Devano Gerald Martinz putra satu-satunya seorang pengusaha kaya raya dari L.A
Namun kedua orang tuannya Devano memutuskan untuk tinggal di indonesia semenjak Devano berusia 16 tahun hingga sampai sekarang Devano berusia 27 tahun.
Tetapi dibalik itu, kedua orang tuanya Devano tidak menyadari bahwa putra satu-satunya itu adalah ketua gangster yang sangat menyeramkan dan ditakuti didalam dunia gelap mereka.
Di usia 27 tahun.. Apakah seorang Devano si ketua gangster yang sangat menakutkan itu memiliki seorang kekasih atau sebaliknya?".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti sihite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Dimension..
"Bibi" Peluk Anna dari belakangnya Tuti.
"Sudah pulang Anna?" Senyum Tuti melihat Anna.
"Sudah bi" Jawab Anna tersenyum.
"Bagaimana? apa ujian ya sangat menyulitkan kamu?".
"Sedikit bi, hehehe".
"Kamu pasti masuk Na.. Bibi yakin itu".
"Amin bi".
"Ayok.. Kamu makan dulu" Ajak Tuti.
"Anna tadi sudah makan bi diluar".
"Kamu makan apa tadi?" Tanya Tuti tak yakin.
"Anna tadi makan batagor di kantin kampus bi".
"Oohh.." Angguk Tuti.
"Iya bi.. Kalau gitu aku ganti pakaian dulu ya bi, siap itu Anna langsung ke kamarnya tuan muda".
"Iya.. Pergilah, biar bibi buatin makan siang ya tuan muda".
Anna pun segera pergi menuju kamar untuk mengganti pakaiannya. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, Anna menghampiri Tuti kembali.
"Kamu sudah selesai Anna?" Berikan Tuti.
"Sudah bi" Terima Anna. "Anna bawa ya bi".
"Iya Na" Angguk Tuti.
Didepan pintu kamarnya Devano..
Tok.. Tok..
"Tuan.. Makan siang ya" Ucap Anna.
Tok.. Tok..
"Tuan" Panggil Anna lagi.
Namun tidak ada jawaban dari Devano.
"Tuan muda ada didalam apa enggak yah? Aakkhh.. Aku masuk sajah, siapa tau tuan muda lagi di atas balkon" Gumam Anna membuka pintu kamarnya Devano.
Ceklek..
"Tuan.." Panggil Anna dengan pelan. "Tuan muda.." Panggil Anna lagi sambil berjalan kearah balkon.
"Kenapa?" Lihat Devano yang memang berada diatas balkon dengan sebatang rokok ditangan kirinya.
"Ternyata benar disini" Gumam Anna. "Makan siang ya tuan" Jawab Anna.
"Saya belum lapar" Lalu Devano menatap lurus kembali.
"Ini sudah siang tuan, dan sudah waktunya makan siang" Ingatkan Anna meskipun Devano menolaknya.
Kemudian Devano melihat Anna lagi dengan tatapan yang tidak bisa Anna artikan.
"Kamu mau menyuap saya?" Seringai Devano melihat Anna.
"Sepertinya tuan muda sedang menguji ku" Batin Anna. "Iya tuan saya mau.. Asalkan tuan muda mau makan" Setuju Anna.
"Bawa kemari".
"Didalam saja tuan".
"Saya mau disini, kalau tidak kamu keluar saja".
"Baiklah tuan, saya akan membawanya kemari" Masuk Anna kedalam kamar.
Begitu Anna masuk, Devano langsung tersenyum. "Anak itu" Geleng Devano mengisap rokoknya.
"Rokoknya dimatikan dulu tuan" Ucap Anna dengan sopan yang sudah berada disampingnya.
"Mmmmmm" Devano mematikan rokoknya.
"Aaakkkkk" Beri Anna.
"Kamu mau menyuap saya sambil berdiri?".
"Iya tuan".
"Duduklah.. Nanti kamu lelah".
"Baik tuan" Duduk Anna diatas sofa yang ada di balkon.
Lalu Devano menjalankan kursi rodanya dihadapan Anna hingga jarak diantara mereka sangat dekat sekali.
"Tu-tuan" Gelagapan Anna melihat wajahnya Devano.
"Kenapa?" Tanya Devano pura-pura tidak tahu.
"Tuan terlalu dekat sekali" Jawab Anna.
"Jadi?".
"Tuan bergeser sedikit".
"Baiklah" Devano mengeser sedikit kursi rodanya. "Segini?".
"Iya tuan" Senyum Anna dengan tipis.
"Aaakkk" Minta Devano membuka mulutnya.
"Hahahahhaha" Tampa sadar Anna tertawa melihat Devano yang sangat menggemaskan sekali.
"Dasar bocil" Senang Devano melihat Anna yang tertawa.
"Astaga.. Maafkan saya tuan" Tunduk Anna menutup mulutnya.
"Apa kamu sudah puas tertawa?".
"Maafkan saya tuan maafkan saya" Pucat Anna semakin menunduk.
"Hhhmmm.. Jadi kapan kamu mau menyuap saya kalau kamu menunduk terus?".
"Iya tuan.. Saya akan menyuap tuan" Jawab Anna mengangkat kepalanya.
"Buruan" Desak Devano membuka mulutnya lagi.
Dengan senang hati Anna menyuap Devano.
"Bagaimana tuan?".
"Bagaimana apanya?" Tanya Devano sambil mengunyah.
"Apa makanan ya enak?".
"Lumayan".
"Syukurlah.. Yang penting tuan muda mau makan" Senyumnya.
"Apa kamu tersenyum?".
"Haahhhhh?" Lihat Anna.
"Lupakan.." Geleng Devano membuka mulutnya lagi.
"Kalau kaya gini terus.. Aku mau menyuap tuan muda setiap hari" Batin Anna menyuap Devano lagi.
Setelah beberapa suap masuk kedalam mulutnya Devano. "Sudah" Tolaknya.
"Satu sendok ini lagi ya tuan" Mohon Anna.
"Saya sudah kenyang" Masih tolak Devano.
"Kenyang dari mana cuman 6 sendok doang" Gumam Anna. "Jadi tuan enggak mau lagi?".
"Mmmmmm" Gumam Devano melap mulutnya dengan tissue.
"Minum ya tuan" Berikan Anna.
Sesudah itu, Anna bangkit berdiri dari atas sofa. Namun sebelum Anna meninggalkan kamarnya Devano, "Tuan muda mau latihan berjalan nanti sore?" Tanya Anna menerima gelas itu.
"Kalau saya bersemangat" Jawab Devano.
"Baiklah tuan.. Nanti sore jam 3 saya kemari lagi".
"Mmmmmm".
"Saya permisi dulu tuan" Tunduk Anna langsung keluar.
.
Di kantor.. Bian sangat sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk dihadapannya.
Tok.. Tok..
"Masuk" Jawab Bian.
Ceklek..
"Bian" Senyum Helena menghampiri mejanya Bian.
"Ada apa Helen?" Tanya Bian yang masih fokus dengan berkasnya.
"Tidak ada apa-apa Bian. Aku hanya merasa bosan saja di apertemen sendirian" Jawab Helena duduk diatas meja.
"Kalau kamu bosan, kenapa kamu tidak pergi berbelanja".
"Bosan juga Bian".
"Kenapa kamu tidak pergi berkencan".
"Haahhhhh" Dengus Helena melihat berkas-berkas Bian.
"Ada apa dengan desahan mu?" Lihat Bian.
"Setiap aku berkencan.. Aku jadi ingin membunuh mereka" Seringai Helena.
"Kenapa kamu ingin membunuh mereka?" Tanya Bian kurang mengerti.
"Apa kamu tidak pernah berkencan Bian?".
"Hhhrrrmmmm" Gumam Bian kembali ke berkasnya.
"Hahahaha.. Jadi kamu tidak pernah berkencan Bian?" Tawa Helena mengejek Bian.
"Pergilah kalau kamu hanya menggangu ku saja" Usir Bian.
"Tidak-tidak Bian" Henti Helena menertawai Bian. "Sebenarnya aku kemarin ingin memberitahu mu sesuatu" Ucap Helena serius.
"Apa Helen?" Tanya Bian melihat Helena.
"Kalau kamu itu sebenarnya tampan Bian.. Tapi sayang ya kamu belum pernah meniduri wanita, Hahahahaha" Jawab Helena tertawa lagi.
"Kamu tau dari mana kalau aku belum pernah meniduri wanita?" Balas Bian melihat Helena.
"Tadi kamu sendiri yang berkata tidak pernah berkencan Bian" Masih tawa Helena memeluk perutnya.
"Sok tau kamu Helen" Kesal Bian melipat tangannya didepan dada.
"Taulah Bian.. Dari pertanyaan kamu tadi aku sudah tau" Seringai Helena. "Atau jangan-jangan.. Kamu masih perjaka Bian?" Tebak Helena dengan serius.
"Sebaiknya kamu keluar Helen.. Kamu enggak lihat pekerjaan ku sangat banyak sekali" Usir Bian lagi.
"Hahahaha.. Jadi benar Bian kamu masih perjaka?" Ejek Helena.
"Keluar lah Helen" Bangkit Bian dari atas kursinya Devano.
**Tok.. Tok..
Ceklek**..
"Tuan.. Sebentar lagi akan ada rap-pat" Kagetnya melihat Bian dan Helena seperti sedang berpelukan.
"Saya akan kesana" Jawab Bian.
"Baik tuan" Angguknya segera keluar.
"Sekarang kamu keluar Helen" Tarik Bian ditangannya Helena.
"Tunggu Bian" Tahan Helena menghentikan langkahnya.
"Apa lagi Helen?" Lihat Bian.
"Kali ini aku serius Bian✌️".
"Aku tidak akan mempercayai mu Helen".
"Aku sudah mengetahui Rojer dan anak buahnya bersembunyi dimana Bian" Beritahu Helen langsung.
Seketika wajahnya Bian langsung terlihat seperti monster.
"Wajah kamu dikondisikan dong Bian" Tegur Helena menepuk wajahnya Bian.
"Ini tidak bisa dibiarkan.. Kita harus kesana sekarang juga".
"Kamu mau kemana Bian" Tahan Helena lagi.
"Kesana menangkap Rojer".
"Terus meeting kamu gimana?".
"Aakkhh.. Sial" Umpat Bian.
"Sekarang kamu meeting dulu, nanti malam kita baru kesana untuk mastiin Rojer dan anak buahnya".
"Apa sebaiknya kita memberitahu tuan Devano dulu?".
"Jangan dulu Bian" Jawab Helena.
"Rojerrrr..." Dengan marah Bian mengepal kedua tangannya.