NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Terpaksa

Di koridor rumah sakit, Ezra dan Darel duduk bersebelahan di kursi tunggu yang berhadapan langsung dengan ruang gawat darurat. Lampu indikator berwarna merah di atas pintu itu seolah menjadi penentu nasib mereka.

Kerenggangan yang selama ini membentang di antara kedua kakak beradik itu seakan menguap begitu saja, ditelan oleh rasa takut yang luar biasa akan kehilangan sosok ibu. Ezra tidak lagi menampakkan wajah angkuhnya. Ia duduk dengan bahu merosot dengan tangan yang saling bertaut. Sementara mata elangnya menatap pintu ruangan itu dengan tajam.

Darel juga sama, ia terlihat begitu rapuh. Ia sesekali mengusap wajahnya, berusaha menahan emosi yang sejak tadi tertahan.

“Aku seharusnya tidak membiarkan Mama menuruti keinginannya sendiri jika akhirnya akan seperti ini,” ucap Darel dengan suara bergetar.

Ezra tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa berat di dadanya.

“Sekarang bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Yang terpenting adalah Mama. Aku... aku hanya tidak menyangka dia akan seserius ini.”

Ezra teringat bagaimana ia sempat membentak ibunya tadi, bahkan menyangka bahwa rintihan kesakitan itu hanyalah akting belaka. Penyesalan itu mulai menggerogoti hatinya. Seandainya ibunya benar-benar pergi karena permintaannya yang egois, ia tidak tahu bagaimana ia akan menanggung beban itu seumur hidupnya.

“Aku tidak pernah berniat menyakitinya, walaupun aku menolak keinginannya,” lanjut Ezra.

Darel menoleh, menatap kakaknya yang terlihat jauh lebih manusiawi daripada biasanya. Tidak ada lagi percikan kebencian di antara mereka, yang ada hanyalah ketakutan bersama pada kemungkinan terburuk. Mereka berdua terdiam lagi, terjebak dalam penantian yang menyiksa, berharap pintu di hadapan mereka segera terbuka dengan kabar yang menenangkan.

Di tengah kekalutan itu, Ezra hanya bisa berharap waktu bisa berputar kembali. Setidaknya agar ia tidak perlu melontarkan kata-kata kasar yang mungkin menjadi penyesalan terakhirnya bagi sang ibu.

Tidak lama berselang, pintu ruang pemeriksaan terbuka lebar. Ezra dan Darel langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar.

“Dokter! Bagaimana keadaan Mama saya?” tanya Darel dengan napas yang memburu.

Dokter itu tidak langsung menjawab. Ia melepas kacamata dan menatap mereka berdua dengan sorot mata lelah.

“Saya ingin bertanya, sebelumnya kondisi Nyonya Amisha sempat membaik beberapa hari yang lalu. Apa yang terjadi hari ini? Mengapa kondisinya bisa drop separah ini?”

Ezra dan Darel saling berpandangan. Keduanya terdiam dan suasana menjadi canggung. Dokter itu menghela napas panjang, memahami bahwa ada masalah keluarga pelik yang sedang terjadi di antara mereka.

“Baiklah, saya mengerti. Yang jelas, serangan jantung Nyonya Amisha kambuh,” lanjut sang dokter.

“Apa Mama sudah sadar, Dok?” tanya Darel tidak sabaran.

Dokter itu mengangguk pelan, namun raut wajahnya tetap tidak memberikan kelegaan, “Nyonya Amisha sudah sadar, tapi kondisinya sangat lemah.”

“Lalu kenapa tidak memberikan kepastian?! Beritahu saya bahwa mama akan baik-baik saja!” desak Ezra dengan suara meninggi.

Dokter itu tetap tenang, walaupun ia mulai tidak nyaman dengan sikap Ezra, “Saat ini kami sedang memasang monitor jantung. Sesaknya cukup parah dan kami sedang berusaha sebaik mungkin untuk menstabilkan irama jantungnya.”

Ezra yang sudah kehilangan akal sehatnya langsung meraih kerah jas sang dokter, “Berusaha?! Saya tidak butuh jawaban itu! Selamatkan Mama saya!”

“Kak Ezra! Tenangkan dirimu!” Darel dengan cepat menarik tubuh kakaknya dan memisahkannya dari dokter.

“Bagaimana aku bisa tenang, Darel?! Dokter ini bahkan tidak menjamin keselamatan Mama!” Ezra menatap tajam ke arah dokter, “Dok, pindahkan Mama sekarang juga ke rumah sakit yang lebih besar. Atau kalau perlu, kirim dia ke luar negeri. Berapapun biayanya, saya tanggung!”

Dokter itu menyela dengan nada datar namun penuh penekanan, “Tuan, sumber dari penyakit Nyonya Amisha adalah stres dan tekanan pikiran yang hebat. Jika lingkungan keluarga tidak mampu menanganinya, tenaga medis terbaik di dunia pun akan gagal. Mohon pengertiannya, Tuan.”

Ezra tertegun. Kalimat itu menamparnya telak. Ia memalingkan wajah dengan napas yang memburu, lalu tanpa peringatan, ia melayangkan tinju ke tembok rumah sakit.

BUGH!

Buku-buku jarinya langsung memerah, namun rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan sesak di dadanya.

“Ini salahku... semuanya salahku,” bisiknya dengan suara bergetar.

Darel hanya bisa menatap kakaknya dengan iba. Ezra yang biasanya angkuh dan tidak tersentuh, sekarang tampak begitu rapuh.

“Sebelum saya masuk kembali, apakah kalian mengenal wanita bernama Azizah?” tanya dokter itu tiba-tiba.

Darel dan Ezra tersentak, menoleh cepat ke arah dokter.

“Azizah?” tanya Darel bingung.

“Benar,” jawab dokter, “Saat dalam kondisi sadar tadi, Nyonya Amisha terus memanggil nama itu berulang kali dengan suara yang sangat lemah. Saya menyarankan, mungkin dengan kehadiran wanita itu, Nyonya Amisha bisa mendapatkan kembali semangat untuk berjuang.”

Ezra langsung melangkah maju, menatap dokter itu dengan tajam, “Anda tidak salah dengar? Untuk apa Mama mencari wanita bisu itu?!”

“Kak, sudah!” Darel segera mencengkeram lengan kakaknya.

Dokter itu hanya menghela napas panjang melihat ketegangan mereka, “Intinya saya sudah memberitahu. Untuk masalah wanita itu, itu urusan pribadi kalian. Saya tidak ikut campur.” Dokter itu kemudian membungkuk sedikit, lalu segera berbalik dan masuk kembali ke dalam ruangan.

Sepeninggal dokter, Darel yang merasa tidak punya pilihan lain demi keselamatan ibunya, akhirnya mengambil keputusan.

“Aku akan menjemput Azizah sekarang.”

Mendengar itu, Ezra langsung meledak. Ia menatap adiknya dengan amarah yang meluap.

“Jangan berani-berani kau membawa wanita itu ke sini! Aku tidak sudi dia menginjakkan kaki di rumah sakit ini!” Ezra mendesis tajam, “Apa kau sudah lupa rencana gila Mama? Dia ingin menikahkanku dengan pembantu bisu itu, Darel! Dan kau justru ingin memuluskan jalannya?”

Darel tidak gentar, ia membalas tatapan kakaknya dengan penuh ketegasan, “Ini demi Mama, Kak! Masalah perjodohan itu bisa kita hadapi nanti setelah Mama sembuh. Tapi untuk sekarang, yang terpenting adalah nyawa Mama!”

Ezra terdiam. Ia mendongak, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya seolah dadanya sesak oleh kebimbangan yang luar biasa. Pikirannya berkecamuk antara ego, harga diri, dan ketakutan akan kehilangan sang ibu. Ezra kembali menatap pintu ruangan tempat ibunya terbaring lemah. Bayangan wajah pucat Amisha yang merintih kesakitan tadi seolah menghujam hatinya.

Perlahan, bahu Ezra yang tegang mulai merosot. Ia menunduk dalam, lalu mengangguk pasrah. Demi sang ibu, ia mengalah.

Darel yang melihat perubahan sikap kakaknya seketika merasa lega. Ia menepuk bahu Ezra dengan ekspresi terharu.

“Terima kasih, Kak,” ucapnya tulus, “Mama pasti akan sangat bahagia melihat betapa kau mencemaskannya seperti ini.”

Tanpa membuang waktu lagi, Darel segera berbalik dan melangkah cepat meninggalkan rumah sakit, berniat menjemput Azizah di rumah agar segera dibawa menemui Amisha.

Sementara Ezra hanya bisa mematung di depan pintu ruang perawatan, menatap punggung adiknya yang menjauh dengan perasaan yang campur aduk.

Seolah tersengat listrik, ingatannya tiba-tiba tertuju pada satu orang yang ia harapkan bisa menjadi sandaran di saat kritis seperti ini. Dengan cepat, ia merogoh saku jasnya dan segera menghubungi Sienna.

“Sienna!” panggil Ezra begitu sambungan terhubung, suaranya sarat akan keputusasaan, “Ke rumah sakit sekarang! Mamaku kritis!”

“Aduh sayang, maaf aku lupa memberitahumu, sekarang aku sedang bersama manajerku di bandara,” jawab Sienna dengan nada yang terdengar sangat santai.

Ezra terbelalak, “Bandara?! Di saat seperti ini kau ingin pergi?!”

“Maaf, sayang, tapi aku harus ke Hawai untuk pemotretan iklan minuman.”

Ezra memejamkan matanya rapat-rapat. Hidupnya sedang berada di titik terendah, namun wanita yang ia cintai justru memilih untuk meninggalkannya.

“Tidak bisakah kau melepaskan itu dan menengok Mamaku? Apa kau tidak ingin mengambil hatinya?! Apa kau sebenarnya tidak berniat menikah denganku?!”

“Sayang! Kenapa kau berpikiran seperti itu? Aku tentu ingin menengok Mamamu. Tapi aku sudah lama menginginkan iklan ini. Kau tahu? Lewat iklan ini terobosan menjadi model terkenal semakin mudah. Kau mau aku sukses, kan?”

“Jadi, kau ingin meninggalkanku?” tanya Ezra dengan suara yang bergetar karena emosi.

“Tidak, sayang. Hanya pemotretan, setelah itu aku pulang. Bagaimana... kalau setelah Mamamu sembuh kau menyusul? Kita liburan bersama.”

Ezra merasa dadanya sesak oleh pengkhianatan terselubung.

“Kau egois, Sienna! Egois! Setelah apa yang kulakukan untukmu, sekarang saat aku membutuhkanmu, kau justru pergi?”

“Sayang.... sudah kubilang ini hanya sebentar. Setelah pemotretan aku pulang. Aku janji. Ya sudah ya, penerbanganku sebentar lagi.”

Tut... Tut...

Sienna mematikan panggilan secara sepihak.

Ezra mematung dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Amarah dan kekecewaan bercampur aduk menjadi satu. Tanpa kendali, ia membanting ponselnya ke lantai hingga layarnya retak. Ia kemudian menyugar rambutnya dengan kasar diikuti napas yang memburu. Ia sudah tidak tahan menahan amarahnya, sekaligus rasa perih di hatinya.

1
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!