NovelToon NovelToon
Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Status: tamat
Genre:Misteri / Teen School/College / Tamat
Popularitas:506.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jibril Ibrahim

AWAS JANGAN KELIRU!
Ini bukan bahasa Inggris---bahasa Belanda.
________________________________________



Van Til Hogeschool adalah sebuah sekolah menengah kejuruan milik grup perusahaan perkebunan yang dulunya milik tuan tanah asal Belanda---Mr. Stiller Van Til.

Sejak sekolah didirikan, peraturan yang berlaku sudah ditetapkan berdasarkan hukum zaman penjajahan sampai kepala sekolah baru mereka mengganti peraturannya. Celakanya peraturan yang baru lebih buruk dari zaman penjajahan. Peraturan hukuman---STRAF adalah hal pertama yang diganti. Hukumannya bukan lagi menghabiskan dua jam setelah pulang sekolah. Itu terlalu gampang---tidak menyelesaikan masalah. Tapi jika murid-murid harus mengorbankan satu hari penuh untuk menebus kesalahan mereka...

Dan lahirlah hukuman pada hari Sabtu---STRAF SABBAT!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapiter 17

"Jadi, sekarang apa?" Hendra bertanya.

"Kita kan udah muter-muter dan akhirnya balik lagi kemari," Magisna berpikir. "Doolhof ini kayak lingkaran setan," ia bergumam. "Tapi... ada satu gang yang belum kita telusuri."

"Apa itu? Lingkaran malaikat?" tanya Alexza tak sabar.

Magisna mengambil napas dalam-dalam. Aku tak percaya aku akhirnya mengusulkan ini, pikirnya. Aku pasti sudah gila... tapi mungkin hanya ini harapan kami satu-satunya.

"Gang di sisi lain dinding bata itu," jawab Magisna.

"Tempat makhluk itu muncul?" semprot Alexza ketus. "Gak usah ya!"

"Cuma gang itu yang belum kita jelajahi," kata Magisna.

"Dia mungkin bener," Hendra menimpali.

"Gua gak mau pergi ke sana," sergah Alexza. "Gua gak bisa. Dah, itu aja!"

"Dika sama Novi ilang," Hendra mengingatkan. "Kita belum tau apa mereka masih idup..." Ia berhenti sesaat, lalu tertunduk. "Kalo gua bilang sih kita coba aja. Kita keabisan pilihan," katanya masam.

Magisna mengangguk setuju. "Mungkin di sana ada jalan keluar. Kalo pun gak ada... kita mungkin bisa tau ke mana Dika sama Novi dibawa. Siapa tau kita juga bisa tau kebenaran soal makhluk itu."

"Itu namanya bunuh diri kalo menurut gua," erang Alexza.

"Lu kan gak harus ngapa-ngapain," sergah Hendra. "Lu bisa tetep tinggal di sini kalo lu mau."

Wajah Alexza tampak terpukul mendengar perkataan Hendra. Magisna bisa melihat di wajah Alexza bahwa tetap tinggal di sini bukanlah pilihan.

"Kalo gitu, kesepakatan tercapai," Hendra memutuskan.

Alexza hanya mengangkat bahu. Ragu-ragu untuk mengikuti, tapi jelas tak mau ditinggal.

"Oke," gumam Hendra. "Sekarang jalan!"

Mereka melangkah sekali lagi ke dalam terowongan sebelah kanan. Hendra meninggalkan obor Novi di ruangan itu, meletakkannya di atas onggokan kain.

"Asap sama cahaya bisa bantu kita liat jalan balik ke sini lagi nanti," Hendra menjelaskan. "Kalo perlu!"

Sia-sia saja, pikir Magisna. Tangganya juga sudah lenyap. Tak ada apa pun di sini untuk kembali.

Tapi tidak ada gunanya juga memperdebatkan hal itu.

Ketika ia berbalik untuk mengikuti Hendra, Alexza tiba-tiba menyambar lengannya.

"Apaan?" tanya Magisna terkejut.

"Gua... cuma... mau minta maaf," sesal Alexza terbata-bata.

Magisna menaikkan sebelah alisnya. "Buat...?"

"Gua udah ngedorong lu sampe jatoh waktu naek tangga." Mata Alexza berkaca-kaca dalam keredap cahaya api. "Bisa aja lu terbunuh gara-gara gua... Maksud gua, makhluk itu..."

Magisna mengangkat bahu. "Kalo lu kaga dorong gua, bisa aja lu yang bakal terbunuh."

Pandangan Alexza berubah keruh, tapi Magisna tidak peduli. Ia sedang tidak mudah memberi maaf saat ini.

Tapi ia mengingatkan dirinya, toh Alexza sudah minta maaf.

Ia mendesah mengenyahkan pikiran pahit itu. "Gak pa-pa kok, Lex. Kita lupain aja semua yang udah-udah."

"Kayaknya gua gak sanggup ngelupain semua ini," sahut Alexza.

Ya, pikir Magisna. Aku juga tidak!

Sewaktu mereka berjalan sepanjang terowongan, Magisna membiarkan Alexza berjalan di sebelah Hendra. Ia berharap bisa di sampingnya juga. Hendra sangat berani. Dan Hendra juga membantu dirinya merasa berani.

Omong-omong… di mana dia sekarang? tanyanya dalam hati. Di mana kabut itu saat ini?

Ia gemetar, mengingat rasa panas ketika kabut itu menyentuhnya. Ia mengangkat tangannya ke dekat obor.

Kulit tangan itu berwarna merah sekarang. Dan terasa menyengat hampir seperti terbakar sinar matahari.

Mereka berhenti.

Magisna mendengar percikan air yang tak asing. Kolam. Mereka tiba di kolam itu.

Hendra menoleh pada Magisna. "Lu yakin siap buat ke sana lagi?"

Magisna mengangkat bahu. "Kayaknya gua gak punya banyak pilihan... buat mengeringkan diri."

Hendra mengangguk dan melangkah ke atas langkan. Magisna mengikuti di belakang Alexza. Ia terus berjalan, menapakkan kakinya dengan hati-hati. Sebelumnya air itu kelihatan begitu menakutkan. Kini hampir tidak mengganggunya sama sekali. Kecuali ingatan mengenai gadis kecil kumal yang memeluknya dalam air. Magisna bergidik. Tapi ia berhasil menyeberang.

Tak butuh waktu lama mereka sudah berada di seberang.

"Liat itu," Hendra memberi semangat. "Gampang, kan?"

"Gua udah mulai terlatih," balas Magisna sekenanya.

"Itu dia," bisik Alexza.

Bagian dinding batu bata itu berada tepat di depan mereka. Bata-bata yang hancur itu terhampar di tanah. Lubangnya masih di sana---cukup besar untuk memanjat melewatinya.

"Sepi banget," kata Alexza.

"Gua suka tempat sepi," sahut Hendra. "Ayo!" Ia melangkah ke atas lubang, memegangi obor di depannya.

Alexza mengerang.

"Di sini gak ada apa-apa," bisik Hendra seraya melangkah ke depan.

Dengan hati-hati ia meluncur ke dalam---dan menghilang.

"Gua gak bisa liat dia," bisik Alexza.

Magisna memandang tajam ke dalam lubang gelap itu. Tak ada tanda-tanda obor Hendra, "Kita harus ikutin dia," tutur Magisna. Ia mencoba kedengaran lebih berani daripada yang ia rasakan.

Ia menahan napas dan melangkah melalui lubang.

Terowongan di balik dinding bata itu berbelok tajam ke kanan. Lalu tiba-tiba buntu. Gundukan besar tanah dan reruntuhan menyumbat gang seluruhnya.

Hendra berdiri memandang gundukan tersebut.

"Longsoran?" tanya Hendra.

"Keliatannya sih gitu," Magisna setuju. Ia belum pernah melihat longsoran sebesar itu selama hidupnya. Tapi apa lagi kalau bukan longsoran tanah?

"Liat deh," kata Alexza, sambil menunjuk. "Di pojok atas ada jalan tembus."

Magisna mengangkat obornya dan mengintip ke dalam kegelapan. Mula-mula ia hanya melihat sarang laba-laba dan debu. Kemudian ia melihatnya. Sebuah lubang kecil di atas gundukan di sebelah kiri. Cukup besar untuk orang merangkak melewatinya.

"Apa yang lu pikirin?" tanya Hendra.

"Gak ada jalan lain," balas Magisna.

"Kalo makhluk itu muncul di sini kita bakalan mampus," Alexza memperingatkan.

"Di luar sana juga kita tetep bakalan mampus kalo makhluk itu muncul," Hendra menimpali. "Apa bedanya?"

Alexza tidak menjawab.

Hendra mulai menaiki gundukan tanah, sambil mencoba tetap mengangkat obornya tinggi-tinggi. Gundukan tanah itu gembur. Setiap dua langkah ke atas, Hendra melorot ke bawah selangkah.

Longsoran tanah baru runtuh dari langit-langit.

Hendra mematung, pandangannya terpaku pada sumber longsoran kecil itu.

"Ide ini gak terlalu... pinter," ujar Magisna. "Atepnya bisa ambruk sewaktu-waktu."

"Yah. Otak gua gak terlalu pinter juga, lupa ya?" sahut Hendra.

"Ndra---" Magisna memarahinya. Dia paling benci seseorang yang mencela diri sendiri.

"Atepnya baik-baik aja," sela Hendra. Ia mulai merangkak ke atas gundukan lagi. Ia bergerak lebih cepat kali ini, dan hanya sedikit tanah yang jatuh ke tubuhnya. Akhirnya ia sampai ke lubang itu. Ia menjulurkan obornya dan mengintip.

"Liat sesuatu?" tanya Alexza.

"Nggak," balasnya. "Gua mau lewatin lubang ini."

Magisna dan Alexza bertukar pandang gelisah. Tapi Magisna tahu mereka tidak punya pilihan lain. Ia akan masuk ke lubang itu juga, ia memutuskan. Hanya itu satu-satunya jalan.

"Lu kudu gerak cepet," Hendra menginstruksikan. "Biar gundukannya gak rubuh."

"Bagus," gerutu Alexza.

1
Handoko
terima kasih atas karyanya, author ...
Handoko
nah lho ... 😱
Handoko
menangkap tubuh novi.
Handoko
dua puluh tahun yang lalu, atau sepuluh tahun yang lalu, atau tiga puluh tahun yang lalu ?

kalau kejadiannya di tahun 1992, ke tahun 2022 berarti tiga puluh tahun yang lalu.
Handoko
pak isa, dika, novi, dan alexza.
Handoko
kalau agustin masih SMU, bukankah seharusnya ini tahun 90 an dan SMU masih menumpang di gedung sekolah SMP. belum memiliki gedung sendiri ?
Handoko
sekolah menengah kejuruan apa tepatnya ?
Handoko
raganya sudah diambil alih.
Handoko
kalau menjenguk, berarti magisna belum meninggal, mungkin dalam keadaan koma.
Handoko
apakah pak isa dan teman2 magisna berubah menjadi siluman macan kumbang ? dan novi terkena sabetan sabit papa tibi.
Handoko
ini di indonesia, tapi memanggil seseorang yang lebih tua hanya dengan nama saja ?
Handoko
berarti kejadian hilangnya siswa memang 30 tahun lalu, tapi kematian senja sepuluh tahun yang lalu, di tahun 2012 ? 🤔
Handoko
dari tahun 1992 ke tahun 2022 itu kan 30 tahun, author . kenapa di bab ini kejadian kematian senja disebut sepuluh tahun yang lalu ?
Handoko
sepertinya senja sudah meninggal tapi tidak sadar kalau dirinya sudah meninggal. dia bukan diabaikan, tapi memang tidak terlihat dan tidak terdengar suaranya. 😅
Handoko
kalau pak isa adalah michael issac, bukankah seharusnya usianya sudah di atas 45 tahun ?
Handoko
cerita ini ada korelasinya dengan cerita lonceng ketiga belas atau tidak ? kenapa setting waktunya tidak berkesesuaian?
Handoko
sempat sempatnya bawa cat plus kuasnya kemana mana.
Handoko
mosok iya sampai remuk berkeping keping tangganya ?
Handoko
tangga yag jatuh apa tidak bisa disenderkan lagi ke dinding lubang ?
Handoko
seingatku hendra mengenakan t shirt robek di bawah jaketnya, bukan kemeja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!