Novel romance pernikahan
Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.
Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.
Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.
Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sembilan Belas
Malam itu ruangan sepetak itu pun sunyi. Tidak seperti biasanya yang terdengar canda tawan dan obrolan ringan sebelum penghuninya terlelap. Bahkan, keduanya pun berbaring dengan posisi yang saling memunggungi.
Vino merasakan pegal-pegal di sekujur badan. Pekerjaannya memang tergolong berat dan ia harus bersiap untuk itu di hari-hari selanjutnya. Mungkin, di hari yang lain ia akan lebih merasakan kelelahan yang lebih dari ini.
Lelaki itu menghela napas panjang lalu mengembuskan perlahan lewat mulutnya. Ingin sekali rasanya meminta tolong kepada Olivia untuk memijit badannya, atau setidaknya diinjak-injak bagian punggungnya itu agar letihnya sedikit berkurang. Namun, mengingat pertanyaan Olivia tadi yang belum bisa dijawab membuatnya urung untuk meminta tolong. Ia pun memilih diam dan berusaha memejamkan mata. Berharap segala letihnya tersebut akan menghilang seiring bergantinya waktu malam.
Suara dengkuran halus pelan terdengar di telinga Olivia, sebagai tanda jika lelaki di balik punggungnya itu telah terlelap. Olivia membalikkan tubuh menghadap lelaki itu. Napas lelaki itu terlihat teratur, tampak dari pergerakan punggungnya yang naik turun dengan teratur.
Sebenarnya, Olivia gelisah. Memikirkan tentang pekerjaan suaminya yang belum diketahuinya itu. Ingin dirinya hanya percaya saja seperti apa yang dikatakan Vino kepadanya. Namun, tetap saja jiwa penasarannya meronta-ronta. Dan sekarang, ia harus terjebak dalam rasa itu tanpa bisa memejamkan mata.
Bunyi notifikasi dari ponselnya berhasil mengalihkan fokus Olivia. Ia beranjak duduk, mengambil benda pipih itu yang tergeletak di lantai. Tidak sabar ia membukanya, siapa gerangan yang menghubunginya malam-malam begini?
[Hai, Liv. Kamu di mana? Sudah di kota atau masih di kampung halaman?]
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Olivia berpikir sejenak, lalu melihat foto profil di kontak tersebut. Tidak ada petunjuk.
[Ini siapa?] balas Olivia kemudian.
Tidak menunggu lama, status mengetik pun tampak di layar. Dengan perasaan deg-degan Olivia menunggu balasan dari orang tersebut.
[Ningsih. Masak lupa? Baru berapa bulan sih enggak ketemu?]
[Aku ada kerjaan nih, mau enggak?]
[Ningsih?]
Olivia menyematkan emotikon orang berpikir.
[Ooohh, iya. Aku ingat. Sorry ... sorry. Lupa] diiringi emotikan meringis.
[Tuh kan, lupa.] Ningsih membalas dengan menyematkan emotikon menangis.
Olivia tersenyum lucu. Mengingat bagaimana hubungan mereka dulu, tidak menyangka jika Ningsih sekarang malah mengingat dirinya.
[Jadi gimana? Kamu mau kerjaan enggak?]
[Mau dong. Kerjaan apa?]
Olivia membalas dengan penuh semangat.
[Besok kita ketemuan aja ya. Entar aku jelasin, sekalian kalau kamu cocok langsung aku bawa ketemu langsung sama orangnya. Gimana?]
[Oke. Oke]
[Oke. See you. Nanti aku kirim lokasi sama jam ketemuannya.]
Berbalas pesan itu pun berakhir. Olivia masih memandang papan percakapan yang baru saja terjadi, membaca ulang sampai beberapa kali. Lantas, membaringkan tubuh. Ia meletakkan ponsel kembali ke tempat semula. Daripada pikirannya sibuk memikirkan tentang pekerjaan suaminya, lebih baik ia disibukkan dengan rencana besok pagi.
Olivia mengulas senyum, lalu merapatkan diri ke punggung Vino. Lelaki itu menggeliat pelan, lantas merubah posisi menghadapnya. Dalam satu kali gerakan, Olivia telah berada dalam pelukan hangat sang suami.
Olivia mengecup singkat ujung hidung Vino, lalu bergumam pelan, “Aku percaya padamu. Suatu saat kamu akan menceritakannya kepadaku. Dan aku akan menunggu waktu itu.”
Olivia pun menenggelamkan kepalanya dalam dada bidang suaminya, menghirup dalam aroma kesukaan yang menjadi ciri khas lelaki itu. Lalu memejamkan mata siap menyambut esok hari dengan ceria dan semangat baru.
***
Pagi-pagi sekali, sebelum waktu azan Subuh berkumandang. Olivia telah sibuk membuat sarapan sederhana untuk Vino. Nasi goreng plus bakwan jagung telah tersedia di piring. Tidak lupa, ia juga menyiapkan bekal makan siang suaminya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Olivia pun bergegas mandi. Ia ingat ada janji bertemu Ningsih pagi ini. Sesuai alamat yang telah dikirim wanita itu, mereka akan bertemu di sebuah cafe dekat kampus jam sepuluh pagi. Ia tidak ingin terlambat.
Usai salat Subuh, Olivia pun membangunkan Vino. Tumben sekali lelaki itu sulit dibangunkan. Biasanya, hanya butuh digoyang sepuluh kali mungkin baru akan bangun. Olivia geleng-geleng melihat tingkah suaminya itu.
Ide keisengan pun muncul di benak Olivia. Wanita itu mendekatkan wajah ke telinga Vino, meniup-niup agar lelaki itu terbangun. Nihil. Akhirnya, Olivia menggigit pelan telinga suaminya.
“Aw! Sakit, Liv.” Vino tersentak kaget lalu bangun dengan wajah ditekuk merasa tidurnya telah terganggu. Sedangkan Olivia terkikik geli.
“Bangunin suami, kok, enggak ada romantis-romantisnya,” gerutu Vino seraya mengusap-usap telinganya yang panas sekaligus terasa sakit.
“Dicium, kek. Dielus-elus, kek. Malah digigit. Lecet nih.” Vino masih mengomel. Sepertinya ia belum puas memarahi istrinya itu.
“Udah dibangunin dari tadi juga. Kak Vino, tuh, tidur kayak kebo,” ledek Olivia kesal.
“Apa kamu bilang?” Vino mendelik tidak suka. “Aku kamu bilang kebo. Orang seganteng ini dikatain kebo. Wah, bener-bener kebangetan ini. harus diberi pelajaran.”
Melihat pergerakan Vino yang tampak tidak beres. Olivia pun bergegas berlari. Namun, belumsampai langkahnya menjauhi kasur, tubuhnya telah terangkat oleh dua tangan kekar suaminya itu.
“Mau lari ke mana kamu marmut kecil?” ejek Vino.
Kedua kaki Olivia meronta-ronta di udara. Siapa yang akan peduli? Vino pun malah membawa wanitanya masuk ke dalam kamar mandi. Lelaki itu sengaja membasahi tubuh Olivia.
“Aku sudah mandi, Kak!” seru Olivia tidak terima.
“Mandi lagi bareng aku,” bantah Vino tidak mau kalah. Akhirnya sepasang kekasih halal itu pun mandi bersama dengan ritual pagi tentunya.
“Huh. Sepagi ini aku harus mandi dua kali,” gerutu Olivia begitu mereka selesai berganti pakaian.
“Tapi enak, kan?” goda Vino seraya menjawil dagu sang istri.
“Hm.” Olivia hanya menanggapi dengan gumaman yang tidak jelas. Wajahnya masih tampak cemberut dengan bibir mengerucut lucu.
“Jangan masang wajah gemesin gitu, dong. Nanti aku ajak keramas lagi, lho.” Vino mengedipkan matanya berulang kali membuat Olivia bergedik ngeri. Lantas, Vino pun tertawa terbahak melihat tingkah istri imutnya tersebut.
“Udah, yuk, Kak kita sarapan. Aku udah lapar banget ini.” Olvia menggandeng tangan Vino lalu bergelayut manja di lengan kekar itu. Lebih baik segera mengajak lelaki itu makan nasi, daripada dirinya harus menjadi santapan kedua kali, pikir Olivia.
Vino menurut, mereka berdua pun berjalan lalu duduk di lantai beralas karpet menghadap hidangan. Seperti hari-hari sebelumnya, aroma masakan Olivia selalu berhasil menggugah selera makan Vino. Lelaki itu selalu suka pada semua menu yang dimasak istri tercintanya tersebut.