Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.
Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.
Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.
Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.
“Liam…”
“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”
“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”
“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”
Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
"Su-sungguh Ratu? Apa benar kau setuju dengan pernikahan kami?" Tanya Idette memastikan lagi apa yang baru saja di dengarnya.
"Tentu saja! Aku sadar betapa egoisnya aku selama ini! Aku bahkan mengabaikan kegelisahan rakyatku sendiri!" Ucap Davira, meyakinkan.
Namun, Liam yang mendengar, merasa heran dengan kesediaan sang Istri yang tiba-tiba ini, setelah dua tahun dia berusaha mendapatkan restunya.
Apakah ada sesuatu yang tidak dia ketahui? Apakah Davira menyembunyikan sesuatu di balik kesediaannya. Mengijinkan dirinya menikah dengan musuh bebuyutannya selama ini? Sungguh tidak masuk akal.
"Hem, aku ingin melihat trik apa yang coba kau mainkan Ratuku, Davira!" Seru batin Liam yang menaruh kecurigaan penuh pada tindakan Davira kali ini.
Melihat ekspresi Liam yang tidak biasa, Davira berasumsi bahwa pria itu seharusnya gembira karena akhirnya mendapat izin dari dirinya untuk menikahi Idette. Namun, untuk mencegah kecurigaan Liam, Davira berusaha berpikir cepat dan menampilkan reaksi yang tepat.
"Yang Mulia, jujur saja aku lelah karena kita selalu bertentangan. Bukankah akan lebih baik jika kita menghentikan kegelisahan rakyat untuk saat ini!" jelas Davira yang menjadikan rakyatnya sebagai kambing hitam akan kepentingannya saat ini.
"Liam, akhirnya! Akhirnya, kita bisa menikah sayang! Terima kasih Yang Mulia Ratu!" Seru penuh girang Idette tanpa menaruh rasa kecurigaan sedikit pun.
Namun, suasana berubah drastis ketika Davira tiba-tiba berdiri, menarik perhatian semua orang di ruangan. "Tapi, Yang Mulia," Davira memulai dengan suara lantang dan tegas.
"Aku punya syarat untuk itu!" Kata-katanya menghancurkan euforia Idette, membuat semua mata di ruangan, tertuju pada Ratu dengan rasa penasaran dan ketegangan yang meningkat.
"Heh, lihatlah! Bukankah sudah ku katakan tidak mungkin wanita ini mengalah dengan mudah!" Seru batin Liam yang penuh curiga. Ia sangat penasaran dengan persyaratan apa yang akan di ajukan oleh Davira kali ini.
"Katakan apa yang kau inginkan?"
"Ceraikan aku!" Celetuk Davira tanpa pertimbangan yang membuat Liam dan Idette terbelalak keheranan.
Liam melotot, pikirnya apa yang terjadi disini, kenapa Davira malah meminta perceraian padanya? Bahkan jika dirinya menyingung masalah pernikahan selama ini, Davira tidak pernah mengancamnya dengan perceraian.
Lalu apa semua ini, apa yang sedang di rencanakan oleh Davira? Sungguh Liam tidak bisa menebak jalan pikiran Davira kali ini.
"APA!? Cerai katamu? Ratu! Apa kau bercanda? Apa kau lupa bahwa kau hidup sebatang kara di dunia ini. Tanpa aku, siapa yang akan menampung mu!" Pekik Liam tanpa sadar.
Melihat reaksi Liam yang tiba-tiba emosi ini membuat Idette dan Davira kebingungan. Bukankah orang yang seharusnya bahagia atas permintaan Davira saat ini adalah Liam sendiri? Lalu kenapa dia sekarang malah tampak begitu kesal? Sungguh tidak jelas sikap plin-plan Liam ini.
Tentu saja perkataan Liam, membuat Davira merasa kesal dan tersinggung.
"Apa katamu? Tidak ada yang mau menampungku selain dirimu? Hah, kita lihat saja, dasar bajingan!" Maki Davira dalam hatinya. Pikirnya, ini sungguh penghinaan dari cecunguk yang tidak tau apa-apa terkait dirinya.
"Itulah sebabnya aku ingin melalukan negosiasi bersamamu!"
Suasana ruangan menjadi tegang ketika Liam meledak, "Apa yang kamu rencanakan, Davira?" katanya dengan nada dingin dan emosi yang makin tak terkendali.
Davira tersenyum manis, memanfaatkan kesempatan untuk memainkan perannya dengan sempurna. Dengan suara yang lembut namun penuh makna, dia menjelaskan tujuannya, "Yang Mulia, aku hanya ingin membuat keputusan yang bijak. Dan untuk itu, aku memerlukan satu syarat kecil."
Mata Liam menyipit, ia semakin curiga, tapi Davira terus bersikap tenang, memainkan perannya dengan baik.
"Turunkan titah Raja untuk menikahkan aku dengan Duke Eliot Lamont Orion," katanya dengan nada yang meyakinkan, membuat Liam semakin terperangkap dalam permainan Davira.
"Apa?!!" Pekik Liam tak percaya.
Sungguh hari ini Davira lagi dan lagi mengejutkan dirinya. Tadi dia memberi persetujuan pada pernikahannya dengan Idette, lalu mengusulkan perceraian. Lalu sekarang apa? Titah Raja untuk Ratu yang digulingkan menikah dengan musuh bebuyutannya?
Bukankah ini akan menjadi penghinaan untuk dirinya sendiri? Benar-benar sebuah pukulan telak.
Kejutan yang diberikan Davira benar-benar seperti bom, dan Liam terhenyak. Liam merasa seperti telah ditampar keras, hingga wajahnya memerah karena marah dan malu. Ini adalah penghinaan yang tidak bisa diterima begitu saja. Liam tidak bisa percaya bahwa Davira bisa begitu kejam dan culas.
Melihat gelagat jelas tak setuju dari Liam, membuat Davira berpikir keras lagi, bahwa bagaimana pun caranya, rencananya untuk terbebas dari Liam dan menyelamatkan Sang Pahlawan yang diramalkan tidak boleh gagal.
"Tenangkan diri Anda, Yang Mulia! Dengarkan aku!" Davira berbicara dengan nada yang tenang dan meyakinkan, berusaha meredakan kemarahan Liam. Dia tidak ingin semua usahanya menjadi sia-sia.
"Anda tahu siapa Duke Elliot Lamont Orion, bukan?" Davira memulai penjelasannya, "Dia adalah sepupu Anda, anak dari Grand Duke Orion, paman Anda yang sangat berpengaruh di kerajaan ini." Davira berharap Liam akan memahami situasinya dan menerima keputusannya.
Elliot yang merupakan anak kedua dari Grand Duke Orion berhasil mendapatkan gelarnya sendiri dengan berbagai jenis jasa untuk Negara. Bahkan Gelar Duke nya diakui oleh mendiang Raja sebelumnya.
Namun, yang membuatnya menjadi musuh bebuyutan Liam adalah fakta bahwa, Duke Elliot sangat diagung-agungkan oleh masyarakat dibanding dirinya yang berstatus sebagai orang nomor 1 di Kerajaan Nether.
"Oleh karena itu, kita harus menempatkan mata-mata di sisinya. Tapi kau tahu betapa sulitnya itu, bukan?!" kata Davira dengan nada yang meyakinkan.
Davira tersenyum tipis, ia memainkan peran dengan sempurna, berpura-pura rela menjadi seorang mata-mata di sisi musuh bebuyutan Raja.
Liam terkesima, pikirannya dipenuhi dengan kemungkinan bahwa Davira benar-benar rela melakukan itu demi dirinya, demi menghancurkan musuh bebuyutan Raja.
"Demi menembus pertahanan Duke Elliot yang kuat, kita membutuhkan seseorang yang terpercaya dan handal," Davira melanjutkan dengan nada yang meyakinkan.
"Dan siapa lagi yang lebih tepat daripada dirimu, Ratuku." Liam terhanyut dalam logika Davira, tanpa menyadari bahwa dia sedang dijerat dalam permainan politik yang rumit.
"Jadikan aku mata-matamu di kediaman Sang Duke! Dengan begitu, akan lebih mudah bagi kita untuk menjatuhkannya. Ini semua aku lakukan untukmu Yang Mulia, supaya kau tidak selalu dibanding-bandingkan oleh rakyatmu sendiri!" Jelas Davira.
Mendengar pernyataan Davira ini membuat Liam lupa diri bahwa musuh dalam selimut lebih menakutkan. Ia pun percaya bahwa Davira sangat mencintainya dan memikirkan segalanya untuk ketenangannya dalam memimpin Negara.
Namun, tidak semudah itu juga untuk melepaskan Davira pergi ke pelukan musuh bebuyutannya. Liam benar-benar takut dengan pendapat publik tentang keputusannya ini.
Ia pun mengernyitkan dahinya berusaha mencerna berbagai kemungkinan yang ada. Namun itu semua tak sampai di kajinya secara mendalam, lantaran ia tetap suka dengan ide Davira yang siap mempertaruhkan nyawanya di tangan Sang Duke bila ketahuan nanti.
"Yahh, hitung-hitung membuang batu jelek dari genggaman tanpa usaha bukanlah hal yang rugi. Dasar bodoh!" Seru batin Liam yang puas akan keputusan Davira yang dinilainya cukup menguntungkan untuk di korbankan, dari pada mengirim orang yang tidak kompeten ke sisi Duke Elliot.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️