenuhi oleh kemunculan bintik-bintik merah yang meradang di sekujur tubuh, disertai batuk yang terdengar bersahut-sahutan tanpa henti. Adapun beberapa orang ibu tampak memeluk erat anak-anak mereka yang menangis parau menahan rasa sakit.
Pria perwakilan desa itu memberikan penjelasan dengan bergetar karena menahan kesedihan. Dia menceritakan bagaimana aliran air sungai yang semula jernih mendadak berubah warna menjadi keunguan pekat dalam waktu satu malam, disusul oleh kematian massal hewan ternak serta tumbangnya para warga secara bertahap. Beberapa warga yang masih memiliki sisa kekuatan vokal ikut memberikan kesaksian bahwa mereka sempat melihat kemunculan sepotong bayangan misterius yang melayang bebas di udara pada malam bulan purnama yang lalu. Tepat setelah kemunculan bayangan itu, keesokan paginya air sungai langsung berubah fungsi menjadi racun yang mematikan. "Penyihir jahat," bisik beberapa warga dengan dipenuhi oleh ketakutan.
Mendengar itu, Liu Xue lantas mendekat, lalu mendekatkan bibirnya di dekat telinga Zhao Fei. "Aktivitas keji seperti ini merupakan ciri khas dari pergerakan Sekte Ular Berbisa. Mereka sering menggunakan berbagai jenis racun spiritual untuk mengacaukan stabilitas keamanan di sepanjang wilayah perbatasan sekte kita."
Zhao Fei menggerakkan kepalanya sedikit ke bawah, menandakan bahwa dirinya telah memahami arah pergerakan musuh dengan sangat baik.
Dia kemudian melangkah maju menuju ke bagian tengah ruangan aula yang dipenuhi oleh keluhan sakit. Dari balik lipatan jubah latihannya, tangan kanan Zhao Fei mengeluarkan sebuah wadah berupa botol kendi kecil yang terbuat dari kayu. Di dalam botol itu tersimpan cairan berwarna keemasan berkilau, yang merupakan hasil larutan murni dari sebutir Pil Jawaban Seratus Penyakit milik dimensi lamanya.
"Aku membutuhkan bantuan untuk menyediakan beberapa cawan atau gelas bersih," ujar Zhao Fei. "Ramuan cair yang berada di dalam wadah ini akan dibagi secara merata untuk diminum oleh seluruh warga yang sakit secara bergantian."
Pria perwakilan desa itu segera menunduk patuh, memberikan isyarat setuju sebelum bergerak cepat mengumpulkan cawan-cawan kosong milik warga. Kendati demikian, sebersit gurat keraguan yang teramat besar terlihat jelas tercetak pada raut wajahnya. "Mohon maaf atas kelancangan pertanyaanku, Tuan Utusan, tapi apakah cairan di dalam botol kecil ini akan memiliki kapasitas yang cukup untuk mengobati puluhan orang warga sekaligus? Apakah ramuan ini benar-benar sanggup memberikan kesembuhan total bagi penyakit mengerikan ini?"
Belasan warga lain yang mendengar ucapan itu mulai saling berbisik, menyebarkan gelombang keraguan di dalam ruangan aula. Namun, ingatan kolektif mengenai status pemuda di hadapan mereka sebagai seorang murid kelas atas dari Sekte Garuda Putih, faksi agung yang telah bersumpah untuk melindungi leluhur mereka sejak puluhan tahun silam, seketika meredam kepanikan. "Kami menaruh kepercayaan penuh pada kemampuan dari pihak sekte," ucap pria itu, memantapkan tekadnya.
Pembagian ramuan obat pun segera dilaksanakan dengan tertib. Setiap warga mendapatkan jatah satu tegukan kecil cairan keemasan dari cawan masing-masing, meminumnya secara bergantian di bawah pengawasan Zhao Fei.
Hanya dalam hitungan beberapa saat setelah cairan magis itu melewati tenggorokan mereka, sebuah keajaiban yang luar biasa murni mulai memunculkan hasilnya di depan mata.
"Lihat! Seluruh bintik-bintik merah yang meradang di permukaan tanganku... mendadak hilang tanpa bekas!" seru seorang pria penuh kegembiraan.
"Suhu tubuhku tidak lagi terasa panas, demam tinggi ini telah turun sepenuhnya!" timpal seorang wanita di sudut ruangan.
"Rasa gatal yang membakar kulitku tidak lagi terasa!"
"Kekuatan kakiku telah kembali, aku sudah bisa berdiri lagi!"
Pria perwakilan desa yang pada awalnya sempat menaruh keraguan besar atas khasiat obat itu seketika menekuk pinggangnya, membungkuk berkali-kali di hadapan Zhao Fei dengan penuh penyesalan. "Mohon ampuni segala bentuk kelancangan dan kebodohanku sebelumnya, Tuan Tabib Agung. Aku telah berani meragukan kapasitas kemampuan luar biasa yang kau miliki."
Zhao Fei hanya memberikan seulas senyuman tipis di wajahnya. Pandangan matanya kemudian bergerak beralih menatap ke arah Liu Xue yang sejak tadi tampak berdiri bersandar di samping kusen pintu utama aula. Gadis itu membalas tatapannya dengan sebuah senyuman tipis yang hampir tidak terlihat oleh orang lain, namun hal itu sudah dirasa lebih dari cukup bagi Zhao Fei.
Agenda berikutnya berlanjut dengan melakukan penelusuran di sepanjang aliran sungai yang airnya telah berubah warna menjadi keunguan pekat. Beberapa orang warga desa, termasuk pria perwakilan tadi, bertindak sebagai pemandu jalan untuk menunjukkan jalur setapak yang mengarah menuju bagian atas gunung.
Zhao Fei berjalan di posisi paling depan, sambil tangan kanannya diam-diam merasuk ke dalam saku jubah, mengeluarkan sebuah gulungan kecil berbahan perkamen kuno yang merupakan sebuah artefak peta pelacak tingkat tinggi dari dimensi Alam Dewa.
Dia membuka gulungan kecil itu dengan gerakan yang sangat perlahan agar tidak menarik perhatian para pemandu di belakangnya. Seketika itu juga, sebuah cahaya biru tipis menyala di atas permukaan kertas perkamen, menampilkan gambaran topografi lokasi sekitar secara instan yang memuat garis-garis aliran sungai, kontur tebing batu, posisi desa, hingga sebuah titik merah yang tampak berkedip-kedip secara konstan di satu koordinat khusus.
Zhao Fei berbicara dalam hati sembari mengamati pergerakan pendaran magis itu. Artefak Peta Pelacak ini ternyata masih memiliki fungsi yang sangat baik untuk mendeteksi keberadaan energi racun spiritual di alam bawah ini. Titik merah yang berkedip itu tidak hanya menunjukkan lokasi akurat dari sumber pencemaran, melainkan juga memaparkan tingkat kapasitas kekuatan murni dari pelaku penyebaran racun.
"Kekuatan musuh berada pada ranah tingkat lima," bisik Zhao Fei dengan suara yang teramat lirih.
Liu Xue yang berjalan dengan jarak yang cukup dekat di sampingnya mendadak menoleh dengan dahi berkerut penuh kebingungan. "Apa yang baru saja kau katakan?"
"Aku telah berhasil menemukan titik pusat dari sumber pencemaran air sungai ini," jawab Zhao Fei dengan tenang sembari mengembalikan gulungan perkamen ke dalam sakunya. Tangan kanannya menunjuk lurus ke arah sebuah area ketinggian di depan mereka. "Tingkat kekuatan racun murni itu berpusat di sana, tepat di balik aliran air terjun raksasa itu."
Liu Xue memaku pandangannya ke arah titik koordinat yang ditunjuk oleh Zhao Fei, menatap sepotong air terjun raksasa yang berada di kejauhan gunung. Dari jarak pandang saat ini, aliran air yang jatuh tampak terlihat normal tanpa ada keanehan warna, namun tidak menutup kemungkinan adanya aktivitas tersembunyi di balik dinding air itu.
"Wujud bayangan misterius yang disaksikan oleh para warga pada malam bulan purnama kemungkinan besar memang menjadikan area gua di balik air terjun itu sebagai tempat persembunyian mereka," analisis Liu Xue dengan serius. "Akan tetapi, bagaimana mungkin kau bisa menentukan titik lokasi persembunyian itu dengan begitu akurat hanya dengan melihat aliran sungai dari bawah sini?"
Zhao Fei telah mempersiapkan sebuah rangkaian argumen logis yang matang untuk menutupi penggunaan artefaknya. "Seluruh kesimpulan ini aku dapatkan setelah menggabungkan beberapa petunjuk berharga dari kesaksian warga desa. Arah pergerakan bayangan yang mereka lihat di udara, kecenderungan embusan angin malam pada waktu kejadian, serta pola perubahan arus air sungai yang mengandung konsentrasi zat ungu paling pekat di titik pusaran bawah ini. Kemudian jika seluruh variabel logis itu dikalkulasikan secara bersamaan, maka hanya ada satu titik koordinat di atas sana yang memenuhi seluruh kriteria sebagai pusat penyebaran racun."
Pria perwakilan desa yang ikut memandu di belakang mereka mendengar seluruh pemaparan ilmiah itu dengan sepasang mata yang melotot lebar penuh dengan rasa takjub yang luar biasa besar.
"Analisis yang Anda sampaikan benar-benar teramat luar biasa, Tuan Utusan!" puji pria pemandu itu. "Kapasitas kecerdasan yang Anda miliki benar-benar setara dengan seorang jenius agung yang jarang ditemukan di dunia ini!"
Zhao Fei tidak memberikan jawaban vokal untuk menanggapi pujian setinggi langit itu, karena di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah senyuman puas terukir indah saat membayangkan bagaimana reaksi keterkejutan orang-orang itu bilamana mereka sampai mengetahui kebenaran bahwa dirinya baru saja mengeksploitasi sebuah artefak tingkat dewa dari langit tertinggi untuk menyelesaikan masalah tingkat fana ini. Langkah kakinya kembali dimantapkan, bersiap memimpin barisan bersama Liu Xue untuk menembus misteri yang menanti di balik air terjun beracun.