Menjadi seorang Qinanti memang tidak mudah. Di usianya yang baru menginjak 21 tahun, Qinan harus kehilangan satu-satunya keluarga yang ia punya yaitu sang kakak kandung bernama Rakka. Sebelum kepergiannya, Rakka menitipkan Anggit yang tengah hamil 7 bulan pada Qinan. Bermodal usaha olshop yang ia rintis bersama almarhum Rakka, Qinan berusaha mewujudkan mimpi Rakka untuk memberikan kehidupan yang layak untuk anak dan istrinya.
Tapi kehidupan Qinan tentu tidak sedrama itu. Setelah kepergian Rakka, justru Anggit memboyong Qinan untuk tinggal di rumah keluarganya yang kaya. Namun di rumah itu, Qinan bertemu dengan Ricqi, kakak angkat Anggit yang sangat benci pada Rakka.
"Keluarga benalu" gumam Ricqi lirih.
Takdir Tuhan tidak ada yang tahu, setelah melahirkan, Anggit menyusul Rakka ke surga dan meninggal baby Az. Detik-detik kepergiannya, Anggit memohon sesuatu kepada Qinan dan Ricqi agar mereka bisa menikah dan menjadi Mommy dan Daddy dadakan untuk baby Az.
Sesuatu di luar logika memang, tapi ia rela mau melakukan apa pun demi Anggit. Apakah Qinan akan bertahan dalam pernikahan rumit ini atau justru rela pergi demi kebahagiaan baby Az dan melepaskan hak asuh baby Az pada Ricqi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mendung Kala Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelahiran Baby Az
Sebelum baca, otor masih ngarep qaqa readers ngasih jejak di setiap bab biar otor bisa semangat ngetiknya nih. Jejakmu semangatku 🤩
⬇️
⬇️
⬇️
CEKLEEK
Pintu ICU di buka oleh beberapa orang petugas kesehatan yang membawa seorang pasien yang terbaring dengan beberapa alat bantu kesehatan.
“Anggit...” Qinan melepaskan pelukannya dari Ricqi untuk mendekat ke arah Anggit.
Tidak ada suara yang keluar dari mulut Anggit, hanya seutas senyum yang dapat mereka lihat.
“Maaf Nona, Pasien akan masuk ruang operasi untuk mulai persalinan secara caesar.” Ujar seorang perawat pria menghalangi Qinan.
“Apa keluarga boleh mendampinginya di dalam?” Qinan berusaha mengikuti langkah perawat tersebut dengan cepat.
“Hanya satu orang yang diizinkan. Suami pasien saja.” Jawab perawat pria tersebut mempercepat langkahnya menyusul ranjang Anggit yang tengah di dorong oleh rekannya.
“Suaminya sudah meninggal. Boleh digantikan keluarga? Pertanyaan Qinan hanya dijawab anggukan saja oleh perawat tersebut.
“Qinan... Kamu saja yang masuk...! Temani Anggit.” Titah Lidya. Lidya sengaja menunjuk Qinan karena saat ini Qinan lah orang yang paling tegar di antara mereka.
“Baik Ma.” Qinan menyerahkan tas miliknya pada Ricqi karena sebentar lagi ia akan berganti pakaian.
“Siap-siap ya. Nanti kamu yang meng-azani baby boy. Semangaaat...!” Qinan mengepalkan tangannya dan melemparkan senyumnya pada Lidya, Ricqi dan Ditto. Sontak saja mereka bertiga tersenyum seperti mendapatkan suntikan semangat baru.
“Apa Anggit sudah dipindahkan ke ruang operasi?” Han terlihat berlari menghampiri istri dan kedua anak laki-lakinya.
Lidya hanya mengangguk. Kali ini wajah istrinya lebih tenang, bahkan sesekali tersenyum mungkin bayangan akan segera menimang cucu membuatnya lebih tenang.
•
🌱 Flashback On 🌱
•
Sementara itu masih di Abrar Hospital, Han masih sibuk berbicara melalui sambungan ponsel pintar miliknya.
“Kev... Bagaimana? Apakah ada kendala?” Tanya Han pada Kevin, sahabat sekaligus relan kerja Ricqi di kantornya.
“Ti—tidak Om. Tapi...” Kevin menjeda sedikit kalimatnya. Ia ragu-ragu untuk menyampaikannya.
“Apa...?”
“Bagaimana dengan Sherli?” Pertanyaan yang sudah Han prediksi akhirnya keluar dari mulut Kevin.
“Nanti Om yang bicara dengan Ricqi. Saat ini kita jalankan dulu sesuai dengan permintaan Anggit.” Jawab Han.
“Baiklah Om. Tiga jam lagi kami sampai disana.” Timpal Kevin kembali.
“Tidak bisa lebih cepat Kev? Kemungkinan operasi caesar hanya memakan waktu satu jam saja.” Ujar Han sambil melihat jam tangan miliknya.
“Aku usahakan Om.”
“Baiklah... Om tutup dulu telfonnya ya. Segera kabari Om jika ada masalah.” Akhirnya sambungan telfon terputus.
Han kembali menuju ruang tunggu ICU, namun ia tidak melihat keluarganya lagi disana. Buru-buru ayah tiga anak itu berlari ke depan ruangan operasi menyusul keluarganya.
“Apa Anggit sudah dipindahkan ke ruang operasi?” Han bertanya masih dengan napas yang belum beraturan pada sang istri.
Mereka mengangguk serempak. Kali ini wajah mereka lebih ceria mungkin melihat kondisi Anggit yang sudah sadar meskipun sangat lemah.
•
🌱 Flashback Off 🌱
•
***
Ruangan Operasi
“Anggit... Kau akan segera menjadi ibu... Baby boy akan lahir.” Qinan berbisik di atas kepala Anggit. Ia berusaha memberikan semangat pada kakak iparnya itu.
Anggit hanya tersenyum, ia meneteskan air mata mendengarkan Qinan berbicara seperti itu. Tidak ada balasan karena saat ini sebagian tubuhnya tengah mati rasa.
Hampir empat puluh menit mereka di ruangan operasi, akhirnya lengkingan tangis bayi terdengar. Namun karena kondisi bayi Anggit yang lahir secara prematur mengharuskan bayi itu langsung ditangani intensif oleh dokter Huma.
Setelah semua beres, operasi dinyatakan berhasil, Qinan diminta untuk keluar. Ia keluar dengan senyum kebahagiaan karena satu tugas utama dari Rakka sudah berhasil ia kerjakan.
Saat pintu ruangan di buka, Qinan keluar ruangan, semua keluarga Anggit sudah menunggu di depan pintu. “Bagaimana?” Lidya meraih tangan Qinan.
“Baby boy dan Anggit selamat. Mama dan Papa akan punya seorang cucu.” Qinan melempar senyumnya. Berita itu benar-benar membuat keluarga Han bahagia.
Semua keluarga Han tak henti-hentinya mengucap syukur. Ia tidak menyangka Anggit bisa berjuang sampai sejauh ini.
“Keluarga pasien Anggit.” Seorang perawat perempuan berjalan menghampiri mereka.
“Betul Sus. Ada yang bisa saya bantu?” Han segera mendekati perawat tersebut
“Nyonya Anggit butuh 1 kantong darah golongan darah B. Kebetulan persediaan darah sedang kosong. Ada keluaraga yang bisa mendonorkannya?” Tanya perawat itu kembali.
Han dan Lidya keluarga hanya saling berpandangan satu sama lainnya. Tidak ada diantara mereka maupun Ditto dan Ricqi yang memiliki golongan darah B.
“Saya B. Ambil darah saya saja sus.” Kali ini Qinan menghampiri suster tersebut untuk menawarkan diri.
“Baik Nona. Mari ikut dengan saya. Kita akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.” Ujar Suster itu. Kemudian mereka berlalu meninggalkan keluarga Han.
Ricqi yang melihat perjuangan Qinan hari ini dibuat bungkam seribu bahasa. Tanpa banyak bicara Qinan berhasil membuktikan bahwa ia bukan wanita parasit di keluarga itu.
***
Ruang Rawat Inap
Saat ini Anggit sudah dibawa ke ruangan inap, meskipun masih banyak alat bantu yang terpasang di tubuhnya, namun kondisinya sudah jauh lebih baik. Han, Lidya dan Ditto menemani Anggit di ruangan inap, Qinan masih melakukan pengambilan darah, sedangkan Ricqi meng-azani bayi Anggit di ruang NICU.
“Pa...” Anggit memanggil dengan suara lirih.
“Iya Sayang. Kamu butuh sesuatu?” Han berusaha mendekatkan telinganya pada mulut Qinan.
“Qinan...” Ujarnya kembali.
“Qinan sedang mengambil darahnya untuk di donorkan padamu. Nanti dia akan segera kesini.” Han berusaha menjelaskannya.
Anggit hanya mengagguk tanda mengerti. Air matanya kembali menetes di samping kedua matanya saat kelopak mata bulatnya mengatup.
“Bagaimana—“ Kalimat Anggit terputus.
“Kamu tenang ya sayang. Papa sudah siapkan semua.” Anggit kembali mengangguk mendengarkan penjelasan Han.
Tidak lama berselang, Ricqi dan Qinan masuk ke ruangan itu. Keduanya tampah tersenyum melihat Anggit yang sudah berbaring di ruang inap.
“Anggit... Kamu hebat.” Qinan mendekati Anggitsambil mengecup keningnya dan mengusap rambutnya, Meskipun wajahnya pucat, Qinan masih tampak tersenyum bersaha menyemangati Anggit.
Sedangkan Ricqi segera memegang tangan adik bungsunya itu sambil menangis. Ia membenamkan kepalanya pada sisi tempat tidur. Mungkin saat itu Ricqi hanya menyesali semua yang sudah terjadi. “Qi... sudah jangan menangis. Aku justru berterima kasih padamu sudah menjagaku sampai sejauh ini.” Anggit mengusap rambut Ricqi.
“Sudah punya nama untuk baby boy?” Tanya Qinan berusaha mencairkan suasana.
“Azka... Sisanya terserah kalian berdua.” Ujar Anggit melempar senyuman pada Qinan dan Ricqi.
“Aku sumbang satu kata -Qubie-“ Ujar Qinan sambil melirik ke arah Ricqi.
“Azka Qubie Handoko” Lengkap Ricqi. Semua mengangguk setuju.
“Qi... Aku rasa dalam waktu dekat aku akan menyusul kakakmu. Tubuhku saat ini sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya.” Anggit berbiara dengan mata yang penuh dengan air mata.
“Anggit... kamu bicara apa? Kak Rakka bahkan memintamu menjadi Mama yang kuat untuk Az. Berhentilah berfikir untuk menyerah.” Ujar Qinan tidak percaya melihat keputusasaan Anggit.
“Qi... Jika itu terjadi, bisa kah kalian menjaga baby Az untukku?”
“Qi siapa?” Ricqi melihat ke arah Anggit dengan tatapan bingung. Terutama karena ada kata kalian setelah memanggil nama salah satu dari mereka.
“Iya kalian. Ricqi dan Qinan. Bisa kah kalian menjadi Mommy dan Daddy untuk Az?” Anggit mengulangi kalimatnya lagi.
Ricqi dan Qinan hanya saling menatap satu sama lain. Akhirnya Han membawa Qinan dan Ricqi keluar dari ruangan.
“Bisa kah kalian mengabulkan permintaan Anggit? Saat ini yang terpenting Anggit sembuh dan kembali bersemangat.” Han melihat Ricqi dan Qinan bergantian.
“A—aku tidak bisa Pa.” Jawab Ricqi dengan suara berat.
“Ini hanya sampai kondisi kondusif Qi. Saat ini Anggit butuh semangat untuk bertahan. Anggit merasa takut jika suatu hal terjadi padanya, Azka akan menjadi anak yatim piatu tanpa orang tua. Dia hanya ingin anaknya punya kedudukan hukum yang jelas bahkan dia sudah menulis surat wasiat untuk menyerahkan hak asuh pada kalian.” Han merangkum pundak anak sulungnya itu.
Ricqi hanya mengangguk kemudian ia beralih melihat Qinan yang masih menunduk menahan tangisnya. “Pa... Bisa tinggalkan aku dengan Qinan.” Ujar Ricqi masih dengan suara paraunya.
⬇️
⬇️
⬇️
Jangan lupa like 👍, comments 💬, dan vote 🗳 nya ya Kak. Dukungan kalian sangat berarti untuk otor pendatang baru sepertiku. 😆😆😆