Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 024
Jangan Sentuh Dia
Marco muncul di ambang pintu.
Dalam satu detik, Daniel bergerak.
Ia tidak menarik Yola. Tidak memeluknya. Ia hanya melangkah maju dan menempatkan tubuhnya di antara Yola dan Marco, cukup dekat untuk menjadi penghalang, cukup jauh agar Yola tidak merasa terkurung lagi.
"Kak Yola," katanya tanpa menoleh, suaranya rendah tetapi jelas. "Berdiri di belakang saya."
Yola mengikuti perintah itu karena kakinya hampir tidak sanggup menahan tubuhnya sendiri.
Marco berhenti dua langkah dari mereka. Matanya masih merah karena hair spray, rambutnya berantakan, dan kerah jasnya basah oleh air mineral. Namun saat melihat Daniel, ia memaksa senyum miring seolah semua ini hanya kesalahpahaman kecil.
"Wah," katanya. "Kebetulan sekali. Selalu kamu yang muncul kalau ada perempuan cantik butuh ditolong."
Daniel menatapnya tanpa emosi.
"Apa yang kamu lakukan pada Kak Yola?"
"Aku?" Marco tertawa. "Tanya dia. Dia yang tiba-tiba lari dari ruang ganti. Mungkin malu karena ketahuan?"
Tubuh Yola menegang.
Daniel tidak menoleh, tetapi suaranya berubah lebih dingin. "Kak Yola tidak perlu menjawab sekarang."
Marco mendecakkan lidah. "Jangan sok pahlawan, Dan. Ini bukan urusanmu."
"Dia datang ke sini sebagai tamu acara. Kamu mengejarnya sampai koridor servis. Jadi ini urusan keamanan hotel."
"Keamanan?" Marco melirik ke kanan kiri. Koridor masih sepi. Musik dari lantai bawah hanya terdengar seperti denyut jauh. "Kamu pikir siapa yang akan percaya? Aku bisa bilang aku menyusul karena dia panik. Kamu malah sembunyikan dia di sini. Lebih jelek lagi ceritanya, kan?"
Jari Yola mencengkeram ponsel.
Itu rencana mereka.
Jika ia bersama Marco, ia difitnah. Jika Daniel menolongnya, ia tetap difitnah. Celine menyiapkan perangkap yang tetap bisa menutup bahkan setelah pintunya berhasil ia buka.
Daniel seperti membaca perubahan napasnya.
"Kak Yola," katanya pelan. "Ada ruang meeting vendor di ujung koridor. Di sana ada staf hotel dan asisten saya. Saya akan jalan di depan. Kak Yola tidak perlu menyentuh saya. Ikuti saja dari belakang."
Kalimat sederhana itu hampir membuat mata Yola panas.
Bukan karena romantis.
Karena untuk pertama kalinya sejak pintu ruang ganti terkunci, ada seseorang yang memikirkan batas tubuhnya sebelum memikirkan dramanya.
Marco melangkah maju. "Jangan coba-coba."
Daniel mengangkat ponselnya. Layar masih menyala, panggilan belum terputus.
"Budi," kata Daniel ke ponsel, matanya tetap pada Marco. "Buka pintu ruang meeting. Panggil supervisor hotel perempuan dan security ke lantai ini. Sekarang."
Dari ponsel terdengar suara panik yang langsung menjawab, "Siap, Pak Daniel."
Wajah Marco menggelap.
"Kamu mau bikin masalah dengan keluarga sendiri?"
"Masalahnya sudah kamu buat."
Untuk pertama kalinya senyum Marco benar-benar hilang.
Daniel mulai berjalan mundur perlahan, tetap menghadap Marco. Yola mengikuti di belakangnya. Setiap langkah terasa terlalu keras di karpet koridor. Ia ingin berlari, tetapi Daniel tidak berlari. Ia membuat gerakan mereka terlihat teratur, seperti bukan korban yang kabur, melainkan pihak yang sedang mengamankan situasi.
Di ujung koridor, pintu ruang meeting terbuka.
Budi berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. Di belakangnya ada meja panjang, beberapa map supplier, dua kursi, dan seorang staf hotel perempuan yang baru datang tergesa-gesa sambil membawa handy talky.
"Masuk, Kak Yola," kata Daniel.
Yola melewati pintu. Staf perempuan itu langsung mendekat, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya.
"Ibu butuh bantuan medis?" tanya staf itu.
Yola menggeleng. Suaranya keluar serak. "Tolong jangan biarkan dia masuk."
"Baik, Bu."
Pintu ditutup dari luar.
Begitu suara klik terdengar, lutut Yola hampir menyerah. Ia memegang tepi meja. Budi mengambil gelas air mineral dari sudut ruangan, tetapi tidak menyodorkannya terlalu dekat. Ia meletakkannya di meja, lalu mundur.
"Maaf, Nona Yola," katanya gugup. "Pak Daniel minta saya tetap di sini."
Yola mengangguk. "Terima kasih."
Tangannya masih gemetar saat membuka ponsel. Sinyal penuh. Pesan yang tadi gagal terkirim tiba-tiba berubah status.
Terkirim.
`Sari ruang ganti Marco`
Yola menatap dua centang itu seperti menatap tali yang akhirnya tersambung ke dunia luar.
Ia mengetik lagi, kali ini lebih jelas.
`Saya di lantai atas dengan Daniel. Panggil Rizal. Jangan percaya Celine.`
Pesan itu terkirim.
Di luar, suara Marco meninggi.
"Daniel, buka pintunya! Kamu mau apa? Mau jadi pahlawan buat janda Liem itu?"
Yola memejamkan mata.
Kata janda terasa lebih kotor di mulut Marco daripada semua tatapan orang di ballroom.
Dari balik pintu, suara Daniel tetap tenang. "Security sedang naik."
"Kamu kira aku takut?"
"Tidak perlu takut. Cukup diam."
Yola mendengar bunyi sesuatu menghantam pintu. Staf hotel perempuan di dalam ruangan mengangkat handy talky dan berbicara cepat, meminta bantuan tambahan. Budi berdiri di dekat pintu, wajahnya tegang, tetapi tubuhnya tidak bergerak mundur.
Ponsel Yola bergetar.
Sari menelepon.
Yola menjawab sebelum dering kedua.
"Nona?" suara Sari hampir pecah. "Nona di mana? Saya sudah cari ke ruang ganti, tidak ada. Celine bilang Nona mungkin ke toilet, tapi saya terima pesan itu. Marco kenapa, Nona?"
"Sari," Yola berusaha mengatur napas. "Saya aman untuk sekarang. Lantai atas. Ada Daniel dan staf hotel. Panggil Rizal. Jangan sendiri."
"Saya sudah telepon Pak Rizal. Beliau masuk dari lobi. Saya juga kirim pesan ke Pak Ardi."
Yola menggenggam kursi.
Nama Ardi berarti satu hal.
Rayhan akan tahu.
Ada bagian dalam dirinya yang langsung menolak. Ia tidak ingin Rayhan melihatnya dalam keadaan seperti ini. Rambut lepas. Pergelangan tangan merah. Dress kusut. Blazer tertinggal di ruang ganti seperti bukti yang bisa diputarbalikkan siapa saja.
Namun suara Marco di luar membuat penolakan itu kalah.
"Sari," katanya lebih pelan. "Jangan tinggalkan ruang ramai. Kalau Celine bertanya, jangan jawab banyak."
"Baik, Nona. Saya akan tunggu Pak Rizal."
Panggilan terputus.
Di lantai bawah, Sari berdiri di dekat lounge dengan wajah pucat. Celine mendekatinya sambil membawa gelas mocktail, senyumnya masih halus seperti permukaan kaca.
"Sari, kenapa tegang sekali? Yola belum kembali?"
Sari menggenggam ponsel di depan dada. "Nona Yola sedang bersama staf hotel."
Alis Celine naik sedikit. "Oh? Ada masalah?"
"Saya juga ingin bertanya hal yang sama kepada Nona Celine."
Senyum Celine berhenti setipis jarum.
Sebelum ia menjawab, Rizal masuk dari arah lobi dengan langkah cepat. Ia tidak tampak panik. Justru karena terlalu tenang, beberapa tamu menoleh. Rizal berhenti di sisi Sari, membaca layar ponselnya, lalu langsung menelepon.
"Pak Ardi," katanya singkat. "Nona Yola dalam masalah. Marco Wijaya terlibat. Lokasi lantai atas, ruang meeting vendor. Saya naik sekarang."
Di ujung lain, Ardi tidak bertanya dua kali.
Hanya ada suara pintu mobil tertutup, lalu jawabannya yang pendek.
"Pak Rayhan sudah tahu."
Sari mendengar kalimat itu dan seluruh tubuhnya menegang.
Di ruang meeting, Yola tidak tahu percakapan itu. Ia hanya mendengar Marco masih berusaha berteriak, Daniel tetap menahannya di luar, dan langkah beberapa security akhirnya mendekat dari arah lift.
Staf hotel perempuan membisikkan, "Bu, security sudah sampai."
Yola mengangguk, tetapi dadanya belum lega.
Karena di balik suara security, ada langkah lain yang lebih berat. Lebih tenang. Tidak berlari, tetapi membuat semua suara koridor seperti mengecil sendiri.
Daniel di luar berhenti bicara.
Marco juga mendadak diam.
Lalu pintu lift di koridor terbuka.
Rayhan keluar dari lift.
up lagi, Author. banyak-banyak!😅