Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Paris
Ketegangan di ruang kerja Adrian tidak berkurang sedikit pun bahkan setelah jam menunjukkan pukul dua siang.
Adrian menatap foto Gavin Dirgantara di layar tablet dengan pandangan menusuk. Pria di foto itu tersenyum tipis ke arah kamera sebuah senyuman yang memancarkan arogansi yang sama persis dengan Farida Arkan.
"Tuan," Hendra memecah keheningan.
"Gavin bukan tipe pengusaha yang bergerak gegabah. Keberhasilannya mengambil alih tiga anak perusahaan logistik di Singapura membuktikan bahwa dia memiliki jaringan yang kuat. Kedatangannya ke Jakarta dengan memanfaatkan sisa saham Nyonya Farida jelas merupakan sebuah pernyataan perang yang halus."
Adrian meletakkan tabletnya ke atas meja dengan ketukan yang lambat namun berat.
"Dia ingin membalas dendam untuk ibunya. Tapi membawa-bawa nama Aisha dalam daftarnya... itu adalah kesalahan pertamanya."
Adrian berdiri, berjalan ke arah jendela besar yang langsung menghadap ke pelataran depan mansion. Di bawah sana, ia bisa melihat Aisha sedang menemani Kael dan Fatih yang duduk di dalam kereta bayi ganda.
Aisha tampak tertawa kecil sembari membenarkan topi rajut milik Fatih yang miring. Pemandangan itu adalah segalanya bagi Adrian kedamaian yang tidak akan pernah ia biarkan diusik oleh siapa pun.
"Hendra, pastikan jadwal pertemuan privat di acara amal itu dibatalkan. Aisha tidak perlu menemui donatur mana pun secara eksklusif tanpa kehadiranku," perintah Adrian, suaranya bariton dan sedingin es.
"Baik, Tuan. Akan segera saya koordinasikan dengan pihak penyelenggara yayasan," jawab Hendra patuh sebelum mengundurkan diri dari ruangan.
Sore harinya, sebuah mobil sedan mewah Rolls-Royce hitam dengan pelat nomor khusus meluncur mulus memasuki area lobi Hotel Grand Hyatt Jakarta.
Pintu belakang terbuka, menampilkan sepasang sepatu pantofel kulit buatan Italia yang mengilat.
Gavin Dirgantara turun dari mobil. Tubuhnya tegap, dibalut setelan jas tom ford abu-abu muda yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang bersih.
Rambutnya ditata rapi, dan sepasang mata elangnya yang sipit menyapu pemandangan ibu kota dengan pandangan meremehkan.
Seorang asisten pribadi langsung menyusul di belakangnya sembari membawa beberapa berkas.
"Tuan Gavin, pihak yayasan Arkan Group baru saja mengirimkan pemberitahuan. Jadwal pertemuan privat Anda dengan Nona Aisha Arkan dibatalkan atas perintah langsung dari kantor CEO."
Gavin menghentikan langkahnya di tengah lobi hotel. Alih-alih marah, sebuah senyuman miring yang penuh kelicikan justru terukir di wajah tampannya.
Ia merapikan jam tangan Richard Mille yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Adrian Arkan... dia masih se-protektif itu, rupanya," gumam Gavin, suaranya terdengar santai namun dingin.
"Dia mengasingkan Ibu ke Paris, memotong semua akses keuangannya, dan sekarang dia pikir dia bisa menyembunyikan 'istri pelayannya' itu dariku?"
Gavin kembali berjalan menuju lift privat menuju presidential suite. "Batal di acara resmi bukan berarti kita tidak bisa bertemu di tempat lain. Cari tahu di mana Aisha biasa membawa anak-anaknya keluar.
Aku ingin melihat sendiri wanita seperti apa yang bisa membuat seorang Adrian Arkan berlutut di ruang sidang demi membelanya."
Keesokan paginya, suasana di dalam mansion Arkan berjalan seperti biasa. Adrian harus menghadiri rapat pemegang saham darurat di luar kota selama dua hari, membuat Aisha merasa sedikit sepi di gedung utama yang luas.
Untuk mengusir rasa jenuh, Aisha memutuskan untuk membawa Kael dan Fatih berjalan-jalan ke sebuah taman privat ramah anak di kawasan Senopati yang biasanya sepi dan dijaga ketat.
Tentu saja, dua pengawal berbadan tegap suruhan Hendra tetap mengikuti dari jarak aman di belakangnya.
Aisha duduk di bangku taman sembari menyuapi Kael dan Fatih biskuit bayi. Kedua jagoannya itu tampak sangat menggemaskan dengan pakaian kembar berwarna kuning cerah.
"Permisi. Apakah tempat duduk ini kosong?"
Sebuah suara bariton yang asing namun terdengar sangat ramah mendadak terdengar dari arah samping. Aisha mendongak dan mendapati seorang pria tampan dengan setelan kasual kemeja putih yang lengannya digulung sedang berdiri sembari memegang secangkir kopi hitam. Pria itu tersenyum sangat tulus atau setidaknya, tampak sangat tulus.
Aisha tersenyum sopan. "Ah, iya, silakan duduk, Pak."
Pria itu yang tak lain adalah Gavin Dirgantara duduk di ujung bangku, menyisakan jarak yang cukup sopan agar pengawal Aisha tidak bergerak maju. Mata Gavin langsung tertuju pada Kael dan Fatih yang sedang sibuk mengunyah biskuit.
"Anak-anak yang sangat tampan," ucap Gavin hangat, nadanya terdengar seperti seorang pria penyayang anak kecil.
"Kembar?"
"Bukan, Pak. Mereka hanya lahir di waktu yang berdekatan," jawab Aisha ramah, merasa tidak ada yang aneh dengan obrolan ringan di taman umum.
Gavin mengangguk-angguk kecil, lalu perlahan menoleh menatap wajah Aisha dari dekat. Dari dekat, kecantikan alami Aisha yang tanpa riasan tebal justru memancarkan aura keibuan yang sangat memikat sesuatu yang sangat berbeda dari wanita-wanita sosialita yang biasa ditemui Gavin di Paris atau Singapura.
"Lahir di waktu yang berdekatan, tapi yang satu mewarisi mata elang milik keluarga Arkan, dan yang satu lagi... memiliki keteduhan milik ibunya," ucap Gavin secara tiba-tiba dengan nada suara yang merendah.
Mendengar nama 'Arkan' disebut oleh orang asing, senyuman di wajah Aisha seketika membeku. Ia menatap pria di sampingnya dengan tatapan waspada yang mendadak bangkit.
Dua pengawal di belakang Aisha pun langsung mengambil satu langkah maju secara serempak.
Gavin terkekeh pelan, meletakkan cangkir kopinya, lalu mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Aisha dengan keanggunan seorang bangsawan.
"Perkenalkan, Nyonya Aisha Arkan. Namaku Gavin. Gavin Dirgantara," ucap Gavin, sepasang matanya berkilat penuh misteri.
"Aku adalah putra dari wanita yang digusur oleh suamimu dari rumah ini. Dan aku ke sini... hanya ingin menyapa tetangga baru ibuku."
Darah Aisha mendadak berdesir dingin. Sumpit biskuit di tangannya hampir saja terjatuh saat menyadari bahwa pria ramah di sampingnya ini adalah badai baru yang telah diperingatkan oleh suaminya.
Bersambung~