Kehidupan baru Kenzo dan Delima berubah setelah hadirnya buah hati mereka, dan jangan lupakan jika Delima kini berubah menjadi Mahasisiwi cantik yang siap dilirik oleh kaum laki laki.
Selain Kenzo dan Delima, disini juga mengisahkan orang orang yang belum move on dari masa lalunya, kecuali satu orang sang Duteng alias Duda Ganteng.
"Satu ditambah satu dua, kamu tau kan yank kalau aku tak akan menduakan mu"
"Cintaku bukan seperti es teh plastikan, jika habis langsung dibuang"
Yuk, yang penasaran kisah Kenzo sang mantan Casanova, Mario yang katanya Mafia tapi juga gagal move on, dan si Tata Surya yang sudah beristri tapi juga belum move on, atau si Duteng pendatang baru yang akan meramaikan kisah mereka.
Mengandung adegan 18+ dan 21+ , dibawah umur jangan coba coba baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulah Vano
Sesuai dengan janjinya dengan Mamah Lina, Vano sekarang berada di luar gedung DenZo butik. Vano masih didalam mobil, mengamati dari luar bangunan yang bertuliskan DenZo butik itu "Seleranya boleh juga"
Setelah puas memandangi bangunan itu, Vano hendak membuka pintu mobilnya, tetapi dia urungkan, karena Vano melihat dari kaca spion mobilnya, seseorang keluar dari butik Delima
"Laki laki yang berbeda lagi, sepagi inikah mereka memadu kasih" gumam Vano yang menyangka Mario adalah satu dari kesekian laki laki yang berkencan dengan Delima.
Sedangkan Mario sendiri, yang baru keluar dari butik Delima merasa hatinya sungguh bahagia, terlihat senyuman diwajahnya yang menawan, membuat orang yang melihat jadi mengartikan lebih, apalagi penampilan Mario yang pagi ini sengaja dibuat acak acakan, membuat kesan yang melihatnya lagi menjadi berbeda
Vano mengepalkan tangannya, didalam hatinya berontak, ingin sekali menyeret gadis itu dan menikahinya, membawanya kabur dari pekerjaannya sebagai wanita murahan.
Pekerjaannya??? Vano memang sudah gila....
"Arggg.......mengapa aku harus jatuh cinta dengan wanita itu" Vano memijat keningnya sendiri, entah apa yang merasukinya.
"Permisi" sapa Vano karena tidak melihat satu orang pun didalam butik
"Silahkan duduk dulu, sebentar..." jawab Delima yang berada di belakang, dan tidak tau setelah Mario datang, siapa lagi yang berkunjung
Deg
Delima kaget ketika melihat laki laki yang sudah agak tua tetapi tidak mau dipanggil Om itu
"Pagi cantik" Vano menggoda Delima dengan senyum manisnya khas Duda.
"Eh....Om Vano, Pagi"
Vano melotot, merasa gadis yang didepannya ini sungguh keras kepala, diminta memanggil "Mas" tapi tetap saja manggilnya "Om"
"Mas Del....Mas Vano"
Delima hanya acuh dan mengangguk, malas saja pagi pagi mesti ribut dengan orang yang gak penting
"Maaf....ada yang bisa aku bantu Om eh Mas Vano?"
"Cakep....itu yang aku mau...begini, aku disuruh Mamah untuk ukur jas ke DenZo butik" jawab Vano dengan pandangan matanya tidak lepas dari memandang wajah Delima, terutama matanya
"Mamah?" beo Delima, merasa tidak kenal dengan Mamahnya Vano
"Mamah Lina"
Seketika Delima kaget "apa? jadi laki laki sok sok an ini anaknya tante Lina, berarti dia yang kemarin dibicarakan oleh emaknya itu, tidak....." batin Delima
"Tidak.....tidak...." Delima menggeleng, membuat Vano mengernyitkan alisnya
"Kenapa? Gak percaya kalau aku yang ganteng ini anaknya Mamah Lina?"
"Atau kamu terpesona dengan ke ganteng an ku Delima?" Vano mendekati Delima dan membisikkan kata kata itu di telinga Delima
Delima menggeleng, mimpi apa aku semalam pagi pagi sudah bertemu dengan orang gila.
"Maaf Mas...bisa agak menjauh?" Delima risih karena dari tadi Vano mendekati Delima, dan menempel terus dengannya
"Maaf....tapi tidak bisa" jawab Vano dengan senyuman manisnya
"Oke....oke Mas Vano kesini mau ukur jas kan? silahkan duduk dulu, biar aku buatkan kopi" rayu Delima dengan terpaksa menggandeng tangan Vano dan mendudukkannya di sofa "Terpaksa, iya terpaksa, sambil menunggu Kak Nei atau pegawai Delima yang lainnya buat ukur si panu eh Vano"
Vano memandang tangannya yang digandeng oleh Delima, ada desiran didalam darahnya, dan tiba tiba ada sesuatu yang berbeda dibawah sana "Shittt.....baru kali ini setelah lima tahun kamu bereaksi"
Sedangkan Delima, entahlah.....terserah Vano memikirkan seperti apa, dia hanya ingin supaya Vano anteng dan tidak menguntitnya
"Bentar....duduk dulu,.aku buatin minum"
Delima ke belakang, mencoba menghubungi Jeje dan juga Kak Nei, atau pegawai yang lainnya, namun sayang, tidak ada yang nyambung diantara mereka "Ma*mpus gue...."
"Silahkan diminum dulu mas, mumpung masih panas, awas ada sianidanya" ucap Delima dengan menaruh secangkir kopi yang masih 'kemebul' itu.
Vano tersenyum "Gak pa pa dikasih sianida, lagian mana ada orang mau ngeracuni ngomong dulu"
"Aku tinggal sebentar" kemudian Delima meninggalkan Vano, jaga jaga saja jika diminta untuk menemani orang itu
"Del....Delima" sudah hampir sepuluh menit Vano berdiam diri, sendirian tanpa Delima
"Sial..berani berani nya Delima mengacuhkanku" gumam Vano
Mendengar teriakan Vano, Delima yang dari tadi hanya membolak balikkan kertasnya kemudian keluar "Ada apa?"
"Bisa diukur sekarang, aku sudah gak ada waktu lagi, gak bisa nunggu"
Delima tampak berfikir, memang sudah menjadi kesepakan antara dirinya dengan suaminya ataupun dengan pegawai yang lainnya, jika ada seseorang yang berjenis kelamin laki laki datang untuk mengukur, maka yang mengukur tidak boleh Delima, harus yang lainnya.
"Maaf mas....aku gak bisa, tunggu dulu sebentar" jawab Delima, kemudian berniat meninggalkan Vano , tetapi tangan Delima sudah lebih dulu ditarik oleh Vano
Delima melihat Vano, tatapan yang diberikan Vano membuat Delima ngeri dan otaknya sudah berfikir yang macam macam
"Maaf bisa dilepaskan" pinta Delima secara halus dulu
Vano semakin menatap Delima, memberikan senyuman khas Duda nya yang baru baru ini diluncurkan, hanya untuk Delima
"Aku bisa lepaskan, asal kamu ukur aku dulu, lagian aku sudah tidak bisa menunggu lagi" bisik Vano ditelinga Delima
Delima berpikir, jika dia tidak memenuhi keinginan orang gila baru ini, bisa bisa seharian orang ini gak akan keluar dari butik, toh juga hanya mengukur.
"Kalau gak mau, biarkan seperti ini saja, aku juga gak keberatan megangin tangan kamu"
Tanpa berpikir lagi Delima mengiyakan "Oke..aku ukur tapi lepaskan dulu, aku mau ambil perlengakapannya"
Vano melepaskan tangan Delima "Pinter....gadis penurut"
Vano tampak begitu terpesona ketika melihat Delima dengan meteran (alat ukur mengukur) yang sengaja dikalungkan dilehernya dan juga rambut Delima yang dikuncir asal
"Maaf...bisa dimulai" Delima melihat Vano yang sedari tadi memperhatikannya
Entah sudah berapa kata "Maaf" terucap dari bibir manis Delima untuk menyadarkan orang yang didepannya ini.
"Tentu bisa....aku sudah menuggunya untuk itu"
Delima kemudian mengukur Vano, dimulai dari mengukur panjang tangan dan juga lingkar pergelangan tangannya, Delima sengaja melakukannya dengan selama mungkin, berharap jika pas bagian mengukur lingkar badan, akan ada seeorang yang datang.
"Bisa dipercepat? aku sudah terlambat" Vano sengaja menyuruh Delima mempercepat pengukurannya, karena Vano melihat dari tadi Delima hanya mengukur dibagian itu itu saja "Mau maen maen denganku rupanya" batin Vano
Dengan terpaksa Delima mengalihkan meteran itu dari tangan Vano yang tadi diukur sekarang pindah ke bagian dada Vano.
"Eushh......" Delima menghela nafasnya kasar benar benar menyebalkan laki laki didepannya ini.
Delima melingkarkan meteran itu ke dada Vano, dan tiba tiba....
GREEP
Vano memegang pinggang Delima, tanpa menyisakan jarak sedikitpum, jika Delima bergerak maka dengan sendirinya ada bagian bagian yang akan ikut bangun
"Lepaskan tangan Anda dari sini" pinta Delima yang mencoba untuk melepaskan tangan Vano dari pinggang nya
"Diamlah....jangan bergerak, atau kamu akan membangunkannya"
Delima menutup mulutnya sendiri, bener bener laki laki ini lebih gila dari Surya
"Jangan macam macam, atau aku akan berteriak" ancam Delima
Detik berikutnya, Vano membisikkan sesuatu ditelinga Delima "Berhentilah berkencan dengan laki laki lain, menikahlah denganku"
Vano gila.....gila....bener bener gila.....
"Anda pikir aku wa........."
"Pagi Cin.....sorry eike lambreta datengnya, maaf tadi macica dijalan" ucap Kak Nei dari pintu dengan suaranya yang keras dan lembek itu.
Delima yang mendengar ada seseorang penyelamat yang datang seketika langsung menginjak kaki Vano dan mendorongnya
"Au.....sakit Delima" teriak Vano
Delima tersenyum dan kemudian beralih ke arah Kak Nei lalu menggeleng, mengisyaratkan kalau dirinya dan juga Vano tidak sedang berbuat apa apa, Kak Nei yang mengerti arti gelengan Delima kemudian mengangguk dan tersenyum
"Eh iya cin....ye udah ditungguin Jeje didepan sono tuh, ada kuliah pagi kan?" sambil mengedipkan sebelah matanya, memberikan isyarat ke Delima, dan Delima pun mengerti
"Selamat selamat" batin Delima
"Iya Kak Nei, makasih....aku segera berangakt, dan tolong lanjutkan mengukur Mas Vano ya kak"
Nei tersenyum "No probelem cin....eike seneng, apalagi ganteng dan cucok banget ma eike"
"Mas Vano....maaf aku tinggal ya, silahkan dilanjutkan dengan Kak Nei, lanjut yang tadi" ucap Delima dengan dengan nada sedikit di manis maniskan
Vano yang melihat Delima meninggalkannya menjadi geram "Awas kamu wanitaku, lihat saja nanti"
Senyuman khas Duteng yang baru saja diluncurkan (Koyok opo wae leh mas...tek onok diluncurkan mbarang ih)