Tadinya berjudul OTW Soleha- dibenarkan sesuai KBBI dan novel cetaknya Ayoo beli.
Hidup adalah pilihan, namun takdir adalah sebuah ketetapan. Bukankah kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita akan dilahirkan ? Begitulah yang selalu membuat Bening tidak pernah menyesali hidup yang di jalaninya
Dia besar dan tumbuh di pemukiman lokalisasi prostitusi, Jauh dari pendidikan moral,tata krama, apalagi agama. Yang dia tau, dia dan Ibunya adalah seorang Muslim. Tanpa dia pernah tau apa kegunaan agama itu sendiri hidupnya.
Dia selalu punya rumus berdamai dengan takdir, itu yang membuatnya mampu melewati lingkungan sosial yang menghina, mengucilkan dan selalu menganggapnya "Anak Haram".
Bening remaja mampu melewati badai kepahitan dan membalas semua hinaan dengan senyuman bangga. Bening berada di puncak karirnya sebagai seorang Fashion designer di usia belia.
Sampai pada satu titik balik yang membawanya jatuh dan hampa, sehingga dia mencari apa penyebabnya. Apakah takdir selalu berbaik hati mengiringi perjalanannya mencari jati diri ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA BERIKUTNYA
Kidung malam semakin nyaring terdengar oleh orang-orang yang belum bisa memejamkan mata. Bern misalnya, dia masih dengan pikirannya menatap gadis kecil yang tertidur meringkuk di mobil.
Jelas semua bukan lagi sebuah kebetulan, Bern adalah perpanjangan tangan dari salah satu takdir baik yang telah tercatat untuk Bening malam ini. Baik? apa semua yang sudah terjadi bisa dikatakan takdir baik? tentu saja, karena manusia selalu terlambat menyadari kebaikan takdir. Iya kan?
Bern membiarkan Bening beristirahat sejenak memeluk jerapahnya, sampai mobil berhenti sempurna tepat di depan sebuah bangunan sederhana.
Bening mengerjapkan mata, rasanya tadi dia baru tertidur sebentar. Dia segera duduk dan menyesuaikan penglihatan. Ini sudah bukan lagi di rumah mami Sandra.
Kawasan rumah ini hampir masuk ke perbatasan kabupaten, bukan sebuah perumahan atau pemukiman yang padat penduduk. Bisa di bilang termasuk bangunan rumah kampung yang masih asri dan sejuk. Cukup jauh dari jalan raya dan termasuk daerah yang dekat dengan perkebunan sirsak dan buah naga
"Bern, ini?"
"Ayo masuk dulu!"
Mereka berdua masuk ke dalam bangunan rumah yang tidak terlalu besar itu. Bening memindai pandangan ke seluruh sudut dan arah. Bersih, wangi dan terawat. Seperti rumah yang memang dijadikan tempat tinggal.
Ada figura foto kecil di beberapa sudut. Bening mengambil salah satunya, potret diri seorang perempuan muda berambut pirang dengan seorang anak laki-laki berwajah western.
Ibu dan anak itu berfoto dengan latar belakang sebuah jembatan lengkung raksasa yang di ujungnya terdapat gedung besar berwarna abu-abu berbentuk seperti cangkang. Pemandangan yang sering Bening lihat di majalah dan kalender.
Kemudian Bening meletakkan kembali figura yang bersih dan sama sekali tidak berdebu itu. Jam berputar sesuai porosnya di dinding, menunjukkan waktu yang sebenarnya. Berarti bangunan ini bukanlah bangunan yang telah lama ditinggalkan pemiliknya.
"Ini kamar kamu, ya, cuma ada satu kamar disini," Bern membukakan pintu menuju sebuah ruangan yang cukup luas. Sakelar lampu dinyalakan, tampaklah bagian dalam ruangan yang sudah terisi tempat tidur lengkap dengan lemari dan perabotan kamar lainnya. Kemudian Bern meraih remote AC yang ada di dinding sebelah sakelar lampu lalu menyalakan mesin pendingin ruangan itu.
"Untuk sementara waktu, kamu akan aman disini. Agak jauh dari kota, tapi cukup aman," jelasnya, "Hey! kok bengong sih?"
"Yang di figura itu, mami kamu?"
"Iya? itu foto waktu kami masih tinggal di Sydney."
"Ooo," membulatkan mulutnya, "Jadi itu Sydney harbour bridge beneran?"
"Kamu fikir editan?"
Satu kartu tentang keluarga Bern terbuka untuk Bening.
"Terus foto sama Daddymu mana? Atau Daddy kamu yang ngambil fotonya, ya?" tanya Bening penasaran.
"Kok malah bahas foto sih? hmm, kita lanjutkan kapan-kapan lagi ceritanya. Ini udah malam banget," katanya melirik jam tangan di pergelangan.
"Kamu, tidur di sini? kita tidur ber ...?"
"Hey, Ya ngga gitu, Bening! Aku akan tidur di ruang tamu."
"Hem, Bern.Itu kan tetap kita berada dalam satu atap yang sama, em maksud aku, menurutmu, apakah itu dibenarkan?" tanya Bening ragu.
Kalau ingin mengikuti kata hatinya, dia bahkan ingin sekali berbagi tempat tidur dengan Bern karena dia tidak terbiasa tidur sendiri. Tapi mana munkgin Bern bisa menggantikan posisi Mami Sandra yang memeluknya sampai pagi.
"Iya … iya, Okay. Aku akan tidur di mobil!"
"Hem, Apa gak sebaiknya kamu pulang aja?"
"Ini udah larut malam Ning, tega banget kamu ngusir aku pulang."
"Eeeh, eng … engga, bukan gitu. Yasudah, gak masalah di mobil aja, hem, Ini!" Bening mengulurkan sebuah selimut tipis.
"Kamu pakai selimut ini, ya?"
"Ngga sekalian kamu kasih kain sarung aja, Ning?"
"Sebentar," Bening membuka tas besar yang tadi dia bawa. "Nah, Ini Bern, aku bawa kain sarung punya mami, pake aja gak apa-apa." Bening mengulurkan kain kotak-kotak yang masih terlipat rapi.
"Astaga beneran kain sarung dong ini? sungguh tega kamu, Ning," keluh Bern sambil tetap mengambil kain sarung pemberian Bening. "Yaudah kamu istirahat sekarang, Abang pergi ngeronda dulu ya!" canda Bern menyarungkan silang kain sarung itu dari kepalanya hingga menutupi separuh badan.
"Hihihi, Bye Bern!"
***
Di dalam kamar itu Bening memalingkan badan ke kiri dan ke kanan namun tak jua dapat memejamkan mata. Dia tak terbiasa tidur tanpa pelukan Mami Sandra, akhirnya dia bangun untuk membereskan beberapa barang yang tadi dibawa, memindahkan ke dalam lemari dan meletakkan beberapa barang lain di tempatnya.
Rumah ini cukup nyaman, tapi akan lebih menyenangkan jika dia bisa tinggal disini bersama sang mami. Bening membiarkan air mata membanjiri pipinya.
Tanpa berniat menyekanya sama sekali, Bening melanjutkan aktivitas. Menggantung mukena dan sajadah di tempat khusus, merapikan beberapa barang yang akan dia bawa saat kontes nanti. Apa? Kontes?
Bening masih memikirkan kontes itu? tentu saja, dia ingin tunjukkan pada Lilya, juga pada dunia yang selalu memandangnya sebelah mata, dia ingin menjawab semua hinaan itu dengan prestasi. Bening ingin membalas semua yang Lilya perbuat dengan cara yang terhormat. Agar dunia tau cara membalas dendam dengan benar.
Banyak sekali aktivitas yang Bening lakukan sehingga tak sadar adzan subuh telah berkumandang. dan Bening baru tertidur setelahnya.
***
Hari Sabtu di SMKS Global.
Walau ini adalah hari libur, siswa SMKS Global biasa melakukan aktivitas tambahan di hari Sabtu. Seperti yang sedang dilakukan para panitia pesantren ramadhan tahun ini.
Hampir semua yang terlibat adalah pengurus ROHIS. Mereka masih sibuk mempersiapkan beberapa hal menyambut kegiatan yang akan dimulai sepuluh hari lagi.
Ahmad yang langsung terlibat sebagai ketua panitia memeriksa keseluruhan persiapan, kini dia sengaja menghampiri kelompok keputrian yang bertanggungjawab sebagai seksi konsumsi. Dia belum melihat Bening disana. Tapi dia tidak bertanya pada siapapun, hanya berbicara dengan hati kecilnya sendiri.
Kemudian dia membuka ponsel dari saku celananya, dia ingin langsung bertanya kepada Bening kenapa tidak ikut hadir bersama pengurus lain.
"Astagfirullahal'adzim!" ucapnya setelah membuka beberapa gambar yang dia unduh dari grup jurusan. Ahmad tak ingin mempercayainya. Tapi entah mengapa foto-foto itu begitu melukai hati kecilnya.
Wajahnya pias, memerah menahan rasa malu melihat foto-foto itu. Ahmad sempat membaca beberapa komentar tidak layak yang diucapkan para siswa yang hampir semuanya adalah laki-laki. Ahmad yakin foto ini tidak hanya tersebar di grup jurusan TKJ, tapi juga di grup-grup jurusan yang lain. Ahmad adalah siswa dengan keahlian komputer jaringan, dirinya bisa memastikan dengan jelas bahwa gambar-gambar itu asli, bukan hasil rekaan.
Tanpa melihat siapa pengirim foto itu, Ahmad langsung meneruskan pesan tangkapan layar tersebut kepada seseorang yang dia rasa mampu mencari informasi yang sebenarnya tentang foto yang sangat tidak layak di lihat itu.
Semoga Allah melindungimu dari segala fitnah.
Nangis terharu aku kak enka baca novel terindahmu, serasa aku diposisinya, semoga bisa menjadikan kita hamba yg selalu mencari jalan untuk selalu taat kepada Sang Pemilik Jiwa&Raga ❤
bern kakanya bening? 😯