NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Janji yang Tak Terucap

​Alden menutup kembali kotak kayu tua itu dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati, nyaris penuh penghormatan.

Bunyi klik halus saat tutup kayu itu bertemu dengan kuncinya terdengar seperti sebuah penutup formal.

Baginya, itu bukan sekadar menutup sebuah benda mati, melainkan seperti mengunci kembali seluruh labirin masa lalu yang baru saja ia buka paksa dengan sisa tenaganya.

Ia meletakkannya kembali ke tempat semula, mendorongnya masuk ke sudut lemari yang gelap seolah sedang menyimpan sesuatu yang paling rapuh, yang tidak boleh jatuh, tidak boleh hilang, dan tidak boleh disentuh sembarangan lagi oleh siapapun.

​Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah ia biarkan kembali terkubur dan membusuk di dalam kegelapan kotak itu.

​Satu lembar foto Anjani.

​Alden memegang lembaran kertas kusam itu dengan jemari yang bergetar halus. Ia menggenggamnya erat selama beberapa saat, lebih lama dari yang seharusnya, seolah takut sosok di dalam foto itu akan menguap jika cekamannya mengendur sedikit saja.

Setelah tarikan napas yang berat, ia memasukkan foto itu ke dalam laci meja di samping tempat tidurnya, sebuah tempat yang paling dekat, paling intim, dan paling mudah ia jangkau kapan pun ia membutuhkannya. Ia tidak ingin foto itu berada jauh dari pandangannya. Ia ingin menyimpannya di sana sebagai cara egois untuk menipu dirinya sendiri bahwa sebagian dari masa lalunya yang paling berharga masih bisa ia jaga agar tetap hidup, meskipun seluruh fondasi hidupnya yang lain sudah runtuh dan menghilang diterpa vonis mati.

​Setelah bertahun-tahun melarikan diri menyeberangi samudra dan berpura-pura menjadi pria perkasa yang tidak tersentuh rasa bersalah, Alden tidak lagi mencoba menyangkal. Benteng keangkuhannya telah hancur lebur. Hatinya yang selama ini ia kira sudah membatu karena tumpukan pekerjaan dan ambisi di perantauan, ternyata masih berdetak dengan ritme yang sama untuk satu nama.. Anjani Lestari.

​Ironis memang, di saat bayang-bayang kematian terasa begitu dekat dan nyata di depan mata, justru wajah gadis itulah yang muncul paling jernih di dalam benaknya.

Wajah itu hadir tanpa sekat, seolah waktu sengaja memaksanya berputar balik untuk mengingat segala hal yang pernah ia sia-siakan.

Wajah yang dulu sering ia buat menangis karena perangai kasarnya.

Wajah yang dulu selalu ia tatap dengan sepasang mata dingin penuh kebencian palsu, sebuah topeng yang sengaja ia pakai demi menutupi ketakutan terbesarnya akan penolakan.

​Di detik yang sunyi itu, Alden menyadari satu kebenaran mutlak. Ada sebuah urusan besar yang belum selesai antara dirinya dan Anjani.

Ada satu kata yang selama ini terkunci rapat di balik tenggorokannya, satu perasaan murni yang ia kubur terlalu dalam hingga hampir ia lupakan sendiri jalurnya, dan satu permintaan maaf jujur yang tak pernah sempat keluar dari bibirnya.

Ia tahu, ego remajanya dulu telah menorehkan luka yang teramat dalam pada diri Anjani.

Dan kini, ia tidak ingin pergi dari dunia ini dengan membawa rahasia itu ikut terkubur bersama raganya ke dalam tanah.

Ia tidak ingin dunia, terutama Anjani, mengingatnya sebagai seorang pria kejam yang menaruh kebencian hingga akhir hayat.

Yang paling ia takuti di sisa umurnya yang tinggal hitungan bulan ini adalah menjadikan penyesalan besar itu sebagai kalimat penutup dari seluruh kisah hidupnya di dunia.

​Pulang ke Indonesia kali ini ternyata bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Ini bukan lagi sekadar pelarian medis untuk menuruti kepasrahan tubuhnya yang digerogoti kanker hati, bukan sekadar memanifestasikan kepatuhan atas permohonan air mata ibu tirinya atau getir suara ayahnya di telepon.

Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling sunyi, ada sebuah garis tujuan lain yang lebih dalam, lebih personal, dan tidak bisa ia abaikan lagi dengan alasan apa pun.

​Ia ingin mencari Anjani. Ia harus menemuinya, bertatap muka secara langsung untuk menuntaskan semua kegelisahan dan rasa bersalah yang selama sembilan tahun ini diam-diam bertindak sebagai hantu yang mengandaskan tidurnya di Australia.

​Alden tahu betul bahwa misi ini tidak akan berjalan dengan mudah. Langkahnya akan tertatih. Jejak gadis itu mungkin sudah buram atau tertutup oleh lapisan waktu yang panjang.

Namun, di dalam kepalanya, sebuah sumpah telah terpatri yakni ia harus mencarinya bagaimanapun caranya, sekeras apa pun usaha yang harus ia kerahkan, dan sejauh apa pun jarak geografis yang harus ia tempuh jika ternyata gadis itu sudah tidak lagi menetap di sudut kota Jakarta. Tidak peduli seberapa lemah fisiknya nanti atau seberapa banyak sisa waktu yang harus ia pertaruhkan, ia tidak akan mengizinkan dirinya berhenti sebelum menemukan titik terang.

​Ia harus bertemu dengan Anjani, sekali lagi saja.

​Namun, pencarian ini sama sekali bukan didorong oleh ego untuk memiliki gadis itu. Alden masih memiliki sisa kewarasan yang cukup untuk berkaca. Ia sadar betul, dengan kondisi tubuhnya yang perlahan namun pasti sedang berjalan menuju kehancuran biologis, ia sudah tidak lagi memiliki kelayakan untuk menawarkan cinta, mengikat janji setia, atau menjanjikan sebuah masa depan yang panjang bagi perempuan mana pun. Ia tidak ingin menjadi beban baru bagi hidup Anjani yang mungkin sudah tenang.

​Tujuannya teramat sederhana, namun membutuhkan keberanian yang luar biasa luas. Ia hanya ingin menyampaikan satu kalimat yang selama bertahun-tahun tersangkut di pangkal lidahnya, sebuah kejujuran yang bertransformasi menjadi batu ujian terbesar dalam hidupnya. Ia hanya ingin Anjani mengetahui fakta yang sebenarnya bahwa di balik semua kejahilan bajingan, bentakan kasar, dan pengusiran kejam yang dulu ia pertontonkan dengan sengaja, ada sebuah perasaan yang berukuran berkali-kali lipat lebih besar dari apa yang pernah gadis itu bayangkan.

​Bahwa sebenarnya, ia menyayangi gadis itu. Sangat menyayanginya. Bahkan mungkin, perasaan itu terlalu dalam dan luas, hingga membuat seorang Alden remaja merasa terancam, panik, dan memilih untuk menghancurkan segalanya dengan tangannya sendiri hanya karena ia terlampau penakut untuk mengakui bahwa ia telah jatuh hati.

Kini, sebelum pasir di dalam jam waktu kehidupannya benar-benar habis mengalir, Alden hanya ingin Anjani tahu satu hal yakni selama sembilan tahun mereka terpisah oleh jarak ribuan mil, tidak pernah ada satu pun perempuan lain yang mampu menggeser atau menggantikan posisi seorang Anjani Lestari di dalam hatinya, meskipun ia selalu mati-matian menyangkal hal tersebut di depan cermin.

​Di tengah pusaran rencana itu, Alden sempat berpikir untuk mengambil jalan pintas yang logis. Jemarinya sempat melayang di atas layar ponsel, berniat untuk mencari dan menghubungi beberapa teman lama masa sekolahnya yang sekiranya masih menyimpan info atau mengetahui keberadaan Anjani saat ini. Namun, belum sempat niat itu mewujud menjadi ketukan pesan, sebuah keraguan yang pekat segera menahan pergerakan tangannya. Langkahnya mendadak surut.

​Ia teringat kembali pada stigma masa lalu. Teman-teman lamanya tahu persis bagaimana akhir dari dinamika hubungannya dengan Anjani, sebuah akhir yang berantakan, dipenuhi kecanggungan yang tajam, jarak yang lebar, serta tumpukan kesalahpahaman yang sengaja ia ciptakan sendiri sebagai benteng pertahanan.

Ia adalah pihak yang membuat Anjani kecewa hingga titik nadir, hingga gadis yang dulu begitu ceria itu memilih mundur teratur dan menjaga jarak sepenuhnya.

​Dulu, di hadapan teman-teman tongkrongannya, Alden selalu memasang wajah acuh tak acuh, bersikap seolah-olah kehadiran Anjani yang cerewet adalah gangguan kosmis yang menyebalkan.

Ia selalu menolak dan mengejek perhatian gadis itu dengan nada sarkas. Padahal, itu semua hanyalah topeng murah yang ia kenakan untuk menutupi fakta yang memalukan bagi egonya bahwa ia justru sangat memedulikan setiap jengkal perhatian tersebut.

​Gengsi dan kesombongan masa muda telah membuatnya memilih untuk membisu.

Dan kini, jika ia tiba-tiba muncul setelah sembilan tahun menghilang ke luar negeri dan langsung melontarkan pertanyaan tentang keberadaan Anjani, teman-temannya pasti akan langsung menangkap sesuatu yang tidak beres. Mereka akan mengendus adanya percikan harapan, atau lebih buruk lagi, memunculkan asumsi berspekulasi bahwa Alden sedang mencoba untuk mendekati dan mengusik kembali kehidupan Anjani.

Sementara di sisi lain, Alden tahu dirinya sendiri tidak memiliki kapasitas waktu atau kesehatan untuk memberi ruang bagi harapan atau janji manis apa pun tentang hari esok.

​Dengan hati yang berat namun mantap, Alden akhirnya mengurungkan niat tersebut.

Ia menurunkan ponselnya, membiarkan layar digital itu menggelap. Pertanyaan-pertanyaan tentang Anjani ia simpan kembali rapat-rapat di dalam sudut batinnya, membiarkannya mengendap bersama sisa-sisa urusan yang belum tuntas.

​Ia melangkah perlahan menuju jendela kamar, menggeser tirai tipisnya sedikit lebih lebar.

Di luar, langit sore Jakarta membentang luas tanpa batas, menampilkan semburat warna jingga dan keunguan yang dramatis dari matahari yang perlahan turun ke haribaan.

Cahaya semburat senja itu jatuh samar-samar di atas wajahnya yang pucat dan tirus, menghantarkan sebersit rasa hangat yang terasa asing namun menenangkan di pori-pori kulitnya.

Sinar matahari sore itu seakan-akan bertindak sebagai tangan tak kasatmata yang sedang menepuk pundaknya, menyalurkan pasokan kekuatan baru yang sangat ia butuhkan ke dalam jiwanya yang rapuh.

​Mungkin esok hari fisiknya akan berjalan semakin lemah. Mungkin sel-sel kanker di dalam tubuhnya akan bekerja lebih agresif untuk meruntuhkan daya tahannya. Dan mungkin, sisa waktunya untuk menghirup udara di dunia ini memang sudah tidak panjang lagi.

Namun, satu hal yang pasti, tekad yang baru saja menyala di dalam dadanya tidak akan ikut runtuh bersama kerapuhan fisiknya.

​Sore itu, di bawah saksi bisu langit senja Jakarta yang temaram, Aldenbashra Gavinda membuat sebuah janji pada dirinya sendiri. Sebuah janji yang tidak akan ia ingkari hingga helaan napas terakhirnya tiba :

Ia tidak akan menyerah kalah pada keadaan, dan ia menolak untuk mati sebelum berhasil berdiri di hadapan Anjani untuk menyelesaikan seluruh urusan masa lalunya.

​Perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai dari kamar ini.

Dan demi ketenangan jiwa Anjani, demi kedamaian batinnya sendiri, serta demi memastikan bahwa ia tidak akan menutup mata selamanya dengan memeluk penyesalan yang membakar, Alden berjanji akan mengerahkan seluruh sisa hidupnya untuk menemukan kembali gadis itu.

Untuk mengetuk pintu maafnya dengan kerendahan hati yang mutlak, sebelum dunia benar-benar menghapus keberadaannya untuk selama-lamanya.

bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!