NovelToon NovelToon
Song Of Songs Mafia : Haga Revenge

Song Of Songs Mafia : Haga Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Supernatural
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lombu Willem

Haga seorang ketua kriminal gang Ono Sitefuyu menghadiri pesta pernikahan yang dalam sekejap berubah menjadi aksi pembantaian massal. Haga menjadi salah satu korbannya, ditemukan mati bersimbah darah di suatu ruangan.

Keajaiban terjadi, ia diberi kesempatan untuk hidup kembali. Tetapi dalam wujud orang lain, Haga mulai menjalani kehidupan sebagai sorang polisi.

Banyak fakta-fakta menarik yang ditemukannya semenjak jadi seorang detektif. Hendrikus ternyata bukan orang suci dan menyimpan banyak sisi kelam. Ia ternyata bergabung dalam kelompok mafia Song of Songs, sehingga membuat Haga ikut terseret dalam aktivitas para mafia itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lombu Willem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesal

Gideon mulai was-was , hatinya cemas menunggu Haga yang tak kunjung datang, "Apa dia jadi datang? Lama sekali!?" Gideon mondar mandir sambil mengigit jari. Kadang-kadang ia diam berdiri dan menggoyang-goyangkan kaki kanannya.

Lalu, pandangannya berbinar dan senyum akhirnya mekar di bibirnya. Dari arah barat sebuah mobil datang menjemput. Kaca mobil diturunkan, dan seseorang tak dikenal muncul dari kaca yang mulai turun perlahan, menimbulkan keraguan dibenak Gideon. Kemudian Haga menampakkan wajahnya yang tertutup oleh badan besar si pengemudi, dia duduk di bangku sebelah pengemudi.

Pria besar itu turun, sementara Haga menunggu di dalam mobil. Gideon melangkah mendahului dan pria besar mengekorinya dari belakang. Melewati pohon-phong coklat dan tanaman singkong, keduanya tiba di sebuah gubuk, yang sering dipergunakan untuk beristirahat, melepas lelah setelah seharian bekerja di ladang. Milik orang tua Gideon.

Masuk ke dalam gubuk, Gideon berhenti dan menunjukkan satu karung besar yang telah berisi. Karung bekas pakan ternak ukuran 100 Kg, digunakan untuk menyembunyikan tubuh Minerva di dalamnya.

Pria besar itu memanggul karung itu, lalu melangkah dengan hati-hati menuju mobil. Meski hari ini hari Minggu, warga desa tidak ada yang bertani karena harus bergereja, tetapi tetap saja mata Gideon terus menari kesana-kemari memperhatikan area sekitar. Berharap tidak ada orang lain yang memergoki mereka. Beruntung, tidak ada mereka jumpai seorang pun hingga mereka sampai di tempat mobil diparkirkan.

Haga yang terus menerus memperhatikan kaca spion, bergegas membuka pintu bagasi mobil ketika matanya menangkap kemunculan mereka dari balik kaca. Sehingga pria berbadan besar itu bisa dengan mudah memasukkan karung itu ke dalam mobil. Tidak lama kemudian mereka meninggalkan area perkebunan.

Gideon, Haga dan seorang pria, kenalan Haga bergegas menuju ke perbatasan kota, "Masih lama ya?" tanya Gideon.

"Kalau kamu mengantuk, kamu bisa tidur aja," kata Haga.

"Mana mungkin aku bisa tidur," Muka Gideon tegang. Sangat tegang. Dia belum bisa tenang sebelum mayat Minerva benar-benar dikubur.

Sesekali Kia Carnival silver itu berguncang hebat di jalan raya yang masih setengah jadi, belum di aspal dan masih berupa kerikil-kerikil yang dipadatkan.

Haga pun hanya mengulum senyum. Melewati jembatan afia dan lurus terus melewati pohon-pohon tinggi. Akhirnya mereka tiba disebuah hutan dan memarkirkan mobil di bawah pohon durian yang besar. Belum ada buahnya karena musim berbuah masih lama, tujuh bulan lagi.

Pria besar yang ikut bersama mereka turun. Membuka bagasi mobil dan mengambil dua cangkul, memberikan yang satu kepada Gideon.

Lumpur membaluti hampir separuh sepatu pria itu, sementara Gideon melepas sandal yang digunakan- nya karena lengket di tanah. Keduanya pun mulai menggali tanah sedalam mungkin.

Haga hanya melihat keduanya, dan tidak ada niat sama sekali untuk membantu. Sesekali ia terlihat menepuk-nepuk tangan dan kakinya yang digigit oleh nyamuk. Karena kelelahan Gideon sedikit merasa kesal melihat Haga. Tetapi ia sadar diri, ini karena ulahnya sendiri.

Lubang pun telah tergali dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Setelah dirasa cukup, pria yang bersama dengan mereka kembali ke mobil, menarik karung itu dari bagasi, dan memanggulnya menuju ke lobang galian.

Wusshhh, karung itu dilempar begitu saja layaknya orang sedang membuang sampah. Tidak ada beban dan tidak ada belas kasihan. Padahal karung itu berisikan seorang gadis muda dan jabang bayi yang tinggal menunggu waktu keluar dalam hitungan beberapa bulan lagi.

Keduanya kembali menutup lobang galian dengan tanah. Menginjak-injaknya sampai rata, lalu menutupinya dengan rimbunan dedaunan dan ranting-ranting pohon yang didapat disekitar mereka.

Setelah dirasa beres, Gideon melihat kearah pohon durian tempat Haga duduk menunggu selagi mereka menguburkan jasad Minerva. Ia tidak ada. Setelah mengembalikan cangkul ke bagasi mobil, barulah didapati laki-laki itu sudah tertidur pulas di bangku mobil yang penyangganya telah diturunkan hingga membentuk sudut 45 derajat.

"Terimakasih bang, sudah membantu saya," Gideon mengajak pria yang berada dibalik kemudi untuk berbicara, "Kita belum kenalan, nama saya Gideon," hening. Pria besar itu tak menanggapi juga tak menoleh kearahnya. Tidak ada sama sekali sikap respek ditunjukkan olehnya.

"Hahaha," terdengar suara tertawa dari arah kursi depan bagian kiri. Haga sambil tiduran di penyangga kursi mobil menjelaskan jika pria yang sedang mengemudikan mobil adalah seorang bisu dan tuli. "Jangan diambil hati," kemudian Haga menegakkan sandaran duduk, berbicara pada pria itu dengan gerakan tangan. Bahasa isyarat.

Setelah itu, pria itu melihat kebelakang dengan kaca spion tengah, dan melemparkan senyum kepada Gideon. Gideon pun membalas senyum orang yang telah menolongnya itu.

"Terus namanya siapa?" tanya Gideon sambil melirik kearah Haga.

"Namanya? Hamu,"

Gideon memandangi keluar jendela dan menikmati pemandangan pepohonan dibawah sinar rembulan yang lebih berupa bentuk siluet. Dan tiba-tiba Gideon merasa dihimpit ketakutan. "Kamar Minerva? Banyak sidik jariku disana," setengah berteriak dan membuat Haga menoleh. Sementara Hamu dengan santainya menginjak pedal gas, menikmati perjalanan.

"Aku tahu, aku tahu. Kau tenang saja," ia memastikan Gideon bisa mendengarnya dengan baik, "Sudah ada Hamid yang membersihkan sidik jarimu,"

"Apa?" tanya Gideon tak percaya.

"Bahkan lantai sudah di sapu, dan tempat sampah sudah dikosongin. Jaga-jaga tisu yang ada sperm* mu tidak ditemukan polisi," kemudian Haga tertawa terbahak-bahak. Gideon hanya bisa tersenyum masam karena ia ketahuan memperkosa Minerva setelah gadis itu menjadi bangkai. "Kau punya selera yang unik," Haga kemudian membalikan pandangannya menuju jalan lurus yang mereka lewati.

Namun seperti biasa, Gideon bukan tipe laki-laki yang mudah percaya. Pikiran tentang Minerva yang sudah terkubur dengan aman dan jejak sidik jarinya yang telah dibersihkan oleh Hamid masih terus berkecamuk dipikirannya. Ia masih saja diliputi kecemasan.

"Gideon, ada satu hal yang perlu kamu ketahui," Haga mengatakan seolah-olah itu suatu rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.

"Apa itu?" menegakkan posisi tubuhnya setelah ia ber-selonjor di bangku tengah. Gideon penasaran dengan hal yang ingin disampaikan kepadanya.

"Video porno Minerva dan ayah. Akulah yang menyebarkannya,"

"Sekarang aku tahu," bingung harus bereaksi seperti apa lagi setelah mendengar pernyataan itu.

Jika ada orang yang paling dibenci Gideon, maka ayah Haga hanya berada di list kesekian. Justru ia paling membenci orang yang menyebarluaskan video itu, sehingga semua orang tahu. Gara-gara video itu Minerva jadi menderita.

"Tetapi apa hak saya marah?" dia tidak tahu harus berterimakasih atau membenci Haga karena pengakuan itu. "Toh saya tidak ada bedanya dengan dia? Gideon tak jauh berbeda dengan Haga, sama-sama pembunuh.

Gideon merasa jika dirinya lebih menjijikkan daripada bajingan yang ada didepannya saat ini. Karena ia mencintai Haga, tetapi ia pula yang menyakitinya, hingga gadis itu meregang nyawa ditangannya. Bahkan lebih sinting lagi karena tega memperkosa gadis itu setelah ia mati.

"Gideon, kau adalah temanku. Aku ingin kau mendapat yang lebih baik," Haga berhenti sejenak, menarik napas panjang untuk sesaat, ia juga terasa berat untuk mengakuinya, "Minerva tidak baik untukmu. Kurasa kau lebih tahu hal itu ketimbang aku,"

Mobil terus melaju membelah malam. Walau hening, Gideon menangis dan meneteskan banyak air mata. Dari kaca spion tengah Hamu melihatnya menangis. "Minerva, maafkan aku," sesal Gideon.

1
Ansar rauf
pusing bacanya, alur ceritanya berbelit-belit
Ansar rauf
mantap
Ansar rauf
👍
Lady Meilina (Meilina07.)
mampir thor
Honeybee_🐝
Hadir thor....🥰
Tetap Semangat 💪
Salam dari ( Ayah dari calon anak sambungku )
Ummu Jihad Elmoro
aku mampir, kk.. 😇
Nnzxy
lanjut kak semangat!!
aku udh mampir
Lombu Willem
Terimaksih kak 🙏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNOL💘 ¢ᖱ'D⃤
dh mampir thor
anggita
gunungsitoli,, sumatra utara.👏
anggita: smoga novel sampeyan sukses yah.,
total 2 replies
anggita
👍👌👍👌
anggita
trus berkrya.
anggita
mpir nglike👍 ae lah.
qinan_velvet
Ikut nyimak Kak...... gelar karpet dulu..... Semangat
KumiKimut
lanjut ❤️
Lombu Willem
terimakasih juga kak 🙏
Pangeran Matahari
semangat y kk..

mampir jg kekisah cinta cucu manja oma
Pangeran Matahari
keren novelnya
ForGoodluck
Thor, dapet notifikasi dari update-an ceritamu itu kayak minum es di siang hari bolong!
Lombu Willem: menyegarkan atau bikin sakit gigi 😅
total 1 replies
Lombu Willem
Sip
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!