NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Jejak yang Tertinggal

Di ruang kerja yang tenang, Aldo menatap layar komputernya dengan pandangan tajam. Di hadapannya terbentang laporan keuangan dari PT Maju Bersama, anak perusahaan yang didirikan dua tahun lalu untuk menangani proyek-proyek di bidang properti. Awalnya semuanya berjalan lancar, namun sejak tiga bulan terakhir, ada ketidaksesuaian yang tidak wajar—dana yang seharusnya dialokasikan untuk pembelian bahan bangunan berkurang secara misterius, dan tidak ada bukti transaksi yang jelas untuk menjelaskannya.

Naura yang baru saja membaringkan Arka untuk tidur masuk membawa segelas teh hangat. Ia meletakkannya di meja, lalu melirik layar komputer suaminya. "Ada yang salah lagi?" tanyanya lembut.

Aldo mengangguk pelan, rahangnya mengeras sedikit. "Ada transaksi yang tidak tercatat dengan benar. Sepertinya ada orang yang mencoba memanipulasi laporan keuangan untuk mengambil keuntungan pribadi. Tapi ini bukan kesalahan biasa—caranya sangat rapi, seolah-olah dilakukan oleh orang yang memahami seluk-beluk administrasi perusahaan."

"Apakah ada hubungannya dengan Widodo atau orang-orangnya?" tanya Naura dengan hati-hati. Ia masih ingat bagaimana masa lalu terus muncul kembali untuk mengganggu ketenangan mereka.

"Belum bisa dipastikan. Widodo sudah ditahan, tapi bisa saja ada orang yang masih setia padanya dan berusaha memanfaatkan situasi sebelum semuanya diperiksa dengan teliti," jawab Aldo. Ia segera memanggil kepala tim audit internal untuk memeriksa lebih dalam.

Beberapa jam kemudian, kepala tim audit datang membawa berkas tambahan. "Tuan Aldo, kami telah menelusuri aliran dana tersebut. Uang itu dipindahkan secara bertahap ke rekening perusahaan luar negeri yang terdaftar atas nama orang asing. Namun, setelah kami periksa lebih lanjut, ada jejak yang mengarah pada seseorang yang masih bekerja di perusahaan kita."

"Siapa?" tanya Aldo tegas.

"Ibu Lestari, kepala bagian keuangan di anak perusahaan itu. Beliau sudah bekerja di sini selama lebih dari lima belas tahun, bahkan sejak ayah Tuan masih memimpin. Selama ini reputasinya sangat baik, sehingga kami tidak pernah menduga hal seperti ini," jelasnya.

Mendengar nama itu, Aldo tertegun sejenak. Ia mengenal Ibu Lestari sebagai karyawan yang setia dan teliti. Namun, bukti yang ada tidak bisa diabaikan. "Panggil dia ke sini. Kita akan bicara secara langsung."

Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya berpakaian rapi masuk ke ruangan. Wajahnya terlihat tenang, namun matanya sedikit menghindari tatapan Aldo. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan Aldo?" tanyanya sopan.

Aldo menunjuk ke arah berkas di meja. "Kami menemukan ketidaksesuaian dalam laporan keuangan PT Maju Bersama. Dana sebesar dua miliar rupiah hilang tanpa keterangan yang jelas. Apakah kamu mengetahui hal ini?"

Wajah Ibu Lestari sedikit memucat, namun ia berusaha tetap tenang. "Saya tidak tahu, Tuan. Saya selalu mengurus keuangan dengan teliti. Mungkin ada kesalahan pencatatan atau gangguan sistem."

"Kesalahan pencatatan tidak akan membuat uang berpindah ke rekening luar negeri," potong Aldo dingin. "Kami memiliki bukti bahwa kamu yang memberikan persetujuan untuk setiap transfer dana tersebut. Sekarang, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."

Ibu Lestari terdiam, tangannya gemetar sedikit. Ia menunduk, lalu perlahan berbicara dengan suara lemah. "Saya... saya tidak punya pilihan. Mereka mengancam akan menyakiti putri saya yang sedang kuliah di luar negeri. Mereka bilang jika saya tidak menuruti perintahnya, keselamatan putri saya tidak terjamin."

"Mereka siapa?" tanya Naura yang sejak tadi mendengarkan dengan perhatian.

"Orang-orang yang bekerja untuk Widodo. Mereka datang menemui saya dua bulan lalu, setelah mengetahui bahwa saya memiliki akses penuh ke rekening perusahaan. Mereka bilang ini cara untuk memulihkan apa yang dianggapnya sebagai haknya. Saya takut, Tuan. Saya hanya memiliki putri itu, saya tidak mau sesuatu terjadi padanya," jelas Ibu Lestari sambil meneteskan air mata.

Aldo dan Naura saling berpandangan. Dugaan mereka benar—masih ada orang yang tersisa dan berusaha melanjutkan rencana jahat Widodo. "Mengapa kamu tidak melapor kepada kami atau polisi sejak awal? Kami bisa memberikan perlindungan," tanya Aldo dengan nada yang sedikit melunak.

"Mereka bilang mereka sedang mengawasi setiap gerak-gerik saya. Saya takut mereka akan bertindak lebih cepat sebelum ada yang bisa dilakukan," jawabnya.

"Di mana mereka sekarang? Apakah kamu masih berhubungan dengan mereka?" tanya Aldo.

"Tidak. Setelah uang dipindahkan, mereka tidak menghubungi saya lagi. Tapi saya khawatir mereka akan kembali meminta hal lain," ucap Ibu Lestari.

Aldo berpikir sejenak, lalu berkata, "Baiklah. Kami percaya dengan penjelasanmu, tapi kamu harus bekerja sama sepenuhnya untuk mengembalikan uang itu dan menangkap mereka. Kami akan memastikan keselamatan putrimu, memindahkannya ke tempat yang aman dan memberikan perlindungan khusus."

Ibu Lestari mengangkat wajahnya, matanya terlihat berterima kasih. "Terima kasih, Tuan. Saya akan melakukan apa saja untuk membantu. Saya menyesal telah terlibat dalam hal ini, meski terpaksa."

Segera setelah itu, Aldo memerintahkan tim hukum dan keamanan untuk melacak keberadaan orang-orang yang terlibat. Mereka bekerja sama dengan kepolisian dan lembaga keuangan internasional untuk melacak aliran dana yang telah dipindahkan. Sementara itu, putri Ibu Lestari dihubungi dan dipindahkan ke tempat yang aman di bawah pengawasan petugas keamanan.

Beberapa hari kemudian, hasil penyelidikan mulai terlihat. Ternyata ada tiga orang mantan karyawan Widodo yang telah bersembunyi dan berusaha mengambil keuntungan dari situasi. Mereka berencana menggunakan uang tersebut untuk melarikan diri ke luar negeri dan memulai hidup baru. Namun, dengan kerja sama yang cepat dan terkoordinasi, petugas berhasil melacak keberadaan mereka di sebuah kota perbatasan.

Pada hari penangkapan, Aldo menerima kabar bahwa ketiga orang itu berhasil ditangkap sebelum sempat menyeberang ke negara tetangga. Sebagian besar dana yang telah dipindahkan juga berhasil diblokir dan akan dikembalikan ke rekening perusahaan.

"Syukurlah semuanya berjalan lancar," ucap Naura saat mendengar kabar itu. Mereka sedang duduk di teras rumah, mengamati Arka yang sedang tertidur di dalam buaian.

"Ya. Tapi ini mengajarkan kita bahwa kita tidak boleh lengah. Selalu ada orang yang berusaha mengambil apa yang bukan haknya, dan kita harus selalu waspada untuk menjaga apa yang telah kita bangun dengan susah payah," jawab Aldo sambil memegang tangan istrinya.

Beberapa minggu kemudian, semuanya kembali berjalan normal. Dana yang hilang telah dikembalikan sepenuhnya, dan Ibu Lestari tetap bekerja di perusahaan dengan catatan pengawasan ketat. Ia merasa sangat berterima kasih karena telah diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dan mendapatkan perlindungan untuk keluarganya.

Suatu hari, saat Aldo sedang memeriksa laporan perkembangan perusahaan, ia menerima undangan untuk menjadi pembicara di sebuah seminar nasional tentang pengelolaan bisnis yang adil dan transparan. Ia berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk menerima undangan itu.

"Ini kesempatan yang baik untuk berbagi pengalaman dan menunjukkan bahwa perusahaan kita berkomitmen untuk menjalankan bisnis dengan jujur," katanya kepada Naura.

"Kamu benar. Mungkin juga bisa menjadi contoh bagi pengusaha lain," tambah Naura setuju.

Namun, menjelang hari pelaksanaan seminar, muncul berita yang tidak menyenangkan di media sosial. Ada orang yang menyebarkan informasi palsu yang mencoba menghubungkan nama Grup Pratama dengan kasus korupsi lama, meski semuanya sudah diselesaikan secara hukum. Beberapa orang mulai mempertanyakan kredibilitas Aldo dan perusahaan, meski tidak ada bukti yang mendukung tuduhan tersebut.

"Ada yang sengaja berusaha merusak nama baik kita," ucap Aldo dengan wajah serius setelah membaca laporan dari tim humasnya.

"Siapa yang akan melakukan hal seperti ini padahal semua kasus sudah selesai?" tanya Naura penasaran.

"Belum jelas. Tapi kita akan cari tahu siapa di balik penyebaran berita bohong ini. Kita tidak akan membiarkan usaha kita untuk membangun kepercayaan masyarakat dirusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab," jawab Aldo tegas.

Mereka tahu bahwa tantangan ini membutuhkan penanganan yang tepat. Jika dibiarkan, hal ini bisa memengaruhi citra perusahaan dan kepercayaan mitra bisnis. Sambil menunggu hasil penyelidikan untuk menemukan sumber berita palsu tersebut, Aldo mempersiapkan diri untuk memberikan penjelasan yang jelas dan terbuka di seminar nanti.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!