Kinara Novelya Putri
Sakit hati tidak membuat Kinar menyerah untuk melanjutkan hidupnya. Karena ia percaya, jika suatu saat nanti ia akan mendapatkan cinta yang begitu tulus dari seorang pria.
Jefan Bintang Yudhistira
Jefan yang merasa dikhianati oleh Mecca akhirnya mendekati Kinar yang ia ketahui sudah lama menaruh hati padanya.
"Sebenarnya apa sih status hubungan kita?" Tanya Kinar sangat pelan tapi Jefan masih mampu mendengarnya karena jarak mereka yang dekat.
Jefan mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Kinar. Ia diam, menunduk seakan tak memiliki keberanian untuk menatap wajah Kinar lagi.
"Kita ciuman, kamu panggil aku sayang, bahkan sikap kamu begitu manis sama aku. Tapi status hubungan kita nggak ada kejelasannya."
"Kamu sabar ya! Aku janji akan selesaikan hubungan aku sama Mecca secepat mungkin."
"Aku nggak butuh janji, Jef. Aku hanya butuh kamu jawab apa status hubungan kita selama ini?"
"Kamu maunya gimana?" Jefan membalikkan pertanyaan Kinar yang membuat Kinar kecewa dan keluar dari mobilnya begitu saja.
Akankah Kinar dan Jefan dapat bersatu dalam ikatan cinta? Akankah jalan cinta mereka mulus tanpa adanya lika-liku? Cerita selengkapnya langsung baca ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon is fitriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 17 Bertemu Arini
"Bik Rumi, saya keluar dulu ya." Kata Kinar kepada bik Rumi yang tengah membersihkan rumah.
"Iya, non."
"Oh iya. Bibi nggak bilang sama Elsa kan tentang aku yang malam itu pulang sama Jefan basah-basahan?" Bik Rumi menghentikan kegiatannya.
Nyengir ke arah Kinar yang akhirnya membuat gadis itu menghela nafas.
"Kok dibilangin sih bik. Pasti tuh anak bakalan kepo deh." Kinar menunjukkan wajah kesal. Mengingat selama Elsa di Singapore setiap hari ia selalu memantau Kinar lewat asisten rumah tangganya.
Kring.... Kring....
Ponsel Kinar berdering, di layar tertera nama Elsa. Kinar berjalan ke teras depan mendudukkan dirinya di kursi yang berada di sana. Ia mengusap tombol hijau seketika muncul wajah Elsa di layar.
"Hai baby!!" Elsa menyapa Kinar dengan senyum sumringah.
Kinar membalasnya dengan tersenyum lebar seraya melambaikan tangan di depan layar ponsel.
"Lo banyak hutang cerita sama gue! Gue nggak mau tau lo harus bayar hutang itu sepulang gue dari sini."
"Iya. Oleh-oleh gue ada nggak?"
"Tenang aja baby, nih udah gue siapin." Elsa mengarahkan ponselnya ke beberapa paper bag di belakangnya.
"Thank you baby. Eh udah dulu ya, Sa gue mau keluar dulu."
"Jalan sama Jefan ya?" Goda Elsa.
Kinar menunjukkan amplop berwarna coklat kepada Elsa. "Nyari kerja. Dah dulu ya bye!"
Kinar menyimpan ponselnya setelah panggilan video call dengan Elsa terputus.
...******...
Seorang wanita terlihat jalan dengan sempoyongan keluar dari sebuah kafe seraya tangannya berpegangan pada kepalanya. Wanita itu berjalan menuju parkiran, tapi belum sampai pada tempat dimana ia meletakkan mobilnya tubuhnya melemah sehingga membuat wanita itu jatuh ke tanah.
Kinar yang kebetulan juga baru saja keluar dari kafe yang sama, mengamati wanita itu dari jarak yang lumayan jauh. Ia berlari menghampiri wanita paruh baya tersebut setelah melihat tubuhnya tergeletak di tanah.
"Bu! Ibu kenapa? Bu!" Kinar menepuk pelan pundak wanita itu, tapi tak kunjung mendapat respon.
Kinar berdiri meminta bantuan dari orang yang berada di dekat mereka.
"Mas, tolongin ibu itu mas!" Kata Kinar kepada seorang laki laki yang berdiri seorang diri dengan ponsel di tangannya.
"Maaf mbak saya nggak kenal. Mending mbak aja yang nolongin!" Jawab laki laki itu dingin.
"Kalau begitu bisa bantu saya angkatin ibu itu ke taksi?" Laki laki tersebut menyimpan ponselnya kemudian menghampiri wanita yang masih pingsan itu.
Sementara Kinar berlari ke depan kafe mencari taksi.
"Taksi, Pak!" Teriak Kinar seraya melambaikan tangannya.
Kinar membuka pintu bagian belakang taksi itu, kemudian meminta laki laki yang tadi mengangkat wanita yang belum ia ketahui identitasnya ke kursi penumpang disusul dirinya.
"Ke rumah sakit terdekat ya, pak!" Tutur Kinar kepada supir taksi dan langsung mendapat anggukan.
Taksi yang Kinar tumpangi berhenti di depan lobby rumah sakit. Supir taksi tersebut keluar dan memanggil pihak medis. Kemudian memindahkan wanita paruh baya tadi ke tempat tidur yang berjalan.
Kinar nampak khawatir dengan keadaan wanita tersebut yang membuatnya teringat dengan mendiang ibunya. Ia menunggu di ruang tunggu. Berdoa yang terbaik untuk wanita yang tak dikenalnya itu.
Ceklek
Pintu UGD terbuka bersamaan dengan seorang dokter juga wanita keluar dari ruangan itu. Dokter tersebut terlihat mengatakan sesuatu kemudian menunjuk ke arahnya.
Wanita paruh baya itu berjalan mendekati Kinar. Seketika Kinar berdiri dari duduknya.
"Syukurlah ibu baik-baik saja." Kata Kinar ragu seraya mengulas senyum membuat wanita itu juga ikut tersenyum.
"Darah tinggi saya kambuh dan saya tidak menyadarinya. Terima kasih sudah menolongku."
Kinar sedikit membungkukkan badannya. "Sama sama, bu. Oh iya ini tasnya ibu. Maaf tadi saya sempat buka tasnya. Saya berniat ingin menghubungi keluarga ibu, tapi ternyata HP ibu nggak ada." Kinar berucap dengan sangat sopan membuat wanita itu tak berhenti mengulas senyum.
"Iya, HP saya tertinggal di rumah."
"Ibu mau saya carikan taksi atau telponkan seseorang untuk menjemput ibu?"
"Saya pulang naik taksi saja."
Kinar pun menuntun wanita itu keluar menuju lobby rumah sakit serta mencarikan taksi untuknya. Wanita itu memeluk Kinar sebelum masuk ke dalam taksi.
"Tidak usah, bu. Saya ikhlas menolong ibu." Ucap Kinar ketika wanita tersebut memberikan 2 lembar uang pecahan ratusan ribu kepadanya.
"Panggil saja tante Arini." Kata wanita itu menyebut namanya Arini.
"Baik tante. Tante hati hati ya!" Kinar melambaikan tangan setelah Arini berada di dalam taksi. Setelah taksi itu sudah tidak nampak Kinar pun berlalu pergi.
Sudah beberapa kafe, restoran, coffee shop, juga gerai fried chicken ia datangi. Tapi tidak ada lowongan satu pun karena semua bagian sudah terisi penuh.
Kinar mulai merasa lelah karena sejak pagi keluar masuk pintu namun tiada hasil yang membuatnya lega. Ia mengipasi dirinya yang kepanasan dengan amplop yang masih setia di tangan.
Tin...tin...tin...
Kinar menoleh ke arah mobil yang berhenti di depannya. Kaca jendela mobil sebelah kiri terbuka, menampakkan Jefan di dalam sana.
"Kinar, ngapain di sini?"
"Itu tadi abis dari..."
"Yuk masuk!" Jefan memotong ucapan Kinar, kemudian membuka pintu sebelah kiri dari dalam mobil. Kinar pun berjalan masuk ke mobil Jefan.
"Mau kemana?" Tanya Kinar ketika melihat Jefan ingin menginjak gas.
"KUA!" Jawab Jefan spontan seraya tersenyum.
"Isshhhh. Apaan sih nggak jelas banget." Kata Kinar menunjukkan wajahnya yang cemberut disertai pipinya yang merona.
"Canda, sayang." Ucap Jefan seraya mencubit gemas hidung Kinar.
Semenjak malam itu dimana mereka berada di bawah guyuran hujan, Jefan semakin menunjukkan sikap manisnya terhadap Kinar. Dan tak jarang memanggil gadis itu dengan kata sayang.
"Awwww!! Sakit, Kin." Wajah Jefan memelas karena Kinar memukul lengannya. Sebenarnya pukulannya tidak kencang, tapi ia sengaja agar mendapatkan perhatian dari Kinar.
"Nggak usah pura-pura! Orang aku mukulnya pelan kok." Kinar memalingkan wajahnya ke depan seraya bibirnya manyun.
"Lagian kamu kebiasaan. Kalau nggak mukul ya nyubit."
"Salah sendiri gombal terus." Kinar menoleh ke Jefan.
Jefan meraih tangan Kinar, mengelus punggung tangan tersebut. Seketika membuat hati Kinar luluh.
"Aku sayang sama kamu." Jefan mengatakannya dengan suara yang lembut. Selalu terdengar ketulusan setiap kali ia mengatakan kalimat itu. Sedangkan Kinar hanya diam tak pernah membalasnya.
...*****...
Arini berjalan memasuki halaman rumah setelah turun dari taksi yang ia tumpangi. Wajahnya masih sedikit pucat akibat pingsan tadi.
Ia memegang gagang pintu ingin membukanya, tapi terlebih dulu pintu itu terbuka. Dari dalam rumah menampakkan Felly di balik pintu.
"Felly!"
"Mama kenapa kok kelihatan pucet? Mama sakit?" Tanya Felly khawatir.
"Nggak, Fel cuma darah tinggi mama kambuh." Jawab Arini berjalan memasuki ruang utama.
"Udah minum obat, ma?"
"Udah kok, Fel. Tadi ada gadis yang nganter mama ke rumah sakit. Dia baik banget, waktu mama mau kasih uang, dia tolak. Fel, mama istirahat ke kamar dulu ya." Arini beranjak menuju kamarnya yang tak jauh dari ruang tamu.
Sementara Felly memutar badan, berjalan keluar rumah menuju mobilnya. Sesaat kemudian mobil itu berlalu dari rumah Yudistira.
cuma sangat disayangkan,, alurnya muter muter..
selalu diceritakan lagi dan lagi, bisa 1 bab tu yg muter..
semoga kedepan lebih baik lagi.. semangat
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti